Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Menangisi Venesia dari Timur: Transformasi Identitas Kota Air Palembang Pada Masa Kolonial (1825–1942)

Muhammad Akbar
24 Jun 2026 · 2" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Palembang hari ini terasa sangat pengap karena dipenuhi oleh hamparan aspal beton. Kita seolah lupa bahwa dahulu kota ini adalah pusat peradaban air dunia. Sungai Musi bukan sekadar pemandangan melainkan urat nadi utama bagi seluruh warga. Namun identitas kota sungai tersebut perlahan mulai pudar ditelan oleh modernitas zaman.

Perubahan besar ini bermula ketika kolonial Belanda mulai menguasai wilayah kedaulatan Palembang. Tahun 1825 menjadi awal dari runtuhnya kekuasaan mandiri dari Kesultanan Palembang. Pemerintah kolonial ingin mengubah wajah kota agar sesuai dengan visi birokrasi mereka. Mereka mulai memaksa orientasi kehidupan warga untuk segera berpindah menuju ke daratan. Sejak saat itu pembangunan fisik mulai dipaksa untuk menjauhi tepian sungai Musi.

Pembangunan jalan raya memang dianggap sebagai lambang kemajuan dan juga kontrol birokrasi kolonial, namun justru menjadi titik kerusakan tata ruang tradisional Kota Palembang. Rawa yang dahulu menjadi paru-paru kota mulai diuruk tanpa sisa. Jembatan dan aspal dibangun diatas jalur-jalur transportasi air tradisional milik masyarakat Kota Palembang. Perahu-perahu kecil kini mulai kehilangan ruang untuk bersandar di tepian sungai Musi.

Warga lokal perlahan mulai terpinggirkan dari pusat perputaran ekonomi kota. Perahu tradisional kalah bersaing dengan kapal uap besar yang bersandar di dermaga beton. Kemandirian ekonomi masyarakat sungai mulai tergerus oleh kekuatan modal asing. Justru masyarakat Kota Palembang dipaksa menjadi buruh di atas tanah yang dahulu mereka kelola sendiri. Bahkan masyarakat Kota Palembang harus menampung kerusakan lingkungan yang sudah dilakukan kolonial atas nama modernitas.

Kehilangan ini bukan hanya soal hilangnya rumah rakit yang sangat indah dipandang. Kita kehilangan cara berpikir yang menghargai keseimbangan antara manusia dan alam sekitar. Modernitas yang dibawa oleh kolonial menyisakan luka ekologi yang sangat dalam bagi kota. Banjir yang sering melanda kini menjadi pengingat atas kesalahan besar masa lalu.

Suara-suara dari masa lalu seolah memanggil kita dari dasar sungai Musi terdalam. Mereka mengingatkan kita tentang harmoni yang pernah terjalin erat antara manusia dan air. Kita harus berani meninjau ulang konsep pembangunan kota yang sedang kita jalankan. Jangan sampai identitas kita benar-benar terkubur di bawah lapisan aspal yang panas dibawah modernitas yang menggersangkan jiwa-jiwa kita.

Artikel Terkait

Lihat Semua
Mashudi Ali
1 bulan lalu • 3" baca

Perizinan Bangunan yang Sering Dianggap Remeh, Padahal Bisa Bikin Repot di Kemudian Hari

Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia konsultasi teknik dan perizinan bangunan, saya cukup sering menemui pemilik gedung, pabrik, atau ruko yang baru “kelabakan” mengurus izin justru setelah bangunannya jadi, bahkan setelah beroperasi bertahun-tahun. Alasannya macam-macam: dulu dikira cukup asal ada IMB, dikira SLF itu opsional, atau memang sejak awal tidak ada yang mengingatkan. Padahal, di […]

0 0
Mashudi Ali
2 bulan lalu • 5" baca

Buka Usaha Dulu, Urus Izin Belakangan itu Kebiasaan yang Bikin Nyesek di Tahun Ketiga

  Setiap kali muncul berita bangunan ambruk — plafon ruang kelas yang jatuh di jam pelajaran, ruko yang miring setelah hujan berhari-hari, atau balkon gedung yang tiba-tiba lepas — percakapan publik biasanya berhenti di dua pertanyaan: siapa yang salah dan berapa korbannya. Jarang sekali kita sampai pada pertanyaan yang sebenarnya paling mendasar: apakah bangunan itu […]

0 0
verdiansyah hernyana
4 bulan lalu • 2" baca

Recap Lintas Demonstrasi Mei di UNS Solo pada 8 Mei 1998

8 MEI 1998: Aksi demonstrasi di UNS Solo dok. Solopos Institute Munculnya aksi demonstrasi di sepanjang jalan gerbang depan Universitas Sebelas Maret pada 8 Mei 1998 menunjukkan semakin meluasnya gerakan mahasiswa di Kota Surakarta. Aksi ini tidak lagi terbatas di dalam lingkungan kampus, tetapi mulai mengambil ruang publik sebagai sarana penyampaian aspirasi. Mahasiswa dan warga […]

0 0
Muhammad Akbar
4 bulan lalu • 3" baca

Menolak Lupa: Jejak Solidaritas di Balik Banjir Besar Solo 1966

Kota Solo secara geografis memang dikelilingi oleh aliran sungai besar seperti Bengawan Solo dan anak sungainya, yakni Kali Pepe. Letak wilayah yang berada di dataran rendah membuat kota ini memiliki kerentanan alami terhadap luapan air sejak masa lampau. Jika melihat perbandingan pada kondisi banjir yang sering terjadi hingga siklus banjir besar, ini bukan merupakan hal […]

0 0
Daffa Fauzan
4 bulan lalu • 3" baca

Transformasi Kali Pepe di Kota Solo

Tahukah Anda mengenai sejarah panjang Kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa tradisional? Kota Solo dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai budaya yang tetap eksis hingga kini. Nilai-nilai tradisi tersebut terus diwariskan melalui kehidupan masyarakat dan praktik kebudayaan sehari-hari. Banyak situs bersejarah terus ada dengan cara beradaptasi mengikuti perubahan zaman agar tetap memiliki makna. Bangunan […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan