Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Warisan Kolonial yang Masih Terasa di Kota Solo

Vania Khoirunnisa
12 Jun 2026 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Kota Solo tidak hanya dikenal sebagai kota budaya Jawa. Di balik wajah kotanya hari ini, masih tersimpan jejak panjang masa kolonial yang ikut membentuk perkembangan Solo sejak awal abad ke-20. Pengaruh itu terlihat dari bangunan lama, tata kota, hingga kehidupan sosial masyarakatnya.

Pada masa kolonial, Solo berkembang sebagai pusat pemerintahan Kasunanan sekaligus kota administrasi yang dipengaruhi Belanda. Dari situ muncul perpaduan budaya Jawa dan Eropa yang kemudian melahirkan gaya Indis. Gaya ini tampak pada berbagai bangunan lama yang masih berdiri sampai sekarang, seperti Bank Indonesia Surakarta, Pasar Gede Hardjonagoro, Gedung Djoeang 45, hingga kawasan Villapark. Bangunan-bangunan tersebut umumnya memiliki atap tinggi, deretan kolom besar, serta bentuk yang disesuaikan dengan iklim tropis.

Pasar Gede Hardjonagoro, warisan kolonial di Kota Solo.(Sumber: Solopos Espos Id)

 

Perkembangan kota juga didukung hadirnya berbagai fasilitas modern pada masa itu. Jalur kereta api, trem, listrik, sekolah, hingga tempat hiburan seperti Taman Sriwedari membuat aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah. Kehadiran transportasi ikut memperkuat posisi Solo sebagai kota perdagangan yang terhubung dengan daerah lain seperti Yogyakarta dan Semarang.

Di saat yang sama, Solo tumbuh menjadi kota dengan masyarakat yang beragam. Selain masyarakat Jawa, ada pula komunitas Eropa dan Tionghoa yang menetap dan beraktivitas di kota ini. Kawasan kota pun terbagi berdasarkan fungsi dan kelompok masyarakatnya. Area keraton tetap menjadi pusat budaya Jawa, sementara kawasan loji berkembang dengan pengaruh Barat yang lebih kuat. Adapun komunitas Tionghoa banyak berkembang di sekitar pusat perdagangan seperti Pasar Gede.

Pembagian kawasan itu menunjukkan bagaimana kehidupan sosial pada masa kolonial berjalan. Sistem pendidikan Barat mulai diperkenalkan, meski awalnya hanya bisa diakses kelompok tertentu. Dari situ, pola pikir masyarakat perlahan berubah, terutama dalam bidang administrasi, pendidikan, dan ekonomi. Meski begitu, budaya lokal tidak sepenuhnya hilang. Tradisi Jawa tetap bertahan dan berjalan berdampingan dengan pengaruh Barat.

Sampai sekarang, jejak kolonial masih terasa dalam wajah Kota Solo. Salah satu contohnya terlihat di kawasan Loji Wetan yang memperlihatkan perpaduan budaya Jawa, kolonial, dan Tionghoa dalam satu ruang kota. Warisan itu bukan hanya soal bangunan tua, tetapi juga bagian dari sejarah panjang yang membentuk identitas Solo hari ini.

Karena itu, pelestarian bangunan cagar budaya menjadi penting. Bangunan-bangunan lama bukan sekadar tempat wisata atau latar foto, melainkan penanda perjalanan kota dari masa ke masa. Dari jejak kolonial tersebut, Solo menunjukkan bahwa sejarah tidak benar-benar hilang, tetapi tetap hidup dan terasa dalam kehidupan kota sampai sekarang.

 

Referensi

A.   Surat Kabar

Kedaulatan Rakyat, Rabu, 25 Maret 1992.

B.   Artikel

Friska Candra Dewi, Ufi Saraswati, dan Abdul Muntholib, “Perkembangan Arsitektur pada Masa Kolonial di Surakarta Tahun 1900-1942: Tinjauan Politik, Sosial dan Pendidikan”, Journal of Indonesian History, Vol. 8, No. 2 (2019).

Kusumastuti, “Pengaruh Budaya Dalam Pembentukan Ruang Kota Sala Sejak Perpindahan Kraton Sampai Dengan Peletakan Motif Dasar Kolonial”, Region: Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, Vol. 1, No. 1, (2016).

C.   Sumber Online

“Kawasan Permukiman Kolonial “Villa Park Banjarsari” di Kota Solo”, https://hima.fib.ugm.ac.id/kawasan-permukiman-kolonial-villa-park-banjarsari-di-kota-solo/, Jumat, 4 Oktober 2024.

 

 

 

Artikel Terkait

Lihat Semua
Fatimah Az Zahra
4 bulan lalu • 4" baca

Di Balik Bangunan Tua Benteng Vastenburg

Di tengah padatnya lalu lintas Kota Surakarta, sebuah bangunan tua masih berdiri kokoh. Letaknya berada di kawasan Gladak yang selalu ramai kendaraan. Banyak orang melewatinya setiap hari tanpa benar-benar mengenali sejarahnya. Bangunan itu adalah Benteng Vastenburg. Benteng Vastenburg bukan sekedar bangunan tua yang berdiri di tengah kota Surakarta. dibalik dinding tebal dan bentuknya yang kokoh, […]

0 0
Daffa Fauzan
4 bulan lalu • 3" baca

Menengok Kembali Demonstrasi Mahasiswa Solo 1998

28 Tahun telah berlalu, namun ingatan mengenai peristiwa 1998 masih terpendam pada memori. Sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan gabungan mahasiswa di STSI Solo, pada waktu itu situasi sudah mengalami gesekan. Mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta yang selama ini tidak pernah ikut dalam aksi mulai bergabung pada 29 April 1998. Inilah potret para demonstrasi […]

0 0
Fatimah Az Zahra
4 bulan lalu • 6" baca

Kilas Balik: Bentrokan Mahasiswa UMS dan Aparat, 7 Mei 1998

Pada Kamis, 7 Mei 1998, kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Pabelan, Kartasura, berubah menjadi salah satu pusat gerakan mahasiswa di Surakarta. Sejak pagi, suasana kampus tidak lagi berjalan seperti hari-hari biasa. Aktivitas akademik mulai tersisih oleh kerumunan mahasiswa yang memadati halaman hingga jalan di depan kampus. Sejumlah mahasiswa datang berkelompok, sebagian membawa spanduk, sementara […]

0 0
4 bulan lalu • 4" baca

Bukan Sekadar Menahan Bangunan, Ini Fungsi Tiang Pancang saat Tanah Lunak Tidak Mampu Memikul Beban

Ketika sebuah bangunan, jembatan, atau struktur berat berdiri di atas tanah yang lapisan permukaannya lunak, pondasi dangkal tidak selalu cukup diandalkan. Risiko penurunan berlebih, kemiringan, hingga pergeseran struktur bisa muncul bila beban tidak diteruskan ke lapisan tanah yang tepat. Di sinilah fungsi tiang pancang menjadi penting. Elemen pondasi ini bekerja dari bawah permukaan, memindahkan beban […]

0 0
Vania Khoirunnisa
4 bulan lalu • 5" baca

Mengingat Tragedi: Kebakaran Pasar Gede di Masa Lampau

Di kawasan Pecinan Kampung Ketandan, tepatnya di Jalan Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Solo, bangunan bersejarah yang dikenal sebagai Pasar Gede Hardjonagoro tegak berdiri. Dari pagi hingga malam hari, kompleks pasar itu ramai. Letaknya di pinggir jalan besar, tidak jauh dari Balai Kota Solo. Hingga kini masih menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan di Kota Solo. Sejarah […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan