Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Di Balik Bangunan Tua Benteng Vastenburg

Fatimah Az Zahra
13 Jul 2026 · 4" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Di tengah padatnya lalu lintas Kota Surakarta, sebuah bangunan tua masih berdiri kokoh. Letaknya berada di kawasan Gladak yang selalu ramai kendaraan. Banyak orang melewatinya setiap hari tanpa benar-benar mengenali sejarahnya. Bangunan itu adalah Benteng Vastenburg.

Benteng Vastenburg bukan sekedar bangunan tua yang berdiri di tengah kota Surakarta. dibalik dinding tebal dan bentuknya yang kokoh, tersimpan cerita panjang tentang kekuasaan, kolonialisme, dan perubahan fungsi dari masa ke masa. Sekilas benteng ini tampak seperti bangunan tua biasa. Cat dindingnya mulai memudar dan beberapa bagian terlihat usang. Sesekali tempat ini digunakan untuk acara publik. Banyak pula anak muda datang hanya untuk berfoto.

Padahal benteng ini menyimpan cerita panjang tentang kolonialisme Belanda di Surakarta. Ia bukan sekadar bangunan pertahanan militer. Benteng ini juga menjadi simbol kontrol politik kolonial. Dari sinilah Belanda menjaga kepentingannya di wilayah kerajaan.

Foto lama Benteng Vastenburg yang memperlihatkan kondisi bangunan pada masa kolonial Belanda. (Instagram malammuseum)

Benteng Vastenburg dibangun pada tahun 1745 atas perintah Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Nama “Vastenburg” berasal dari bahasa Belanda yang berarti benteng yang kuat. Sejak awal bangunan ini memang dirancang sebagai pusat garnisun militer untuk menjaga kepentingan Belanda di Surakarta.

Letaknya yang sangat dekat dengan Keraton Surakarta Hadiningrat bukanlah kebetulan. Setelah Perjanjian Giyanti politik di Jawa masih rapuh dan Belanda terus mencurigai kekuatan kerajaan lokal. Dari benteng inilah mereka bisa mengawasi pusat kekuasaan Surakarta secara langsung.

Pengawasan kolonial tidak selalu dilakukan melalui perang terbuka. Kadang pengawasan hadir melalui tata ruang kota. Benteng menjadi contoh nyata strategi tersebut. Bangunan dapat menjadi alat kekuasaan.

Di seberang benteng berdiri rumah residen Belanda. Kini bangunan itu menjadi Balai Kota Surakarta. Keduanya dipisahkan oleh Jalan Jenderal Sudirman. Kawasan ini sekarang dikenal sebagai Gladak.

Area dalam benteng memiliki halaman luas di bagian tengah. Pada masa kolonial, lapangan ini digunakan sebagai tempat latihan militer, apel pasukan, hingga aktivitas administrasi tentara. Ruang terbuka tersebut menjadi pusat kegiatan karena menghubungkan bangunan-bangunan lain di dalam kompleks benteng.

Di sekeliling halaman utama terdapat barak tentara yang dahulu digunakan sebagai tempat tinggal serdadu Belanda. Bangunan ini menjadi tempat beristirahat para tentara setelah menjalankan tugas menjaga keamanan wilayah Surakarta. Selain itu, terdapat pula gudang penyimpanan senjata dan amunisi yang menjadi bagian penting dalam sistem pertahanan benteng.

Potret area dalam Benteng Vastenburg yang memperlihatkan benteng pertahanan, lapangan tengah, serta bangunan di dalam kompleks benteng yang masih berdiri hingga kini. (merdeka.com)

Secara arsitektur Benteng Vastenburg menampilkan ciri khas bangunan militer Eropa pada masa kolonial. Bangunan ini memiliki dinding tinggi, dikelilingi parit, serta bastion di setiap sudutnya. Desain itu dirancang untuk kepentingan pertahanan agar mampu menahan serangan dari luar. Benteng ini juga difungsikan sebagai pusat militer dan penyimpanan logistik tentara.

Dibalik fungsi militernya benteng ini mencerminkan hubungan tidak seimbang antara kekuasaan kolonial. Letaknya yang dekat dengan keraton memperlihatkan adanya pengawasan ketat terhadap aktivitas masyarakat. Benteng juga menjadi simbol dominasi kekuasaan asing terhadap penguasa kolonial.

Fungsi benteng mengalami perubahan seiring berjalannya waktu setelah berakhirnya masa kolonial Belanda. Bangunan ini sempat terbengkalai dan tidak mendapatkan perawatan yang memadai dalam waktu lama. Kondisi itu menyebabkan beberapa bagian benteng mengalami kerusakan cukup signifikan seiring waktu.

Saat ini Benteng mulai mendapatkan perhatian sebagai salah satu situs bersejarah bernilai budaya tinggi. Upaya pelestarian dilakukan untuk menjaga keberadaan bangunan agar tidak hilang ditelan zaman. Selain menjadi objek wisata, benteng juga dimanfaatkan sebagai ruang publik berbagai kegiatan. Beragam acara seni dan budaya sering diselenggarakan untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut.

Jika dilihat dari atas kawasan ini sangat politis. Ada keraton Surakarta Hadiningrat yang menjadi simbol kekuasaan lokal. Ada benteng yang menjadi simbol kekuatan militer kolonial. Ada juga kantor pemerintahan kolonial di sekitarnya.

Tata ruang seperti ini menunjukkan relasi kuasa. Belanda tidak hanya hadir sebagai pedagang. Mereka membangun sistem pengawasan yang terstruktur. Ruang kota diatur untuk kepentingan kolonial.

Pada masa pendudukan Jepang, fungsi benteng kembali berubah. Setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan ini sempat digunakan militer nasional. Namun kondisinya semakin menurun seiring waktu. Perawatan benteng sering terabaikan.

Memasuki era modern, fungsi Benteng Vastenburg kembali berubah. Tempat yang dulu identik dengan kekuatan militer kini lebih sering digunakan untuk konser musik, festival budaya, hingga berbagai kegiatan publik lainnya. Perubahan itu menunjukkan bagaimana ruang terus mengalami transformasi.

Tempat yang dulu identik dengan kontrol kolonial kini menjadi ruang publik. Namun sejarah di baliknya tidak boleh dilupakan begitu saja. Benteng Vastenburg bukan sekadar bangunan tua di tengah Kota Surakarta. Di balik temboknya tersimpan cerita panjang tentang kolonialisme, pengawasan politik, dan hubungan rumit antara Belanda dengan kerajaan lokal.

Artikel Terkait

Lihat Semua
Daffa Fauzan
4 bulan lalu • 3" baca

Menengok Kembali Demonstrasi Mahasiswa Solo 1998

28 Tahun telah berlalu, namun ingatan mengenai peristiwa 1998 masih terpendam pada memori. Sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan gabungan mahasiswa di STSI Solo, pada waktu itu situasi sudah mengalami gesekan. Mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta yang selama ini tidak pernah ikut dalam aksi mulai bergabung pada 29 April 1998. Inilah potret para demonstrasi […]

0 0
Fatimah Az Zahra
4 bulan lalu • 6" baca

Kilas Balik: Bentrokan Mahasiswa UMS dan Aparat, 7 Mei 1998

Pada Kamis, 7 Mei 1998, kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Pabelan, Kartasura, berubah menjadi salah satu pusat gerakan mahasiswa di Surakarta. Sejak pagi, suasana kampus tidak lagi berjalan seperti hari-hari biasa. Aktivitas akademik mulai tersisih oleh kerumunan mahasiswa yang memadati halaman hingga jalan di depan kampus. Sejumlah mahasiswa datang berkelompok, sebagian membawa spanduk, sementara […]

0 0
4 bulan lalu • 4" baca

Bukan Sekadar Menahan Bangunan, Ini Fungsi Tiang Pancang saat Tanah Lunak Tidak Mampu Memikul Beban

Ketika sebuah bangunan, jembatan, atau struktur berat berdiri di atas tanah yang lapisan permukaannya lunak, pondasi dangkal tidak selalu cukup diandalkan. Risiko penurunan berlebih, kemiringan, hingga pergeseran struktur bisa muncul bila beban tidak diteruskan ke lapisan tanah yang tepat. Di sinilah fungsi tiang pancang menjadi penting. Elemen pondasi ini bekerja dari bawah permukaan, memindahkan beban […]

0 0
Vania Khoirunnisa
4 bulan lalu • 5" baca

Mengingat Tragedi: Kebakaran Pasar Gede di Masa Lampau

Di kawasan Pecinan Kampung Ketandan, tepatnya di Jalan Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Solo, bangunan bersejarah yang dikenal sebagai Pasar Gede Hardjonagoro tegak berdiri. Dari pagi hingga malam hari, kompleks pasar itu ramai. Letaknya di pinggir jalan besar, tidak jauh dari Balai Kota Solo. Hingga kini masih menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan di Kota Solo. Sejarah […]

0 0
Vania Khoirunnisa
4 bulan lalu • 4" baca

Berita Kebakaran Pasar Gede dalam Surat Kabar Solopos

Pada hari Jumat 28 April 2000, tepatnya sekitar pukul 01.00 WIB, kebakaran hebat melanda Pasar Gede Hardjonagoro yang berlokasi di Jalan Urip Sumoharjo, Solo. Sumber api berasal dari korsleting listrik di lantai II, yakni di kawasan Diskotik Solo Biliar yang lokasinya berdekatan dengan pos polisi Pasar Gede. Pihak kepolisian melalui Kapolresta Solo Letkol (Pol) Robby […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan