Berbeda bukan berarti Musuh

     Cerita ini bermula dari aku seorang gadis yang terlahir beragama Islam. Yang memiliki nenek beragama Kristen,Yaitu nenek P. Aku dan nenekk sangatt dekat sejak kecil,perbedaan agama diantara kita bukanlah penghalang karena kita adalah keluarga. Sejak kecil aku sering sekali mengantar nenek ke gereja untuk beribadah.Nenekku juga tidak keberatan jika aku dan keluargaku berkunjung lalu melaksanakan ibadah sholat dirumahnya.

     Saat hari Raya Idul Fitri nenekku jugaa open house untuk tetangga dan keluarga lainnya,kami juga selalu menerapkan sungkeman setiap hari raya idul Fitri.Rumah nenek selalu ramai ketika Idul Fitri karena banyak sekali saudara dan tetangga yang datang kerumah untuk bersilaturahmi.Nenekku tidak pernah membeda-bedakan dengan adanya perbedaan agama tersebut.Sampai sekarang hubungan keluarga ku dan nenek selalu baik dan tidak ada pertengkaran,karena kami saling menghargai satu sama lain.

     Selain itu aku juga memiliki teman berbeda agama yang sangat dekat dan baik kepadaku dia adalah T.Seorang lelaki yang aku temui melalui sosial media,Aku dan T berteman sangat baik tanpa membedakan 1 sama lain. Aku dan T sering sekali bertukar cerita, bercanda gurau bersama.tetapii pada suatu hari aku dan T sempat salah paham karena suatu hal,tetapi pada akhirnya kita saling memahami dan memaafkan.

     Jadi sampai sekarang aku dan T sudah kembali berteman baik dan tidak ada kesalah pahaman diantara kita.T suka sekali bercerita tentang kegiatan-kegiatan yang ia lakukan saat di gereja,dan dia juga sering memberitahu kepadaku ayat ayat Alkitab yang memiliki makna yang bagus dan baik,begitupun sebaliknya aku juga sering memberitahu kegiatan-kegiatan dimasjid,dan memberitahu mengenai ayat-ayat suci Al-Qur’an yang memiliki makna indah.Kami juga sering membahas mengenai film kesukaan kami,lagu kesukaan kami.aku sering memberi tau kepada T tentang novel yang aku baca,walaupun aku tau ia kurang suka membaca novel tetapi ia sangat antusias mendengarkan ceritaku tentang novel-novel yang aku baca.

     Pernah pada suatu hari ia bercerita tentang sekolahnya namun aku tidak mengerti apa yang ia ceritakan.Tetapi dengan sabar ia memberikan pengertian kepadaku agar aku mengerti apa yang ia katakan.Kita selalu bertukar cerita tentang apapun ituu tanpa memikirkan perbedaan agama,dan kita selalu saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

 

Nama : Jelita Faikaputri Ramadhani

Asal Sekolah : SMA Negeri Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Berkulit Gelap Itu Salah ya?

2013, Terjadi di salah satu SD (Sekolah Dasar) yang ada di daerah Ngringo, Jaten, Karanganyar. Peristiwa ini menimpa salah satu siswi disana berinisial AB. Siswi AB di kenal teman-temannya sebagai anak yang pendiam dan tidak pandai berinteraksi. Karena hal tersebut banyak anak-anak di kelas yang tidak mendekatinya. Bukan karena ia pendiam melainkan warna kulit dia lebih gelap dari yang lain.

Hal tersebut menarik perhatian salah satu siswi berinisial SV. Siswi tersebut bertanya pada salah satu teman berinisial JV, Siswi SV bertanya “Kenapa dia tidak di ajak bermain?” siswi JV memnjawab “Karna ia berkulit gelap, kulit gelap, orang berkulit gelap pantasnya di kucilkan” Mendengar hal tersebut siswi berinisial SV terkejut akan hal tersebut.

Peristiwa tersebut berlanjut hingga hari kedua, di saat jam istirahat. Siswi AB yang sedang duduk di kursinya dan memakan bekalnya, Siswi AB di ganggu oleh siswi JV dan teman-temannya. Dengan makanan AB yang di ambil, kepala siswi AB yang di jitak oleh salah satu teman JV, teman-teman di kelas tersebut hanya terdiam karena takut dengan perilaku siswi JV. Bahkan, laki-laki yang ada di kelas tidak ingin ikut campur akan hal tersebut.

Berlangsung selama satu bulan, siswi AB masih di rundung oleh siswi JV bersama teman-temannya. Karena hal tersebut sering terjadi, maka salah satu siswi berinisial SA berani untuk mengutarakan pendapatnya saat JV berulah kembali. Siswi SA berkata “heh, kok aku lihat-lihat dari kemarin kamu gituin AB terus sih? maksud kamu apa?” dengan lontaran tersebut JV ikut mengebu-ngebu “ya kamu ngga usah ikut campur! ini tuh urusan aku sama dia!”, siswi SA menjawab “Kamu ganggu dia tuh sama aja kamu ganggu anak-anak kelas ini, risih tau!”. Karena pedebatan yang cukup panjang, perdebatan tersebut di relai oleh ketua kelas berinisial RP. “JV jangan seperti itu ya, aku dengar alasan kamu merundungnya karena ia berkulit gelap, jangan mentang-mentang kamu berkulit terang seenaknya dengan dia, dia juga anak-anak seumuran kita harusnya menghargai perbedaan tersebut”.

Siswi JV tidak memperdulikaan perkataan ketua kelas tersebut, semakin hari ia semakin merundung siswi AB serta siswi lainnya, bahkan ia memperbudak anak-anak yang pendiam untuk kesenangan ia semata. Karena hal tersebut terus terjadi, akhirnya ketua kelas melapor ke guru untuk di tindak lanjuti. Siswa JV bukannya takut, tetapi ia malah datang ke kantor dan meminjam telepon disana untuk menghubungi orang tuanya terlebih ibunya. Hari esoknya ibu siswi JV datang dengan menantang ibu siswi RP, selaku ketua kelas tersebut. Masalah tersebut semakin meluas, siswi JV mengatakan bahwa ia di rundung oleh siswi RP, sebaliknya siswi RP menceritakan bahwa ia melihat siswi JV yang merundung teman sekelasnya, hilang siswi AB dan yang lainnya datang sebagai saksi.

Dalam waktu seminggu, peristiwa ini di selesaikan secara keluargaan dan di pandu oleh ibu kepala sekolah serta wali kelas. Dengan guru-guru di sekolah ikut turun tangan, sisiwi JV dan orang tuanya di beri pengertian lebih lanjut serta orang tua siswi JV yang meminta maaf pada orang tua siswi AB serta orang tua yang lainnya. Dengan hal tersebut, masalah terselesaikan dan siswi JV juga berhenti merundung teman-temannya di kelas, serta ia menjadi lebih mudah berteman dengan seluruh anak kelas.

 

Nama: Syifa Virda Sandita

Sekolah: SMAN 8 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Tentang Keberagaman

     Keberagaman adalah fenomena yang telah banyak melingkupi seluruh dunia. Setiap negara atau wilayahh-wilayahnya masing-masing memiliki keberagaman dalam berbagai hal seperti budaya, agama, suku, bahasa, dan lain sebagainya. Keberagaman ini juga memberikan kekayaan dan keunikan tersendiri bagi masyarakat di seluruh dunia. Dalam essay ini, saya akan menjelajahi tentang mengapa keberagaman memiliki kepentingan yang besar dan bagaimana kita dapat mempromosikan nilai-nilai keberagaman.

     Pertama-tama, keberagaman budaya adalah salah satu bentuk keberagaman yang paling terlihat. Setiap budaya memiliki adat istiadat, tradisi, seni, bahasa, makanan, cara hidup yang unik, serta lain sebagainya. Melalui interaksi dengan berbagai budaya, kita memiliki kesempatan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih luas tentang cara hidup orang lain dan memahami perbedaan di antara kita. Ini membantu membuka pikiran kita dan meningkatkan pemahaman kita tentang dunia yang lebih luas. Lebih dari itu, keberagaman budaya memungkinkan kita untuk saling menghormati perbedaan dan membangun hubungan yang harmonis antara kelompok-kelompok sosial yang berbeda-beda.

     Keberagaman agama juga memainkan peran penting dalam memupuk keberagaman dalam masyarakat. Agama adalah aspek penting dalam kehidupan banyak orang di seluruh dunia, dan setiap agama memiliki keyakinan, praktik ritual, dan etika yang berbeda-beda. Keberagaman agama dapat mengajarkan kita tentang beberapa keberagaman seperti keberagaman pemikiran, keyakinan, dan nilai-nilai yang ada di dunia ini. Penting untuk menghormati kebebasan beragama dan mempromosikan toleransi antar umat beragama. Hidup berdampingan secara damai dengan individu yang memiliki keyakinan agama yang berbeda merupakan suatu kekayaan yang harus kita hargai dan perlakukan dengan penuh hormat.

     Selain itu, keberagaman sosial juga merupakan aspek penting dalam menciptakan masyarakat yang inklusif dan adil. Keberagaman dalam hal jenis kelamin, orientasi seksual, dan status sosial memiliki peran yang krusial dalam membangun masyarakat yang setara dan mengurangi ketimpangan sosial. Mengakui hak-hak setiap individu, memerangi segala diskriminasi, dan mempromosikan kesetaraan sesama adalah langkah-langkah penting dalam mencapai masyarakat yang inklusif bagi semua individu. Penting untuk menciptakan lingkungan yang menerima dan menghormati perbedaan ini, serta menjamin kesempatan dan hak yang sama bagi semua orang.

     Keberagaman juga merupakan sumber daya yang tak ternilai dalam menciptakan inovasi dan kemajuan. Ketika individu dengan latar belakang, pengetahuan, dan pengalaman yang berbeda-beda tetapi unik berkumpul, mereka membawa perspektif dan ide-ide baru yang dapat mengubah cara kita melihat dan menjalani hidup. Kolaborasi antara berbagai kelompok masyarakat dan pemikiran yang beragam seringkali menghasilkan solusi yang lebih baik dan inovatif dalam menghadapi tantangan yang kompleks. Keberagaman memungkinkan kita untuk berpikir secara kritis, melihat masalah dari perspektif yang berbeda, dan merangkul keragaman dari ide-ide tersebut.

    Namun, untuk mencapai manfaat dari keberagaman ini, penting untuk memiliki pemahaman, saling pengertian, dan kerja sama yang baik dan kuat. Meskipun perbedaan bisa menjadi sumber konflik, dengan menghargai dan memahami keberagaman, kita dapat mengatasi perbedaan tersebut dan membangun harmoni dalam masyarakat. Penting untuk mempromosikan pendidikan yang mengajarkan tentang keberagaman, saling pengertian, dan toleransi sejak usia muda, sehingga para generasi-generasi mendatang juga dapat meneruskan nilai-nilai tersebut.

     Dalam kesimpulannya, keberagaman adalah kekayaan dan sebuah elemen penting dalam masyarakat kita. Melalui pengakuan, menghargai, dan merayakan keberagaman, kita dapat membangun dunia yang lebih baik dan inklusif. Hal ini melibatkan seluruh dunia untuk menghormati perbedaan, mempromosikan kesetaraan, mengajarkan toleransi, dan membangun hubungan yang harmonis antara berbagai kelompok masyarakat. Dengan menerima dan merayakan keberagaman, kita memperkuat kualitas kehidupan kita sendiri serta membangun dunia yang lebih adil, damai, dan harmonis untuk kita semua.

 

Nama : Nia Nopiani

Sekolah : SMK N 3 KLATEN

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Beda Kok Rukun Terus?

     Hai, disini aku akan berbagi pengalaman pertemanan masa kecilku yang ternyata ada banyak hal – hal kecil berarti, namun baru aku sadari seiring dengan bertambahnya umurku. Sebut saja aku FV, saat itu pada sekitar tahun 2018 aku masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar, aku tinggal di Perumnas Bumi Wonorejo Indah, Karanganyar. Di tempat tinggalku, aku memiliki dua sahabat, salah satunya teman lelaki berinisial SP, dia sama denganku masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar, rumahnya berada tepat di depan rumahku, kami sudah sering bermain bersama bahkan dari kami masih TK. Satunya adalah teman perempuan berinisial R, umurnya berbeda satu tahun lebih muda denganku dan SP, rumahnya berada di samping kanan rumahku, tahun itu adalah tahun pertama kami bertemu dan menjadi teman.

     Kami sangat sering menghabiskan akhir pekan kami dengan bermain bersama di lingkungan sekitar, bahkan di hari lainnya kami juga sering bermain sepulang sekolah hingga menjelang malam, tentunya kami sudah melewati banyak kenangan masa kecil bersama haha. Di akhir pekan, aku dan SP selalu menunggu R yang beribadah ke Gereja hingga siang hari, biasanya kami bermain setelah tidur siang, sekitar pukul 14.00 – 16.00 setelah itu kami beristirahat karena aku dan SP harus menunaikan sholat ashar, kami lanjut bermain bersama setelahnya hingga menjelang magrhrib. Begitulah kira – kira rutinitas jam main kami di akhir pekan.

     Selain akhir pekan kami juga bermain bersama setelah pulang sekolah, R biasa pulang ke rumah pukul 16.00 karena menunggu bundanya pulang bekerja, waktu bermain kami hanya sebentar di hari biasa. Namun aku sering bermain ke rumah R saat malam hari karena masih kangen saja untuk bermain atau hanya sekedar mengobrol. Ayah dan Bundanya R sangat baik juga kepada ku, namun sayang mereka sering membandingkan aku dan R. Misalnya “ Mbak Fv tu belajarnya rajin walau main hp terus, la kamu main hp terus belajar gamau, bunda marahin kamu karna kamunya yang ngga kaya mbak Fv ’’ ucap bunda R. Jujur saja waktu itu aku hanya mengiyakan apa yang dikatakan oleh bundanya R karena saat itu aku menganggap bahwa R hanya mendapat teguran dari orang tuanya karna dia yang malas untuk belajar, R pun terlihat tidak kesal atau marah kepadaku, justru aku merasakan bahwa R sangat menyayangiku.

     Lain halnya denganku dan SP, R sering sekali dimarahi oleh Ayah Bundanya hingga dia menangis. Aku dan SP sering juga mendapat pertanyaan dari bundanya R “ Mas SP kalo dimarahin mama juga karna mama sayang sama mas SP kan, Mbak FV juga ngerasanya gitu kan ’’ Yaaa tidak salah juga sih pikirku dulu, Aku dan SP hanya bisa membantu memberi nasehat kepada R agar dia tidak dimarahi orang tuanya lagi.

    R memiliki satu hewan peliharaan yaitu anjing yang bernama Bino. Walau aku dan SP tidak bisa menyentuh Bino, tetapi kami sayang terhadap Bino, apalagi tingkah lakunya yang menggemaskan. Saat bermain ke rumah R, Bino selalu dimasukan ke kandang agar tidak mengenai aku dan SP. R sangat menghargai kami dengan mencuci tangannya setiap ingin bermain dengan kami setelah memegang Bino, tentunya Ayah Bunda R yang mengajarkan hal itu kepada anaknya. Sekarang anjing itu sudah mati karena memakan racun tikus. Siapa yang tidak sedih dengan kematian Bino, kami semua sangat merasa kehilangan. Namun kami tetap memberi semangat kepada R dan meyakinkan bahwa Bino sudah tenang disana.

     Hari demi hari berlalu hingga memasuki bulan suci Ramadhan, saat puasa kami bertiga masih bermain bersama tetapi saat jam makan siang ayah dari R meminta R untuk istirahat makan siang terlebih dahulu sedangkan aku dan SP menunaikan sholat. Bahkan kami bertiga pernah mengikuti buka bersama di masjid dengan R, saat mau tarawih R iseng meminta untuk ikut dan meminjam mukenaku, tetapi dilarang oleh bundanya R saat kami mau pergi ke masjid, aku paham maksud dari bundanya yang melarang R, aku merasa sedikit malu karna mengiyakan permintaan R saat itu, untungnya mereka tidak marah kepadaku dan masih berhubungan baik denganku. Saat Idul Adha pun R ikut denganku dan SP melihat penyembelihan hewan kurban di Masjid. Sedangkan saat akhir tahun R merayakan Natal dengan keluarganya di tempat neneknya, jadi kami jarang bermain di waktu itu, namun saat R sudah kembali ke rumah, aku dan SP menghampirinya dan mendengarkan cerita R saat merayakan perayaan Natal bersama keluarganya.

     Pertemanan kami terasa sangat indah dan harmonis meski kami berbeda keyakinan, kunci dari kerukunan itu sendiri yaitu perasaan saling menghargai satu sama lain. Aku juga menyadari meski cara orang tua R mendidik R tidak seperti orang tuaku dan SP, tetapi aku yakin mereka mengusahakan dan menginginkan yang terbaik untuk R. Lagi pula Ayah dan Bundanya R selalu mengajarkan R untuk menghargai aku dan SP sebagai temannya yang berbeda keyakinan.

     R pindah rumah pada tahun 2020, aku dan SP sedih karena R pindah rumah dan meninggalkan kami berdua disini, sampai saat ini R belum kunjung bermain lagi kemari, aku dan SP pun melanjukan hidup kami masing – masing, SP berada di pondok sekarang yang berarti sekarang aku sendirian dan tidak memiliki teman di rumah. Aku berharap mereka bisa mengejar apa yang dicita – citakan dan kami bertiga bisa sukses dengan jalan kami masing – masing. Aku juga berharap kami bertiga bisa berkumpul dan bermain bersama lagi setelah 4 tahun berpisah.

 

Nama: Fazavita Raafaayuningsih

Sekolah: SMAN 8 SURAKARTA

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Secuil Indonesia di Desa Sapen

     Negara Indonesia adalah negara majemuk yang dianugerahkan Tuhan dengan keanekaragaman budaya. Dengan kondisi negara berbentuk kepulauan, dengan jumlah pulau lebih dari ribuan ini dihuni oleh masyarakat yang memiliki suku, ras, agama, dan etnis yang berbeda-beda. Hal inilah yang membuat Indonesia memiliki keberagaman kebudayaan. Masyarakat Indonesia harus mampu hidup berdampingan antara satu dengan lainnya.

     Keberagaman kebudayaan menjadi kekayaan dan keindahan tersendiri bagi Indonesia. Namun, sering kali perbedaan budaya ini juga dapat menjadi ancaman dan hambatan yang menantang persatuan bangsa Indonesia. Indonesia dianggap rentan terhadap isu konflik hingga perpecahan. Sila ketiga Pancasila, yakni persatuan Indonesia memiliki nilai nasionalisme dalam tiap butir pengamalannya. Dengan adanya sikap nasionalisme mengutamakan kepentingan dan keselamatan bangsa maka persatuan dan kesatuan akan terwujud.

     Sapen, sebuah desa kecil yang terletak di ujung timur utara Kabupaten Sukoharjo. Kehidupan masyarakat di desa ini sangat tentram di antara kebisingan lalu-lintas kendaraan bermotor lintas kabupaten. Masyarakat yang tinggal di desa ini mayoritas beragama islam, hanya ada segelintir orang yang beragama non-islam.

     Salah satu keluarga yang beragama minoritas di desa ini, yaitu agama kristen. Di keluarga ini hanya terdiri 2 orang saja, sepasang suami istri, tanpa seorang anak bahkan sanak saudara. Panggil saja pak Temy dan ibu Temy. Membaur begitu saja. Tanpa ada sekat agama dalam kemasyarakatan. Pun, terkenal baik dan ramah pada siapa saja.

     Selain itu, masyarakat di sini juga banyak yang berasal dari berbagai suku dan etnis. Bapak Siregar, salah satu contohnya. Beliau  adalah salah satu perangkat desa yang berasal dari suku Batak. Sebagai pemberi pelayanan publik, ia tidak pernah semena-mena dan memilih-milih saat melaksanakan tugasnya. Ia tampak begitu akrab dengan seluruh warga desa Sapen.

     Ada juga seorang keluarga yang berasal dari Papua. Hidup damai bahagia tanpa pernah mendapat diskriminasi dan perlakuan berbeda. Beliau bernama bapak Bram. Sebagai salah satu warga desa Sapen, ia selalu berkontribusi dalam semua kegiatan sosial kemasyarakatan. Beliau adalah salah satu orang yang bersemangat saat mengikuti kerja bakti. Bapak Bram tidak pernah mendapatkan perilaku negatif dari masyarakat setempat, justru beliau sangat diterima di sini.

     Desa Sapen adalah secuil Indonesia. Tentunya dengan keberagaman adalah ciri khasnya. Keberagaman adalah hal yang tak terelakkan, sehingga bukan masalah mayoritas atau minoritas apabila membicarakan tujuan hidup bersama. Jika tujuan hidup bersama, maka bukan masalah perbedaan atau persamaan yang dicarikan solusi, melainkan asas keberasamaan demi kerukunan dan kesejahteraan yang menjadi tujuan.

     Akhirnya, kita dapat melihat desa Sapen dan juga desa-desa yang lain dapat menempatkan keberagaman menjadi modal kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia secara menyeluruh. Sebuah perbedaan janganlah menjadi penghalang bagi kita semua untuk bersatu

 

Nama: Clara Faradias Ningtyas Monic

Sekolah: SMAN 1 Mojolaban

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Tidak Berjarak di Perbedaan

     Sejak usiaku sudah cukup mengenal keberagaman maka dari situlah banyak yang beragam di lingkungan sekitarku, hidupku sangat berdampingan dengan keberagaman hal itulah yang menjadikanku seseorang yang ingin mencari tahu arti keberagaman lebih lanjut dari cerita pengalamanku sendiri. Keberagaman yang ditemui olehku mengajarkan cara bertoleransi, menghargai, dan tidak berburuk sangka terhadap orang yang berbeda dari kita. Karena menurutku masih pentingkah kita berbeda? Tidak itu tidak penting bagiku karena kita terlihat sama dan dari yang berbeda kita menjadi beragam serta dipersatukan oleh keberagaman. Tetapi miris dalam perbedaan itu masih terdapat konflik yang harus dipecahkan dan inilah ceritaku “Tidak Berjarak di Perbedaan”.

     Namaku Anggeta Asy Syifa Kilau Putri, awal mulanya aku adalah seseorang yang menganggap apapun sama dan aku tidak merasa ada yang berbeda mungkin karena saat itu umurku tergolong masih bocil kata orang sih masih jadi bocah ingusan. Aku merasa adanya perbedaan saat aku menduduki bangku kelas III di SD Negeri Gemolong 1 terdapat siswa baru yang dimana awal kedatangannya aku merasa ada yang berbeda diantara kita. Aku memberanikan diri untuk berkenalan dengannya Ika Aulia Radisti ya itu namanya, cukup indah bukan? Aku mulai berkenalan “jenengmu sopo?” (namamu siapa?) ucapku dan dia membalas “teu ngarti abdi teh” (aku tidak mengerti mbak) dan benar saja ternyata kita berbeda, perbedaan diantara kita adalah tutur kata yang diucapkan yaitu bahasa daerah antara bahasa Sunda dan bahasa Jawa dan kita memakai bahasa Indonesia untuk selanjutnya dalam berkomunikasi.

     Sebuah perkenalan itu menjadi awal kita berteman tanpa melihat perbedaan yang ada dan berlanjut menjadi teman di SMP NEGERI 1 GEMOLONG. Dia sudah mahir berbahasa Jawa saat di SMP karena dia sudah beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya sebaliknya denganku, aku tertarik belajar bahasa Sunda karenanya tetapi dari ketertarikanku ini aku masih harus berlatih lagi karena berbahasa daerah itu tidak semudah apa yang kita pikirkan sebelumnya. Dan aku takjub padanya, dia mau belajar seni karawitan Jawa karena dia tertarik walaupun dia berasal dari Sunda. Di extra karawitan dia memainkan alat musik bonang dan aku memainkan saron serta menjadi sinden atau vokal.

     Sayangnya kita tidak satu sekolah saat SMA dia kembali pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya begitupun aku, dia bersekolah di SMK KESEHATAN RAJAWALI BANDUNG dan aku di SMA NEGERI GONDANGREJO. Di hari kelulusan sebagai siswa SMP tepatnya di gedung IPHI GEMOLONG dia berjalan kearah untuk berpamitan denganku belum sempat dia mengeluarkan kata dari mulutnya dia sudah memelukku dan menangis, saat itu juga aku kaget dan dia mulai berkata “get aku pamit sek meh ning Bandung, semoga koe iso diterima ning sma favoritmu ya” (get aku pamit dulu mau ke Bandung, semoga kamu bisa diterima di sma favoritmu ya) ucapnya sambil terisak dipelukanku, bagai ditusuk duri saat itu juga aku membalas pelukannya dan berkata “secepat itu ul? Aamiin kamu juga jangan lupain aku sering komunikasi ya biar kita ga asing, selamat berjuang di sekolah impianmu” ucapku membalas ucapannya, hal itu diabadikan oleh bundanya yang mempotret kita berdua saat itu, terakhir kita sama- sama melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Sayang sekali nasib kita sama, kita berjuang disekolah favorit namun gagal tetapi kita masih saling support dari kejauhan yang dipisahkan oleh pulau dan akhirnya kita mendapatkan sekolah yang sekarang, walau akhirnya tetap tidak satu sekolah.

     Sungguh ini berat untuk kita, kembali berpisah dan harus kembali ke daerah masing-masing. Kita memang berbeda asal, bahasa, budaya, dan adat istiadat. Namun, hal itu bukanlah menjadi halangan bagi kita untuk terus bersatu dalam perbedaan. Bahasa Indonesia telah mempersatukan perbedaan bahasa di antara kami, seperti poin ketiga dalam teks Sumpah Pemuda yang berbunyi “Kami putra putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Dan juga dari potongan lirik lagu Satu Nusa Satu Bangsa yaitu seperti berikut :“Satu nusa Satu bangsa Satu bahasa kita”

     Justru, perbedaan di antara kita ini sebagai pengikat, sehingga terbentuklah persatuan. Dengan sikap toleransi, saling menghargai dan menghormati. Inilah kita dapat semakin mempererat persatuan di antara keberagaman di Indonesia. Seperti semboyan bangsa Indonesia yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang memiliki arti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

     Aku juga menyukai keberagaman seni di Indonesia oleh karena itu, aku suka menjelajahi seni apalagi di kota Solo (Surakarta) yang merupakan salah satu kota budaya disana berbagai seni tercipta. Aku berpartisipasi dalam seni aku mengikuti seni karawitan sejak dibangku SD kelas V dan berlanjut di SMP aku mengikuti extra karawitan lagi,aku juga mengembangkan seni itu dengan mengikuti extra tari di SMA NEGERI GONDANGREJO. Ternyata beragam perbedaan tarian dan lagu daerah yang ada di Indonesia menjadikan Indonesia kaya akan keseniannya, yang harus kita lestarikan dan budayakan.

     Disini aku juga mempunyai partner dalam mengeksplor budaya yaitu Chrysanta Arcelia Ellora dia bersekolah di SMA NEGERI 2 SURAKARTA, dia saudaraku namun kita berbeda kepercayaan yang dianut. Dapat dilihat dari namanya dia beragama katolik ya walaupun berbeda kita tetap saudara dan dia juga mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terhadap keberagaman seni sama sepertiku. dia suka melukis dan dia dancer. Saat aku menginap dirumahnya, kita selalu berbagi cerita tentang pengalaman di kesenian. kita menyukai galeri seni dan pentas-pentas budaya. Dia juga mempersilahkan aku untuk sholat dirumahnya dan dia tidak keberatan dengan aku yang memakai hijab bagi dia kita sama dan kita saudara. Dan saat itu bertepatan dengan hari minggu dimana dia harus ke gereja untuk beribadah, aku memilih untuk sendiri dirumahnya sedangkan dia bersama orang tuanya pergi untuk beribadah serta tidak memaksa aku untuk ikut, sungguh indahnya toleransi keagamaan ini.

     Saat SMP aku juga mempunyai teman yang menurutku dia kurang beruntung karena dianggap culun, dia mendapat gelar culun karena dia adalah cowok yang memakai kacamata dengan lensa tebal dan dia tidak bersosialisasi dengan teman di kelas. Aku mulai merasa ada yang berbeda dengan dirinya, dimana saat itu dia membuat diriku berprasangka kepadanya. Dia mempunyai Ibu yang berhijab ya aku tau itu karena aku melihat dirinya yang dijemput oleh sosok perempuan paruh baya serta dia mengatakan “ibu selamat siang ayo pulang aku lelah” tetapi yang membuatku bingung adalah dia memakai kalung yang merupakan pertanda dia beragama nonis (katolik) yaitu kalung nimbus atau kalung salib dan aku mulai curiga padanya apakah dia sedang bermain-main dengan kalung itu? Atau dia tidak tahu arti tanda dalam kalung itu dan menganggap itu huruf T atau dia berbeda kepercayaan dengan Ibunya? Dalam benakku aku berpikir akan berkenalan dengannya agar aku tidak berprasanga lebih lanjut kepadanya.

     Saat dia duduk dibangku kelas sendirian pada jam istirahat aku menghampirinya dan mulai berkenalan dengan dirinya tetapi nihil dia hanya diam saja saat aku bertanya dengannya dan dia menundukan kepalanya tidak berani untuk melihat kearahku, aku berpikir ini hal yang wajar karena bisa saja dia tidak terbiasa untuk dekat dengan perempuan karena perbedaan gender yang ada apalagi dia anti bersosialisasi. Tidak menyerah saat itu juga aku berusaha mencari informasi tentang dirinya dan benar saja dia memang berbeda kepercayaan dengan Ibunya.

     Pada semester genap dikelas VIII F yang notablenya adalah kelas unggulan pada saat itu dia merubah penampilannya yang awalnya berkacamata menjadi tidak berkacamata dan terlihat tidak culun seperti biasanya fakta berikutnya yang baru ku ketahui yaitu dia juga bergabung dengan organisasi OSIS, ternyata dia tidak seburuk apa yang dipikirkan teman teman dikelas saat itu dan aku mulai memberanikan diri untuk bicara kembali kepadanya, siapa tau aku dinotice untuk sekarang. Dan benar dia menoticeku, aku rasa dia berbeda dengan sebelumnya, dia mau berinteraksi denganku dan dia mulai menceritakan kehidupannya.

    Tidak disangka dia menjadi teman dekatku saat ini kita berteman tanpa melibatkan agama, gender, dan latar belakang. Dia pernah berada dititik terendahnya yaitu dibully karena penampilannya yang memunculkan banyak prasangka buruk kepadanya sehingga dia sulit untuk melupakan perkataan-perkataan yang dilontarkan kepadanya, ternyata benar memaafkan itu mudah tetapi tidak dengan rasa kecewa dan luka yang akan tetap tinggal dan diingat oleh korban bully tersebut. Aku bersama kedua temanku yang bernama Ghaitsaa dan Rayfan datang dalam lingkungan pertemanannya (maaf untuk namanya tidak aku sebutkan) untuk berusaha menyenangkan dan menenangkan dirinya atau sebagai people pleaser.

     Kita mendengarkannya disinilah aku juga merasa menjadi pendengar maupun didengar yang endingnya kita berempat menjadi teman satu kelas lagi saat dirolling di kelas IX A yang notablenya juga kelas unggulan hingga sekarang kita yang berbeda-beda sekolahnya masih sering berkomunikasi, sekarang aku di SMA NEGERI GONDANGREJO, dia di SMA NEGERI 1 SURAKARTA, dan Ghaitsaa serta Rayfan di SMA NEGERI 1 GEMOLONG. Walaupun beda sekolah kita masih sering berkabar tidak lost contact atau asing karena kita sudah menjadi teman yang akrab dari suatu kebetulan.

     Aku mempunyai banyak teman perempuan maupun laki-laki aku tidak membatasi relasiku untuk berteman. Terserah saja diluar sana ada yang berpikir aku caper atau friendly karena ini hidupku dan aku berhak menentukannya. Karena aku suka keberagaman mulai saat aku mengenal keberagaman itu dalam hidupku sendiri dan dari pengalamanku. Aku juga tidak memiliki batasan dan jarak dalam perbedaan karena itu keberagaman yang sebenarnya sedang terjadi. Kita hanya perlu menganggap kata perbedaan itu sebagai sesuatu yang terlihat sama, berpikiran positif serta melakukannya dengan toleransi penuh.

    Aku pernah tergeser di SMA yang aku impikan sejak dulu hanya karena perbedaan jarak dan umur tetapi aku mencoba untuk menerima hal tersebut dan menjadikan suatu perbedaan sebagai hal wajar yang pasti setiap manusia pernah mengalaminya. Di SMA yang sekarang aku mulai beradaptasi dan bergabung dengan berbagai organisasi salah satunya adalah OSIS aku berkembang didalam organisasi tersebut serta aku berkenalan dengan berbagai orang yang tentunya berbeda dari kita dan aku berkesempatan untuk mengikuti workshop dari solopos yang bertemakan jurnalisme toleransi keberagaman. Yang tentunya aku excited dalam mengikuti workshop itu aku juga mendapatkan ilmu untuk mengeksplor lebih dalam tentang keberagaman yang tentunya tercetus kata “aku kamu kita semua berharga”.

     Jadi perbedaan itu ternyata hal yang umum terjadi, berdampingan dengan keberagaman tidak menjadi suatu masalah. Pernah dengar istilah Unity in Diversity kan? Mungkin lebih familier dengan istilah Bhinneka Tunggal Ika? Ya, intinya sih sama aja. Merasa keren bukan kalau mendengar istilah itu? Kita merasa bahwa sebagai orang Indonesia yang memiliki berbagai macam keberagaman, kita mampu menjadi satu. Tapi apa kita mampu menjadi satu dalam keberagaman tersebut? Kemampuan untuk bertahan dan menyesuaikan diri di antara keberagaman yang ada merupakan sebuah kompetensi yang wajib dimiliki oleh setiap orang. Sama seperti pepatah jawa yaitu “rukun agawe santosa, crah agawe bubrah” yang artinya hidup rukun pasti akan hidup santosa, sebaliknya jika selalu bertingkai pasti akan bercerai. Seperti apabila kita hidup di antara perbedaan yang sangat beragam kita harus bersatu dan berdamai dengan perbedaan itu. Maka kita tidak boleh berjarak di perbedaan.

 

Nama = Anggeta Asy Syifa Kilau Putri

 

Sekolah = SMA NEGERI GONDANGREJO

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Dibalik SD Tadinya Mesra

       Dibalik SD Tadinya Mesra

“Ada sekolah yang sangat unik yang berasal dari Jakarta bernama SD Tadinya Mesra. Di sekolah ini, Siswa dan Siswi datang dari berbagai latar belakang, budaya, dan agama yang berbeda. Ada yang berkulit putih, ada juga yang berkulit hitam, dan ada juga yang berkulit coklat. Ada yang beragama Islam, ada juga yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan lainnya. Mereka semua belajar bersama dalam satu kelas yang sama.

 

Disuatu saat pak guru memberi tugas  

Pak guru”baik anak anak sekarang pak guru akan memberikan tugas untuk mencari tau dimana temanmu tinggal dan apa makan kesukaan nya??

Siswa Siswi” Baik Pak”

Kemudian setelah mendengar tugas yang di berikan pak guru tersebut Siswa Siswi mulai mencari tau di mana teman temannya tinggal dan apa makanan kesukaannya

Siti” Andi kamu berasal dari daerah mana?” Tanya siti

Andi” Aku berasal dari Jakarta siti”

Siti” Terus kalau makanan kesukaan mu apa Andi?” Tanya siti

Andi” Emm kalau makanan kesukaan ku ada banyak Siti, ada Nasi goreng, Pempek, bakso, dan lain-lain “

Andi” Kalau siti asal nya dari daerah mana? “Tanya Andi

Siti” Kalau aku asalnya dari daerah Palembang Andi”

Andi” Wiss kamu berasal dari daerah Palembang ya, waa pasti makanan kesukaan mu pempek?”

Siti” Sok tau kamu, makanan kesukaan itu, seblak hehe apalagi yang pedes ahh itu yang paling aku suka” . 

Dan murid murid tersebut mulai sibuk mengerjakan tugas yang di berikan oleh pak guru. 

 

Kepala sekolahnya, Pak Riyo, sangat percaya pada pentingnya keberagaman. Ia selalu mengajarkan kepada para siswa bahwa setiap orang adalah unik dan memiliki kelebihan masing-masing. Pak Riyo selalu menekankan bahwa perbedaan bukanlah hal yang harus memisahkan kita, melainkan hal yang harus kita rayakan bersama.

 

Di SD Tadinya Mesra, ada berbagai kegiatan yang dilakukan untuk merayakan keberagaman ini. Ada hari-hari khusus di mana Siswa dan Siswi diberi kesempatan untuk memperkenalkan budaya dan agama mereka kepada teman-teman sekelasnya. 

 

Ada acara-acara khusus seperti festival makanan tradisional, di mana setiap Siswa dan Siswi membawa makanan khas dari daerah asal mereka. Acara khusus kedua adalah memakai pakaian kebaya atau pakaian tradisional asal daerah meraka untuk memeriahkan hari Kartini tiba pada tanggal 21 April. Dan masih banyak hari-hari khusus untuk lebih mengenalkan identitas bangsa kepada siswa siswi SD Tadinya Mesra.

 

Tanpa kita sadari hari Festival Makanan Tradisional pun tiba. Setiap wali kelas membirikan informasi untuk membawa maknan tradisional untuk merayakan festival makanan.

 “selamat siang anak-anak untuk

kegiatan festival makanan tradisional besok membawa makanan daerah untuk di makan bersama sama” 

 

Ke esokan harinya 

Siti “Andi dan Lani kalian membawa makanan apa ?” Tanya siti dengan gembira dan penasaran

Andi “Aku membawa gado-gado yang berasal dari Jakarta Siti” 

Lani “Aku membawa gudeg yang ebrasal dari Yogyakarta Siti”

Dan siswa siswi SD Tadinya Mestra lainnya pun membawa makanan tradisional yang berasal dari banyak daerah di Indonesia 

 

 

Mungkin bagi orang lain, sekolah ini tampak seperti sekolah yang biasa saja. Tapi bagi para siswa dan Guru di Sekolah Tadinya Mesra adalah tempat di mana mereka belajar untuk menghargai dan merayakan perbedaan. Mereka belajar bahwa keberagaman bukanlah hal yang harus ditakuti, melainkan hal yang harus dihargai dan dirayakan.

 

Dan meski mereka berbeda-beda, mereka tetap bisa bersatu, saling menghargai, dan belajar bersama. Mereka belajar bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan bahwa dengan bersatu, mereka bisa mencapai banyak hal. Dan itulah yang membuat Sekolah Tadinya Mesra menjadi sekolah yang sangat spesial sehingga murid sekolah Tadinya Mesra menjadi bahagia karena bisa belajar di sekolah tersebut.”

Selesai. 

Ditulis pada Ragam | Tag , | Tinggalkan komentar

Aku Bukan Cina, Aku Jawa! Yang Bener Aja

     2018, Peristiwa ini terjadi di suatu Sekolah Dasar di daerah Serengan, Kota Surakarta yang menimpa pada siswa ber inisial DP, Murid DP ini sebenarnya adalah Siswa dengan ras Jawa namun memiliki tampang dengan berkulit putih dan mata sipit sehingga teman teman DP merasa bahwa DP bukanlah seseorang dengan ras Jawa.

     Namun sebenarnya pada awal masuk sekolah tidak terjadi apa apa hingga pada kelas 5 SD, teman DP sering memanggil dirinya dengan sebutan ‘cina’. DP merasa kaget mengapa dirinya dipanggil seperti itu, dirinya sendiri merasa bukan seorang ‘cina’ lagipula kedua orang tuanya pun orang jawa. Terkadang teman-teman DP berkata “DP kamu cina ya pasti, soalnya kulitmu putih sekali, mata mu pun terlihat sipit” DP saat itu bingung, karena dirinya yang jarang keluar rumah membuat kulitnya terkesan putih. Hingga kelas 6 SD pun teman-teman DP masih memanggilnya cina, seperti “lha kamu orang cina kok” “aaa cina sipit kenapa sih” “haii cina”

     Pada awalnya pun DP merasa baik baik saja dengan panggilan itu asalkan tidak berlebihan, namun dia sendiri merasa tidak enak dipanggil seperti itu. Peristiwa ini berlanjut hingga DP menduduki bangku kelas VII SMP, dengan pada kondisi itu yang mengharuskannya untuk PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) teman-teman DP pada awalnya saling tidak mengetahui seperti apa DP. Namun dengan seiring berjalannya waktu, COVID-19 mereda hingga mengharuskan DP untuk masuk sekolah, dengan pengalaman seperti waktu di bangku SD, DP merasa khawatir apa yang akan terjadi di kelas nantinya.

     Pada awalnya DP merasa tidak bisa mengajak berbicara kepada teman yang lain karena dia sendiri adalah orang yang introvert, meski dia sangat excited untuk mengajak orang lain berbicara. Teman-teman nya pun tidak ada yang mengajaknya berbicara, sehingga kala itu mengharuskan DP untuk duduk di meja nya sendiri. Hari-hari berikutnya DP bisa berteman dengan yang lain, dan belum ada yang memanggilnya dengan sebutan ‘cina’ yang membuatnya merasa aman. Tetapi dugaan DP salah, ternyata di semester genap kelas VIII ada yang bertanya sebenarnya apa ras dari DP ini. “kamu cina tho?” temannya bertanya, “ngga kok aku orang jawa yo” DP menjawab, “lha perawakanmu seperti orang cina, putih banget juga sipit kok” “ngga yoo aku orang jawa, lha wong orang tua ku jawa semua gaada cina cina ne”  DP membantah berulang kali namun temannya tetap bertanya dengan pertanyaan yang sama

      Hal itu pun berulang terus hingga kelas IX, selain panggilan cina DP juga kerap dipanggil ‘koh’ (singkatan Engkoh yang berarti bapak atau panggilan untuk laki-laki yang lebih tua), panggilan-panggilan ini kerap mengganggu pikiran DP meski dia terlihat baik baik saja saat dipanggil seperti itu. Bahkan pertanyaan-pertanyaan mengenai etnis apa DP ini masih terus terjadi di kelas IX.

     Tetapi, pada saat DP menduduki kelas X SMA, panggilan-panggilan seperti cina, koh, dll sudah menghilang. Di lingkungan barunya DP merasa aman dan nyaman karena teman-teman barunya tidak ada yang memanggilnya seperti itu.

 

Nama: Xone Farrel

Sekolah: SMAN 8 Surakarta

 

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Bukankah Perbedaan itu Sama Indahnya Seperti Warna Warni Pelangi?

     Gina adalah seorang anak yang memiliki kepercayaan dan budaya yang berbeda dari mayoritas di lingkungannya. Meskipun seharusnya menjadi anugerah keberagaman, perbedaan ini membuatnya menjadi sasaran intoleransi yang sulit diterima. Teman-temannya, tanpa memahami keberagaman, memilih untuk menjauhinya dan memberinya perlakuan yang tidak adil.

     Dalam kehidupan sehari-harinya, Gina menghadapi stereotip dan diskriminasi karena keyakinan dan tradisinya. Ia menjadi korban cemoohan yang menyakitkan. Namun, Gina memilih untuk tidak menyembunyikan identitasnya dan bertahan dalam menghadapi intoleransi tersebut.

    Menghadapi tantangan ini, Gina menemukan dukungan dari sekelompok teman yang tidak hanya bernasib sama tetapi juga menghormati perbedaan budaya yang dimiliki oleh Ghina. Mereka juga berkomitmen untuk mengatasi ketidakadilan yang mereka alami. Bersama-sama, mereka membentuk sebuah organisasi untuk membangun kesadaran tentang intoleransi di sekolah mereka.

    Gina dan teman-temannya mulai mengadakan forum, seminar, dan kegiatan-kegiatan edukasi untuk memperluas pemahaman tentang berbagai budaya dan agama. Melalui berbagai inisiatif ini, mereka menciptakan platform untuk berbicara dan mendengarkan, membuka mata banyak orang tentang beragam kepercayaan.

     Kelompok yang dipimpin oleh Gina memberi banyak dampak positifnya dengan membuat berbagai program kerja di lingkungan sekolahnya. Mereka bersama-sama memberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri tentang perbedaan yang dimiliki setiap siswa. Program program yang dibuat Gina dan teman temannya ini perlahan mengubah sekolah menjadi sekolah yang ramah akan keberagaman.

    Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Gina dan teman-temannya menghadapi sebagian kecil kelompok yang masih mempertahankan sikap intoleran dan menolak adanya kelompok yang dibentuk oleh Gina tak jarang juga guru guru yang sering meremehkan Gina dan teman temannya. Namun hal ini tidak membuat mereka goyah mereka terus berusaha untuk menciptakan lingkungan yang nyaman untuk masyarakat minoritas seperti mereka

     Prestasi Gina dalam mengatasi intoleransi tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah. Ia juga menerapkannya pada lingkungan masyarakat di sekitarnya, dimulai dari memberi pemahaman kepada anak anak disekitar rumahnya bahwa berteman dengan orang yang berbeda dengan kita bukanlah suatu yang buruk. Gina menjadi inspirasi bagi banyak orang yang berjuang melawan diskriminasi.

    Akhirnya, Gina dan kelompoknya tidak hanya menciptakan perubahan di sekolah mereka tetapi juga membuat jejak positif dalam membangun masyarakat yang lebih ramah akan toleransi. Berkat Ghina dan teman temannya, lingkungan terasa lebih adil dan nyaman untuk beberapa orang minoritas yang merasa dirinya diperlakukan secara tak sama hanya karena berbeda tak seperti kebanyakan orang. Kisah mereka menjadi contoh hidup bahwa perbedaan adalah kekayaan, dan melalui kerja keras dan ketekunan, intoleransi dapat diatasi untuk menciptakan dunia yang lebih adil bagi semua. Pada dasarnya perbedaan itu indah sama halnya seperti warna warni pelangi yang memiliki perbedaan warna dan membuatnya terlihat lebih indah.

 

Nama: Naura Fadila

Sekolah: SMAN 8 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Spega Cinta keberagaman Semua Sama Tiada Beda Satu Saudara

     Maraknya berita yang berhembus di media massa maupun jagat maya  bertebaran  berita berkaitan dengan masalah yang terjadi di lingkungan sekolah beraneka macam. Kasus  bullying, perbedaan agama, kesenjangan social ekonomi, warna kulit, dan rambut. Beberapa contoh yang banyak terjadi adalah kasus bullying atau lebih tepatnya disebut dengan perudungan marak dilakukan para remaja tanpa mereka sadari.  Contoh nyata yang sering kita temui ketika ada anak yang sengaja  mengejek temannya dengan memanggil nama orang tua sebagai bahan candaan. Bahkan yang lebih parah mereka memilih teman berdasarkan status social dan merendahkan teman yang tidak sepadan sengaja membuat kelompok tertentu sebagai  friendship. Selain itu, ada hal lain yang lebih menyakitkan ketika bentuk tubuh, warna kulit, maupun pekerjaan orang tua dijadikan bahan candaan. Hal ini bisa membuat  seseorang tidak nyaman dan merasa terganggu. Pada saat tertentu bisa jadi si anak akan sabar dan memaafkan. Namun apabila hal ini diteruskan akan menjadi persoalan bahkan bisa mengakibatkan  pertikaian. Menilik permasalahan tersebut sebagai pendidik kita bisa  mempelajari perbedakan jenis-jenis  bullying atau penindasan. Ada yang disebut dengan penindasan fisik   ketika pelaku penindas mencoba menyakiti atau menyiksa seseorang secara fisik, atau bahkan menyentuh seseorang tanpa persetujuannya, kemudian ada yang disebut dengan  penindasan verbal hal ini terjadi ketika seseorang mengejek atau menggoda orang lain. Lebih parahnya penindasan psikologis  ketika seseorang atau sekelompok orang bergosip tentang orang lain atau mengucilkan mereka dari kelompoknya, hal ini dapat disebut sebagai penindasan psikologis. Terakhir adalah  penindasan dunia maya hal ini ketika pelaku intimidasi memanfaatkan media sosial untuk menghina atau menyakiti seseorang. Mereka mungkin melontarkan komentar yang buruk dan merendahkan orang tersebut di forum publik sehingga membuat orang lain merasa malu. Para pelaku intimidasi juga dapat memposting informasi pribadi, gambar atau video di media sosial untuk memperburuk citra publik seseorang.

     Berdasarkan laporan UNESCO menyebutkan bahwa 32% siswa menjadi korban perundungan  di sekolah di seluruh dunia.  Di negara kita juga, penindasan menjadi hal yang lumrah. Sebaliknya, penindasan menjadi masalah besar di seluruh dunia. Telah kita ketahui bahwa intimidasi fisik lazim terjadi di kalangan anak laki-laki dan intimidasi psikologis lazim terjadi di kalangan anak perempuan. Mengapa hal ini bisa terjadi ada apa dengan remaja kita?  Kasus bullying  rentan terjadi di tempat-tempat aman?  Fenomena apa sebenarnya yang perlu  kita atasi bersama. Seperti  beberapa kasus yang terjadi  di sekitar kita ada anak SD di Indramayu  yang dibullying  oleh temannya dengan cara ditelanjangi dan ditendang kemudian di video .  Sungguh miris melihat kejadian demi kejadian yang sangat tidak mendidik dan melanggar norma serta di luar batas kemanusiaan. Sebenarnya cara mengatasi perlu adanya kerjasama antar warga sekolah semuanya. Spega menolak keras kasus bullying, pelecahan seksual, penindasan fisik, dan penindasan dunia maya. Contoh  kegiatan positif yang sudah dilaksanakan Spega menanamkan pentingnya pendidikan karakter bagi semua anak. Spega menyikapi hal tersebut dengan sekolah siaga kependudukan SSK. Menolak aksi perudungan atau bullying, pelecehan seksual, stunting,dan pernikahan dini. Setiap kelas membuat Mading anti perudungan. Hari  kamis diadakan pembinaan wali kelas untuk memberikan dukungan moral  agar semua warga Spega mendukung program SSK. Penanaman pendidikan agama dan  karakter setiap hari. Selasa, Rabu, dan Jumat  Khusus bulan ramadhan agenda ketaqwan dilaksanakan setiap hari. Agenda ini mewajibkan  setiap anak membawa kitab sesuai keyakinannya masing-masing. Kemudian anak bisa menempati ruang agama yang sudah disediakan sesuai agamanya akan dipandu oleh bapak atau ibu  guru yang mendampingi.  Setiap hari anak ketika waktu sholat Zuhur  ibadah   bersama yang non juga ibadah bersama di ruang khusus. Hal ini bisa dilakukan setiap hari khusus bulan ramadhan spega menambahkan pendidikan karakter setiap pagi sebelum pelajaran 30 menit untuk mengaji bagi siwa beragama islam sedangkan  agama Kristen, katholik, dan hindu  juga sama ibadah ditempat yang disediakan. Melihat keberagaman yang indah dan berdampingan tanpa ada perbedaan antar agama sungguh suasana yang nyaman keluarga spega  luar biasa. Saling mengasihi, menyanyangi, dan menghormati. Perbedaan tidak membuat permasalahan ada justru berasa lebih berwarna dan menyenangkan.

     Selain itu, ketika teman merayakan hari raya nyepi saling mengucapkan di grup , sebaliknya ketika umat Islam melaksanakan ibadah puasa teman yang beragama lain hindu, kristen dan  katholik  juga memberi semangat dan ucapan. Ibu Dra. Suparyanti,M.Si. mengatakan bahwa,” Spega memberikan dukungan penuh untuk saling menjaga toleransi antar sesama hal ini telah dilakukan seluruh warga Spega dengan penuh suka cita. Setiap hari ibadah sholat dhuhur dan ashar dilaksanakan berjamah. Kesadaran tinggi bagi yang beragama non muslim ketika akan makan dan minum saat puasa bapak/ibu guru mempunyai tempat khusus. Selama bulan ramadhan kantin tutup dan bagi anak-anak yang tidak berpuasa diwajibkan bawa bekal dari rumah.” Waktu istirahat bagi anak –anak yang tidak berpuasa boleh makan  minum tapi harus ditempat yang tertutup dan menjaga toleransi bagi teman yang sedang menjalankan ibadah puasa. Contoh menarik saya temukan di dalam kelas 9.4 ketika ada beberapa anak yang non muslim membawakan buah tangan untuk sahabatnya yang beragama islam. Kemudian menunggu temannya yang sedang menjalankan sholat dhuha di masjid sekolah. Betapa indah melihat kebersamaan tanpa ada perbedaan saling mengasihi dan menghormati. Bukan hanya itu, ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung seluruh anak mau berkolaborasi kelompok untuk mempresentasikan tugas yang diberikan tiap kelompok diskusi. Tanpa membedakan mereka semua antusias bekerjasama dan gembira.

     Hal lain terlihat jelas kebersamaan keluarga ketika Spega ketempatan pengajian dharma wanita Dinas Pendidikan Surakarta. Tepatnya pada hari Minggu kemarin kebetulan moment ini bersamaan dengan bulan ramadhan umat islam melaksanakan ibadah puasa. Warga spega bergotong royong menyiapkan segala keperluan tanpa ada perbedaan. Mulai dari persiapan sampai pelaksanan berjalan dengan baik. Ada hal unik terjadi ketika pemasangan tenda sampai menjelang waktu buka puasa bapak/ibu guru yang beragama non muslim ternyata antusias mempersiapkan bukber untuk semua bapak ibu /guru yang beragama islam gotong royong dan kekeluargaan terlihat jelas.

      Hal unik terjadi dalam minggu ini ada anak yang ingin mengundang bukber kelas kita. Sempat terbersit tanya ketika ada pertanyaan satu anak yang orang tuanya non muslim ingin mengajak  atau mengundang bukber dengan teman satu kelas anaknya. Si anak bertanya dengan penuh antusias, “Ibu bolehkah orang tua saya akan mengundang teman-teman satu kelas untuk mengadakan acara bukber?” kemudian sayapun menjawab boleh kita coba bicarakan dan diskusi  dulu dengan teman-teman satu kelas untuk mencari kesepakatan apakah semua anak setuju atau tidak. Akhirnya kita semua berdiskusi dan mencapai mufakat untuk melaksanakan bukber

     Dalam acara bukber seluruh oang tua wali siswa ikut terlibat menyengkuyung pelaksanaan. Tanpa ada perbedaan semua terlibat dalam acara bukber. Kebetulan ketika acara bukber bertepatan dengan hari besar wafatnya  Isa Almasih untuk itu ketika acara dilaksanakan semua ikut memberikan ucapan  juga. Perbedaan membuat hidup lebih berwarna. Dengan perbedaan kita semua dapat hidup berdampingan saling menghargai dan menghormati. Pentingnya menjaga toleransi antar umat beragama tanpa membedakan suku, agama, adat istiadat warna kulit, dan status sosial. Spega setiap hari penuh cinta dan rasa nyaman membuat semua warga yang ada disekitar kita ikut merasakan aura positif dari keluarga besar Spega penuh cinta dengan perbedaan yang ada.

 

 

NAMA                         :  SURANI,S.Pd.

ASAL SEKOLAH       :   SMP NEGERI 3 KOTA SURAKARTA

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Berbeda tak menjadi halangan

     Cerita ini dimulai dimana aku seorang gadis beragama Islam , berteman dengan seorang gadis beragama Kristen, yaitu Susana. Aku dan Susana sudah berteman baik sejak kelas 7 SMP. Perbedaan agama bukan lah halangan untuk kami berteman baik. Akan ku cerita kan sedikit mengenai pertemanan kami.Bel Istirahat berbunyi, aku bergegas membereskan buku dan alat tulis ku lalu menghampiri Susana untuk mengajaknya jajan ke kantin. ” naa ayo ke kantin” ajak ku dengan semangat.” Oke ra ” jawab Susana dengan senyum lebar.Kami berjalan beriringan menuju kantin sembari bercerita banyak hal dan saling berbagi pengalaman. Awalnya kami tidak lah terlalu dekat , kami dekat setelah sekolah tidak menerapkan pembelajaran yang dibuat bersesi.

     Setelah sampai di kantin kami pun mulai berkeliling mencari makanan yang kami inginkan , terkadang selera kami sama dalam memilih makanan, namun ada kalanya kami mempunyai perbedaan dalam selera makanan.

     Aku cukup terkesan dengan sikap ramah yang di miliki Susana , dia sangat mudah bergaul dengan orang disekitarnya. Dia sangat percaya diri dalam melakukan segala hal, dia selalu memberi kan ku semangat dan kata-kata penenang di kala aku tengah panik. Aku dan Susana sering membicarakan berbagai topik yang random.

    Pernah suatu ketika kami berdebat karena memiliki perbedaan pendapat. Saat itu tugas praktik pelajaran IPA mengharuskan kami membuat makanan yang di fermentasi, aku menyarankan untuk membuat tape seperti teman-teman kebanyakan karena lebih praktis, namun Susana tidak setuju akan hal itu,  dia menyarankan untuk membuat donat supaya terlihat berbeda dari teman-teman yang lain. Kami sempat berdebat cukup lama.

    Untung nya, kami akhirnya menemukan solusi dari permasalahan itu, kami memutuskan untuk membuat donat karena hampir semua kelompok di kelas kami membuat tape. Kami membuat donat supaya terlihat berbeda dan untuk nilai tambah kelompok kami. Saat mempresentasikan cara pengolahan donat, karna aku yang terlalu gugup aku jadi lupa dengan apa yang ingin ku ucapkan. Untungnya ada Susana yang membantu ku untuk menjelaskan nya. Terkadang Susana suka bercerita mengenai kegiatan yang dia lakukan di gereja nya, juga sering memberitahu ku ayat-ayat alkitab nya yang mempunyai makna bagus, begitu juga aku yang juga sering memberitahukan nya mengenai ayat Al-Qur’an yang mempunyai makna indah. Meskipun kami mempunyai perbedaan agama namun hal itu bukan lah halangan bagi kami untuk berteman , justru karna hal ini pertemanan kami makin erat. Kami juga suka membahas mengenai film dan musik kesukaan kami, juga membahas mengenai k-pop , aku dan Susana menyukai K-pop dan karena itulah kami mudah akrab juga hal itu menyebabkan kami tidak kebingungan untuk memulai pembicaraan satu sama lain .

     Pernah saat pelajaran  bahasa jawa, saat itu para murid di suruh maju untuk menembang,  awalnya aku berani maju dan mulai membaca, namun tiba-tiba seorang teman sekelas ku bernama Deo, dia maju padahal gilirannya adalah setelah aku menyelesaikan menembang ku , tiba-tiba teman sekelas ku bersorak meneriakki ku , yang membuat ku kesal mereka justru mengejek ku dan membuat ku sakit hati karna perkataan mereka. Guru yang di sana pun tidak tegas untuk menegur mereka.

     Untung nya ada Susana yang menghiburku saat itu, jika tidak mungkin aku akan marah-marah dengan mereka. Aku cukup sebal dengan teman-teman sekelas ku karena mereka suka sekali mengejek ku dan mereka selalu mengganggu ku padahal aku tak mengganggu mereka. Jika mereka hanya bercanda aku memakluminya namun terkadang mereka sangat keterlaluan. Setelah lulus SMP , persahabatan kami tetap kuat. Kami memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah yang berbeda, namun kami berusaha menjaga hubungan persahabatan kami. Suatu ketika aku mendengar Susana mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit , aku sangat sedih karena tidak bisa menjenguknya.

     Setelah dia akhirnya pulang ke rumahnya aku bergegas untuk menjenguk nya. Susana ber cerita mengenai kecelakaan yang menimpanya, sehingga dia tidak bisa mengikuti Masa pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di sekolahnya. Aku hanya bisa menghiburnya dengan kata-kata. Aku juga menceritakan pengalaman ku saat memasuki masa SMA, dimana aku harus beradaptasi. Kami, tetap saling berkomunikasi lewat handphone, karena banyaknya kesibukan di SMA aku dan Susana sudah jarang bertemu, tapi kami tetap mengusahakan untuk saling bertukar kabar lewat handphone.

    Kesimpulannya, meski pun kami berbeda agama, namun itu bukanlah halangan bagi kami untuk berteman. Terkadang perbedaan pendapat sering terjadi dan kita harus menanggapi nya dengan bijak.

 

Nama: Fransisca maia Azzahra

Asal Sekolah: SMA Negeri Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Indahnya Keberagaman di Kota Bangka

     Kita sudah sering mendengar semboyan “Bhineka Tunggal Ika” bukan? Sepertinya bukan hanya sekadar mendengar saja, kita sebagai warga Negara Indonesia juga harus mengetahui dan memahami maksud semboyan tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan di Asia Tenggara yang memiliki beranekaragam perbedaan antar agama, suku, ras, dan budaya. Hal tersebut akibat dari letak Negara Indonesia yang dilintasi garis khatulistiwa, memiliki sekitar 17.508 pulau besar dan kecil dengan luas wilayah 1.904.560kilometer persegi dan menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah yang tersusun dari 5 pulau besar dan ribuan pulai kecil yang membentang dari Sabang sampai Merauke (Wikipedia).

     Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu jua, berarti keberagaman suku bangsa, bahasa, agama/kepercayaan dan tradisi yang membentuk negara Indonesia. Terutama budaya yang begitu banyak, mungkin sebagian kita tahu dan mungkin masih banyak juga yang belum kita ketahui. Budaya yang muncul ini bisa diakibatkan oleh perbedaan keberagaman dari berbagai perihal. Bisa muncul dari keberagaman leluhur ataupun nenek moyang dari setiap daerah atau suku. Bahwa faktanya, dari suku yang sama tapi budayanya bisa berbeda-beda. Begitu juga dengan suatu agama yang sama, namun budayanya juga berbeda-beda karena mengikuti tradisi di daerahnya masing-masing. Begitulah yang dinamakan dengan keberagaman.

     Perihal tentang keberagaman, saya punya cerita dan ini saya rasakan sendiri. Pada tahun 2018, saya melaksanakan program KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang diselenggarakan oleh kampus saya, salah satu universitas swasta di Surakarta. Program KKN yang dilaksanakan melului program khusus yang dimana kami sekaligus melaksanakan penelitian skripsi. Jadi, bisa dibilang KKN Terintegrasi Skripsi yang diikuti oleh 13 mahasiswa dari berbagai macam jurusan dan dilaksanakan di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Kami disana kurang lebih selama satu setengah bulan. Namun, baru beberapa hari tinggal disana, sudah banyak sekali keberagaman yang saya rasakan.

     Salah satu contohnya, jenis masakan di sana lebih banyak olahan dari ikan, bersantan, dan berkuah. Seperti, tekwan, mie koba, dan yang paling terkenal adalah rusip. Rusip merupakan makanan fermentasi dari ikan yang dicampur dengan garam dan gula jawa, proses fermentasi selama kurang lebih tujuh hari dan jika fermentasinya sudah jadi maka dicampur dengan perasan jeruk kunci dan potongan cabe, karena santapannya dijadikan sambal. Saya penasaran dengan rasanya dan sudah ketebak, jujur saja, dari sekian olahan tersebut tidak cocok sama sekali dengan lidah Solo saya.

     Bukan hanya soal masakan saja, toleransi di Bangka sangat luar biasa sekali. Kebetulan KKN kami didampingi dari perwakilan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung yang mayoritas muslim, tapi ada juga mahasiswa dari nonmuslim dan keturunan Tionghoa. Masyarakat di Bangka etnis Tionghoa sangat banyak. Kebetulan saya disana saat bulan Februari, bertepatan di Hari Raya Imlek. Saat itu, teman kami yang mendampingi bernama Kiki (muslim) mendapat undangan dari teman nonmuslim (Tionghoa) yang bernama Kevin. Ketika mendengar hal itu, sontak saya bertanya kepada Kiki, “Apakah kamu akan datang?”, mendengar jawabannya saya sangat kaget berkesan “Ya, kami akan datang untuk menghormati undangan mereka, walaupun hanya makan snack yang disediakan, bukan hidangan berat karena kita juga menghindari yang tidak diinginkan”. Setelah mendengar jawaban itu, hati saya membatin, ternyata begitu indah toleransi itu.

     Sekian banyak keberagaman yang saya temui, perbedaan inilah yang membuat saya tertarik dengan kota ini, sehingga di tahun 2019 setelah saya lulus, saya kembali ke Pangkalpinang, Bangka Belitung untuk melaksanakan tes CPNS dengan biaya mandiri dan restu orang tua serta menumpang di salah satu rumah teman saya yang dulu mendampingi tim KKN kami. Tapi memang belum rezeki, saya belum lolos. Namun, hal itu tidak membuat saya kecewa, dari kedatangan kedua saya ke Bangka, saya menjadi tahu ternyata di Bangka dalam setahun ada lebih dari dua kali lebaran yang normalisasinya umat muslim hanya ada dua kali lebaran. Hanya saja, beda daerah beda perayaan dan masyarakat setempat menyebutnya dengan lebaran dan pasti meriah.

     Saat saya datang kesana, kebetulan ada lebaran Rebokasan yang merupakan tradisi budaya yang diadakan di hari Rabu terakhir pada Bulan Safar yaitu bulan kedua dari 12 bulan penanggalan Hijriyah, yang mana di dalamnya berisi kegiatan doa bersama untuk memohon perlindungan, keberkahan, keselamatan dan kebaikan antar sesama manusia. Saat itu, suasana di kampung teman saya sangat ramai sekali dan nuansanya betul-betul seperti lebaran, masayarakat saling berkunjung dari rumah satu ke rumah yang lain, bersalam-salaman dan banyak masakan dan cemilan khas Bangka. Semua itu belum pernah saya temui di kota saya sendiri atau kota lainnya di Pulau Jawa.

 

NAMA : DWI SANTI MUSTIKA SARI

 

INSTANSI : SMA N GONDANGREJO

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Keberagaman Sebuah Keluarga

      Keluarga Bambang adalah sebuah keluarga yang terdiri dari berbagai latar belakang suku. Ayah Bambang berasal dari suku Melayu, Ibu Aminah adalah seorang Jawa, dan nenek mereka berasal dari suku Jawa. Meskipun berbeda suku, mereka hidup dalam keharmonisan yang luar biasa.

     Pertemuan Ayah Bambang dan Ibu Aminah bermula saat keduanya bertemu di sebuah taman di daerah Bandung. Ayah Bambang, yang saat itu masih bujangan dan sedang mendaftar pekerjaan di daerah Bandung, terpesona dengan kecantikan dan kepribadian Ibu Aminah yang anggun, cerdas, dan baik. Perlahan, setelah mereka berkenalan lebih dekat lagi rasa suka itu tumbuh menjadi cinta, dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.

     Pernikahan beda suku ini awalnya mendapat tantangan dari keluarga kedua belah pihak. Namun, Ayah Bambang dan Ibu Aminah berhasil meyakinkan keluarga mereka bahwa cinta mereka yang sangat tulus dan murni. Akhirnya, keluarga kedua belah pihak pun merestui pernikahan mereka.

     Setelah menikah, Ayah Bambang, Ibu Aminah memutuskan untuk tinggal bersama sesuai tugas yang di tempati oleh Ayah Bambang walaupun berpindah-pindah. Mereka membangun sebuah keluarga yang harmonis dan cemara tanpa adanya perpisahan hingga saat ini, dengan dua orang anak di keluarga mereka yang tumbuh dalam keberagaman budaya.

     Anak pertama mereka, Rahman, tumbuh menjadi laki-laki yang cerdas, berbakat, dan sangat gagah berani. Ia mewarisi kecerdasan Ibu Aminah, ketekunan dan ke gagahan Ayah Bambang, dan keberanian dari seorang nenek dari Jawa. Rahman mahir berbahasa Jawa, Indonesia, dan Makasar, serta menguasai beberapa kesenian tradisional dari suku Makasar karena Rahman berasal dari suku Makasar.

     Anak kedua, Susanti, adalah wanita yang ramah, penuh semangat, anggun, dan sangat cerdas. Ia mewarisi ketangguhan seorang Ayah Bambang, keramahan seorang Ibu Aminah, dan keceriaan nenek Jawa. Susanti juga aktif dalam kegiatan kebudayaan, dan dia sangat suka dalam hal fisik, dia adalah seorang yang sangat suka dalam melatih fisiknya sendiri, dan dia juga sering tampil dalam perlombaan yang dia sudah mahir menguasai karena dia di ajarkan oleh Ayahnya untuk menjadi wanita yang kuat.

     Setiap hari, keluarga Pak Bambang selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dan berbagi cerita dengan keluarganyaSaat perayaan hari besar, keluarga Hartono selalu mengadakan acara bersama. Mereka berbincang-bincang, bercerita bersama dan memasak makanan khas dari daerah mereka masing-masing, serta mengajarkan tradisi dan nilai-nilai budaya kepada anak-anak mereka. Acara ini menjadi ajang untuk memperkenalkan keberagaman budaya kepada kerabat dan teman-teman mereka.

    Keluarga Hartono menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan suku dapat hidup berdampingan dalam harmoni. Mereka membuktikan bahwa di dalam sebuah keluarga walaupun ada perbedaan tetap harus harmonis dan tidak boleh menjadikan menjadi alasan untuk terpecah belah.

     Konflik yang keluarga mereka alami adalah suka ada masalah yang dimana salah satu dari keluarga mereka suka membeda-bedakan antara makanan, budaya, dan perbedaan fisik yang biasanya ada di daerah mereka masing-masing. Apapun dan di manapun perbedaan itu pasti ada, dan kita sebagai manusia harus bisa menghargai sebuah perbedaan tanpa harus membandingkan satu sama lain.

Hargai sebuah perbedaan karena kita semua adalah keluarga

 

Identitas penulis :

Nama     : Siva Ayu Wulandari

Sekolah : SMA Negeri Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Sejuknya Toleransi: Takjil Ramadhan Simbol Keberagaman dan Kebersamaan

Bulan Ramadhan merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia. Kehadirannya disambut suka cita lantaran banyak momen dan tradisi yang hanya dirasakan pada saat Ramadhan seperti melaksanakan kegiatan buka puasa bersama, shalat tarawih berjamaah di masjid hingga berburu aneka takjil. Berburu takjil merupakan salah satu kegiatan yang senang dilakukan umat muslim selama Ramadhan, sambil ngabuburit menunggu waktu buka puasa, biasanya umat muslim pergi ke pusat jajanan atau pasar takjil. Berkeliling melihat-lihat jajanan dan membeli jajanan yang diinginkan. Takjil sendiri merupakan hidangan ringan yang dikonsumsi untuk menyegerakan umat muslim ketika berbuka puasa. Di kalangan masyarakat kita, ada beragam jenis takjil yang dijual seperti kolak, sop buah, risol, pastel, kue talam, jenang dan lain-lain.

Menariknya, di tahun ini sampai muncul tren berburu takjil yang rupa-rupanya tak cuma diikuti oleh kaum muslim, namun juga nonmuslim. Meski tak berpuasa banyak kalangan nonmuslim yang tak mau ketinggalan ikut berburu takjil. Saking niatnya, banyak nonmuslim yang sudah bersiap membeli takjil terlihat setia menunggu penjual yang baru datang menyusun jajanan aneka takjil di atas meja seperti es dawet, kue pukis, lumpia sampai aneka gorengan. Sebelum penjual selesai menyusun jajanan di atas meja, tampak mereka sudah mengambil jajanan yang diinginkan. Beredar pula di sejumlah platform media sosial dimana para muslim mengaku kehabisan takjil di sejumlah tempat. Nggak cuma itu, beberapa nonmuslim bahkan ikut ngabuburit dengan berjalan-jalan santai keluar rumah di sore hari, agar bisa mendapatkan aneka hidangan takjil yang enak. Momen nonmuslim berburu takjil ini mungkin membuat banyak orang juga penasaran, mengapa mereka nonmuslim begitu bersemangat. Beberapa diantara mereka mengaku memang sudah terbiasa setiap tahun pasti membeli takjil Ramadhan. Hal yang membuat tertarik berburu takjil karena selain harganya terjangkau juga banyak makanan yang menurut mereka hanya ada saat bulan puasa sehingga terkadang mereka juga datang membeli lebih awal karena mereka tidak ingin kehabisan untuk mendapatkan aneka takjil Ramadhan.

Tren berburu takjil yang dilakukan oleh masyarakat nonmuslim cukup unik, karena mereka yang tidak menjalankan ibadah puasa Ramadhan justru paling semangat mencari takjil di sore hari. Tren berburu takjil yang dilakukan nonmuslim semakin membuat hangat hubungan masyarakat di bulan Ramadhan. Banyaknya nonmuslim berburu takjil yang ramai belakangan ini dapat membantu pelaku usaha dalam melariskan dagangan mereka. Banyak yang menilai positif tren ini, baik umat muslim maupun umat nonmuslim yang menganggapnya sesuatu yang menarik dalam memeriahkan bulan Ramadhan tahun ini yang mencerminkan sikap toleransi antar umat beragama di Indonesia

Fenomena berburu takjil mampu meruntuhkan batasan-batasan antar suku, agama, ras, dan status sosial yang ditandai oleh sikap ramah dari penjual dan pembeli tanpa memandang agama mereka yang dianut. Senyum dan sapaan hangat menjadi awal dari interaksi yang menyenangkan. Di sini, tidak hanya tentang transaksi jual-beli tetapi juga tentang membangun hubungan antarmanusia yang menunjukkan bahwa kita semua bersatu. Bagi nonmuslim yang turut serta dalam berburu takjil, ini menjadi kesempatan untuk merasakan atmosfer Ramadhan yang penuh dengan kebersamaan dan toleransi. Mereka juga ingin mencicipi berbagai kuliner khas Ramadhan yang tidak available di luar bulan Ramadhan sekaligus mempelajari beragam kuliner Ramadhan yang mengajarkan tentang keanekaragaman kuliner Nusantara. Umat nonmuslim juga ingin menunjukkan rasa solidaritas dan support kepada umat muslim yang sedang berpuasa, meskipun terdapat persaingan dalam mencari takjil, terutama saat stok mulai menipis, suasana tetap ceria dan penuh kehangatan. Persaingan ini dianggap sebagai bagian dari keseruan berburu takjil itu sendiri dan dianggap sebagai pembelajaran tentang pentingnya saling menghormati dan menerima perbedaan.

Takjil selama bulan Ramadan bukan hanya menjadi momen untuk umat muslim saja. Meskipun terkait dengan ibadah puasa dalam agama Islam, praktik berburu takjil ternyata melibatkan semua lapisan masyarakat, termasuk nonmuslim baik untuk dinikmati sendiri maupun untuk diberikan kepada tetangga, teman, atau rekan kerja yang menjalankan puasa. Ini menjadi contoh nyata bagaimana Ramadhan mempersatukan berbagai latar belakang dan keyakinan dalam semangat kebersamaan dan toleransi. Dari perspektif kebersamaan, fenomena ini mencerminkan sikap toleransi dan rasa empati antaragama. Banyak pedagang dan penjual takjil tidak membedakan antara pelanggan muslim dan nonmuslim, mereka melayani semua orang dengan penuh keramahan dan kehangatan. Hal ini menciptakan suasana harmonis di antara beragam komunitas agama, memperkuat ikatan sosial, dan memupuk semangat saling menghargai dalam keragaman.

Puasa Ramadhan dianggap sebagai momentum untuk bersatu dalam mencari takjil, dimana semua orang baik yang sedang menjalankan ibadah puasa maupun tidak, dapat bersama-sama mencari takjil Ramadhan, sehingga hal ini dianggap sebagai wujud persatuan diantara berbagai agama di Indonesia. Dalam konteks ini, fenomena berburu takjil menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan antara berbagai komunitas agama, memperkaya pengalaman bersama, dan menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan saling menghormati dapat diperkuat melalui pengalaman yang bersama-sama dinikmati. Oleh karena itu, fenomena ini dapat dianggap sebagai contoh nyata bagaimana tradisi keagamaan dapat menjadi panggung bagi interaksi antarbudaya yang positif, memperkaya keragaman, dan memperkuat kedamaian sosial di tengah-tengah masyarakat yang multikultural. Dengan demikian, persaingan dalam berburu takjil di bulan Ramadhan menjadi refleksi dan dinamika sosial yang kompleks di masyarakat Indonesia dengan harapan agar setiap individu dapat menghargai keberagaman dan menjaga sikap toleransi dalam setiap interaksi sosial.

 

Nama              : Aghniyani Zakiah

Sekolah           : SMAN Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Perbedaan Bukan Penghalang

     Terdapat dua agama berbeda dalam sebuah ikatan keluarga yaitu Islam, Kristen. Meskipun terdapat perbedaan agama, seluruh anggota keluarga dapat menghargai pilihan satu sama lain. Bahkan, terdapat satu hal yang sangat menarik perhatianku ketika membicarakan tentang keberagaman beragama yang ada di keluarga tetanggaku yaitu, tetanggaku dapat menjalankan kehidupan rumah tangga dengan baik, meskipun mereka berdua memiliki kepercayaan agama yang berbeda.

    Istrinya beragama Islam dan suaminya beragama Kristen, meskipun berbeda namun mereka tetap bisa bertoleransi pada pilihan agama satu sama lain. Sejujurnya sampai suaminya meninggal, aku belum pernah menjumpai mereka bertengkar karena permasalahan perbedaan agama.

     Tentunya jiwa toleransi yang diajarkan mereka, membuat anak dan cucunya juga bisa bertoleransi pada agama yang dipercayai oleh orang lain. Sejujurnya aku merasa sangat bersyukur melihat keluarga besar mereka bisa bersatu meskipun memiliki agama yang berbeda.

     Aku belum pernah sama sekali menjumpai tindakan diskriminasi yang dapat menyakiti hati, karena faktanya semua anggota keluarga memiliki ikatan kebersamaan dalam sebuah keberagaman. Sungguh aku merasa bahwa keberagaman menjadi sangat indah, jika semua orang memiliki jiwa dalam bertoleransi satu sama lain.

    Aku pribadi pernah memiliki pengalaman secara langsung terkait jiwa toleransi yang dimiliki oleh tetanggaku. Kejadian ini terjadi pada bulan Ramadan, waktu itu aku sedang berkunjung ke rumah tetanggaku tersebut.

    Si bapak memiliki kepedulian yang sangat tinggi pada ibadah yang istrinya jalankan, padahal istrinya dan sibapak memiliki agama yang berbeda. Meskipun tidak menjalankan ibadah puasa, ternyata si bapak rela bangun jam 2 pagi hanya untuk menemani sang istri masak menu sahur untuk dirinya. Bahkan sibapak selalu menemani istrinya dalam menjalankan ibadah sahur dan berbuka.

    Sungguh rasanya bahagia ketika melihat sibapak memiliki kepedulian pada agama yang istrinya percayai. Sibapak sangat paham akan pentingnya bulan Ramadan bagi umat Islam, beliau tahu bahwa ini merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan. Aku ketika main di rumah tetanggaku tersebut, istrinya pernah bilang ketika dirumah sang istri tidak pernah menjumpai sekalipun sang suaminya makan dan minum diwaktu puasa. Tentunya ini dilakukan agar sang istri tidak tergoda untuk membatalkan puasa, sehingga sang istri dapat menjalani kewajiban puasa dengan baik.

     Ketika merayakan hari besar agama masing-masing, pihak anggota keluarga tersebut yang tidak merayakan akan menyempatkan waktunya untuk memberikan pesan ucapan perayaan. Bahkan, tidak hanya sekedar memberikan ucapan, ada kalanya mereka memutuskan ikut berkontribusi membantu kesuksesan perayaan. Tentu ini menjadi sebuah bukti bahwa seluruh anggota keluarga tetanggaku memiliki rasa toleransi yang tinggi pada keberagaman beragama.

     Jujur adanya kehidupan berdampingan dalam beragama tanpa sedikitpun memiliki rasa kebencian pada agama yang dianut oleh anggota keluarga yang lain. Kalau ditanya terkait cara aku bisa bertoleransi pada diversity (perbedaan), sejujurnya ini berkat didikan dari ibuku. Sejak aku masih kecil, ibuku selalu memberikan pemahaman dan pengetahuan pada diriku bahwa keberagaman merupakan satu hal yang baik dan perlu untuk tetap dijaga.

     Aku diminta untuk tidak pernah memandang rendah pilihan orang lain, meskipun pilihan mereka berbeda dengan pilihanku. Aku selalu diminta untuk menghormati dan menghargai perbedaan baik agama, suku, bahasa, ras dan budaya yang dipercaya oleh orang lain. Meskipun awalnya merasa kesulitan, tetapi setelah berjalannya waktu aku bisa menjadi sosok yang bertoleransi, bagiku kuncinya hanya satu yaitu membiasakan diri.

     Sekarang aku tidak pernah mempermasalahkan akan sebuah perbedaan, karena menurutku semua orang memiliki kebebasan dalam memilih. Bahkan, aku merasa sangat sedih jika masih ada di antara kita yang tidak bisa menghormati dan menghargai perbedaan. Aku berharap rasa toleransi terkait keberagaman juga bisa dimiliki oleh seluruh masyarakat Indonesia. Percayalah bahwa sangat penting bagi kita semua untuk menanamkan rasa toleransi dalam sebuah keberagaman.

     Aku berpesan pada teman-teman semua untuk tidak pernah mempermasalahkan keberagaman, karena sebenarnya keberagaman adalah satu hal yang sangat indah. Aku percaya bahwa Negara Indonesia dapat menjadi lebih baik, ketika masyarakatnya sudah bisa untuk memiliki jiwa toleransi dalam sebuah perbedaan pilihan.

 

Nama : Anggun Fatikhah Aulia

Asal sekolah : SMA Negeri Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Perbedaan

     Indonesia adalah negara yang kaya akan suku, budaya, adat istiadat, agama, dan bahasa. Dalam perbedaan inilah yang menjadikan terciptanya keberagaman. Keberagaman yang ada di Indonesia inilah yang membuat kita harus mampu untuk bersikap toleransi karena keberagaman seharusnya tidak menjadi penghalang bagi kita untuk selalu hidup rukun. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), toleransi memiliki makna sifat atau sikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) terhadap pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan kelakuan) yang berbeda atau tentangan dengan pendirian sendiri.

     Dengan adanya perbedaan tentu saja membuat sebagian orang beranggapan bahwa orang yang berbeda dengan dirinya merupakan sebuah kesalahan. Sekecil apapun perbedaan tetap akan menimbulkan konflik apabila kita tidak menyikapinya dengan bijak, dengan baik, dengan kepala dingin atau tidak melibatkan emosi. Tetapi, sebagian orang juga berfikir kritis tentang perbedaan. Tidak jarang kita menemui atau menjumpai seseorang yang berfikir perbedaan adalah hal yang perlu dinormalisasi karena perbedaan bukan merupakan kesalahan karena sejatinya setiap orang berbeda-beda. Tidak ada satu individu dengan individu lain yang memiliki kesamaan 100% pasti tetap terdapat perbedaan diantara keduanya sekalipun mereka anak kembar.

     Perbedaan pemikiran antar individu dapat dengan mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan nyata ataupun dalam sosial media. Contoh perbedaan pemikiran dalam kehidupan sehari-hari adalah perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat menimbulkan pro dan kontra dari masing-masing pihak sehingga harus dimusyawarahkan hingga membentuk mufakat. Sedangkan, dalam sosial media perbedaan sering kali dijumpai dalam konten suatu kreator. Netizen atau warganet (warga internet, orang yang aktif menggunakan internet) biasanya akan berkomentar menurut persepsi mereka masing-masing pada kolom komentar yang tersedia. Biasanya beberapa orang akan menyetujui atau pro terhadap persepsi tersebut, akan tetapi tak jarang juga banyak yang tidak setuju atau kontra dengan persepsi tersebut.  Sehingga menimbulkan dampak negatif yaitu terdapat sekelompok orang yang berdebat di kolom komentar tersebut, tidak peduli tua atau muda, bahkan beberapa dari mereka tidak segan mengeluarkan kata-kata atau kalimat kasar yang semakin memicu perdebatan berkepanjangan dan melibatkan orang lain yang ikut terpancing emosinya saat membaca perdebatan mereka.

     Di dalam dunia persekolahan juga sering dijumpai perbedaan pendapat yang menimbulkan konflik padahal hanya karena suatu hal yang mungkin sepele. Orang yang tidak menyetujui biasanya akan memusuhi, menjauhi, mengucilkan, menjelekkan nama, memberi tatapan sinis, dan sebagainya kepada orang yang menyetujui pendapat tersebut. Sebagai generasi muda penerus bangsa seharusnya kita menghindari permasalahan terhadap sesama terlebih hanya karena hal sepele. Jika menghadapi masalah sebaiknya kita memusyawarahkan masalah tersebut dengan kepala dingin dan semaksimal mungkin mencoba berlapang dada apabila pendapat kita tidak disetujui karena hasil mufakat merupakan kepentingan atau persetujuan sebagian besar khalayak umum, sehingga kita tidak boleh memaksakan kehendak pribadi atau kepentingan pribadi kita.

     Saya Nasya Arin Harwanti dari SMA Negeri Gondangrejo mengajak kalian semua untuk bertoleransi kepada orang yang berbeda dengan kita. Katakan “tidak peduli” terhadap perbedaan yang ada pada sekitar kita, yang terpenting kita tetaplah satu, kita tetaplah saudara.

 

Nama : Nasya Arin Harwanti

Sekolah : SMA Negeri Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Tetap bertetangga Walau berbeda Suku

      Di Indonesia, terdapat keragaman suku, agama, ras, dan budaya yang kaya. Meskipun memiliki latar belakang yang berbeda-beda, masyarakat Indonesia telah lama menjunjung tinggi nilai toleransi. Contohnya adalah perayaan Hari Raya Idul Fitri, Natal, Waisak, dan perayaan agama lainnya yang sering dihadiri dan dirayakan bersama oleh berbagai kelompok agama. Bahkan, dalam lingkungan sehari-hari, masyarakat Indonesia saling menghormati dan menghargai perbedaan dalam kepercayaan, adat istiadat, dan kebiasaan budaya. Hal ini tercermin dalam semangat gotong royong dan kebersamaan yang masih dijaga dengan baik di berbagai daerah, di mana masyarakat saling membantu satu sama lain tanpa memandang perbedaan identitas atau latar belakang budaya. Kesatuan dalam keragaman menjadi salah satu kekuatan utama Indonesia sebagai bangsa yang menjadikan toleransi sebagai pondasi dalam kehidupan bermasyarakat.

     Namaku Helmi, lengkapnya Helmi Yassin.

     Aku tinggal di desa bernama Kalioso yang berlokasi di Provinsi Jawa Tengah. Desaku ini daerah transmigrasi dahulu kata ayah. Oleh sebab itu, penduduk di desaku beragam latar belakangnya. Contohnya saja Pak Jaka, ia tetangga belakang rumahku, asalnya dari Bandung dan termasuk ke dalam Suku Sunda. Adapun Pak Budi, rumahnya persis di depan rumahku, asalnya dari Bali tapi ia berasal dari Suku Sasak. Kami sendiri berasal dari Jawa dan identitas suku kami adalah Suku Jawa . Walau masyarakat di desaku berbeda-beda asal daerah dan suku bangsanya, namun kami bisa hidup berdampingan dalam keadaan rukun dan harmonis. Bahkan bisa dibilang keakraban kami selayaknya kedekatan saudara atau kerabat.

    Karena adanya perbedaan menambah keragaman dan kekayaan budaya Indonesia. Jadi kita harus menumbuhkan rasa saling menghargai dan toleransi yang tinggi disetiap masing-masing individu untuk selalu menjaga perbedaan.

 

Nama Helmi Yassin

Sekolah: SMAN Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Satu Desa Beda Aliran

     Boyolali, 21 April 2023 – Nogosari menjadi saksi dari upaya Pemberdayaan Masyarakat yang dilakukan oleh warga desa Tarub , Nogosari . Dalam langkah ini, masyarakat penduduk Desa Sembungan khususnya di Dukuh Tarub, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali dengan berdampingan langsung dalam suasana toleransi yang erat, dengan menjalin komunikasi yang baik melalui pendekatan sosiologi komunikasi.

     Perbedaan adalah elemen fundamental dalam kehidupan manusia dan alam semesta. Perbedaan ini tidak hanya menjadi dasar untuk memahami lingkungan sekitar kita, tetapi juga seringkali menjadi pendorong perkembangan, pemikiran kreatif, dan inovasi. Namun, tidak dapat dihindari bahwa terkadang perbedaan juga memicu konflik yang melanda masyarakat. Akan tetapi, di Desa Sembungan terutama di Dukuh Tarub, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali cerita berbeda ini berkembang. Di sini, beragam perbedaan dalam kehidupan masyarakat justru menjadi penyatuan dalam keragaman keyakinan aliran.

     Desa Tarub menjadi rumah bagi dua aliran, NU dan Muhammadiyah, dengan mayoritas penduduk menganut aliran NU (sekitar ±326 jiwa) sementara berkeyakinan aliran Muhammadiyah (sekitar ±212 jiwa) penganut. Meskipun perbedaan aliran hadir dalam kehidupan mereka, Desa Tarub mampu menjadi contoh nyata tentang bagaimana keberagaman aliran dapat memperkuat persatuan sosial.

     Di desa ini, terdapat dua masjid yang digunakan sebagai tempat ibadah oleh kedua aliran tersebut. Yang lebih mengagumkan lagi adalah semangat toleransi, gotong-royong, saling melindungi, dan persaudaraan yang tercermin dalam kehidupan masyarakatnya. Mereka meyakini bahwa meskipun keyakinan aliran mereka berbeda, mereka adalah satu saudara. Contohnya, saat pembangunan jalan di Dukuh Tarub ,warga desa, tanpa memandang aliran, bersatu dalam kerja sama gotong-royong. Ini adalah bukti bahwa semangat gotong-royong telah meresap dalam jiwa masyarakat Desa Sembungan, memperkuat persatuan mereka dalam keberagaman aliran yang dianut. Bahkan, saat perbedaan hari raya idul Fitri mereka tetap saling menjamu untuk bersilahturahmi dan merayakan bersama, hal ini menunjukkan bahwa perbedaan bisa menjadi penyatuan dalam kehidupan mereka.

     Di dunia pendidikan, Dukuh Tarub di Desa Sembungan memiliki Sekolah Muhammadiyah dengan mayoritas muridnya adalah aliran NU. Yang menarik, meskipun orang tua memilihkan anak-anak mereka masuk ke sekolah NU, keyakinan aliran mereka tidak goyah. Ini menggambarkan bahwa Desa Sembungan, terutama Dukuh Tarub, berhak mendapat predikat sebagai “Desa Moderasi Beragam Aliran.” Melalui sikap moderat masyarakatnya terhadap perbedaan keyakinan aliran, mereka tetap menjaga kerukunan.

     Sebagaimana diungkapkan oleh warga sekitar, warga asli Dukuh Tarub, “Kami selalu bersama-sama, tidak pernah ada konflik di antara kami, bahkan kami saling melindungi karena semakin banyak perbedaan, semakin nikmat kehidupan kita, semakin lengkap.”

     Ungkapannya mencerminkan semangat Desa Sembungan, yang membuktikan bahwa menciptakan perdamaian dan harmoni di tengah perbedaan aliran bukanlah hal yang mustahil. Melalui semangat toleransi, gotong-royong, saling melindungi, dan persaudaraan yang kuat, desa ini telah menunjukkan bahwa keselarasan dan toleransi dapat menjadi dasar yang kokoh untuk kemajuan bersama dalam masyarakat yang beragam.

 

Nama:Yana Ambarwati

Sekolah: SMAN Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Toleransi Bertetangga dalam Satu Cinta

     Bertetangga merupakan suatu hal yang biasa kita dengar sehari-hari bahkan pun setiap manusia mengalami hal ini. Mengapa?karena pada prinsipnya manusia itu adalah zoon politicon, manusia merupakan makhluk sosial, makhluk yang selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Manusia yang dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan manusia lain. Manusia sebagai makhluk sosial dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia akan selalu bergantung pada oranglain, bertetangga salah satunya. Bertetangga itu sebuah minat atau dukungan antarmanusia satu dengan lainnya. Bertetangga itu perilaku ramah dan menolong antar orang yang tinggal berdekatan. Benefit yang akan didapatkan ketika toleransi antarbertetangga terjalin dengan baik maka rasa nyaman yang timbul dari hidup rukun akan memberikan kebahagiaan. Ketika salah satu keluarga tertimpa masalah, maka tetangga dapat saling membantu dan bergotong royong agar masalah tersebut dapat segera terselesaikan. Tingginya tingkat kerukunan dalam bertetangga dapat menentukan kesejahteraan suatu daerah

     Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai manusia  tak lepas dengan namanya hak dan kewajiban. Mengapa hak dan kewajiban itu perlu ada, karena untuk keseimbangan hidup begitupula dalam hidup bertetangga sekalipun. Salah satu tujuan penting hak dan kewajiban adalah untuk mencapai kehidupan yang layak dan lebih baik bagi semua individu dalam masyarakat. Selain itu hak dan kewajiban itu juga untuk mengatur kehidupan di masyarakat yang lebih baik. Dalam kehidupan bermasyarakat membutuhkan suatu lingkungan yang aman dan nyaman, hal ini dilakukan untuk mencapai sebuah hubungan bertetangga yang baik. Tetangga yang baik adalah orang yang perhatian, toleran dan memahami oranglain serta gaya hidup mereka yang berbeda serta dapat membangun suatu komunitas yang sukses. Dengan menjunjung toleransi menjadikan sebuah hubungan bertetangga menjadi baik dan semua warga masyarakat dapat tinggal dan hidup dalam bertetangga dengan suasana bahagia dan menyenangkan.

     Tingginya tingkat kerukunan dalam bertetangga dapat menentukan kesejahteraan suatu daerah, hal ini berkorelasi positif dengan budaya etika yang baik di masyarakat. Budaya yang beretika merupakan suatu budaya yang mampu menjaga, mempertahankan dan meningkatkatkan harkat serta martabat manusia. Etika bertetangga yang bisa dilakukan minimal bertegusapa jika bertemu, peduli terhadap lingkungan, berbagi dalam kebaikan bersama. Karena faktor kedekatan itulah, peran tetangga begitu besar terhadap kehidupan seseorang. Jika tertimpa musibah, tetanggalah yang pertama kali memberikan bantuan, pertolongan maupun uluran tangan. Ada nilai-nilai kebersamaan yang harus dijaga dalam lingkungan tempat tinggal. Toleransi pun menjadi kata kunci. Oleh sebab itu, Pancasila sila ke-2, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengajarkan bahwa hiduplah betetangga yang baik dan tidak menunjukkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki, jika pada saat yang sama, masih ada tetangganya yang kesusahan.

     Salah satu contoh budaya yang beretika lainnya yaitu menghargai perbedaan pendapat dalam forum resmi maupun tidak resmi di masyarakat. Implementasi dari forum resmi antaralain dalam hal perbedaan pendapat tentang pembangunan gudang RT, ada yang setuju ada yang tidak, karena berbagai alasan dan faktor penyebabnya. Dari perbedaan pendapat inilah, masyarakat belajar menghormati dan menghargai untuk mencapai tujuan bersama.

     Toleransi yang terbentuk di masyarakat paling penting diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari  manusia. Tanpa membekali diri dengan sikap toleransi, tentu kita akan menjadi pribadi-pribadi hedonis, egois dan individualistis yang lebih suka mementingkan urusan diri sendiri dan mengenyampingkan urusan dan perasaan orang lain. Sikap-sikap maupun pribadi yang sangat bertolakbelakang dengan sikap toleransi ini akan memicu menimbulkan perselisihan dan perpecahan dalam hidup bertetangga. Sikap intoleransi akan menciptakan ketegangan dan konflik sosial di lingkungan sekitar. Dampak yang akan ditimbulkan dari sikap intoleransi akan merusak mental atau kepribadian, ancaman kerukunan eksistensi dasar negara yaitu Pancasila. Dampak secara luas bagi Bangsa Indonesia dengan berbagai keberagaman suku, ras, budaya serta bahasa yang sangat beragam dadalah ancaman kesatuan dan persatuan bangsa.

     Definisi toleransi menurut Soerjono Sukanto adalah suatu sikap yang merupakan perwujudan pemahaman diri terhadap sikap pihak lain yang tidak tidak disetujui. Hal ini dimaksudkan bahwa jika dalam kultur masyarakat mampu menjaga sikap saling menghargai dan  menghormati, yang bertentangan dengan diri sendiri maka intoleransi tidak akan terjadi. Sebaliknya jika dengan adanya sikap toleransi, konflik dan perpecahan antarindividu maupun kelompok tidak akan terjadi, maka kehidupan damai dalam keragaman akan tercapai.

     Jika mencermati kehidupan era sekarang, sepertinya sikap toleransi mulai habis terkikis dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian orang kelihatanya lebih suka menonjolkan keakuannya. Aku punya ini dan itu, aku anak siapa, aku punya hak privilege atau dengan kata lain, ia lebih suka mementingkan hal-hal yang menjadi kesenangan dirinya sendiri, tanpa merasa harus peduli dengan tetangga atau orang-orang yang berada di sekitarnya. Ia benar-benar tak peduli bila ada orang lain yang merasa terganggu dengan aktivitasnya. Beberapa waktu yang lalu seorang tetangga, menceritakan aktivitas salah satu tetangganya yang memiliki kebiasaan menaruh soundsystem volume kencang. Tetangganya itu memang berprofesi sebagai  pemilik sound system sehingga tak heran bila sering melakukan uji coba apakah sound system tersebut sudah berfungsi dengan baik ataukah belum. Akan tetapi ia melupakan satu hal atau bisa jadi menganggap hal biasa atau sepele, bahwa kebiasaannya menggunakan soundsystem dengan volume tinggi itu sangat mengganggu kenyamanan para tetangganya yang rumahnya sangat berdekatan. Mestinya bila ia memiliki sikap toleransi, ia akan berpikir panjang sebelum menggunakannya dalam durasi lama. Apakah suara soundsystem keras itu dapat menyebabkan orang lain terganggu atau tidak? Jangan-jangan salah satu tetangganya ada yang sedang sakit? Atau ada ibu yang memiliki bayi yang mendadak terbangun dan menangis gara-gara mendengar suara soundsystem yang begitu keras menggema?

     Saya jadi teringat, ketika suatu hari menyaksikan sebuah video viral di youtube Soundsystem hajatan membuat rontok genteng  tetangga sampai bolong. Genting-genting tetangga terekam pecah satu per satu karena kencang dan kerasnya soundsystem.

     Video viral itu  memang berdurasi sangat singkat, tetapi meninggalkan bekas yang mendalam dan hikmah bagi orang yang menontonnya. Hikmah yang menyadarkan kita agar memiliki sikap toleransi terhadap sesama. Jangan sampai kita merasa egois, melakukan kesenangan sesuka hati di tengah penderitaan orang lain. Memang sah-sah saja bila kita ingin melakukan aktivitas atau hobi kita, tentu dengan catatan selama itu positif dan tak mengganggu kenyamanan orang lain.

     Karena saya sangat yakin, kita pun akan merasa kesal dan marah bila sampai ada orang yang mengganggu ketenangan hidup kita. Bayangkan saja ketika kita sedang nyenyak tidur tiba-tiba terjaga gara-gara mendengar soundsystem volume keras yang bersumber dari tetangga punya hajatan. Saya yakin kita akan merasa kesal dan marah. Terlebih bila kita baru beberapa menit pulang kerja dan sangat lelah dan sempat tertidur meski sejenak. 

     Penting digarisbawahi di sini bahwa memiliki sikap toleransi bukan berarti kita tidak memiliki sikap atau prinsip hidup. Sama sekali bukan seperti itu. Prinsip hidup merupakan nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang dapat membantu seseorang untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalahnya.  Tugas kita adalah berusaha memahami prinsip hidup orang yang beragam tersebut, lalu menghormatinya sebagaimana kita ingin dihormati oleh mereka. Karena menghormati perbedaan prinsip-prinsip itulah arti sesungguhnya tentang toleransi secara utuh dan menyeluruh.

     Menurut pandangan saya, mencintai sesama atas dasar sebuah kewajiban hidup dengan oranglain termasuk ke dalam kategori sikap toleransi yang sejatinya selalu kita lakukan. Dengan kata lain, toleransi merupakan suatu hal yang “niscaya” menjalani kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat atau bertetangga.”NISCAYA” dalam toleransi bertetangga adalah wujud dari CINTA.

 

Identitas Penulis:

Nama                    : Arny Hidayah, S.Pd.

Instansi                : SMAN 1 Mojolaban

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Kisah Toleransi Beragama, Shalat Id di Halaman Gereja Yesus Kayutang

      Sejumlah warga Muslim melaksanakan salat Idul Fitri di halaman Gereja Yusus Kayutangan, Kota Malang. Toleransi antarumat beragama yang ditunjukkan saat pelaksanaan shalat Idul Fitri 1444 H. Warga non-Muslim tak segan menunjukkan rasa toleransi saat umat Islam hendak menunaikan shalat yang menjadi penanda kemenangan setelah 30 hari berpuasa.

     Di Malang, kota yang terkenal dengan toleransi yang tinggi, menunjukkan betapa Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Kayutangan, Kota Malang, menyediakan ruang bagi umat Islam melaksanakan shalat Idul Fitri. Masjid Jami di Kota Malang selalu ramai dikunjungi warga yang hendak shalat Id membuat masyarakat sampai menempati jalan raya dan alun-alun di sekitar masjid.

     Situasi ini mendorong warga Katolik di Gereja Paroki Hati Kudus Yesus, Kayutangan, Kota Malang, turut memberikan bantuannya. Mengingat lokasinya yang berdekatan dengan Masjid Jami, pengurus gereja setempat menyediakan halaman gereja untuk dijadikan tempat shalat Id. Mereka pun memberikan kertas koran sebagai alas umat Islam melakukan shalat Id.

     Perwakilan Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Kayutangan, Romo Paulus Teguh mengatakan, sikap ini sebenarnya bukan pertama kali dilakukan. Sebenarnya sejak lama, tetapi kita mulai waktu yang pasti kita harus menyediakan tempat sebisanya itu mulai dua tahun lalu sejak Covid-19, kata dia saat ditemui wartawan di Kota Malang Paulus mengatakan, pihak gereja jika mengetahui umat Islam acap melaksanakan shalat Id setiap tahun di dekat gereja. Oleh karena itu, dia berinisiatif menyediakan tempat bagi umat Islam agar bisa shalat Id. Menurut dia, tindakan ini menunjukkan nilai toleransi yang sesungguhnya.

     Selain itu, pihak yang melibatkan para suster dan frater gereja muda dalam kegiatan tersebut. Aktivitas itu bertujuan agar mereka bisa terdidik dan dapat bersaudara dengan umat lainnya. Amel termasuk salah satu warga Malang yang ikut melaksanakan shalat Id di halaman Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Kayutangan. Dia mengaku setiap tahun selalu menempati halaman gereja untuk shalat Id.

    “Sangat senang kalau shalat di sini (halaman gereja), mereka selalu hangat menyambut kami. Ini harus dicontoh dan diterapkan di tempat lain,” kata dia menjelaskan. Sangat senang kalau shalat di sini (halaman gereja), mereka selalu hangat menyambut kami. Ini harus dicontoh dan diterapkan di tempat lain.

AMEL Jamaah Sholat Idul Fitri

      Di Jayapura, Papua, pemuda gereja setempat juga membantu penyiaran shalat Idul Fitri. Ketua Takmir Masjid Agung Al-Aqsha Sentani, Ustaz Nurdin Syanmas mengatakan, sudah sejak lama umat Islam terjalin tali persaudaraan antar agama di Kabupaten Jayapura. “Hari ini pemuda gereja membantu pihak kepolisian dalam hal ini Polres Jayapura untuk menjaga ibadah shalat Id di Masjid Al-Aqsha Sentani,” kata dia. Menurut Ustaz Nurdin, tali persaudaraan antarumat beragama di Kabupaten Jayapura sangat kental. Oleh karena itu, memikirkannya selalu bekerja sama dengan gereja di wilayah ini.

    “Saat perayaan Natal kami dari masjid ikut membantu saudara kita yang Kristen untuk mengamankan serta mengatur lalu lintas bersama kepolisian, begitu pun sebaliknya dapat kita melihat hari ini umat Kristen yang membantu kami,” ujar dia.

    Selain pemuda gereja gereja, ada ikatan kerukunan Pemuda Maluku Bersatu (PMB) yang juga membantu keamanan, menjaga parkiran kendaraan, dan membersihkan masjid setelah pelaksanaan shalat Id digelar. “Alhamdullilah, karena pelaksanaan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1444 Hijriyah dapat berlangsung aman, damai, dan tertib berkat dukungan semua pihak, baik kepolisian, gereja juga ikatan kerukunan suku-suku Nusantara di sini,” kata dia.

    Ustaz Nurdin menambahkan, mengesampingkan mendoakan dan selalu berharap agar hubungan yang harmonis antaragama, suku, dan budaya di Kabupaten Jayapura dapat terus terpelihara dengan baik. Doa kami juga adalah harapan kami semoga Allah melimpahkan rahmat dan karunia agar kita semua umat beragama dari segala suku dan budaya yang hidup di Kabupaten Jayapura ini selalu harmonis dan damai, kata dia menambahkan.

    Warga Dusun Dampu, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, merayakan momentum ‘kemenangan’, dengan melaksanakan takbir keliling lingkungan juga dalam nuansa harmoni dan semangat kerukunan antarumat beragama. Warga non-Muslim di lingkungan dusun ini juga ikut terlibat aktif dalam membantu dan mendukung kelancaran takbir keliling, yang diikuti oleh anak-anak hingga ibu rumah tangga tersebut.

     Salah satu warga non-Muslim, Octiana Shindu Theo Puspita (22 tahun) mengatakan, keterlibatannya dalam kegiatan takbir keliling didorong oleh semangat untuk melakukan praktik baik tentang toleransi, gotong royong, dan saling menghormati antarumat yang berbeda keyakinan. Sebagai salah satu warga Nasrani, ia mengaku sangat bersyukur hidup di tengah-tengah lingkungan –yang dengan kesadaran warganya– mampu menghargai segala perbedaan serta dalam merawat ‘keberagaman’.

     “Saat kami –warga Nasrani– merayakan Natal (misalnya), segenap warga Muslim di dusun ini juga aktif membantu berbagai persiapan dan mendukung kelancaran kegiatan ibadah di gereja,” kata mahasiswi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Pada saat umat Islam tengah mempersiapkan dan merayakan hari raya Idul Fitri, ia juga terpanggil untuk terlibat dalam mendukung kelancarannya. “Salah satunya dalam acara takbir keliling ini,” kata dia.

     Salah satu warga Muslim, Bahtiar Aji Setiawan (22) pun mengapresisi partisipasi warga non-Muslim, yang juga mendukung kegiatan takbir keliling ini dengan penuh kesadaran untuk merawat semangat toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Menurut dia, keterlibatan warga non-Muslim –dalam takbir keliling yang diprakarsai oleh Sanggar Budaya Conrowinoto, Dusun Dampu—ini bahkan dimulai sejak persiapan hingga pelaksanaan takbir keliling.

    Mereka menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan, seperti ‘kembang mayang’, menyiapkan suluh (obor dari batang bambu), hingga membantu membawa obor untuk menyampaikan peserta takbir keliling. Termasuk, membantu dalam mengatur dan mengamankan jalan yang dilalui rombongan takbir keliling ini. “Sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan tertib dan lancar,” kata dia.

    Pemilik Sanggar Budaya Condrowinoto, RNgt Eropeana Puspitasari mengungkapkan, puluhan anak-anak dan para remaja yang terlibat dalam kegiatan ini adalah para murid yang selama ini ngangsu kaweruh (belajar) budaya Jawa di sanggarnya. Mereka merupakan warga Dusun Dampu yang berasal dari berbagai keyakinan, baik Muslim, Nasrani, maupun Buddha. Selain budaya Jawa, para generasi muda bangsa ini juga mengajarkan nilai-nilai toleransi, saling menghormati dan menghargai keberagaman dalam berbagai hal. Termasuk kepada warga di lingkungan Dusun Dampu.

     “Pada momentum Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriyah kali ini, semua juga ikut terlibat untuk mendukung dan membantu warga yang akan merayakannya,” kata dia.

 

Nama: Azalia Nala Maheswari

Sekolah: SMAN Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar