Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Gempa 2006: Kerusakan Lingkungan dan Bangunan Bersejarah Di Yogyakarta

Vania Khoirunnisa
24 Jun 2026 · 2" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Pada 27 Mei 2006 sekitar pukul 05.54 WIB, gempa bumi berkekuatan 6,4 Mw terjadi di wilayah Bantul, Yogyakarta, Sleman, hingga Klaten. Guncangan berlangsung kurang lebih satu menit dengan pusat gempa berada sekitar 25 kilometer di tenggara Yogyakarta pada kedalaman sekitar 17 kilometer. Setelah gempa utama, masih terjadi ratusan gempa susulan dengan kekuatan terbesar mencapai 5,2 Mw.

Gempa ini terjadi akibat pergerakan Sesar Opak yang membentang dari kawasan Parangtritis hingga bagian timur Yogyakarta. Pergerakan sesar tersebut dipengaruhi aktivitas Lempeng Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa.

Kondisi Panggung Krapyak (Kandang Menjangan) pasca gempa, tampak pintu masuk dari sisi barat ditutup dengan bambu dan reruntuhan bangunan masih berserakan di pinggir bangunan. (Sumber: Arsip DPAD DIY/JIKN)

Setelah gempa terjadi, kondisi Yogyakarta dan wilayah sekitarnya mengalami kerusakan di berbagai tempat. Banyak rumah warga, fasilitas umum, dan bangunan lama terdampak akibat guncangan yang cukup kuat. Sejumlah bangunan mengalami retak pada dinding, roboh sebagian, hingga rusak berat sehingga tidak bisa digunakan kembali. Kerusakan ini tidak hanya terjadi di kawasan permukiman, tetapi juga di pusat kota dan daerah yang memiliki banyak bangunan berusia tua.

Besarnya kerusakan dipengaruhi kondisi bangunan yang sebagian besar belum dirancang tahan gempa. Banyak bangunan lama masih menggunakan material dan konstruksi tradisional sehingga lebih mudah rusak ketika terjadi guncangan kuat. Selain itu, kawasan budaya dan peninggalan sejarah di Yogyakarta juga ikut terdampak, seperti rumah tradisional, bangunan cagar budaya, dan beberapa situs bersejarah yang memiliki nilai penting bagi sejarah dan budaya masyarakat setempat.

Kondisi rumah warga yang hancur akibat gempa, dan Petugas kesehatan memberikan pengobatan kepada warga di tenda darurat di Kaligatuk, Srimulyo, Piyungan, Bantul. (Sumber: Arsip DPAD DIY/JIKN)

Di Bantul, banyak rumah warga ambruk dalam waktu singkat setelah gempa terjadi. Genteng dan dinding bata berserakan di jalan kampung, sementara warga berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Setelah gempa mereda, banyak keluarga bertahan di lapangan, halaman rumah, dan tenda darurat karena takut gempa susulan datang kembali.

Pada hari-hari awal, warga kesulitan mencari anggota keluarga, air bersih, dan bantuan yang belum merata. Di tengah kondisi itu, muncul banyak cerita tentang warga yang saling membantu. Ada yang mengevakuasi tetangga dari reruntuhan rumah, ada pula yang berbagi makanan dan tempat berteduh dengan keluarga lain yang kehilangan rumahnya.

Artikel Terkait

Lihat Semua
Mashudi Ali
1 bulan lalu • 3" baca

Perizinan Bangunan yang Sering Dianggap Remeh, Padahal Bisa Bikin Repot di Kemudian Hari

Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia konsultasi teknik dan perizinan bangunan, saya cukup sering menemui pemilik gedung, pabrik, atau ruko yang baru “kelabakan” mengurus izin justru setelah bangunannya jadi, bahkan setelah beroperasi bertahun-tahun. Alasannya macam-macam: dulu dikira cukup asal ada IMB, dikira SLF itu opsional, atau memang sejak awal tidak ada yang mengingatkan. Padahal, di […]

0 0
Mashudi Ali
2 bulan lalu • 5" baca

Buka Usaha Dulu, Urus Izin Belakangan itu Kebiasaan yang Bikin Nyesek di Tahun Ketiga

  Setiap kali muncul berita bangunan ambruk — plafon ruang kelas yang jatuh di jam pelajaran, ruko yang miring setelah hujan berhari-hari, atau balkon gedung yang tiba-tiba lepas — percakapan publik biasanya berhenti di dua pertanyaan: siapa yang salah dan berapa korbannya. Jarang sekali kita sampai pada pertanyaan yang sebenarnya paling mendasar: apakah bangunan itu […]

0 0
verdiansyah hernyana
4 bulan lalu • 2" baca

Recap Lintas Demonstrasi Mei di UNS Solo pada 8 Mei 1998

8 MEI 1998: Aksi demonstrasi di UNS Solo dok. Solopos Institute Munculnya aksi demonstrasi di sepanjang jalan gerbang depan Universitas Sebelas Maret pada 8 Mei 1998 menunjukkan semakin meluasnya gerakan mahasiswa di Kota Surakarta. Aksi ini tidak lagi terbatas di dalam lingkungan kampus, tetapi mulai mengambil ruang publik sebagai sarana penyampaian aspirasi. Mahasiswa dan warga […]

0 0
Muhammad Akbar
4 bulan lalu • 3" baca

Menolak Lupa: Jejak Solidaritas di Balik Banjir Besar Solo 1966

Kota Solo secara geografis memang dikelilingi oleh aliran sungai besar seperti Bengawan Solo dan anak sungainya, yakni Kali Pepe. Letak wilayah yang berada di dataran rendah membuat kota ini memiliki kerentanan alami terhadap luapan air sejak masa lampau. Jika melihat perbandingan pada kondisi banjir yang sering terjadi hingga siklus banjir besar, ini bukan merupakan hal […]

0 0
Daffa Fauzan
4 bulan lalu • 3" baca

Transformasi Kali Pepe di Kota Solo

Tahukah Anda mengenai sejarah panjang Kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa tradisional? Kota Solo dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai budaya yang tetap eksis hingga kini. Nilai-nilai tradisi tersebut terus diwariskan melalui kehidupan masyarakat dan praktik kebudayaan sehari-hari. Banyak situs bersejarah terus ada dengan cara beradaptasi mengikuti perubahan zaman agar tetap memiliki makna. Bangunan […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan