Buka Puasa

     “Halo….Selamat siang Bu Ika, mohon maaf acara buka bersama anak-anak kelas 8.6 apakah jadi dilaksanakan,  Tanya Mama Gerardo?” ( seorang istri pak pendeta).  Sambil berjalan menuju kelas dengan tas hitam yang selalu digendong,  saya  menjawab   dengan handphone , “ Mohon maaf , Mam. Nanti saya telepon balik, ya!” ditemani  daun pucuk merah di depan kelas 8.6 bergoyang indah siang itu, seakan menemaniku  menuju ke kelas, Di pojok kelas duduk sendiri anak perempuan  masih menghabiskan  makan siomay  yang dicampur saos tomat  menambah menarik warna siomay di plastic itu. Sesekali anak perempuan itu merasakan pedas dengan satu tangan sebelah kanan di goyang-goyangkan di depan mulut seolah-olah seperti kipas.

     Tanpa menyadari kalau Guru Bahasa  Indonesia sudah memasuki ruang kelas tersebut.  Terlihat seorang anak yang duduk dibangku depan dekat meja guru mengayunkan kipasnya karena keringat membasahi jidatnya, sambil menyapa “ Selamat Siang, Bu Ika?”  Selamat siang jawabku. sambil terlihat anak-anak sudah memasuki kelas dan duduk di tempat masing-masing, dengan senyum saya  menyapa anak-anak, “Selamat siang, anak-anak?” Selamat siang, Bu Ika? Jawab anak-anak serempak. Membuka buku absen anak- anak kelas 8.6 , menanyakan kehadiran siswa-siswi.

     Hari itu yang tidak hadir Deo karena sakit. Untuk membuat konsentasi belajar anak-anak, di awal pembelajaran diawali dengan membuka tepuk semangat  , sangat antusias  anak-anak melakukannya. Mengingatkan  pembelajaran kemarin ,anak-anak bersahutan menjawab struktur teks pidato…Bu….pernyataan posisi, tahap argument, dan pernyataan penguatan posisi. Luarbiasa kalian anak-anak hebat. Sembari memberikan tugas pada anak-anak untuk mengidentifikasi struktur teks pidato, naskah teks pidato dibagikan , anak- anak mengerjakan secara berkelompok.

     Kala itu cuaca sangat panas,. Selesai  mengajar di kelas di ruang staf kepala sekolah , saya  mengambil handphone dari dompet kecilku berwarna biru, jemari manisku mulai memainkan dengan menekan tombol handphone dan munculnya sebuah nama Mama Gerardo. “Halo , selamat siang Mama Gerardo?”. Terjadilah sebuah pembicaraan . “Saya sangat senang Bu Ika kalau diadakan buka bersama meskipun  beragama Kristen saya  mendukung kegitan positif tersebut, besuk saya bawa oseng-oseng daun papaya, masakan saya mantab lho Bu Ika ,kata Mama Gerardo”. Begitu antusiasnya Mama Gerardo tersebut. . “ Iya Mam, terimakasih atas perhatian dan partisipasinya, besuk kita informasikan lagi.

     Melalui WA group paguyuban orangtua siswa kelas 8.6 ,saya gunakan sarana  berkomunikasi dengan orangtua siswa mengenai persiapan buka bersama .  Ide itu sering saya lakukan sebagai walikelas disetiap  bulan Ramadhan agar anak-anak dapat merasakan  toleransi keberagaman dalam menghormati teman-temannya menjalankan ibadah  puasa. komunikasi antara orangtua semakin terjalin . terpilihlah Mama Andreas sebagai ketua pelaksana kegiatan buka bersama dan  terbentuklah sebuah kesepakatan  pelaksanaan buka bersama  dilaksanakan Hari Sabtu dan semua makanan dibagi-bagi yang membawa dari para orangtua.

     Ada yang membawa snack, nasi , sayuran ,laukpauk, buah sampai es buah. Begitu ikhlasnya para orangtua yang biasa menjalankan ibadah di Gereja  Hari Sabtu tanpa ada yang protes mengubah jadwal ibadah di Hari Minggu. Demi pelaksanaan buka bersama kelas 8.6 berjalan lancar. Sebagai walikelas merasa bangga dan haru pada ketulusan hati para orangtua serta begitu  kompaknya. Tibalah pelaksanaan buka puasa , dilaksanakan di halaman SMP Negeri 3 Surakarta dimulai pukul 16.30 Menit. Namun, Para orangtua sudah mulai berdatangan sejak pukul 15.00 WIB. Mempersiapkan tempat yang akan digunakan untuk meletakkan semua makanan, anak-anak pun juga sangat antusias mempersiapkan tempat dan sarana prasarananya.

     Bersama orangtua anak-anak bergotongroyong ada yang mengambil meja di kelas untuk diletakkan di depan kelas sebagai tempat untuk meletakkan makanan dan minuman. Meja di balut dengan taplak bunga-bunga semakin menambah indah tempat prasmanan tersebut. Satu demi satu diletakkanlah toples es yang berisi nasi yang masih panas, sayur-sayuran mulai dari sop ayam, sambal goreng ati ayam, paklay,asem-asem kikil, bakmi goreng, ayam goreng, kerupuk udang goreng, semangka dan es buah. Tidak ketinggalan pula dipersiapkan kurma dan sosis basah dan roti sebagai hidangan pembuka . di sela-sela anak- anak bersama orangtua mempersiapkan segalanya, terdengarlah sebuah pembicaraan dari Mama Andreas yang sekaligus sebagai ketua pelaksana kegiatan tersebut, “Ini pengalaman pertamaku membeli kurma”karena sebelumnya aku belum pernah membeli kurma, seperti ada yang aneh. Pembicaraan pun juga gayung bersambut dilanjut Mama Gerardo , “Aku juga disapa oleh tetangga, tidak biasa-biasa masak oseng daun pepaya banyak kemudian aku jawab untuk pelaksanaan buka bersama di sekolah anakku”, jawabku.

     Akhirnya tetanggaku mengatakan kalau sebuah keberagaman beragama yang terjalin sangat bagus di SMP Negeri 3 Surakarta. Persiapan tempat dan sounsystem pun juga sedang dipasang. Tikar di gelar . Alhamdulillah cuaca sangat mendukung , begitu cerah dan tidak ada mendung sedikit pun. Dengan diawali pembawa acara yang membacakan rangkaian acara, maka acara buka puasa pun di mulai. Acara di buka oleh prakata dari ketua pelaksana ( Mama Andreas ) ,dilanjutkan sambutan dari saya sebagai walikelas 8.6 dan sambutan dari Kepala SMP negeri 3 Surakarta.  para orangtua yang tidak bertugas mempersiapkan makanan dan minuman ,duduk bersama di tikar yang sudah disediakan. Suasana begitu hanyut indah sebuah keberagaman yang terjalin. Kepala SMP Negeri 3 Surakarta memberikan apresiasi yang sangat luarbiasa dengan terlaksananya acara buka bersama  oleh kelurga besar kelas 8.6.

     Semoga tidak hanya terjalin saat ini saja namun sampai kapan pun akan terjalin erat. Setelah Pak Iwan, S.Pd. salahsatu guru di SMP Negeri 3 Surakarta mengisi tauziah ,persiapan buka puasa, terdengarlah adzan magrib tanda semua dapat berbuka puasa, sebuah pemandangan yang sangat apik ,komando dari Mama Andreas sebagai ketua   pelaksana ,yang beragama Kristen dan Katholik baik itu anak-anak dan orangtua siswa mempersilakan yang makan berbuka puasa terlebih dahulu untuk makan dan minum. Bahkan berlalu lalang mengambilkan  kurma dan minuman teh. Setelah berbuka puasa dengan minum the dan menyantap snack dilanjutkan sholat magrib.

     Saat itulah, baik anak-anak dan orangtua siswa yang beragama Kristen dan Katholik menyantap snack dan minuman. Sholat magrib selesai dijalankan dilanjutkan dengan menyantap hidangan yang telah dipersiapkan sejak sore tadi, toleransi pun terlihat kembali,  mendahulukan yang berbuka puasa , dan setelah semua yang beragama islam mengambil hidangan dan es buah, bergantian yang beragama Kristen dan Katholik mengambil hidangan yang telah disajikan. Sayup-sayup terdengar suara adzan isak dari masjid lain. Akhirnya kami yang beragama islam melaksanakn sholat isak dan dilanjutkan sholat tarawih secara berjamaah. Namun ada juga sebagian siswa maupun orangtua siswa yang beragama islam tidak menjalankan sholat karena menstruasi. Melanjutkan dengan membersihkan tempat. Kegiatan buka bersama berakhir pukul 20.30 WIB. Siswa siswi dan orangtua merasa lega dan senang agenda buka bersama berjalan lancar.

     Namun, sebelum saya pulang, Mama Gerardo mendatangi saya di kantor sambil merangkul saya dan berucap , “Maturnuwun Bu Ika, meskipun kita berbeda keyakinan namun Bu Ika tidak membeda-bedakan, saya merasa senang sekali, puji syukur oseng-oseng daun papaya yang saya bawa habis laris di makan, teruskan kegiatan seperti ini Bu Ika. ” ucapan itu mengingatkan saat pengambilan raport semester gasal di kelas. Mama Gerardo terakhir mengambil raport, sembari berucap, “ Pripun nggih bu Ika , Gerardo itu masih manja sekali, kalau tidak saya persiapkan tidak mau makan dan belajar, saya tidak bisa membayangkan kalau saya pergi”. Bahkan Mama Gerardo mengatakan kalau sebelum saya berangkat di acara buka bersama , ayahnya Gerardo , menyuruh saya jangan sampai ada yang tertinggal ,  dipersiapkan dan segera berangkat agar tidak terlambat. Gerardo yang jarang sekali berbicara dengan ayahnya karena bukan mempunyai masalah , karakter Gerardo yang pendiam yang menyebabkan Gerardo jarang berbicara dengan ayahnya, Sore itu sebelum berangkat, ayahnya juga berucap, “yang sopan kalau diacara buka bersama, Do.”  Dengan bahasa jawa, Mama Gerardo mengatakan “ Kulo remen sanget, Bu Ika. Papahnya Gerardo mau berbicara dengan Gerardo.”

     Satu bulan sudah berlalu , seperti tidak percaya, terkirim sebuah lelayu di di depan meja kantor Bapak Ibu guru , tertulis sebuah nama yang tidak asing lagi bagiku. Dia adalah Mama Gerardo. Seperti tak percaya karena selama ini tidak terdengar berita di group WA paguyuban kelas kalau Mama Gerardo sakit. Akhirnya saya memastikan bergegas menujuke ruang kelas 8.6 , ternyata benar Gerardo tidak masuk sekolah. Saya menanyakan pada siswa siswi ,”Sakit apakah Mama Gerardo ?” “tidak sakit Bu, jawab Andreas” tadi malam saat mengantarkan kakaknya yang akan bekerja, dan  ditabrak mobil  oleh orang yang tidak bertanggungjawab atau tabrak lari. Tercengang saya mendengar cerita dari salah satu siswa.

     Akhirnya dengan ijin Kepala sekolah, kami semua seluruh siswa siswi kelas 8.6 berangkat bersama-sama takziah ke rumah Gerardo. Terdapat beberapa Bapak Ibu guru ikut takziah. Perjalanan kami tempuh selama tiga puluh menit dari sekolah menuju ke rumah duka. Kami bertemu dengan beberapa orangtua siswa kelas 8.6 yang sejak tadi sudah datang ke rumah duka. Tak ada airmata yang tidak turun dengan deras , kami semua saling berpelukan dengan mama-mama orangtua siswa siswi kelas 8.6. setelah itu,kami duduk . terdengar kidung-kidung agama Kristen. Sesaat saya duduk bersama orangtua siswa, saya didatangi oleh seorang wanita dengan mengenakan hijab berukuran besar, sambil menyalami saya dan berkata, “ Apakah Ibu yang bernama Bu Ika,” iya, jawabku. Perkenalkan saya kakak dari Mamanya Gerardo. Seminggu yang lalu sebelum kejadian ini, Mama Gerado sempat mengatakan pada saya, “Mbak, aku seneng banget karo  wali kelasse Gerardo, jenenge Bu Ika,  Tidak membeda-membedakan agama, mengadakan acara buka bersama di sekolah dengan kami yang Nasrani,” aku dapat tugas membawa  oseng-oseng daun papaya.”semoga kelak Gerardo duduk di bangku SMA , menemukan walikelas seperti Bu Ika.” Itu ucapan terakhir kakak saya  saat bertemu dengan saya.

     Hikmah yang bisa kita petik dari kegiatan tersebut dilakukan  bersama teman-teman dan sesederhana apapun kegiatan jadikan momen paling penting sebagai acuan motivasi hidup dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial bersama teman sejawat, serta hal ini akan meyakini langkah bahwa kehidupan akan terasa lebih  indah kalau dijalani dengan rasa bahagia dan bersama. Kita memang tidak sama tapi kita bekerja sama.         

 

Nama: Ika Lastyowati, S. Pd

Sekolah: SMPN 3 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Kita Semua Berbeda

     Aku dan perbedaan, Aku memiliki sahabat  beragama non-muslim meskipun agama kami berbeda kami tetap berteman baik hingga menjadi sahabat. Dan, aku juga memiliki tetangga beragama non-muslim. Seringkali orang beranggapan negatif tentang mereka yang beragama non-muslim. Sering kali juga sahabat ku di suruh untuk membaca syahadat, walaupun bercanda kita tidak boleh berperilaku seperti itu.

     Semua agama mengajarkan kebaikan. Dan Indonesia adalah negara yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda beda tetapi tetap satu. Namun sahabat ku juga membalas santai perkataan teman teman ku. Tanggapan negatif tentang orang yang non-muslim itu belum tentu benar adanya, kita harus saling menghargai perbedaan yang ada. Entah itu perbedaan agama, ras, suku, dan fisik. Sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna. Indonesia menjadi kuat karena perbedaan yang ada, maka yang kita perlukan adalah menjaga dan menghargai perbedaan yang ada.

     Kita tidak boleh membeda bedakan karena kita semua berbeda. Jika ada orang non-muslim kita tidak boleh langsung beranggapan negatif hanya karena berbeda agama dengan kita. Aku dan sahabatku sampai sekarang tetap bersahabat, dan kita juga saling menghargai perbedaan yang ada. Aku harap semua orang menerapkan sikap menghargai perbedaan, agar Indonesia tetap tentram dan damai.

 

Nama:Nazhifah Yumna Setyawan

Sekolah: SMP NEGERI 2 SURAKARTA

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Perbedaan Bukan Penghalang Persatuan

     Persatuan dalam keberagaman adalah landasan kokoh bagi kemajuan sebuah masyarakat. Toleransi menjadi kunci utama dalam memelihara hubungan harmonis di antara individu yang memiliki perbedaan.

     Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap individu unik dengan latar belakang, keyakinan, dan pandangan hidup yang beragam. Toleransi menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan tersebut, mencegah terjadinya konflik, serta mendorong perkembangan positif. Dengan adanya toleransi, masyarakat dapat belajar menghargai dan menerima keberagaman. Hal ini membantu membangun atmosfer inklusif di mana setiap individu merasa dihargai tanpa ditentukan oleh faktor-faktor perbedaan.

     Selayaknya dalam sebuah orkestra, setiap nada memiliki peranannya sendiri namun bersatu dalam harmoni yang indah. Demikian pula dengan manusia, perbedaan semestinya menjadikan masyarakat semakin kuat dan kaya akan warna. Saling menghormati dan memahami merupakan bentuk nyata dari toleransi. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai tersebut, masyarakat dapat tumbuh menjadi entitas yang bersatu meskipun terdiri dari individu-individu yang berasal dari latar belakang yang berbeda.

     Toleransi juga menandakan kedewasaan suatu masyarakat dalam menghadapi perbedaan. Ketika individu mampu menerima eksistensi perbedaan dan menghargainya, maka kesatuan dan kedamaian masyarakat dapat terjaga dengan baik. Bukanlah perbedaan yang menjadi masalah, melainkan bagaimana masyarakat menjalin hubungan yang harmonis di tengah ketidakseragaman itu. Toleransi menegaskan bahwa keberagaman bukanlah momok yang harus ditakuti, tetapi justru menjadi kekuatan yang mempersatukan.

 

Nama:Ayunda Ramadhani

 

Sekolah: SMA N Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Jangan Mudah Ditindas karena Kita Setara

     Saya adalah alumni salah satu sekolah dasar negeri di kabupaten Klaten. Saat saya duduk di bangku sekolah dasar ( SD ), saya memiliki beberapa teman laki-laki. Beberapa dari mereka memiliki volume tubuh yang cenderung lebih besar dan lebih tinggi jika dibandingkan dengan tubuh saya. Beberapa dari mereka juga memiliki kemampuan yang baik dalam permainan fisik atau olahraga, khususnya dalam permainan sepak bola.

     Saya sendiri adalah orang yang kurang pandai dalam hal permainan fisik, khususnya permainan seperti sepakbola, voly, dan permainan lain yang sejenis. Atas kekurangan itu saya sering mendapat perlakuan deskriminatif. Saya disebutnya lemah. Ya, seperti yang kita ketahui lah akan disebut laki-laki apabila dekat dengan aktivitas fisik yang menantang.

     Tidak ada manusia yang sempurna. Yang kupahami terlepas dari kekurangannya, setiap manusia pasti memiliki kelebihan. Aku bisa dikatakan lemah di bidang olahraga. Akan tetapi, aku memiliki kelebihan di bidang matematika.

     Aku tidak pernah membalas cacian dengan cacian. Aku memiliki cara sendiri untuk melawannya. Aku merasa bahwa apa yang mereka lakukan kepadaku adalah cara mereka untuk membuat dirinya terlihat baik dari orang lain.

     Seperti yang aku sampaikan sebelumnya. Aku memiliki kelebihan di bidang matematika. Sedangkan teman-temanku kurang di bidang matematika. Mereka bisa mengendalikanku di luar kelas, aku pun bisa mengendalikan mereka di dalam kelas.

     Bukan ajang adu kekuatan maupun pasang kesombongan. Melainkan ini adalah caraku memanfaatkan kelebihanku untuk mengendalikan hinaan dari teman-teman yang merasa memiliki kekuatan.

     Kalau ingat pada masa itu, aku sendiri masih tidak percaya bisa melakukannya. Tapi aku mampu. Akhirnya teman-teman yang tadinya menghinaku berangsur-angsur menerima keberadaanku. Mereka mengakui aku lemah fisik tapi kuat di otak. Bahkan guruku memberiku julukan kecil-kecil cabai rawit. Sebelumnya, mereka sangat tidak menghargaiku. Selalu menghina tubuhku yang kecil. Aku sering ditantang berkelahi. Mereka menganggapku tidak bisa berkelahi. Padahal kalua akum au meladeni belum tentu aku kalah dengan salah satu dari mereka. Kadang mereka memaksaku untuk mengerjakan tugas-tuganya. Sebenarnya, aku tidak merasa takut, aku hanya tidak ingin ada keributan yang nantinya akan membawa orang tua. Lagi pula membantu teman tidak ada salahnya. Itung-itung mengajarkan mereka untuk saling menolong.

     Seiring berjalannya waktu, mereka berhenti menganggap remeh saya. Nilai matematika saya selalu lebih unggul daripada mereka. Pada waktu itu saya membalas mereka dengan dengan mengejek nilai yang mereka dapatkan. Saya merasa di atas angin. Tapi tidak ada sedikitpun niat saya untuk berlaku sombong. Entah ada kekuatan dari mana. Kalau diingat pada waktu sekolah dasar dulu lebih banyak yang memusuhiku dibandingka dengan yang menerima. Karena aku berani mereka berhenti.

     Kami mulai bersahabat dengan kelebihan dan kekurangan kami masing-masing. Mereka mengakui kelebihanku dan menerima kekuranganku. Demikian denganku. Mereka tidak segan meminta bantuan kepadaku untuk menyelesaikan tugas. Aku pun dengan senang hati membantu mereka. Begitu pula, mereka tidak ada yang keberatan membantuku ketika akua da kesulitan. Dari pengalaman masa kecilku itu. Aku banyak belajar dan kujadikan pedoma sampai saat ini. Tidak ada manusia sempurna. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak sepantasnya kita merendahkan seseorang karena kelemahannya. Jangan mudah ditindas, karena kita sebenarnya memiliki kekuatan yang tidak dimiliki orang lain.                                                  

 

Nama: Lutfi Galang

Sekolah: SMKN 3 Klaten

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Tiga Sahabat Seperjuangan

     Namaku Brilliant, aku tinggal di daerah Karangasem RT 02 RW 03 Laweyan Surakarta. Aku hidup di daerah yang beragam dan banyak sekali perbedaan antar masyarakat. Contohnya adalah persahabatanku dengan Bagas dan Erik. Wayan Bagas Prawira berasal dari Bali, keluarga nya masih menjalankan adat istiadat dari Bali. Erik Wachid Abdussalam berasal dari Nangroe Aceh Darussalam yang terkenal akan keimanan terhadap Islam yang sangat kuat, keluarganya Erik sangat berhati-hati dalam bertindak sehari-hari karena Allah maha mengetahui.

     Bagas memiliki kulit kuning cerah, mata agak sipit, hidung pesek dan rambut yang sedikit keriting. Erik memiliki kulit coklat muda, rambut lurus tebal, mata bundar dan lesung pipi yang menawan. Sedangkan aku memiliki kulit yang berwarna coklat, alis tebal Dan hidup mancung. Kami bertiga bertemu saat masih kecil, di tempat yang anak kecil sukai yaitu taman bermain. Aku saat itu sedang bersedih hati karena mendapat nilai ujian buruk, sehingga ayah ku mengajak pergi ke taman.

     Disana aku bertemu dengan Erik, ia mengenakan pakaian rapi dan berpeci, mungkin saja ia baru selesai TPA karena taman bermain tersebut dekat dengan masjid. Erik dengan wajah senyum bahagia menghampiri ku dan menggenggam tanganku sambil menyeretku ke mainan jungkat jungkit yang ada. Aku tak tau apa apa, yang namanya anak kecil ya aku langsung ikut naik dong. Disana kami berdua sangat senang, apalagi saat di tengah permainan aku tersangkut seluncuran, karena aku dan Erik tertawa terbahak-bahak.

     Mendengar hal itu Bagas yang sedang beribadah langsung menghampiri kami sambil berkata “aku boleh ikut ga?” Seketika kami menjawab dengan kencang “boleh”. Karena saat itu pikiran kami hanyalah main, main, dan main. Kami naik seluncuran bersama, bergantian naik ayunan, bersama sama berputar di komidiputar. Tak terasa waktu mulai gelap Erik bilang “eh udah Magrib nih, aku pulang dulu ya!” Lalu ia pulang. Setelah itu Bagas di hampiri orang tuanya dan pulang. Karena aku sudah puas bermain aku mengajak ayahku untuk pulang.

     Disitulah kami mulai akrab dan menjalin persahabatan. Sampai lah kita yang beranjak kelas 5 SD, kami melakukan perjanjian untuk bermain bola saat sore hari di lapangan sepakbola. Kami sangat menikmati permainan dan tiba-tiba ada seorang bersama timnya mengajak kami untuk beradu skill bermain kami. Kami sempat menolak namun kami di ejek lemah oleh mereka. Sehingga kami menyetujuinya , kami kekurangan pemain dan mereka mau memberi dua pemainnya untuk kami.

     Pertandingan 5 versus 5 dimulai, kami beradu skill dan kekompakan bermain bola. “Musuh sangat kuat” ucap Erik yang bermain sebagai striker. Pertandingan berakhir dengan skor 2 untuk kami dan 3 bagi mereka, mereka bilang bahwa bermain kami sangat bagus, dan baik. Suatu pagi cerah, aku, Bagas, dan Erik sangat bersemangat untuk pergi liburan ke pantai. Kami bersiap-siap sejak dini, membawa peralatan untuk bermain pasir dan snorkeling. Namun, saat kami tiba di terminal bus, kami berbincang bincang dengan santai membahas makanan apa yang akan di beli di pantai.

     Setelah sampai di pantai kami bermain snorkeling dan membuat istana pasir. Saat kami lapar ada sebuah warung makan yang menjual aneka makanan laut, kami langsung menyerbu makanan tersebut. Tak terasa sudah malam, kami hendak pulang menggunakan bus, namun kami ketinggalan bus karena Bagas yang sakit perut.

     Awalnya, kami agak panik. Namun, dengan kepala dingin, kami mulai merencanakan cara untuk pulang. aku mengingat bahwa ada taksi yang beroperasi hingga larut malam di terminal, tetapi Bagas menunjukkan bahwa biaya taksi pulang sangat mahal. Erik, yang selalu kreatif dalam mencari solusi, mengusulkan untuk mencari penumpang lain yang juga terlambat dan bersama-sama menyewa taksi. Kami bertiga sepakat untuk mencoba ide itu dan mulai berkeliling mencari orang-orang yang juga terlambat.

     Setelah beberapa usaha, kami akhirnya menemukan keluarga lain yang juga terlambat dan ingin pulang ke arah yang sama. Bersama-sama, kami menyewa taksi dan berbagi biaya perjalanan. Di dalam taksi, kami  berbagi cerita tentang liburan kalian di pantai dan tertawa mengenang kecerobohan kami yang hampir membuat kalian terjebak di terminal. Ketika tiba di rumah, aku merasa lega dan bersyukur telah menemukan cara pulang dengan selamat.

     Suatu hari di cuaca yang mendung daerah tempat tinggal nya Bagas dan sekitarnya terkena hujan yang sangat amat deras, sehingga mengalami banjir. Aku dan Erik ingin bermain bersama tapi terhalang oleh hujan deras. Bagas dan keluarga nya terkena hujan deras sehingga mengalami banjir, mereka mengevakuasi diri serta warga lain. Disisi lain aku dan Erik tidak tahu bagaimana keadaan rumah Bagas yang terkena hujan. Kami berdoa agar hujan cepat berhenti sehingga kami bisa bermain bersama lagi.

     Hujan telah reda, aku dan Erik bergegas menuju rumah Bagas. Alangkah kagetnya aku dan Erik mengetahui rumah Bagas rusak terkena banjir dan juga rumah yang lainnya. Hati senang kamu berubah menjadi sedih yang amat dalam melihat kejadian tersebut. Masyarakat daerah lain serta pemimpin daerah membantu mengevakuasi dan memberikan bantuan pada sejumlah korban. Aku dan Erik di suruh petugas untuk pulang. Rasa bersedih yang amat dalam kurasakan hingga aku tidak bisa tidur.

     Di pagi harinya masyarakat membantu memperbaiki rumah Bagas, karena rumahnya mengalami sedikit kerusakan. Singkat cerita rumah Bagas dan yang lainnya sudah jadi dan baik baik saja. Bagas bercerita pada ku dan Erik tentang keadaannya saat terkena banjir, trauma yang berat telah dirasakan Bagas, namun Erik yang tak ingin hari hari Bagas dipenuhi dengan ketakutan berusaha menghibur dengan menceritakan cerita cerita lucu. Trauma yang dialami Bagas makin lama makin menghilang. Dan kami pun menjalin persahabatan seperti semula.

     Beragam kejadian telah kami alami bersama, susah senang kami rasakan bersama, jika ada salah satu yang lemah, yang lainnya menguatkan. Dari sini aku dapat mengambil pelajaran bahwa perbedaan bukanlah penyebab perpecahan bila kita menghargai. Dan juga persahabatan yang erat antara perbedaan akan membuat hari semakin menyenangkan.

 

Nama: Muhammad Brilliant Aulia Maliki

 

Sekolah: SMPN 3 SURAKARTA

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Tentang Asmaraloka yang Hanyalah Enigma

     Askara yang telah terbiasa mendengar tetangga sebelah rumahnya berbincang membahas dirinya. Tentang jalinan asmaraloka antara dirinya,  Bagaskara Adiwinata dengan Renjana Andira Putri. Ia menyeruput kopinya sambil menikmati senja yang kian ditelan malam sambil duduk bersama sang ayah di teras istana mereka. “Kamu masih dengan Andira le?” suara ayahnya membuka percakapan “masih yah, gaakan putus lahh” “yakin banget kamu, kayak satu iman saja, kamu loh islam, dia katolik toh?” lantunan kata dari ayahnya membuatnya terdiam, hal yang selalu menjadi masalah antara Askara dan Andira. “Ingat le, jangan ambil dia dari Tuhannya, dan jangan sampai kamu berpaling dari Tuhanmu” “iya yah, Askara tau itu” jawab Askara dengan senyum pilu.

     Askara terduduk di kursi kamarnya, menatap monitor yang berlatar gambar stickman hasil karya kekasihnya sembari memikirkan ujung cerita kisah asmaralokanya. Handphone Askara berdering tanda ada yang menelponnya “Rena?” gumam Askara. Rena adalah panggilan Askara pada Andira, dan Nata adalah panggilan Andira pada Askara. “Halo, kenapa?” ucap Askara setelah mengangkat telepon tersebut “Kak Nata dimana? lagi sibuk nggak kak?” suara Andira terdengar lembut dari handphone Askara “Nggak sibuk, kenapa Rena?” jawab Askara nenanggapi pertanyaan kekasihnya, “Aku mau discordan sama kak Nata” pinta Andira “boleh, aku lagi kosong juga” sorakan senang terdengar dari handphone Askara “mau sekarang Ren?” tanya Askara memastikan “bentar kak, aku setting laptop aku dulu yaa” nada manis terdengar saat Andira menjawab pertanyaan Askara “iya Rena, kakak tunggu” “oke kak, aku tutup yaa telponnya” “iya Rena” telepon ditutup, Askara kembali terdiam, laranya sungguh dapat hilang saat mendengar suara kekasihnya itu, berharap agar kisah asmara mereka amerta walau hanya dalam aksara.

     Waktu berlalu cepat, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Askara masih berkutik dengan komputernya. Setelah melepas rindu dengan gadis pujaan hatinya, sekarang giliran tugas sekolah yang melepas rindu pada Askara. Askara siswa yang tidak terkenal dengan prestasinya, tapi ia sangat peduli dengan nilainya, lagi dan lagi karena tuntutan orang tuanya. Ia terduduk di kursi meja komputernya, menatap tugasnya yang menumpuk membuat otaknya ingin pecah rasanya “gila.. Pak Djarot kalau ngasih tugas udah kayak ngasih wewejangan” sambatnya sambil menatap 100 nomor essai yang harus dikerjakan murid-murid kelas XIIC. Yah.. walau salah Askara juga menunda-nunda tugas yang sudah tau banyak. Sebentar lagi ia akan mencapai kelulusan SMA, yang berarti ia harus menentukan bagaimana jalan hidupnya, apakah ia akan melanjutkan pendidikannya ataukah akan memulai karirnya.

     Hari demi hari berlalu menyisakan 1 bulan sebelum kelulusan kelas XII. Askara tengah duduk dibangku taman sekolah bersama kekasihnya, bersenda gurau selepas menjalani pelajaran sebelum nantinya mereka akan menyongsong liburan kenaikan kelas. Sembari duduk, mereka berdua mengobrol hal-hal acak yang terlintas di pikiran mereka. Sampailah mereka di pembahasan yang membuka lara hati Askara “Kak Nata inget nggak film yang kita nonton, yang cewenya api cowonya air?” tanya Andira. “Inget Ren, kenapa? Mau rewatch?” Askara menatap Andira, menanggapi ucapan kekasihnya “nggak kak, bukan itu, kemarin aku bengong terus keinget aja kalau film itu mirip kita, mereka beda elemen, kalau kita beda iman kak.” Deg! Askara termangu, hatinya sakit mengingat masalah yang terus berulang-ulang ini.

     “iya Ren” hanya jawaban ‘iya’ yang bisa ia gumamkan, Andira terdiam sejenak lalu melanjutkan kata-katanya “Kak Nata nggak cape? Aku cape kak gini terus, setiap aku ngomongin ini, kak Nata menghindar terus, aku ngerti kalau ini sulit kak, tapi kalau gini terus aku cape” Sunyi, hanya bunyi burung bercicit dan daun kering terinjak yang terdengar. Askara menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu perlahan menjawab dengan suara pelan dan lembut “Ren.. maaf ya? Kakak gasuka bahas masalah ini, kakak mau terus sama kamu, kakak selalu merjuangin kamu, jadi tunggu sebentar lagi ya Ren?” “Sampai kapan kak? Aku udah nunggu hampir 1 tahun buat kak Askara” lagi.. hanya burung bercicit yang terdengar, Askara tak bisa berpikir jernih sekarang, memangnya apa yang mereka harapkan? dari awal menjalin asmara, mereka seharusnya sudah tau masalah apa yang akan mereka hadapi, jadi apa yang mereka tunggu? “kamu nunggu apa Rena..? Kamu nunggu aku nyelesaiin hubungan ini? atau bergabung dengan agama katolik?” Andira diam sejenak, tak tau apa yang harus ia lontarkan untuk menjawab pertanyaan Askara. “Kak, kita lanjutin dichat, bener kata kak Nata, hubungan kita dari awal gaada gunanya, aku pikirin nanti kak, sulit buat nentuin sekarang, aku pamit pulang dulu ya kak” Rena beranjak dari duduknya setelah menjawab apa yang dilontatkan Askara sebelumya, ia berjalan menuju gerbang keluar sekolah, Askara dapat melihat air mata gadis itu jatuh. Askara terdiam, tak berniat membalas ucapan Andira ataupun beranjak dari duduknya, yang sekarang ia pikirkan adalah apakah ucapannya tadi benar? Apakah salah jika ia mengatakan semua itu? Ntahlah, Askara sudah kalut dalam enigma buananya.

Setelah 20 menit Askara melamun di taman sekolah, sekarang ia telah berada di kamarnya, terlentang di atas kasur sambil menatap kosong langit langit kamarnya. Ting! Sebuah pesan masuk di handphone Askara. Askara tau itu sudah pasti Andira. Askara meraih handphonenya, sebuah pesan dari Andira muncul ‘kak.. aku udah mikirin ini semua, aku sungguh amat berterima kasih ke kak Nata udah ada di masa masa SMA aku, udah nemenin aku dan bikin aku bahagia! Tapi, mungkin sekarang udah cukup hubungan kita, setelah aku pikirkan nggak ada yang salah dengan omongan kak Nata tadi, dan memang benar hubungan kita nggak ada tujuan pasti, jadi.. sampai sini aja ya kak? Aku gamau maksa ngelanjutin buku dengan alur bahagia padahal aku udah tau dari awal gabakal bisa.

     Sekali lagi terimakasih kak 11 bulannya, bermakna banget buat aku!.’Hancur.. hancur-sehancur hancurnya hati Askara. Askara tau suatu saat pasti ini akan terjadi tapi ia tidak menyangka 11 hari sebelum genap 1 tahun mereka menjalin hubungan asmara akan menjadi waktunya. Air mata Askara jatuh setelah membaca pesan dari Andira, ia tak berniat membalas pesan itu, biarkanlah ia kalut dalam lara hatinya. Sore itu Askara habiskan untuk menuangkan kesedihannya.

     Malamnya sehabis sholat bersama keluarganya, Askara dan keluarganya mengobrol bersama seperti kebiasaan lama. “Mas, kenapa itu? Kok kayak habis mbrebes gitu? Ibu liat kok makin elek kamu to?” tanya Bu Tami, ibu Askara dengan senda guraunya “Hoo Le, kenapa kamu? Tadi bapak liat sholatmu khusuk banget doanya, nggak biasane, biasane kan kamu khusuk doanya kalau ada maunya” timpal pak Lukni, Ayah Askara “Ah.. ini Askara putus bu, pak, ya biasa lah anak muda galau” tutur Askara dengan nada gurau menutupi kesedihan yang ia rasakan. Ayah dan ibu Askara bertatapan, terdiam sejenak berpikir harus memberi wewejangan apa untuk anak tunggal mereka. Bu Tami yang pertama bersuara “Ya nggak apa-apa mas, sudahlah, besok dikasih yang lebih baik sama Gusti Allah, kamu kalau mau sedih langsung sekarang saja, jangan dipendem, ibu bapak siap jadi tempat curhatmu” “Hoo, bapak wes pernah ngomong to, tapi yo rapopo Le, kabeh kuwi terjadi mesti ono alesanne, dinikmati wae” tambah Pak Lukni. Askara tersenyum, ia beruntung memiliki keluarga yang indah, yang selalu bersedia menerima keluh kesah Askara di titik terendahnya “Iya pak, bu makasih wewejangannya, udah cocok buka podcast” jawab Askara menanggapi tuturan ayah ibunya tadi, “opo to, garing Le” canda Pak Lukni. Malam itu mereka habiskan dengan senda gurau keluarga, bertukar cerita satu dan yang lain.

     Pada akhirnya Askara menyadari bahwa ia dan Andira adalah bentala dan bumantara yang tak akan pernah menjadi asmaraloka mereka aksa dan akan selamanya menjadi enigma.

Nama: Agatha Putri Christiawan

Sekolah: SMKN 3 Klaten

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Hapus Stereotipe SMK

     Sekolah Menengah Kejuruan sering dipandang sebelah mata karena dianggap tidak mengajarkan adab pada siswa-siswinya. Sering terdengar cibiran bahwa “SMK adalah kandang kenakalan” dan “Lulusan SMK merupakan penyumbang pengangguran terbesar”. Namun, faktanya tidak seperti itu, siswa-siswi SMK justru dipersiapkan untuk terjun langsung di DuDi (Dunia usaha Dunia industri) ketika mereka lulus nanti.

     Begitu banyak SMK di Kabupaten Klaten, salah satunya SMK Negeri 3 Klaten, yang merupakan sekolah pusat keunggulan (PK). Sekolah yang bergerak di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif ini, menyediakan berbagai fasilitas yang memadai untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Keunggulan lain dari SMKN 3 Klaten, terletak pada bidang kejuruannya, yang menjadi satu-satunya Sekolah Menengah Kejuruan yang memiliki jurusan Tata Kecantikan di tingkat kabupaten.

     Namun, tidak semulus narasi di atas, sangat berbanding terbalik dengan stereotipe yang terus berkembang di lingkungan pendidikan maupun masyarakat. Terkhusus pada jurusan kecantikan yang selalu menjadi ikon utama di tengah perbincangan topik kenakalan remaja di ranah masyarakat.

     Berdasarkan pengalaman Vina yang merupakan salah satu Guru Bahasa Indonesia di SMKN 3 Klaten, beliau mengalami kejadian yang tidak terduga saat naik taksi online. Vina ditanya oleh supir, apakah benar beliau itu Guru di SMKN 3 Klaten. Supir yang mendengar kebenaran pun tersentak kaget, lalu berkata “Wah Bu.. penyumbang LC terbanyak loh, Bu..” LC merupakan pemandu karaoke, tugasnya biasa memandu para pelanggan yang datang ke tempat tersebut. Vina menanggapi dengan santai dan gelak tawa. “Wah iya toh, Pak? Bagus dong!” timpal Vina yang membuat supir terdiam.

     Tidak hanya di lingkungan masyarakat, namun stereotipe SMK terus berkembang di lingkungan pendidikan. Seperti pengalaman Amelia, salah satu siswi SMKN 3 Klaten jurusan kecantikan yang berbagi pengalamannya saat menghadiri acara forum diskusi bersama dengan siswa-siswi SMA/SMK lainnya. Amelia berkenalan dengan salah satu siswi dari sekolah lain. Saat siswi tersebut mengetahui bahwa Amelia merupakan siswi jurusan kecantikan, sontak siswi tersebut berkata “Cuma bedakan saja kok, pakai sekolah segala?” dengan nada bercanda dan menimpali dengan “Ngga loh, bercanda” meskipun siswi tersebut menggunakan embel-embel bercanda, tentu Amelia merasakan bahwa siswi tersebut sedang menyindirnya. Amelia pun menyahuti “Melukis wajah juga ada seninya, bukan sekedar menggores dan memulas.” Siswi tersebut diam dan terlihat kebingungan dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Amelia.

     Kabar miring dan stereotipe yang terus berkembang dari generasi ke generasi, hal ini bukanlah suatu pencapaian yang patut diacungi jempol. Namun, dalam menanggapi ujaran kebencian tidak diperkenankan untuk menggunakan kekerasan verbal maupun non verbal. Dengan demikian tanggapan yang diberikan hendaknya dapat diterima dengan baik dan lawan bicara dapat memahami value yang sedang disampaikan.

     Fakta lain menyebutkan, siswa-siswi lulusan SMK memiliki 3 pilihan ketika lulus dari masa sekolah. Dengan bekal keahlian yang telah dipelajari, tentunya para siswa sudah memiliki bekal untuk melanjutkan di dunia industri atau terjun ke dunia usaha, karena pada saat masa sekolah, selama kurang lebih 6 bulan, siswa akan melaksanakan PKL ( Praktik Kerja Lapangan ) di dunia industri atau dunia usaha sesuai dengan bidang kejuruannya. Namun juga tidak menutup kemungkinan, siswa dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu dunia perkuliahan.

 

Nama : Amelia Reswara Putri
Sekolah : SMK N 3 KLATEN

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Aku dan Keberagaman di Sekitarku

     Hari ini adalah dimulainya tahun ajaran baru, yang artinya ini hari pertamaku masuk ke SMA. 3 tahun menjalani masa-masa di SMP, berat rasanya harus berpisah dengan teman-teman dan memulai segalanya dari nol di sekolah yang baru.  Sekolah baru, lingkungan yang baru pula dan aku harus beradaptasi dengan itu semua mengingat aku akan menimba ilmu disini selama 3 tahun kedepan. Segalanya terasa asing bagiku karena saat SMP aku bersekolah di sekolah berbasis agama Islam, dan sekarang aku masuk ke SMA negeri. Aku menyadari banyak sekali perbedaan disekitar ku. Namun, dari situlah lembaran baru dihidupku mulai tercipta.

     Hari demi hari telah berlalu dan perlahan aku mulai beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Pada awalnya aku berpikir akan sulit beradaptasi, tapi ternyata semua berjalan dengan lancar. Aku mendapat banyak teman baru yang sangat ramah dan baik hati karena mau berkenalan denganku.  Teman pertamaku Bernama Andi, kami berkenalan saat masa pengenalan lingkungan sekolah. Dia berasal dari Jawa Timur tepatnya di kota Madiun. Saat kami mengobrol aku merasa logat dan Bahasa yang dia gunakan berbeda dari yang sering ku dengar sehari-hari.

     Namun, hal itulah yang menciptakan kesan tersendiri saat mengobrol dan bercanda dengannya. Selain dari Jawa Timur, aku juga mempunyai teman yang berasal dari Jawa Barat. Nimas Namanya, dia seorang Perempuan yang baik hati dan sangat sopan. Dia berasal dari kabupaten Majalengka provinsi Jawa Barat. Nimas menggunakan Bahasa Indonesia saat berkomunikasi disekolah karena dia tidak bisa menggunakan Bahasa Jawa. Namun, Nimas seringkali berusaha dan belajar berkomunikasi menggunakan Bahasa Jawa meski kadang logatnya terdengar lucu saat ia menggunakan Bahasa jawa . Selain Andi dan Nimas, aku juga berkenalan dengan seorang yang Bernama Carlos dan ternyata dia keturunan NTT. Saat berkenalan dengannya aku menyadari bahwa ada perbedaan fisik yang mencolok dari kita berdua, Carlos bertubuh besar dan bulu di lengannya terbilang cukup banyak. Dia menjelaskan kepadaku bahwa hal tersebut dia dapatkan dari turunan genetik ayahnya yang berasal dari NTT, dia juga mengatakan kepadaku bahwa dia bangga memiliki bulu lengannya karena itu akan menjadi ciri khas dirinya.

     Tidak sampai disitu saja, aku berkenalan dengan 2 orang yang juga keturunan dari luar pulau jawa. Mereka adalah Markus dan Boris yang dimana mereka keturunan Sumatra utara. Saat pertama kali berkenalan dengan mereka, aku merasa bagian akhir dari nama Panjang meraka sangat keren dan terdengar asing di telingaku karena yang sering ku dengar yaitu nama-nama seperti Paijo, Suparman, Sri dan sebagainya. Mereka menjelaskan bahwa suku batak yang berasal dari Sumatra utara memiliki ciri khas yaitu marga yang ditempatkan di akhir nama seseorang, dan dari situ dia memberitahu aku banyak hal tentang ciri khas suku batak seperti penggunaan kain ulos dan berbagai macam upacara adatnya. Oyaa… mereka berdua beragama Kristen dan terbilang seorang yang paham dan taat dengan agamanya. Suatu hal yang baru bagiku memiliki teman sekelas yang berbeda keyakinan mengingat dulunya aku bersekolah di swasta. Bahkan disaat ada jam kosong kita sering bertukar cerita tentang agama kita yang berbeda. Tak jarang pula teman-temanku yang beragama Kristen melakukan kegiatan ibadah berdoa Bersama di dalam kelas, dan yang terjadi ketika mereka beribadah adalah suasana kelas yang tenang dan semua temanku menghargainya.

     Hari demi hari telah berlalu dan aku sangat senang bisa mengenal mereka semua. Keberagaman yang ada tidak hanya mengenai fisik, suku, maupun Bahasa. Saat kita bergaul dengan banyak orang tentunya kita akan menemui beragam karakter dan sifat manusia. Semakin lama aku berteman maka semakin paham dengan  karakter temanku. Namun, satu hal yang unik adalah selama kita berteman sejauh ini, kita tidak pernah dihadapkan dengan konflik karena adanya perbedaan tersebut. Hal tersebut dapat terjadi karena kita selalu berusaha saling memahami dan menghargai satu sama lain dalam keberagaman yang ada.

     Masa-masa dikelas 1 SMA terasa sangat menyenangkan dan perbedaan yang ada dikelasku menjadi suatu alasan aku semangat untuk berangkat sekolah. Singkat cerita, aku telah menyelesaikan 2 semester di kelas 1 SMA dan berhasil naik kelas, tetapi ada kabar buruk bahwa saat kelas 2 SMA akan diberlakukan sistem rolling, jadi aku akan bertemu teman baru dan mungkin sudah tidak sekelas dengan teman temanku saat ini. Benar saja, saat kelas 2 aku berpisah dengan teman-teman kelasku dulu, namun kita tetap berteman dekat dan sering menyempatkan waktu untuk bertemu, berkomunikasi untuk mengenang masa lalu maupun membuat lembaran kisah kita yang baru. Layaknya taman yang terlihat indah dengan berbagai macam jenis tanamannya, pertemanan kami terasa sangat indah dengan perbedaan didalamnya.

     Saat aku naik kelas semua terasa berbeda, teman baru, guru baru, suasana kelas yang baru dan ya, aku harus beradaptasi lagi. Disaat aku merasa malas untuk beradaptasi lagi, ternyata ada beberapa teman baruku yang berasal dari daerah tempat tinggalku dan hal itu membuat kami mudah menjalin pertemanan, salah satu temanku ialah Rafi. Hari demi hari berlalu dan kita semakin akrab, namun aku tetap merasa semua ini tidak sama seperti dulu dan aku sulit menghilangkan perasaan itu. Aku selalu mengangap bahwa pertemananku saat kelas 1 SMA adalah pertemanan yang terbaik dan akan sulit tergantikan, mengingat saat kelas 1 SMA dulu aku sangat jarang bergaul dengan kelas lain karena aku merasa sangat nyaman.

     Bahkan pada saat itu aku menganggap mereka sebelah mata karena melihat kebiasaan dan karakter mereka yang tidak cocok dengan diriku. Hingga ada satu momen yang menyadarkanku ketika kelas 2 SMA, aku diajak bermain oleh Rafi  dengan teman-temannya yang dari kelas lain dan sebelumnya aku belum mengenal mereka. Disitu aku banyak bertukar pikiran dengan mereka dan ternyata itu membuka pikiranku yang sebelumnya selalu ingin berada di zona nyaman. Aku tersadar bahwa untuk menghargai perbedaan tidak selalu tentang suku,ras,agama maupun kebudayaan. Menghargai perbedaan bisa dimulai dari hal kecil disekitar kita, seperti menghargai kebiasaan dan perilaku orang lain, menghargai pilihan orang lain, menghargai perbedaan karakter yang ada pada tiap manusia dan masih banyak lagi. Dari hal tersebut kita dapat membuka lebih luas pikiran kita mengenai keberagaman dan perbedaan yang ada karena terkadang kita hanya perlu fokus pada hal kecil untuk membuat sesuatu yang besar.

     Dari pengalaman itu membuatku berpikir bahwa hidup dalam perbedaan dapat membuka pikiranku terhadap betapa luasnya negeri ini yang dihiasi dengan keberagaman dan disempurnakan oleh perbedaan. Tak harus satu keyakinan, tak harus satu suku, tak harus berkulit putih atau hitam, tak harus berbahasa jawa, dan tak harus satu pemikiran, kita dapat selalu berteman dan Bersatu apapun keadaannya.

 

Nama: Abimanyu Abdee Prayitno

 

Sekolah/Kelas: SMAN 8 SURAKARTA

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Kumaafkan dan Kupahami Niat Baikmu, Guruku

Pelecehan verbal merupakan jenis pelecehan dengan melontarkan kata kata atau ucapan yang bersifat melecehkan, menghina, merendahkan atau mengancam.

Seperti pengalamanku, Zulfahri, siswa kelas X di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Kabupaten Klaten. Aku pernah mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari salah satu guru yang saat ini sudah purna tugas. Mirisnya guru tersebut adalah salah satu guru agama yang seharusnya mengajarkan adab berbicara dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai kesopanan.

“Koe sesok aja nganggo rok yo”. Dalam Bahasa Idonesia artinya suatu saat nanti kamu jangan memakai rok. Rok adalah salah satu pakaian yang dipakai oleh wanita.

Ucapan itu, membuatku terbelalak dan tidak percaya akan dilontarkan oleh seorang guru kepada muridnya. Awal kejadianya, Aku dan beberapa teman dipanggil wali kelas untuk penugasan. Dalam perjalanan dari kelas menuju ke ruang guru, tepatnya di depan ruang teori 1 Aku berpapsan dengan guru tersebut. Pada saat itu, pak guru sedang bercakap-cakap dengan beberapa siswa.

Tidak kuduga, pak guru menghampiriku. Memulai percakapan dengan menanyakan  alamat rumah.Ada yang aneh dari sikap pak guru terhadapku. Pak guru menelisik penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku merasa tidak nyaman, terlebih terlontar kata-kata yang menurutku tidak selayaknya diucapkan seorang guru terhadap anak didiknya.

Selama ini, aku mengenal guru adalah sosok yang penuh dengan keteladanan. Selalu menjaga ucapan dan perbuatan terlebih lagi di depan anak didiknya. Seketika itu, aku merasa malu dan sakit hati karena dilihat dan didengar oleh teman-teman. Perawakanku memang tidak seperti karakter yang melekat pada laki-laki umumnya, yang tinggi, berbadan besar, berahang keras, berwajah maskulin layaknya gambaran tokoh CEO dalam novel, cool, suara tegas. Aku memiliki postur badan yang tidak begitu tinggi,sedikit berisi. Aku memiliki karakter ceria, lebar senyumnya, dan ceriwis.

Meskipun terlihat feminim, tetapi aku menyadari bahwa aku adalah laki-laki. Aku memang sering berinteraksi dengan teman-teman Perempuan, tetapi bukan berati aku ingin menjadi Perempuan. Aku bisa mengerjakan tugas yang dilakukan seorang laki-laki. Aku juga memiliki keterkaitan dengan lawan jenis. Aku juga mempunya banyak teman laki-laki.

“Lanang i dolanane bola” . Anak laki-laki harus bermain bola katanya. Apakah harus seperti itu konsepnya? Sementara perempuan yang jago bermain bola juga banyak. Laki-laki yang sukses sebagai penari, make up artist, desainer juga banyak. Kalau hobi dikaitkan dengan gender lantas digunakan untuk merundung seseorang, bukankah itu malah melemahkan kreativitas?

Ada perasaan tidak terima di dalam hatiku akan satu pernyataan yang dilontarkan pak guru.Akan tetapi,  perkataan itu tidak dapat kutuliskan di sini sebagai bentuk perhormatan untuk guruku. Begitu sarkas dan tabu. Bahkan teman-teman yang pada waktu itu bersamaku merasa tidak percaya kalimat itu akan dilontarkan oleh seorang guru.

Aku tidak berani menceritakan kejadian ini kepada orang tuaku. Aku takut akan semakin panjang urusannya. Meskipun sebenarnya ada perasaan tidak terima dan sangat susah untuk dilupakan. Yang membuatku tidak habis pikir sampai saat ini, jika aku salah, mengapa tidak ditegur dengan cara yang lebih bijaksana.

Selang beberapa waktu, pada pembelajaran Projek Penguatan Pelajar Pancasila (P5) aku memberanikan diri untuk bercerita di depan wali kelas dan teman-teman satu kelas. Kebetulan tema P5 yang dipelajari adalah Bhineka Tunggal ika.

Pada waktu itu, wali kelas mengajak pembelajaran di mushola sekolah. Wali kelas menyampaikan permasalaha perundungan yang saat ini menjamur di lingkungan sekolah. Pada sesi berbagi pengalaman. Aku tergugah menceritakan semua pengalamanku. Aku meluapkan semua kesedihan dan kemarahan yang selama ini kupendam. Air mataku lolos begitu saja. Tanpa rasa malu aku menceritakan semua tidak ada satupun yang kukurangi.

Ada perasaan lega setelahnya. Wali kelasku memotivasiku untuk lebih Ikhlas dan memaafkan. Selama ini, saya berusaha untuk melupakan dan memaafkan tetapi entah mengapa begitu sulit rasanya.

Hingga, beberapa waktu lalu. Aku terdaftar sebagai salah satu peserta literasi keberagaman yang diselenggarakan oleh Solopos Institute di sekolahku. Luka yang kuperjuangkan mati-matian harus kuungkapkan lagi dalam sesi berbagi cerita. Aku semakin lega karena teman-teman dan guru-guruku mau mendengarkan ceritaku. Aku mantap untuk memaafkan karena manusia tempatnya salah dan khilaf. Mungkin ini yang terjadi pada guruku pada waktu itu.

Aku mencoba untuk berpikir positif. Apa yang disampaikan guruku pada waktu itu adalah peringatan untukku agar tidak tergerus akan zaman yang semakin edan. Pandai membawa diri sesuai dengan kodrat dari sang maha pencipta.

Tulisan ini bukan seakadar aksara yang mengungkap keburukan seseorang. Tulisan ini kupersembahkan untuk teman-teman yang memiliki pengalaman yang serupa. Memaafkan adalah hal terbaik yang harus kita lakukan untuk belajar menjadi dewasa. Menyimpan rasa benci dan dendam hanya akan mengotori pikiran.

 

Nama: Zulfahri Hutabarat

Sekolah: SMKN 3 Klaten

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Malam Kita Bertemu

Duarrr….

Gemuruh suara petasan dilangit-langit malam nampak begitu indah. Banyak mata tertuju pada cahaya yang bersinar itu. Namun, berbeda denganku. Diantara tengahnya keramaian karnaval malam itu Aku memilih fokus pada lingkungan sekitarku.

Aku merasa takjub, ternyata banyak sekali baju adat nan elok yang belum pernah Aku lihat disajikan dimalam karnaval tahun itu. Ada yang berpakaian adat Jawa, ada yang adat Aceh, ada yang adat Bali, adat Papua dan sebagainya. Mungkin bila ku sebut bisa penuh sudah tulisan disini.

Saat yang lain sedang sibuk memperhatikan petasan malam Aku berkeliling sembari melihat sekitar. Diantara banyaknya kostum yang Aku lihat tadi ada satu yang begitu tertanam dibenakku, saat melihatnya saja mataku bisa langsung berbinar-binar.

Entah apa yang kurasakan sangat tak bisa dijelaskan. Badanku seperti bergerak sendiri dan langsung menghampirinya. Yaa benar saja Aku mengajaknya berkenalan. Sorot matanya yang tajam, postur tubuhnya yang gagah, kostum yang dia kenakan, warna kulitnya yang eksotis begitu cocok dan serasi dipakainya. Hal itu membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.

Kebetulan sekali Aku sangat tertarik dengan baju adat Papua dan itulah kostum yang ia gunakan. Sontak Aku memperkenalkan diriku dan mengajaknya berbincang-bincang. Saat dia mulai memperkenalkan diri Aku merasa terkejut ternyata logatnya dalam berbahasa Indonesia sangat aneh dan kaku. Ada hal yang membuatku merasa lebih terkejut yang benar saja bukan hanya kostumnya yang Papua namun dia juga orang keturunan Papua. Ini sangat fantastis.

Dari sini Aku tambah merasa penasaran dengannya. Mendengarnya berbicara seperti sedang mengenal hal baru, karena memang bahasa yang Aku gunakan adalah basaha Jawa tentunya sangat berbeda dengan dia.

Obrolan kita tak hanya sebatas memperkenalkan identitas dasar diri, namun kita juga saling mengenalkan budaya masing-masing daerah. Sambil berjalan-jalan menikmati meriahnya malam karnaval dan aneka makanan tradisi yang dijual disana.

Disana aku mengajaknya mencicipi berbagai makanan khas Jawa. Dia bilang bahwa makanan di Jawa sangatlah lezat. Di Papua juga tak kalah enaknya namun rempah di Jawa sangatlah beranekan ragam. Itulah yang membuatnya berbeda.

“Heiii Nakk….”

Kami menengok ke belakang, ternyata dia sudah ditunggu kedua orang tuanya untuk pulang. Karna malam sudah semakin larut, langsung saja dia berpamitan denganku dan menghampiri orang tuanya. Aku hanya bisa melihatnya perlahan berjalan menjauh dariku. Aku sangat sedih, pertemuan ini berasa begitu cepat. Padahal banyak sekali yang belum aku beritahukan kepadanya tentang Jawa. Sialnya lagi kita berdua belum sempat berbagi nomor telepon.

Namun tak apa, malam itu akan tetap kukenang dan takkan pernah kulupakan. Aku berharap semoga suatu saat kita bisa dipertemukan diketidaksengajaan berikutnya.

 

Nama: Tri Via Ayu Lestari

Asal sekolah: SMA N Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Selera Jawa

     Pasar Tuban berdiri pada tahun 1974 di Kecamatan Gondangrejo. Pasar Tuban yang dulunya masih tanah lapang biasa dan belum ada bangunan-bangunan ruko seperti sekarang ini kini di kenal sebagai destinasi wisata kuliner. Banyak orang dari berbagai Kecamatan datang ke Pasar Tuban untuk menikmati jajanan yang ada di sana.

1. Bubur ayam khas Bandung Pak Slamet

Salah satu kuliner pagi yang selalu ramai adalah bubur ayam khas Bandung Pak Slamet, yang berlokasi di depan Puskesmas Gondangrejo. Pak Slamet sudah berjualan bubur khas Bandung sejak tahun 2015.

Bubur ayam khas Bandung Pak Slamet menggunakan siraman kuah sebagai pelengkapnya. Bumbu nya pun juga sederhana dengan lada bubuk, kecap asin dan kecap manis. Meskipun sederhana, rasa bubur ayam khas Bandung Pak Slameti sangat enak dan seimbang.

“Bubur ayam Pak Slamet ini memang selalu ramai saat pagi hari, selain enak juga harganya sangat murah. Rp10.000 sudah dapat 1 porsi bubur dan minum gratis,” menurut pengakuan dari salah satu pelanggan.

 

2. Soto Lamongan Ibu Retno

Soto Lamongan adalah makanan yang cocok untuk sarapan jika ingin sarapan dengan makanan yang berkuah banyak dan gurih. Soto khas Jawa Timur ini dikenal sebagai salah satu soto paling gurih lantaran memiliki ciri khas taburan koya udang yang tidak dimiliki oleh soto lainnya.

Selain itu, Soto Lamongan juga memiliki isi seperti suwiran daging ayam, daun bawang, telur dan bahan lainnya membuat Soto Lamongan ini sangat kaya akan rasa.

Masih banyak lagi kuliner-kuliner pagi lain yang bisa kita coba. Contohnya seperti pecel, nasi uduk, nasi kuning, lontong sayur, dan kupat tahu.

 

3. Warung jagonya sapi Ibu Darsini

Salah satu kuliner olahan daging yang terkenal di Pasar Tuban adalah Warung jagonya sapi Ibu Darsini.

Warung daging sapi ini menyembelih dan mengolah sendiri dagingnya, jadi sudah pasti terjamin kualitas daging yang dipakai. Tidak hanya olahan daging sapi saja tetapi juga banyak variasi menu daging kambing yaitu tengkleng, tongseng, nasi goreng daging kambing dan gulai.

Dari banyaknya menu, yang paling favorit adalah tongseng nya. Dengan harga Rp 32.000 sudah bisa menikmati sepiring tongseng lezat dan rempah-rempah yang rasanya tidak kalah dengan tongseng-tongseng mahal. Jika ingin menikmati olahan daging sapi cukup dengan Rp 38.000 saja sudah bisa mendapatkan iga bakar kuah sop. Tetapi proses pembuatannya agak lama karena pengolahan daging yang masih mentah. Warung jagonya sapi Ibu Darsini ini sudah buka dari tahun 2000 an jadi tidak usah diragukan lagi soal rasa dan harga yang ramah di kantong.

 

4. Bebek goreng Mas Trimo

Saat malam hari di area Pasar Tuban juga sangat ramai yang berjualan beraneka macam kuliner mulai dari pecel lele, aneka bakaran, martabak dan roti bakar. Satu kuliner malam yang paling ramai diminati di area pasar Tuban yaitu bebek goreng Mas Trimo.

Bebek goreng mas Mas Trimo menyajikan berbagai jenis hidangan, mulai dari ayam, ikan, tahu, tempe, hingga bebek, yang semuanya disajikan dengan sambal yang khas dan bumbu rempah yang meresap.

Tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang nikmat, tetapi juga karena suasana hangat dan ramah yang diciptakan oleh Mas Trimo dan karyawannya. Pelanggan setia sering kali kembali untuk menikmati hidangan lezat ini dan merasakan kehangatan sambutan dari sang pemilik.

Beragam pilihan menu yang disajikan dengan harga yang terjangkau, Warung bebek goreng Mas Trimo menjadi tempat favorit bagi warga desa Tuban dan pengunjung dari luar untuk menikmati sajian khas pedas yang memanjakan lidah.

 

Nama    : Isma Nur Cahyani

Sekolah : SMAN Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Gunakan Bahasa Indonesia Ketika Bertemu dengan Orang yang Berbeda Asalnya

CERITA PENGALAMAN KU

     Hai, sebelumnya perkenalkan namaku Firiadhil ‘Arofah atau biasa dipanggil sebagai Ria. Aku akan menceritakan pengalamanku menjadi anak pindahan dari kota.

     Aku adalah anak pindahan sekolah dari Bekasi. Orang tua ku memang asli keturunan Jawa, tetapi aku lahir dan dibesarkan di Jawa Barat yang notabene nya mempunyai suku yang berbeda yang otomatis pergaulan dan bahasanya juga sangat berbeda jauh. Saat kelulusan SMP, orang tua ku menyuruh untuk sekolah di kampung halaman, aku setuju dan sudah ku pertimbangkan karena beberapa alasan. Sehari sebelum pendaftaran sekolah dibuka, aku mengemasi barang-barangku dan bergegas ke kampung halaman hari itu juga. Usai pendaftaran, hasil pengumuman pun keluar dan Alhamdulillah aku termasuk kedalam peserta didik baru sekolah tersebut. Aku sangat senang karena kupikir ini adalah jalan tepat yang Tuhan berikan.

     MPLS telah usai ku jalani dan aku juga masih belum mendapat teman. Hari pertama pembelajaran sekolah pun tiba, saat sebelum bel masuk pembelajaran, aku memberanikan diri untuk membuka pembicaraan ke salah satu murid yang sedang duduk sendiri, “halo, aku boleh duduk di samping kamu nggak?”

     “Halo juga..boleh kok duduk aja” jawabnya.

     Perasaan hatiku sangat senang dan bersyukur diperbolehkan untuk duduk di sampingnya. Karena, aku lihat di sekitar banyak murid-murid lain yang sudah mempunyai teman sebangku. Makannya aku sedikit takut kalau aku tidak mempunyai teman.

     Aku menaruh tas ku dan duduk kemudian aku mencoba membuka suara lagi “Oh iya, namaku Ria. Nama kamu siapa?” Tanyaku.

     “Hai Ria, aku Reva. Salam kenal ya!” Jawabnya sambil mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan dan aku pun membalasnya dengan sangat senang hati.

     Kami sedikit-sedikit mengobrol dan menanyakan asal sekolah satu sama lain. Disitu aku menjawab kalau aku murid pindahan dari Bekasi, Reva mengangguk paham, dia menggunakan bahasa Indonesia ketika mengobrol denganku. Reva, dia sekarang adalah teman sebangku ku sekaligus teman pertamaku. Aku bersyukur karena sudah mempunyai satu teman yang awalnya kupikir aku tidak akan mempunyai teman. Pada saat hari ketiga pembelajaran aku mendapat teman baru lagi! Zahra dan Ninda namanya. Mereka berdua teman sebangku dan posisi duduknya berada di depanku. Ketika kami berkomunikasi, aku lebih dulu menjelaskan kepada mereka kalau aku murid pindahan dari Bekasi. Mendengar penjelasanku itu, mereka langsung 

 

mengerti, lalu mereka menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan ku. Aku pikir ini juga memudahkan kita supaya bisa paham apa yang dibicarakan satu sama lain. Rasanya tidak cocok ketika mengobrol aku pakai bahasa Indonesia dan mereka pakai bahasa jawa.

Hari-hari seterusnya saat sekolah aku jalani seperti pada umumnya. Pada saat hari pelajaran Bahasa Jawa, aku benar-benar tidak mengerti karena gurunya menjelaskan menggunakan Bahasa Jawa krama. Aku bertanya pada Zahra yang berada di depan ku, karena hari itu Reva tidak masuk, “Zahra, aku nggak paham maksud dari Pak guru itu. Kita disuruh ngapain?”

Zahra terkekeh pelan, “Katanya kita disuruh bikin percakapan sehari-hari tapi pakai bahasa jawa ngoko dan krama”

“Ohh begitu..”

 

“Iya, Ria. Kamu bikin percakapan sehari-hari pakai bahasa Indonesia aja dulu. Nanti aku bantu terjemahin ke Bahasa Jawa”

 

“Okee, makasih banyak ya!”

    Begitu kata Zahra. Saat pertama mendengar disuruh untuk membuat percakapan pakai Bahasa Jawa, dalam hatiku benar-benar terkejut. Bagaimana bisa aku mengerjakannya? Tapi untungnya Zahra baik sekali mau membantuku untuk menerjemahkannya. Karena katanya kalau lewat website translate terkadang tidak akurat.

     Banyak sekali kendala untuk aku memahami perkataan orang-orang disekitar ku dan aku bertanya dengan teman-teman ku tentang apa maksud dari perkataannya. Aku banyak belajar dari teman-temanku tentang peraturan yang masih kental di sini juga tentang bahasa. Ketika ada kosakata Bahasa Jawa yang tidak aku mengerti, aku langsung menanyakan pada teman-temanku. Mereka memberitahunya dengan sangat senang hati. Aku sangat senang mempunyai temanteman seperti mereka.

     Di jadwal yang sama, yaitu pelajaran Bahasa Jawa, Pak guru memberikan tugas berkelompok. Aku tidak satu kelompok dengan teman dekatku. Sedikit canggung dan merasa takut, aku tetap memberanikan diri untuk membuka suara,

    “Ayo kita kerjain tugasnya. Ini kita bagi ya. Ada yang nulis, cari informasi di internet dan ada yang bikin powerpoint” jelasku.

    Aku satu kelompok dengan orang-orang yang memang bahasa Jawanya kental yang digunakan sehari-harinya dan jarang menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan mereka kaku untuk menggunakan bahasa Indonesia. Mereka saling berbisik sambil tertawa kecil seolah mengejek melirik ke arah ku. Ternyata, mereka tidak paham dengan perkataan ku barusan karena aku menggunakan bahasa Indonesia. Ya, itu nyata benar adanya mereka seperti itu.

    Salah satu siswi yang juga satu kelompok dengan ku membuka suara seolah menerjemahkan dalam bahasa Jawa supaya mereka paham. Setelah mereka paham, kami mengerjakan tugasnya dan aku tetap menggunakan bahasa Indonesia untuk menyampaikan pendapat.

    Menurutku, mereka seperti itu tidak hanya satu kali, tetapi saat aku berbicara menggunakan bahasa Indonesia mereka langsung berbisik seolah mengejek dan aku paham apa yang mereka bicarakan. Awalnya aku menghiraukan nya. Tetapi lama kelamaan mereka membuatku tidak nyaman mengapa mereka harus seperti itu. Terkesan lebay, tapi memang itu yang aku rasakan.

    Dalam hatiku, memangnya di sini bukan negara Indonesia? Bahasa Indonesia itu bahasa nasional sebagai alat pemersatu bangsa untuk memudahkan kita berbicara dengan orang yang berbedabeda asalnya.

   Walaupun begitu aku mewajarkannya karena memang seharusnya aku yang berusaha banyak beradaptasi dengan lingkungan sekitarku.

    Seiring berjalannya waktu, aku sudah mulai bisa menyesuaikan dengan lingkungan sekitar dan lingkungan teman-teman ku. Banyak sekali culture shock perbedaan dengan lingkungan ku yang dulu, seperti tradisi jawa yang unik, tingkatan serta aturan bahasa jawa seperti ngoko dan krama, orang yang menunjukkan jalan menggunakan arah mata angin, aturan-aturan yang masih sangat kental dan masih banyak lagi yang membuat aku terkejut.

    Perbedaan bahasa bukanlah hal yang asing. Jangan membeda-bedakan bahasa yang satu dengan yang lainnya. Kita bisa menggunakan Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. begitulah pengalamanku pindah sekolah. Terima kasih sudah membaca~ Salam

 

Nama: Firiadhil ‘Arofah

Sekolah: SMAN Gondangrejo

 

 

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Perbedaan Ras Tidak Menjadi Pembatas

“tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”- Gus Dur

     Toleransi atau tasamuh adalah suatu perilaku atau sikap manusia yang “tidak menyimpang dari hukum berlaku” di suatu negara, di mana seseorang menghormati atau menghargai setiap tindakan yang dilakukan oleh orang lain selama masih dalam batasan tertentu. Toleransi atau toleran secara bahasa kata ini berasal dari bahasa latin tolerare yang berarti “menanggung”, “menerima dengan sabar”, atau “membiarkan”. Sikap toleransi dapat menghindari terjadinya diskriminasi seperti rasisme walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat. Toleransi terjadi karena adanya keinginan-keinginan untuk sedapat mungkin menghindarkan diri dari perselisihan yang saling merugikan kedua belah pihak. ( https://g.co/kgs/aU4Mq8p )

     Berbicara soal toleransi, tentu hal tersebut banyak kita temui di kehidupan sehari-hari. Baik toleransi dalam agama, toleransi pendapat, toleransi aliran agama, toleransi antar ras, toleransi antar budaya, dan masih banyak lagi. Mengenai toleransi antar ras, saya pernah menjumpai fenomena tersebut. Saat saya sedang duduk di bangku SMP, saya mempunyai teman sekelas yang memiliki ras berbeda dengan rata-rata teman sekelasnya, sebut saja namanya Adi. Adi memiliki ras yang berbeda dengan rata-rata teman sekelasnya. Dia memiliki kulit yang hitam, tubuh besar, dan mata sipit. Namun, dia anak yang percaya diri dan menerima perbedaan tersebut. Dia juga anak yang pintar, di beberapa pelajaran dia mendapat nilai yang unggul dari teman sekelasnya.

     Adi seorang anak yang pandai bergaul, dia tidak membeda-bedakan dalam berteman. Terkadang dia mendapat teman yang iseng memperlakukannya, suatu hari temannya pernah memanggilnya “ireng” yang artinya “hitam” dalam bahasa Jawa. Adi mendengar panggilan tersebut bersikap biasa saja dan bahkan ikut menertawakannya, dia merasa julukan tersebut bukanlah hal yang masalah baginya karena yang temannya katakan memang benar dan ia menyadari hal itu. Temanya mengatakan seperti itu bukan mereka tidak suka ataupun membenci, mereka masih menjadi teman baik dan tidak ada masalah di antara mereka. Keduanya masih berkabar dan saling membantu.

     Dari fenomena tersebut kita menyadari bahwa dengan adanya perbedaan tidak membuat seseorang menjadi dikucilkan, perbedaan justru menciptakan ciri khas setiap manusia. Toleransi mengajarkan kita bagaimana cara menerima perbedaan serta meminimalisir terjadinya konflik perpecahan sosial. Kita harus menerima perbedaan, dengan itu kita akan lebih mencintai diri sendiri dan belajar menghargai perbedaan yang ada.

 

Nama : Rani Nahari Az Zahro

Sekolah : SMAN GONDANGREJO

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Apapun keberagamanku, aku tetap orang Indonesia.

     Aku memiliki pengalaman tentang perbedaan yang kumiliki dan juga agak aneh, sebut saja aku ASH. aku sebenarnya adalah orang Jawa, warga Indonesia. tapi penampilanku tidak terlihat seperti orang Jawa lain pada umumnya. Karena kulitku putih dan mataku sipit, aku seringkali dianggap sebagai orang cina atau dari negara lain. Berawal dari waktu kecil aku masih SD menginjak kelas 2, aku sering bertanya-tanya “sebenarnya aku keturunan apa?”, banyak sekali orang yang pertama kali melihatku pasti mengira aku adalah orang cina, bahkan banyak sekali yang bertanya padaku “kau ini orang Jawa atau cina? Kau tinggal dicina ya? Apa kau orang luar negeri?”, disaat itu aku mulai ragu sebenarnya aku ini apa dan siapa? orang Jawa? Orang cina? Atau Orang luar negeri?, bahkan aku mulai ragu dengan identitasku dan percaya kalau aku ini bukan berasal dari Indonesia, karena banyak yang mengatakan aku bukan berasal dari Indonesia.

     Dan juga banyak sekali yang menganggap aku ini orang kristen atau katolik, padahal agamaku Islam. Semasa masih SD aku memang tidak menggunakan hijab, jadi banyak yang menganggap aku ini bukan Islam, bila aku mengatakan aku sebenarnya orang Islam, pasti mereka menganggap aku ini mualaf. Dulu pernah ada tetangga baru pindahan, dia orang kristen dan rajin beribadah digereja, pernah aku itu bermain-main didepan rumahnya buat ambil bunga, lalu tetangga itu keluar mau ke gereja, terus melihatku dari atas sampai bawah dan malah diajak “nduk, ayo ke gereja bareng, sini sini” tentu saja aku menolak dan mengatakan agamaku Islam, tapi tetangga itu malah menganggap aku ini mualaf.

     Dulu aku pernah bertanya pada ayahku “ayah, aku ini keturunan apa? Orang cina atau bukan? Atau Jawa?” Ayahku hanya menertawakanku “ada orang yang bertanya begitu padamu?” dan tetap tertawa, tidak memberi jawaban apapun padaku, jadi aku ngambek dengan ayahku dan tidak mau tanya lagi. Lalu aku mencoba bertanya pada saudaraku “aku ini orang Jawa atau cina?” Dan hasilnya tetap sama, aku ditertawakan.

     Mereka bilang “kok bisa orang lain nganggep kamu cina” dan akhirnya aku tidak mendapatkan jawaban apapun dan aku ngambek sama saudaraku. Aku tidak menyerah dari situ, aku mulai tanya sama ibuku “Bu, aku ini asli Jawa apa cina?” Ibuku cuma jawab “siapa yang tanya gitu? Kamu ya kamu to”, lah? Terus aku ini apa?. Dan aku tidak mendapatkan jawaban apapun lagi, Akhirnya aku juga ngambek sama ibuku. Seiring berjalannya waktu, aku tetap percaya bahwa aku ini orang luar bukan orang Indonesia, bila ada orang bertanya “kau asal mana? Orang Jawa atau cina?” Aku selalu tidak berani mengatakan dengan lantang bahwa aku orang Jawa, orang Indonesia. Jadi biasanya aku menjawab “mungkin orang luar” aku menjawab seperti itu karena aku juga belum yakin, aku ini berasal dari mana?. Apalagi aku masih anak labil yang belum punya pendirian.

     Dulu pernah ada teman pindahan dari Sulawesi, banyak juga yang bertanya asalnya darimana, tapi ya sudah, mereka hanya bertanya satu kali setelah itu tidak bertanya lagi, sedangkan aku pasti selalu ditanya berkali-kali, seolah-olah aku adalah makhluk asing yang tiba-tiba menghuni planet bumi mereka yang perlu dipertanyakan asal muasalnya, aku merasakan ketidakadilan disini, temanku ASM pernah nyelotek “eh..tuh, anak pindahan, asalnya dari Sulawesi, kalo kamu asalnya darimana sih?” Aku pun bingung untuk menjawabnya, jadi kujawab “gak tau juga” temanku nyahut “lah?” Akhirnya kami sama-sama tidak tahu darimana asalku.

     Lalu ada temanku HJ penasaran sekali dengan asalku, tapi aku tidak menjawab dengan pasti aku asal mana. Karena aku terus menerus tidak memberitahu asalku dengan jelas, temanku kayak sebal “asalmu aslinya darimana to? Memangnya kamu asal dari alien gitu?” Waktu mendengar itu, aku jadi punya pemikiran aneh “apa benar aku asalnya dari alien ya?” Aku memikirkannya dengan serius, karena keluargaku juga tidak memberi jawaban aku asal mana, jadi waktu kecil aku dengan bangga dan pasti, berpikir “aku berasal dari alien” dulu aku anaknya polos pakai banget, tidak tahu apa itu alien.

     Dulu aku mengira alien itu suatu suku atau negara. Lalu waktu aku pergi ke pasar dengan ibuku, ada tetangga yang bertanya “Kowe wong Endi nduk? Kok koyo wong Cino” dan aku menjawab dengan penuh keyakinan “aku dari alien budhe” dengan penuh senyuman kebanggaan, tiba-tiba kepalaku dipukul oleh ibuku “pangapura Bu, anak Kula ngomong ngelantur” dan aku dibawa pergi, lalu ibuku bicara padaku “Jangan ngomong ngelantur itu lagi, nanti dianggap gak jelas sama orang” aku sedikit bingung disitu dan bertanya “tidak boleh bicara begitu? Berarti benar aku asalnya dari alien Bu?” Sambil memasang wajah tidak percaya. Tapi yang kudapatkan malah pukulan yang disebut hidayah oleh ibuku, semenjak itu aku tidak mengakui lagi kalau aku ini asalnya alien.

     Seiring berjalannya waktu, aku mulai menginjak kelas 7 SMP, disitu aku ingin memulai diriku yang baru, aku sudah mulai memakai hijab karena sudah muak dianggap orang kristen atau katolik, dan sering diajak ke gereja bersama. Kupikir aku sudah terlihat seperti anak muslimah yang tidak perlu dipertanyakan lagi agamanya, tapi ekspektasiku dihancurkan waktu kelas pelajaran agama, ada yang bertanya “kamu mualaf to, nduk?” Dan yang bertanya adalah guru agama islamku sendiri, bahkan guru islamku juga mempertanyakan agamaku. Aku pun hanya menjawab “tidak pak, saya tidak mualaf” guruku nyahut “owalah..kirain kamu aslinya kristen, soalnya keliatan kayak orang kristen, apalagi kayak orang cina” aku menjawab “haha..bukan pak” lalu tiba-tiba teman sebangku ku bertanya “loh, kamu beneran bukan mualaf to? Kirain mualaf” disitu aku merasa tidak adil, karena teman sebangku ku ini sebenarnya seorang mualaf, awalnya agama dia katolik, tapi kenapa aku yang dipertanyakan agamanya, bukan teman sebangkuku? Apakah aku terlihat se kristen itu?, aku merasa frustasi.

     Tapi aku baru menyadari, di SMPku, aku melihat hal-hal baru. Aku tahu bahwa ada orang disabilitas, tapi untuk pertama kalinya aku melihat secara langsung di sekolahku, dan juga ada beberapa murid yang berasal diluar kota dan diluar pulau. Ada yang cara logat bicaranya berbeda, ada yang dari bentuk wajahnya juga terlihat seperti bukan dari Indonesia, dan sifatnya juga lebih beragam dibandingkan disaat aku masih SD, yang dimana aku hanya bertemu dengan orang itu-itu saja. Aku pernah iseng bertanya pada salah satu temanku berinisial FDS yang terlihat seperti orang arab, aku bertanya “oy, kau sebenarnya orang mana?” Temanku menjawab “orang Indonesia lah”, oh…disitu aku sedikit terkejut, kupikir dia akan menjawab kalau dia orang luar negeri atau apalah, tapi menjawab dengan lantang bahwa dia Orang Indonesia.

     Lalu aku lanjut bertanya ke yang lain, dia keturunan cina berinisial YS, mirip-mirip lah denganku, aku bertanya “kau dari cinakah?” YS menjawab “memang benar aku keturunan cina, tapi aku orang Indonesia”, aku bertanya lagi “tapi kamu keturunan cina kan? Kok bisa kamu nganggep dirimu orang Indonesia?” YS menjawab “ya kan setiap orang itu berbeda-beda, gak semua orang itu sama, apa kita harus mirip satu sama lain dulu untuk termasuk dalam suatu kelompok? Pastinya tiap orang ada bedanya, entah semirip apapun pasti ada perbedaannya, gak semua sama” setelah pembicaraan itu aku mulai memikirkan lagi dan melihat orang-orang sekitarku, memang benar, semuanya berbeda dan unik-unik. Justru, malah terlihat seru kalau berbeda seperti ini, dan aku pun mulai memahami bahwa memang Indonesia ini banyak keberagamannya. banyak pulau, tradisi yang berbeda, ras yang beraneka ragam, sifat bermacam-macam dan masih banyak lagi. Dan aku pun mulai yakin bahwa aku adalah Orang Indonesia, bila ada orang yang bertanya “apa kau cina? Apa kau orang luar negeri?” Aku akhirnya bisa menjawab dengan yakin “Aku adalah orang Indonesia”.

 

Nama: Aulia Sofia Hanjawi

Sekolah SMAN 8 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Indonesia Negara yang Beragam

     Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman budaya, agama, dan suku bangsa. Keberagaman ini menjadi salah satu pilar utama kebangsaan yang mengagumkan, memperkaya identitas bangsa, dan memperkuat fondasi persatuan dalam keragaman. Keberagaman yang ada telah menjadi simbol persatuan dan dikemas dalam bentuk Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, kita harus menjaganya agar tetap utuh dan harmonis. Masyarakat kita kaya akan nilai nilai ragam yang mengakibatkan masyarakat di Indonesia sering disebut sebagai masyarakat plural, heterogen atau multikultural. Artinya, terdapat nilai yang menunjukkan perbedaan yang bermacam-macam, sehingga tidak dapat disamaratakan.

     Tetapi kalian tau tidak apa arti keberagaman itu sendiri? Istilah keberagaman ini berasal dari kata dasar “ragam”, yang mana dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), memiliki arti macam, jenis, warna, corak, dan tingkah laku. Maksudnya adalah ragam ini berarti sesuatu yang memiliki jenis, warna, atau corak yang berbeda-beda dan hidup bersama disuatu kehidupan nyata. Jadi, yang dimaksud keberagaman adalah suatu kondisi pada kehidupan masyarakat yang di dalamnya terdapat perbedaan disegala aspek. Tentu saja keberagaman memiliki dampak positif berupa menjadikan Indonesia sebagai negara yang dikenal dengan nilai pluralistik, Indonesia memiliki suku dengan jumlah kurang lebih 1.340, dengan bahasa daerah sekitar 718, dan kepercayaan serta agama yang beragam. Artinya, Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman dari segala hal seperti suku, budaya, bahasa dan lain lain. Indonesia juga mengakui dan melindungi keberagaman itu sendiri sebagai aset negara indonesia. Seharusnya kita merasa bangga atas kayanya keragaman yang dimiliki negara tercinta kita Indonesia.

     Tetapi, keberagaman tidak selalu berupa warna-warni keindahan, masih banyak di luar sana orang orang yang tidak teredukasi akan pentingnya toleransi yang menyebabkan warna-warni keberagamaan terpecah belah dan memudar. Dalam artikel ini saya akan menceritakan tentang pentingnya toleransi dalam keberagaman yang membuat dunia dipenuhi dengan warna-warni harmoni keberagamaan.

     Pasti kalian tidak asing atau pernah dengar kasus introleransi di indonesia atau bahkan di sekitarmu. Seperti yang paling terkenal yaitu pada tanggal 7 Februari 2018 di Desa Babat, Kecamatan Legok, Tangerang, biksu dan umatnya yang dilarang melakukan ibadah kebaktian umat Budha dengan melakukan tebar ikan di lokasi danau bekas galian pasir di Kampung Kebon Baru. Warga gelisah melihat warga warga lain yang datang memberi makan para biksu menganggap bahwa biksu tersebut akan mengajak orang lain untuk masuk agama Budha. Pada tanggal 28 Agustus 2016 pastor Gereja Katolik St Yosep Medan nyaris jadi korban bom bunuh diri saat pimpin misa. Saat memimpin misa, ia diserang oleh anak berumur 18 Pelaku berinisial IAH itu ikut duduk di dalam dan berpura-pura menjadi jemaat. IAH langsung mendekati Albert dengan membawa sebilah pisau dan bom rakitan di dalam tas.

     Tetapi, belum tiba di depan altar, muncul percikan api dari tas ranselnya. Tas itu kemudian ikut terbakar. Melihat gelagat remaja yang mencurigakan, Albert berlari dan menghindar. Tetapi, IAH tetap mengejar Pastor Albert sehingga membuat jemaat heboh dan berhamburan berlari ke luar gereja. Sebagian mencoba menyelamatkan Albert dengan menangkap IAH. Usai tertangkap, ia kemudian memisahkan tas dari pelaku. Beruntung, bom belum sempat meledak. Berita berikut merupakan sekian dari banyaknya kasus intoleransi di Indonesia.

     Saat saya masih kecil saya pernah menyaksikan aksi intoleransi yang ada di sekitar daerah saya tinggal. Saat itu hari berjalan seperti biasanya anak anak seumuran saya bermain main ada yang main perosotan, ada juga yang bermain kelereng, dan ada yang hanya duduk bersama teman temanya mengobrol sambil tertawa tergirang girang. Tapi ada satu anak yang tidak memiliki teman karena ia berbeda agama sendiri, bahkan saat bermain sendiri anak anak lain tetap mengganggu dan mengejek anak tersebut. Jujur, saya sangat menyesal dan tidak bangga karena tidak melakukan perbuatan yang benar waktu itu dengan membela dan mengajak main anak itu, tetapi saya hanya bisa terdiam karena saya juga takut akan bernasib sama dengan anak itu, saya takut jika sama juga akan di bully. Jika saya dapat memutar balik kan waktu saya harap bisa mengajak bermain anak itu dan membuat masa kecilnya lebih baik.

     Point yang ingin saya sampaikan adalah intoleransi itu dimulai dari hal hal kecil, lalu bisa berevolusi menjadi hal yang lebih besar dan lebih berbahaya lagi. Lalu bagaimana mencegah terjadi intoleransi agar tercipta keberagamaan yang damai dan harmonis? Yang pertama menanamkan bibit toleransi sejak dini dengan ditanamkannya bibit toleransi sejak dini anak akan mengetahui pentingnya toleransi. Yang kedua dilaksanakannya sosialisasi pencegahan intoleransi yang bertujuan mampu menjaga keharmonisan antar sesama, meminimalisir terjadinya perpecahan, mempersatukan perbedaan yang ada, meningkatkan perdamaian, meningkatkan rasa persaudaraan, meningkatkan rasa nasionalisme, dan mempermudah mencapai mufakat dalam bermusyawarah. Yang ketiga menghindari sikap diskriminasi SARA dan menumbuhkan sikap toleransi, saling menghargai dan menghormati.

     Keberagamaan merupakan hal yang tidak bisa kita hindari, keragaman ada karena tercipta dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, penting untuk mencintai dan menjaga kerharmonisan keragaman itu sendiri dengan cara saling menghargai. Dengan sikap ini, maka perbedaan dalam keberagaman akan menghilangkan akar perpecahan yang dapat terjadi. Sama halnya dengan cat di atas lukisan jika di dalam suatu lukisan hanya terdapat satu warna tidak akan adanya keselarasan dilukisan tersebut, jika dalam suatu masyarakat hanya mementingkan kepentingan suku, agama, ras, budaya dan kelompok sendiri tidak akah pernah terjadi kerharmonisan di lingkungan tersebut. Saya harap artikel saya bisa membantu kalian untuk terus berbuat kebaikan di sekitar kalian agar terciptanya lingkungan yang aman dan harmonis.

Nama: Jesica Mayla Damayanti

Sekolah: SMAN 1 Mojolaban

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Keberagaman

Di antara warna-warni,                                                      

Di antara suara-suara,                                   

Keberagaman menyatu dalam irama kehidupan.      

 

Tak peduli siapa dirimu                                             

Dan dari mana tempatmu                                      

Toleransi adalah bahasa cinta                                          

Kita semua bersaudara dalam cinta    

 

Bentuk, bahasa, keyakinan,                                      

Semua menjadi satu dalam keindahan perbedaan             

Tiap langkah, tiap pandangan,tiap deru nafas  

Menggambarkan kekayaan yang tak terbatas

 

Dalam pelukan cahaya mentari,                                       

Di antara gemerlap bintang,                                         

Kita temukan harmoni dalam keberagaman

Mari kita jaga keberagaman                                 

 

Sebagai harta yang tak ternilai                               

Bersama kita bina perdamaian                                  

Dalam kebersamaan yang damai

 

Perbedaan tak akan memisahkan                                  

Tali persaudaraan yang kita jalin                              

Dengan sejuta cinta yang tak terhingga,                          

Kita merangkul semua keberagaman

 

Di dalam keberagaman, kita bersatu                        

Menjaga harmoni dalam hati yang tulus                      

Meski berbeda keyakinan dan agama                          

Namun kita tetap satu dalam cinta

 

Dalam perbedaan kita temukan kekuatan                

Menyulam persahabatan yang abadi                             

Tak ada ruang untuk prasangka dan kebencian                    

Yang tersisa hanya ruang untuk saling menghargai

 

Corak- corak kehidupan yang berbeda,                      

Membuat lukisan kebersamaan semakin indah.              

Bagaikan pelangi yang terbentang di langit.                 

Menyajikan dunia dengan keindahan yang tiada tara

 

Meski hanya sekejap dan sekilas kita melihat.                        

Memori yang tertanam dalam perasaan paling dalam.               

Membuat hal yang kecil itu menjadi abadi                           

Hingga saat kita merasakannya, membuat damai di dalam hati

 

Toleransi adalah kuncinya                                

Menghormati setiap perbedaan dengan tulus            

Membuka pintu hati untuk saling memahami                   

Dan menjaga perasaan demi perdamaian

 

Dalam doa dan ibadah yang berbeda                             

Kita tetap bersatu dalam cinta kepada Tuhan         

Menyuarakan pesan kasih dan perdamaian                 

Sebagai bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta

 

Bersama-sama, kita melangkah maju                   

Membangun dunia yang penuh dengan keunikan  

Memancarkan sinar kasih kepada sesama                  

Sebagai bentuk dari keberagaman yang indah

 

Toleransi  menjadi landasan                                      

Untuk menjaga kedamaian dan kebahagiaan bersama           

Di dalam keberagaman, kita saling melengkapi             

Menjadi satu dalam cinta dan kasih kepada sesama.

 

Mari kita renungkan pesan dari hati yang tulus               

Agar keberagaman kita jadikan sebagai anugerah          

Untuk mempererat persatuan dan persaudaraan              

Dalam kasih yang abadi, kita bersatu dalam cinta

 

Jadikanlah keberagaman sebagai kekuatan                    

Untuk mempererat persatuan dan persaudaraan    

Bersama-sama, kita jaga keberagamaan                     

Dalam keragaman, kita temukan kebersamaan

 

Nama : Leni Lestari

Sekolah : SMA Negeri Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Cara Menghilangkan Jamur Pada Baju

Menghilangkan jamur pada baju bisa menjadi tugas yang menantang, tetapi berikut adalah beberapa langkah yang bisa Anda coba:

1. Cuci dengan Air Panas

Cucilah pakaian yang terkena jamur menggunakan air panas. Suhu tinggi dapat membantu membunuh jamur dan spora yang menempel pada kain.

2. Gunakan Deterjen yang Menguat

Gunakan deterjen yang kuat untuk membantu membersihkan jamur dari pakaian. Pilihlah deterjen yang mengandung bahan antimikroba atau pemutih untuk hasil terbaik.

3. Tambahkan Pemutih atau Cuka

Tambahkan pemutih pakaian atau cuka putih ke dalam air pencucian sebagai agen tambahan untuk membunuh jamur. Pilihlah produk yang aman untuk jenis kain Anda dan ikuti petunjuk penggunaan dengan benar.

4. Gunakan Sikat Gigi

Jika jamur masih tertinggal setelah mencuci, gunakan sikat gigi bekas yang dibasahi dengan deterjen untuk menggosok bagian yang terkena jamur. Sikat gigi dapat membantu membersihkan jamur dari serat kain tanpa merusaknya.

5. Jemur di Bawah Matahari

Setelah dicuci, jemurlah pakaian di bawah sinar matahari langsung. Paparan sinar matahari secara alami memiliki efek antimikroba dan dapat membantu membunuh jamur yang tersisa pada pakaian.

6. Gunakan Produk Pembersih Khusus

Jika jamur sulit dihilangkan, pertimbangkan untuk menggunakan produk pembersih khusus yang dirancang untuk menghilangkan jamur pada pakaian. Ikuti petunjuk penggunaan dengan cermat dan pastikan produk tersebut aman untuk jenis kain Anda.

7. Cuci Ulang dengan Air Panas

Setelah proses pembersihan, cuci pakaian sekali lagi dengan air panas untuk memastikan bahwa semua jamur telah dihilangkan dengan sempurna.

8. Simpan dengan Baik

Simpanlah pakaian yang telah dibersihkan dari jamur di tempat yang kering dan terhindar dari kelembaban untuk mencegah pertumbuhan jamur kembali.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat menghilangkan jamur dari pakaian Anda dan menjaga mereka tetap bersih dan aman untuk digunakan. Pastikan untuk selalu membaca label perawatan pada pakaian Anda dan mengikuti petunjuk pembersihan dengan cermat. Rekomendasi tempat sablon kaos murah dan berkualitas hanya ada di sablon kaos surabaya.

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Indahnya Kebersamaan dalam sebuah Perbedaan

     Indonesia adalah sebuah negara yang ada di dunia yang kaya akan keberagaman suku, adat, budaya, dan agama. Namun demikian, masyarakat Indonesia terkenal dengan kerukunan dan kebersamaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut, merupakan cerminan dari semboyan bangsa kita ini yaitu Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda namun tetap satu jua.

     Diakhir malam yang syahdu suara azan subuh membangunkanku dari tidur yang lelap. Aku segera beranjak dari tempat tidur untuk melaksanakan salah satu kewajiban sebagai seorang muslim yaitu melaksanakan shalat subuh. Setelah itu aku bergegas mempersiapkan diri, untuk melakukan aktivitas study tour yaitu mengunjungi salah satu pulau di Indonesia yang terkenal akan keberagaman budayanya dan sering disebut sebagai Pulau Dewata.

     Tanah Lot merupakan salah satu pura (Tempat ibadah umat Hindhu) yang sangat disucikan di Bali Indonesia. Di pura yang berada di Tanah Lot ini aku melihat banyak sekali orang yang beribadah dengan mengenakan pakaian berwarna putih serta membawa sesaji di tangannya. Di destinasi wisata yang indah itu pula aku merasakan banyak sekali perbedaaan antara budaya yang berada dipulauku dan pulau Dewata yang aku kunjungi. Namun entah mengapa perbedaan tersebut terlihat indah dimataku, dimana ia terwarnai oleh kerukunan, kebersamaan dan sikap toleransi antar sesama.

     “Betapa indahnya pulau ini ia begitu banyak memiliki budaya yang membuat kita merasakan rasa kagum ketika melihatnya” Ucapku 

     “ kamu betul sekali Zah budaya yang berada di pulau ini memang sangat beragam dan indah” Ucap Aura

     Setelah itu Aku bersama teman-temanku banyak sekali mengambil foto untuk mengabadikan kenangan yang begitu indah dan memberikan rasa yang sama ketika kita melihatnya. Tak lama kemudian guru kami memanggil, untuk melihat dan memasuki Gua Ular Suci dimana di dalamnya terdapat ular yang berwarna belang hitam putih. Menurut kepercayaan masyarakat Bali, ular suci yang ada di Bali ini bukanlah hewan biasa. Ular tersebut adalah jelmaan dari selendang milik Dang Hyang Nirartha.

     “ Ayo sentuh ularnya dan panjatkan doa atau keinginan kalian” Ucap Tetua Adat Sebagai bentuk rasa hormat, kami bergantian menyentuh ular tersebut. Banyak hal yang ku kagumi ketika berada di dalam Gua Ular Suci salah satunya yaitu Tetua adat yang memiliki sikap ramah serta toleransinya yang tinggi dan dibuktikan dengan pemberian informasi tentang ular yang berada dalam gua tersebut dan mengizinkan kami untuk menyentuhnya walaupun kepercayaan kami berbeda dengan kepercayaan yang dimilikinya.

     Dari hal tersebut aku menyimpulkan bahwa keanekargaman budaya yang berada di Negara kita ini bisa menjadi sebuah potensi dan tantangan tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Aku berharap keanekaragam yang berada di Negri kami ini bisa terus menjadi potensi karena hal tersebut akan membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan memiliki kekayaan melimpah, baik kekayaan alam maupun budaya yang dapat menarik minat wisatawan asing agar berkunjung di Indonesia untuk melihat betapa indahnya keberagaman suku, adat, agama, dan budaya yang dimiliki oleh negri kita ini.

 

Nama: Zahra Agustina Pratiwi

Sekolah: SMAN Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

keberagaman dalam Idol

     Pada saat itu tepatnya pada pertengahan Mei tahun 2023 setelah Penilaian Akhir Semester 2 kelas X. Aku merasakan patah hati untuk yang kesekian kalinya tetapi kali ini cukup berasa sakitnya hingga menimbulkan rasa trauma yang cukup dalam. Waktu demi waktu ku lalui cara demi cara satu persatu kulakukan agar dapat menghilangkan rasa trauma yang mengakar di dalam rasa ini, tetapi aku tetap berusaha mencoba dan terus mencobanya. Walaupun, pada akhirnya susah menghilangkan trauma tersebut

     Hingga pada suatu saat ketika aku sedang bersantai dan enjoy bermain handphone lebih tepatnya membuka aplikasi tiktok, saat itu aku sedang ngescroll video-video yang fyp (ForYourPage) di beranda akunku munculah mbak-mbak dengan tingkah lucunya pada saat live dijadikan meme orang lain. Awalnya aku tidak penasaran siapa yang berada di berandaku pada saat itu, hingga akhirnya beberapa kali sering muncul diberandaku. Aku pun mulai bertanya-tanya dalam hati ” hmmm….siapa sih cewek ini, fyp mulu dah?” ujarku saat itu. Awalnya aku merasa biasa saja atas berandaku yang terus menerus berkali-kali muncul dia.

      Setelah kurang lebih tiga hari berlalu berandaku berisi dia terus-menerus. Aku yang awalnya biasa saja dan merasa hal tersebut merupakan hal yang normal akhirnya mulai penasaran dan mencari tau “siapaaa sihhh orangg inii!!! ganggu banget fypku jadi isi dia mulu yang terus mengganggu berandaku yang variatif ini menjadi video meme berisi dia semua!!” ucapku dengan sedikit kesal. Lalu aku pun mencari tau siapa orang yang berada pada meme tersebut dan aku menemukan jawabannya dialah Freyanashifa Jayawardana generasi 7 dari idol grup JKT48.

      Akibat penasaran tentang siapa sih sosok Freyanashifa Jayawardana ini aku mulai mengikuti dan mencari tahu lebih dalam mengenai dirinya. Dia merupakan keturunan darah biru, kakeknya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono II dan memiliki julukan Raden Roro. Tanpa sadar aku mulai terjerumus ke dalam genjutsunya (ilusi) yang membuat aku tertarik untuk menjadi FJKT/WOTA mulai dari hal itu rasa traumaku menghilang dan karenanya aku banyak melakukan kegiatan positif-positif yang dapat memicu terasahnya perkembangan dalam diri, lebih sering menjaga dan membentuk tubuh seperti : ngegym, workout, menjaga pola makan, memperbanyak asupan protein dan banyak lagi.

     Setelah kurang lebih berjalan 1 bulan management dari JKT48 mengadakan event resmi yang bernama SummerFestival acara itu diadakan di Tennis outdoor senayan dan tentunya acara tersebut berbayar karena aku tidak mampu untuk membeli ticket, apalagi harus pergi ke Jakarta, alhasil aku hanya bisa melihat orang lain yang berkunjung kesana dari beranda tiktokku, tapi ternyata general manager dari JKT48/yang sering kita kenal Melody mantan member generasi 1 mengumumkan bahwa JKT48 akan mengadakan SummerTour di beberapa tempat di Jawa.

     Event ini resmi dan gratis untuk seluruh fans yang hadir. Aku yang mendengar kabar itu langsung menghubungi temanku yang merupakan fjkt. Haidar dialah nama teman yang aku hubungi itu, kami pun sangat bersemangat dan berencana untuk pergi ke event SummerTour itu bersama-sama yang diselenggarakan secara bergiliran pada beberapa tempat. Event ini berada di Yogyakarta tepatnya di Sleman City Hall dengan salah satu membernya ada cewe yang selalu masuk beranda tiktokku pada waktu itu, tidak lain tidak bukan Freya

    Hari itu pun tiba event diadakan sore hari menjelang ashar tetapi aku pun berpikir “kan acaranya gratis otomatis pasti banyak yang dateng lebih awal kalau kita datang pas dengan waktu eventnya mulai pasti ngga bakal kebagian tempat, kalopun eventnya belum mulai kita bisa muter-muter di sana kan ada kulinerannya juga” ucapku ke Haidar. “Gas ajalah bro, siang-siang habis dzuhur kita berangkat” ucap Haidar.

      Sesampainya kami disana cukup ramai orang yang datang dipenuhi para fjkt dari tetapi masih ada beberapa bagian tempat kosong yang bisa digunakan untuk duduk dan menunggu event mulai. Disana ada banyak sekali orang dari berbagai kalangan dari anak-anak hingga ibu/bapak-bapak bahkan ustadz pun hadir dan agama lainnya. Bahkan ada orang timur yang mungkin sedang kuliah/kerja di yogya hadir kesana memeriahkan event. Ada juga teman-temanku yang merupakan fjkt juga dari daerah solo rela hadir jauh-jauh demi bertemu oshi (Idol dalam istilah Jepang) mereka bahkan sampai mengikuti event resmi seperti 2 shot, M & G. Aku juga bertemu dengan temanku yang beragama Kristen dan Katholik kami mengobrol bersama-sama dan membiarkan seputar event yang akan berlangsung

     Event hampir segera dimulai tetapi Aku dan Haidar lupa untuk sholat ashar temanku justru malah mengingatkanku untuk ibadah dan memberi tahu bahwa diatas terdapat mushola, tetapi sedikit sulit untuk menuju kesana karena tempat sudah mulai padat dan penuh hingga eskalator ada yang mati. Mereka yang selesai ibadah di suatu tempat pun menghampiri kami dan menunjukkan tempat mushola tersebut serta berteriak membantu kami agar bisa segera pergi ke mushola “minggir minggir permisi temenku mo sholat woy kasih jalanlah dikit!” ucapnya dengan nyaring. Aku yang mendengarnya sedikit malu karena lupa akan kewajibanku malah temanku dari agama lain yang justru malah mengingatkanku.

     Setelah ibadah selesai kami pun melanjutkan menonton konser event yang akan segera dimulai tetapi kami tidak dapat tempat jadi harus berdiri karena sudah ramai sekali yang memenuhi venue. Tanpa disangka sangka sesuai dengan yang sering muncul di fypku Freya emang secantik dan semanis caramel itu. Tidak sedikit orang yang mengoshikan dirinya termasuk aku, mulai saat itu aku menyatakan bahwa dia adalah oshiku. Walaupun dia keturunan darah biru.

     Event hampir selesai kami pun bergegas pergi dari tempat sebelum semua orang berbondong-bondong keluar secara bersamaan. Sebelum pulang fjkt veteran memberikan salam perpisahan dengan member JKT48 yang pergi menggunakan bus dengan meriah seperti menggunakan flare dan kabesha raksasa oshi masing-masing.

 

Nama : Ikhsan Aulia Rizky Fauzan

Sekolah : SMK N 3 KLATEN

 

 

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Perbedaan Gaya Hidup

     Seperti yang kita ketahui, bahwa negara kita Indonesia memiliki banyak sekali perbedaan didalamnya, mulai dari suku,ras,agama,budaya,bahasa dan masih banyak lainnya. Dengan hal tersebut, seharusnya kita sebagai warga negara yang baik harus menyikapi perbedaan itu dengan baik pula. Justru dengan adanya perbedaan, dapat mendorong kita untuk selalu bersikap adil dan menghargai akan perbedaan itu tanpa saling menjatuhkan dan merasa dirinyalah yang paling benar.

     Keberagaman dalam hidup sangat luas maknanya, sering kali kita lihat dalam kehidupan sehari-hari pasti diantara kita dengan orang disekitar kita walaupun satu suku,rasa,agama,budaya dan lainnya yang sama, namun pasti akan tetap ada perbedaan diantara kita. Salah satunya gaya hidup. Tidak bisa dipungkiri, tentunya setiap orang memiliki gaya hidup yang berbeda satu dengan yang lainnya. Seperti kisah singkat berikut.

     Ada sebuah cerita dimana ada pertemanan satu kelas yang sering kali bertukar cerita mengenai gaya hidup mereka masing-masing. Mulai dari makan, belajar, cara berpakaian, tingkah laku dan lain sebagainya dalam menjalani hidup.

     Suatu hari ketika mereka sedang istirahat, mereka makan bersama dengan bekal yang sudah mereka bawa masing-masing dari rumah. Salah satu diantara mereka ada yang membawa nasi goreng. Ada satu siswi yang memulai percakapan ia bernama Starla , “eh kalian kalau masak nasi goreng tim goreng telur dulu atau nasinya dulu?atau bumbunya dulu?”. Seketika siswi lainnya berhenti sejenak sambil memperhatikan dan mencerna pertanyaan Starla tersebut. “Aku sih tim telur digoreng dulu ya, di orak arik bareng bumbunya, baru deh masukin nasinya” jawab salah satu diantara mereka yang bernama Asya. “Kalau aku sih bumbunya terlebih dahulu baru dimasukin nasinya dan terakhir adalah telur”  jawaban lain dari Anya. Starla pun terkejut dengan jawaban Asya dan Anya yang berbeda. “Wah, ternyata masak nasi goreng aja berbeda-beda ya urutannya sesuai dengan selera masing-masing” ucap Starla. Mereka pun akhirnya saling bertukar cerita sambil menghabiskan makanan yang mereka bawa. Tidak lama kemudian, bel masuk pun tiba dan semua murid harus bergegas melanjutkan pembelajaran.

     Sebelum guru pengajar mengakhiri pembelajaran, beliau memberitahu kepada murid nya bahwa minggu depan sudah masuk waktu Penilaian Tengah Semester (PTS) sehingga guru tersebut menasehati muridnya untuk belajar dengan giat.

     Bel pulang pun berbunyi, Starla bersama kedua temannya segera bergegas membereskan barang-barangnya kedalam tas. Namun, sebelum mereka pulang Anya memulai percakapan dengan bertanya “eh gais sebentar lagi kan PTS, pasti kalian bakal lebih rajin lagi dong belajarnya, nah aku pengen tau deh kalian kalau belajar gimana?”. Starla menjawab “Kalau aku sih harus di tempat hening ya, yang ga ramai orang karena itu bakal membuat aku lebih fokus dalam belajar apalagi menghafal materi”. Asya pun ikut menjawab “Kalau aku harus ada cemilan sih hehe biar nggak gampang ngantuk trus juga harus dengerin musik biar lebih santai. Kalau kamu sendiri gimana Anya?”. Anya menjawab “Kalau aku cukup sambil dengerin musik aja sih biar lebih mood kalau belajar, tapi terkadang aku juga lebih suka kalau di tempat sunyi seperti yang Starla bilang”. Starla kembali menjawab “Waw ternyata metode belajar kita pun berbeda-beda ya, namun itu semua baik sesuai dengan kemampuan kita masing-masing”. Mereka pun melanjutkan berjalan menuju parkiran dan segera pulang ke rumah.

      Dari cerita singkat tersebut, dapat kita simpulkan bahwa dalam mencapai suatu tujuan yang sama dapat melalui proses yang beragam dimana setiap orang mempunyai caranya masing-masing sesuai yang diinginkan. Tugas kita hanyalah menghargai di setiap perbedaan yang ada tanpa memandang rendah suatu perbedaan itu sendiri.

     Ada satu cerita singkat lagi yang dapat menjadi inspirasi kita untuk terus bersikap toleransi kepada sesama manusia dalam menghadapi perbedaan.

    Di dalam sebuah keluarga terdapat dua orang kakak beradik. Mereka perempuan semua. Sang kakak memiliki sifat penakut sejak ia kecil, sampai ia tidak berani tidur sendiri di kamar. Namun berbanding kebalik dengan sang adik, ia sangat pemberani dan lebih suka tidur sendiri karena menurutnya itu sebuah kenyamanan yang tentram apabila dikamar sendirian. Akan tetapi, sang kakak tersebut terus mencoba memberanikan diri untuk tidur sendiri. Namun usahanya itu tetap saja gagal, ia tetap tidak bisa tidur apabila sendirian di kamar.

     Sehingga, sang kakak mencoba bicara kepada adiknya agar ia menemani kakaknya untuk tidur bersama di kamar kakaknya tersebut. Sang adik pun menyetujuinya, karena dia tau jika kakaknya itu penakut, jadi dia mengalah demi kenyamanan kakaknya. Setelah mereka hendak tertidur si adik berkata, “Kak lampunya dimatikan saja ya, aku gabisa kalau tidur lampunya menyala, silau soalnya”. Karena posisinya saat itu lampu menyala menerangi ruang kamar si kakak. “Wah jangan dek, kakak  nggak berani kalau lampunya mati, kan kamu tau sendiri kakak penakut apalagi sama gelap”  jawab sang kakak dengan nada takut. “Yaudah deh gini aja kita matikan lampunya terus kita pakai lampu tidur yang cahayanya agak redup, aku punya di kamar, jadi biar tidak silau banget dan tidak gelap banget, jadinya adil kan” jawab sang adik dengan ide cerdas nya itu. Akhirnya sang kakak pun menyetujuinya dan mereka tetap bisa tidur berdua di kamar.

     Kesimpulan yang dapat kita ambil dari cerita tersebut adalah bagaimana cara kita bersikap adil ketika kita mengalami sebuah masalah dari perbedaan itu. Kita harus mampu mencari jalan keluar yang terbaik yang tidak merugikan pilihan orang lain yang berbeda dengan kita. Junjung tinggi sifat toleransi dan solidaritas agar bangsa kita dapat dikenal khalayak ramai sebagai negara toleran yang penduduknya baik, ramah, sopan, tidak membeda-bedakan dan hal-hal baik lainnya. Seperti semboyan kita Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

 

Identitas Penulis :

Nama : Aisha Manda Luthfi Maharani

Sekolah : SMAN Gondangrejo

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar