Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Menengok Kembali Demonstrasi Mahasiswa Solo 1998

Daffa Fauzan
13 Jul 2026 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

28 Tahun telah berlalu, namun ingatan mengenai peristiwa 1998 masih terpendam pada memori. Sebuah aksi demonstrasi yang dilakukan gabungan mahasiswa di STSI Solo, pada waktu itu situasi sudah mengalami gesekan. Mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta yang selama ini tidak pernah ikut dalam aksi mulai bergabung pada 29 April 1998.

Inilah potret para demonstrasi sebelum terjadinya kerusuhan puncak pada 14 Mei 1998. Ketegangan yang awalnya berupa orasi dan tuntutan damai perlahan berubah menjadi situasi yang lebih panas, ditandai dengan aksi saling dorong dan gesekan fisik di antara kedua kubu. Interaksi yang semakin intens tersebut akhirnya memicu kericuhan yang sulit dikendalikan. Kejadian ini selanjutnya menjadi bagian dari perjalanan panjang pergerakan mahasiswa yang mencapai klimaksnya pada pertengahan Mei 1998, sebuah momen krusial dalam catatan sejarah Indonesia.

Solopos: Demonstrasi STSI solo

6 Mei 1998: Mensikapi Kondisi Politik Indonesia

Terlihat kelompok massa mulai melakukan aksi pembakaran seiring dengan situasi yang semakin memanas. Para pengunjuk rasa bergerak bersama, kompak dalam satu suara, bersatu dalam gelombang dukungan mahasiswa yang kian besar. Pada minggu itu, Kota Bengawan benar-benar dilanda kerusuhan, dan bentrokan terjadi di berbagai lokasi, membuat suasana kota menjadi tegang dan tidak kondusif.

Aksi yang terjadi di STSI Solo juga menjadi salah satu momen yang signifikan. Ini bukan hanya tentang beraksi di jalanan, melainkan juga sebagai reaksi terhadap situasi politik di Indonesia yang tengah kacau. Mahasiswa mengungkapkan aspirasi reformasi dengan semangat yang semakin kuat dan jelas. Dari awalnya yang merupakan demonstrasi damai, perlahan-lahan menjadi lebih serius, menunjukkan seberapa besar beban dan kecemasan yang dirasakan pada saat itu.

Dokumen Solopos: Massa berbondong-bondong menyuarakan aspirasi

Rombongan mahasiswa terlihat berbondong-bondong turun ke jalan, melakukan aksi arak-arakan yang jadi gambaran nyata situasi saat itu. Mereka berjalan dalam antrean panjang, dipenuhi semangat, dengan teriakan nyaring yang terus menggema di sekeliling jalan. Spanduk yang bertuliskan “Reformasi” dikibarkan, seolah menjadi lambang dari ketidakpuasan sekaligus harapan, bahwa situasi politik Indonesia pada waktu itu tidak dalam keadaan baik.

Meskipun sinar matahari sangat terik dan menyengat, hal itu tidak menghalangi mereka sama sekali. Sebaliknya, di tengah cuaca yang melelahkan, semangat mereka justru semakin berkobar. Keringat yang bercucuran seolah menjadi bukti komitmen mereka dalam mengekspresikan aspirasi.

Dokumen Solopos: Petugas keamanan melakukan penghadangan di gerbang Kampus UMS.

7 Mei 1998: Bentrok Aksi Solidaritas

Selang satu hari kemudian, giliran mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang beraksi. Sejak pagi, atmosfer di sekitar kampus Pabelan sudah mulai tegang, ketika ratusan mahasiswa mempersiapkan diri untuk turun ke jalan menyampaikan aspirasi mereka. Dengan semangat yang serupa seperti kampus-kampus lainnya, mereka berupaya keluar dari kawasan kampus untuk bergabung dalam aksi yang semakin meluas di Kota Solo.

Namun, langkah mereka nggak semulus yang dibayangkan. Di pintu masuk Kampus Pabelan, petugas keamanan sudah siap sedia dan menghalangi pergerakan para demonstran. Barisan aparat berdiri rapat, membentuk penghalang yang bikin mahasiswa tertahan di depan gerbang.

Bentrokan akhirnya tidak dapat dielakkan antara mahasiswa yang diorganisir oleh Solidaritas Mahasiswa Peduli Tanah Air (SMPTA) dan aparat keamanan. Keadaan yang awalnya tegang berubah menjadi kacau dengan cepat. Dorong-mendorong semakin intens, benda-benda mulai dilempar, dan gas air mata digunakan untuk membubarkan kerumunan.

Akibatnya cukup mengkhawatirkan. Setidaknya 52 mahasiswa terpapar gas air mata yang menyebabkan sesak napas dan kepanikan di tengah kerumunan. Di samping itu, 11 mahasiswa mengalami cedera akibat lemparan dari benda keras dalam situasi yang semakin tidak terkendali. Bahkan, dua di antara mereka terpaksa dibawa ke RS Islam Surakarta karena keadaannya yang serius dan memerlukan perawatan medis lebih lanjut. Di sisi lain, aparat juga tidak lolos dari dampak bentrokan, sekitar 40 petugas dilaporkan menderita luka-luka akibat benturan yang keras di lapangan.

Artikel Terkait

Lihat Semua
Fatimah Az Zahra
4 bulan lalu • 4" baca

Di Balik Bangunan Tua Benteng Vastenburg

Di tengah padatnya lalu lintas Kota Surakarta, sebuah bangunan tua masih berdiri kokoh. Letaknya berada di kawasan Gladak yang selalu ramai kendaraan. Banyak orang melewatinya setiap hari tanpa benar-benar mengenali sejarahnya. Bangunan itu adalah Benteng Vastenburg. Benteng Vastenburg bukan sekedar bangunan tua yang berdiri di tengah kota Surakarta. dibalik dinding tebal dan bentuknya yang kokoh, […]

0 0
Fatimah Az Zahra
4 bulan lalu • 6" baca

Kilas Balik: Bentrokan Mahasiswa UMS dan Aparat, 7 Mei 1998

Pada Kamis, 7 Mei 1998, kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Pabelan, Kartasura, berubah menjadi salah satu pusat gerakan mahasiswa di Surakarta. Sejak pagi, suasana kampus tidak lagi berjalan seperti hari-hari biasa. Aktivitas akademik mulai tersisih oleh kerumunan mahasiswa yang memadati halaman hingga jalan di depan kampus. Sejumlah mahasiswa datang berkelompok, sebagian membawa spanduk, sementara […]

0 0
4 bulan lalu • 4" baca

Bukan Sekadar Menahan Bangunan, Ini Fungsi Tiang Pancang saat Tanah Lunak Tidak Mampu Memikul Beban

Ketika sebuah bangunan, jembatan, atau struktur berat berdiri di atas tanah yang lapisan permukaannya lunak, pondasi dangkal tidak selalu cukup diandalkan. Risiko penurunan berlebih, kemiringan, hingga pergeseran struktur bisa muncul bila beban tidak diteruskan ke lapisan tanah yang tepat. Di sinilah fungsi tiang pancang menjadi penting. Elemen pondasi ini bekerja dari bawah permukaan, memindahkan beban […]

0 0
Vania Khoirunnisa
4 bulan lalu • 5" baca

Mengingat Tragedi: Kebakaran Pasar Gede di Masa Lampau

Di kawasan Pecinan Kampung Ketandan, tepatnya di Jalan Urip Sumoharjo, Sudiroprajan, Solo, bangunan bersejarah yang dikenal sebagai Pasar Gede Hardjonagoro tegak berdiri. Dari pagi hingga malam hari, kompleks pasar itu ramai. Letaknya di pinggir jalan besar, tidak jauh dari Balai Kota Solo. Hingga kini masih menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan di Kota Solo. Sejarah […]

0 0
Vania Khoirunnisa
4 bulan lalu • 4" baca

Berita Kebakaran Pasar Gede dalam Surat Kabar Solopos

Pada hari Jumat 28 April 2000, tepatnya sekitar pukul 01.00 WIB, kebakaran hebat melanda Pasar Gede Hardjonagoro yang berlokasi di Jalan Urip Sumoharjo, Solo. Sumber api berasal dari korsleting listrik di lantai II, yakni di kawasan Diskotik Solo Biliar yang lokasinya berdekatan dengan pos polisi Pasar Gede. Pihak kepolisian melalui Kapolresta Solo Letkol (Pol) Robby […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan