Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Aspirasi dan Tuntutan: Mengenang Demonstrasi Mahasiswa UMS 1998

Muhammad Akbar
24 Jun 2026 · 2" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Reformasi menjadi pembahasan utama yang banyak dibicarakan di seluruh penjuru negeri. Topik ini tidak terjadi begitu saja, salah satunya dikarenakan terjadinya krisis tahun 1998 yang membuat Indonesia di ambang kehancuran ekonomi. Hingga suara itu bergema di semua kalangan demi menyuarakan hak dan keadilan dalam menuntut pemerintah Orde Baru.

Krisis moneter 1998 merembet menjadi krisis politik, krisis hukum, hingga krisis kepercayaan yang menjadi aspek utama alasan terjadinya demonstrasi. Isi dari tuntuntan mahasiswa kepada Rezim Orde Baru adalah perubahan total terhadap segala aspek baik sistem ekonomi, politik, sosial, dan pemerintahan. Masyarakat mulai menuntut Soeharto untuk turun dari jabatan presiden yang sudah memimpin rezim selama 32 tahun. Tuntutan ini yang kemudian disebut sebagai Gerakan Reformasi.

Demonstrasi sebelumnya terjadi pada Maret didukung oleh pihak kampus salah satunya Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Rektor UMS waktu itu, Drs. H. Dochak Latief memimpin langsung demonstrasi bersama 5000 mahasiswa serta belasan dosen lainnya. Tak hanya mahasiswa dan dosen, banyak aktivis dan politikus yang turun langsung ke UMS untuk menuntut Reformasi. Namun, ketika tuntutan berlarut-larut tidak terselesaikan, demonstrasi kembali pecah hingga berubah menjadi bentrokan. Dukungan dari berbagai elemen mulai dari pelajar dan masyarakat makin memperkeruh suasana demonstrasi.

Demonstrasi sempat terjadi perundingan antara pihak SMPTA dan Aparat TNI yang ada disana. Hingga akhirnya demonstrasi berubah menjadi medan pertempuran antara rakyat dan polisi antihuru-hara (PHH) yang diutus langsung oleh rezim agar dapat meredakan bahkan membubarkan demonstrasi. Kendati demikian, rakyat tidak takut dan malah bersatu dan melawan aparat yang diterjunkan. Aparat pun juga tidak tinggal diam, mereka juga melakukan penahanan pada sejumlah massa yang melempari mereka dengan batu.

Dalam aksi bentrok tersebut sebanyak 63 mahasiswa dan 40 polisi cedera, di antaranya  52  mahasiswa terkena gas air mata, 11 mahasiswa perlu dijahit karena terkena lemparan batu, 2 diantaranya dilarikan ke RS Islam Surakarta. Puncak dari bentrok tanggal 14-16 Mei, dimana Komandan Korem 074/Warastratama yang dipimpin, Kolonel Infranteri Sriyanto memberikan peringatan keras untuk menembak mati di tempat. Selain itu ia meminta kepada masyarakat untuk tidak keluar rumah diatas pukul 22.00 WIB, bila tidak memiliki keperluan lain.

 

Artikel Terkait

Lihat Semua
Mashudi Ali
1 bulan lalu • 3" baca

Perizinan Bangunan yang Sering Dianggap Remeh, Padahal Bisa Bikin Repot di Kemudian Hari

Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia konsultasi teknik dan perizinan bangunan, saya cukup sering menemui pemilik gedung, pabrik, atau ruko yang baru “kelabakan” mengurus izin justru setelah bangunannya jadi, bahkan setelah beroperasi bertahun-tahun. Alasannya macam-macam: dulu dikira cukup asal ada IMB, dikira SLF itu opsional, atau memang sejak awal tidak ada yang mengingatkan. Padahal, di […]

0 0
Mashudi Ali
2 bulan lalu • 5" baca

Buka Usaha Dulu, Urus Izin Belakangan itu Kebiasaan yang Bikin Nyesek di Tahun Ketiga

  Setiap kali muncul berita bangunan ambruk — plafon ruang kelas yang jatuh di jam pelajaran, ruko yang miring setelah hujan berhari-hari, atau balkon gedung yang tiba-tiba lepas — percakapan publik biasanya berhenti di dua pertanyaan: siapa yang salah dan berapa korbannya. Jarang sekali kita sampai pada pertanyaan yang sebenarnya paling mendasar: apakah bangunan itu […]

0 0
verdiansyah hernyana
4 bulan lalu • 2" baca

Recap Lintas Demonstrasi Mei di UNS Solo pada 8 Mei 1998

8 MEI 1998: Aksi demonstrasi di UNS Solo dok. Solopos Institute Munculnya aksi demonstrasi di sepanjang jalan gerbang depan Universitas Sebelas Maret pada 8 Mei 1998 menunjukkan semakin meluasnya gerakan mahasiswa di Kota Surakarta. Aksi ini tidak lagi terbatas di dalam lingkungan kampus, tetapi mulai mengambil ruang publik sebagai sarana penyampaian aspirasi. Mahasiswa dan warga […]

0 0
Muhammad Akbar
4 bulan lalu • 3" baca

Menolak Lupa: Jejak Solidaritas di Balik Banjir Besar Solo 1966

Kota Solo secara geografis memang dikelilingi oleh aliran sungai besar seperti Bengawan Solo dan anak sungainya, yakni Kali Pepe. Letak wilayah yang berada di dataran rendah membuat kota ini memiliki kerentanan alami terhadap luapan air sejak masa lampau. Jika melihat perbandingan pada kondisi banjir yang sering terjadi hingga siklus banjir besar, ini bukan merupakan hal […]

0 0
Daffa Fauzan
4 bulan lalu • 3" baca

Transformasi Kali Pepe di Kota Solo

Tahukah Anda mengenai sejarah panjang Kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa tradisional? Kota Solo dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai budaya yang tetap eksis hingga kini. Nilai-nilai tradisi tersebut terus diwariskan melalui kehidupan masyarakat dan praktik kebudayaan sehari-hari. Banyak situs bersejarah terus ada dengan cara beradaptasi mengikuti perubahan zaman agar tetap memiliki makna. Bangunan […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan