Keberagaman dan Diferensiasi di Kelas

Keberagaman adalah pemahaman bahwa setiap orang berbeda dan unik, mengakui perbedaan individu. Perbedaannya mencakup jenis kelamin, gender, seksualitas, ras, usia, dan lain-lain. Kurikulum merdeka diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Indonesia pada tahun 2020. Target utama dari penerapan kurikulum ini ialah meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dengan cara mengubah paradigma lama yang masih berpusat pada guru menjadi paradigma baru dimana pembelajaran berpusat pada peserta didik. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar sesuai dengan kemampuan awal, fase belajarnya, minat yang mereka miliki, gaya belajarnya masing-masing namun tetap difasilitasi dan diarahkan untuk dapat berkolaborasi, berkomunikasi, dan memecahkan masalah secara bersama-sama.

Variasi dan inovasi yang disesuaikan dengan keberagaman peserta didik adalah kunci dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi masing-masing peserta didik sebagaimana harapan dari kurikulum merdeka yang sudah mulai diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Dengan perbedaan seberagam ini, tentu peserta didik belajar dengan kebutuhan yang beragam pula. Seorang pendidik harus memahami bahwa sebuah metode, gaya mengajar, instruksi, tingkat kesulitan materi dan latihan tidak dapat disamaratakan bagi semua peserta didik dalam satu kelas. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan keragaman dan keunikan peserta didik dan mampu memberikan kesempatan bagi peserta didik supaya mampu belajar secara natural dan efisien. Aktivitas belajar peserta didik dalam proses pembelajaran merupakan salah satu indikator adanya keinginan untuk bertanya mengajukan pendapat, mengerjakan tugas-tugas serta menjawab pertanyaan guru. Dengan keaktifan peserta didik akan menimbulkan motivasi belajar yang lebih baik yang pada akhirnya akan dapat mencapai tujuan pendidikan.

Dalam konteks pendidikan, tidak mengejutkan bahwa keberagaman yang sama dapat kita temui di lingkup yang lebih kecil seperti lingkungan kelas di sekolah. Masing-masing peserta didik datang dari berbagai latar belakang budaya, sosial- ekonomi, bahasa, keyakinan, dan lingkungan keluarga yang beragam. Hal tersebut secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi perkembangan sosial emosional, perkembangan kognitif, gaya belajar, hingga kebutuhan belajar peserta didik. Maka dari itu, sangat penting bagi seorang pendidik untuk memahami dan mengakui keberagaman tersebut agar tujuan pendidikan yang utama yakni memanusiakan manusia sehingga kemerdekaan peserta didik dari segala aspek baik fisik, mental, jasmani dan rohani dapat terwujud sebagaimana yang ditekankan oleh Ki Hadjar Dewantara tentang pengertian mendidik.

Setiap peserta didik datang ke sekolah dengan membawa keunikan dan keragaman yang melekat pada diri mereka masing-masing. Dalam satu kelas yang bisa saja terdiri dari 30-an peserta didik, maka guru akan mendapati sejumlah keragaman yang melekat pada setiap diri peserta didik. Sekolah dapat menggunakan proses pembelajaran yang berbeda untuk membebaskan peserta didik dari keharusan menjadi sama dalam segala hal, memungkinkan mereka untuk mengekspresikan diri sesuai dengan keunikan mereka sendiri. Sebagaimana diketahui bahwa ada berbagai tipe peserta didik di sekolah atau bahkan kelas yang memiliki tingkat kesiapan belajar, minat, bakat, dan gaya belajar yang berbeda-beda. Akibatnya, mereka membutuhkan layanan pengajaran yang berbeda satu sama lain agar mereka dapat memahami kompetensi dan materi pembelajaran berdasarkan karakteristik dan keunikan masing-masing sehingga dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan proses pembelajaran yang memperhatikan karakteristik peserta didik dan perbedaan individu. Guru dapat melayani peserta didik yang diajar sesuai dengan keadaan masing-masing dengan melaksanakan pembelajaran yang berdiferensiasi.

Sekolah dapat menggunakan proses pembelajaran yang berbeda untuk membebaskan peserta didik dari keharusan menjadi sama dalam segala hal, memungkinkan mereka untuk mengekspresikan diri sesuai dengan keunikan mereka sendiri, meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik. Menjalin hubungan harmonis antara guru dan peserta didik agar peserta didik dapat lebih semangat dalam belajar, membantu peserta didik menjadi pelajar yang mandiri agar menjadi individu yang terbiasa dan juga memiliki sikap menghargai terhadap keberagaman, meningkatkan kepuasan guru karena ada rasa tertantang untuk mau mengembangkan kemampuan mengajarnya sehingga guru akan menjadi lebih kreatif, menyatukan peserta didik dari berbagai latar belakang, budaya, dan bakat. 

Menerima keragaman di kelas sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar dinamis yang mendorong pertumbuhan, pemahaman, dan empati peserta didik. Pendidik harus menyadari pentingnya keanekaragaman budaya di kelas. Saya berlatih mendekati setiap situasi pembelajaran atau pendampingan dengan pikiran terbuka dan bersedia mendengarkan tidak hanya apa yang peserta didik katakan, namun juga apa yang saya katakan kepada peserta didik. Saya dengan hati-hati memilih kata-kata saya dalam upaya menyampaikan makna supaya tidak tersandung pada keberagaman yang ada di kelas. Dengan perbedaan seberagam tersebut, tentu peserta didik belajar dengan kebutuhan yang beragam pula. Seorang pendidik harus memahami bahwa sebuah metode, gaya mengajar, instruksi, tingkat kesulitan materi dan latihan tidak dapat disamaratakan bagi semua peserta didik dalam satu kelas.

Saya percaya bahwa keberagaman dapat mengacu pada banyak aspek kehidupan kita termasuk interaksi pribadi, situasi pengajaran, perbedaan sosio-ekonomi, penerimaan (di luar toleransi) terhadap kelompok atau individu dengan latar belakang, kepercayaan, kebangsaan, dan gender yang berbeda. Contoh perilaku toleransi seperti memberikan kesempatan kepada peserta didik melakukan ibadahnya, tolong-menolong antarpeserta didik ketika melaksanakan aktifitas dan tidak membeda-bedakan peserta didik, dan menghargai perbedaan budaya yang ada pada peserta didik. Sikap dan perilaku toleransi terhadap keberagaman di lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah merupakan kunci untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan, serta mencegah proses perpecahan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Setiap individu hendaknya mengaplikasikan perilaku toleran terhadap keberagaman suku, agama, ras, budaya, dan antargota

 

Martanti Dwi Kristyanawati, S.S., M.Pd

           Guru Penggerak/ Guru SMP N 3 Kota Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Si Noiva dari Timor Leste

     Halo nama saya Brenda wanda purnama,Aku anak dari Budi purnama dan Amelina solihat,Ayahku seorang guru Bahasa inggris di sekolah menengah pertama negeri. Ibuku seorang guru Bahasa inggris juga  di sekolah dasar. Saat ini,usiaku 14 tahun. Aku pelajar tingkat pertama di SMPN 3 surakarta.Cita-citaku menjadi seorang pengusaha sukses.

     Menurutku,pengusaha sukses itu pekerjaan yang besar dan bertanggung jawab. Nah Pengusaha sukses itu memiliki kelebihan yang banyak sekali loh,menjadi pengusaha sukses dapat membangun jiwa kepimpinan,meningkatkan percaya diri,dan dapat uang yang lebih banyak juga,tergantung dari usaha  seperti apa juga ya,-tapi itu adalah pekerjaan yang sangat aku impikan dari kecil lho teman teman… mau sukses dibidang apa aja yang menghasilkan dan bermanfaat juga…Doakan aku ya teman-teman <3 good luck semuanya.

     Oke mulai ke ceritanyaya ,di sini cerita saya akan mengenai  cerita di pertemanan kalangan anak-anak guys, semua orang pasti mempunyai sahabat bukan?.Nah kalo saya pribadi mempunyai sahabat unik, sahabat kecil yang jarak umurnya beda 3 tahun. Iya 3 tahun teman-teman, aku yang paling besar, btw aku kelahiran tahun 2009,sedangkan dia kelahiran tahun 2012. Waktu dia masi bayi aku cukup diumur yang tergolong masi kecil banget sekitar 23 tahunan.  Nah kalian pasti ingin tahu apa yang aku maksud dari sahabat unik tadi, jadi teman-teman sahabat aku itu selain umurnya yang beda,ras sama asalnya juga beda lho guys.

    Dia itu ada darah timor leste nya yang asalnya dari bapaknya.mamah dia asal Indonesia asli,sedangkan bapaknya orang timor leste asli teman-teman, btw kalian tau negara timor leste? Kalo kalian ingin tahu orang timur leste seperti apa kalian bisa cari di google teman-teman. Kalo sudah, kalian pasti sudah ada penggambaran mengenai rasnya bukan ;), nah selain rasnya sama negara beda, agama kita juga berbeda lho guys, dia katolik kalo aku islam. Itu yang membikin persahabatan kita dibilang cukup unik teman-teman, walaupun berbeda secara spesific,kita tetap saling tolong menolong,menghormati dan ,saling mengingatkan untuk beribadah satu sama lain guys, itu sih yang membuat aku cukup bersyukur mempunyai teman berbeda tapi tetap saling positive satu sama lain , pernah suatu saat aku itu diajarin Bahasa daerah sana yang menurutku itu sangat unik dan aku jadi sedikit tau mengenai Bahasa timor leste dari sebelumnya.

     Pasti kalian berfikir kalau,pernah gak sih aku berprasangka buruk, atau kayak berfikir menurut stereotype aku…Ke dia?

     Jawabannya kadang sih guys,lebih ke bapaknya dia daripada sahabatku sendiri,nah aku pernah pada masa aku kecil itu,aku pertama kali kenal dia kan masih bayi ya…jadi aku sudah tau dia pas bayinya juga gitu lho.. jadinya gak ada sih berprasangka buruk.Lebih ke ortunya dia..karena apa? Karena guys. Lebih ke mukanya sih jujurly hahah…Karena menurut aku pribadi muka kakak,sama orang tuanya dia itu terutama bapaknya, mempunyai vibes yang menurut aku galak dan emang bener sih guys kayak, pernah suatu saat itu ada topeng monyet yang datang pas siang-siang, nah siang-siang itu btw jadwal tidur anaknya kan, mungkin niat dia baik buat anaknya biar bisa nyenyak, dia itu marahin mas mas topeng monyetnya itu, terus kayak dengan nada yang menurutaku tegas dan bener-bener lagi marah,dan diposisi itu aku kasihan sih sama mas nya, karena niat dia kan buat menghibur anak-anak atau para yang suka nonton atau siapalah,tapi timingnya masnya gak pas menurutaku, nah berakhirlah dia itu kenak marah sama bapaknya temanku itu, dan beliau itu satu-satunya orang yang sering dan berani menegur jika menurut dia,mereka itu mengaggu dan kejadian-nnya pun gak cuma sekali teman-teman, itu udah berkali-kali tapi gak sesering itu kok, dan endingnya ya penjual-penjual tersebut sudah tidak berani atau kembali lagi di gang perumahanku guys. Itu sih yang menurut aku sifat dia yang orang-orang takuti atau istilahnya takut kena marah missal ada yang ganggu, tapi alhamdulillahnya sih beliau belum pernah marahin anak kecil sih guys, aku belum pernah liat,tapi gak tau sih kalau pernah apa belum,

     Dan momen yang paling aku ingat sampai saat ini juga sih, pas dia ingin masuk islam karna temen temen aku haha. Kan di gang perumahaknu sama tambah 1 orang gang sebelah itu, agamanya islam semua kan guys, gak ada yang katoliknon islam. Nah kita para muslimah itu sering merayakan Ramadhan bareng,puasa bareng, bukber bareng dan lain-lainnya, nah tapi karna dia agamanya beda sendiri, mungkin dia merasa dia itu berbeda dari teman-temannya, dan kayak ‘’kok aku gak kayak mereka ya”. Mungkin perasaan dia demikian, dan karna hal itu membuat dia ingin ikut menjadi bagian dari agama tersebut gitu haha, pernah suatu hari waktu aku,dan teman ku yang satunya namanya wafa dia beragama muslim serta membawa adiknya yang bernama syakira, pas itu pada saat malam hari kan, nah posisinya sebelum kita antar sahabat aku oiya guys lupa kasih tau namanya.

     Jadi nama sahabtku itu noiva, nah kembali ke cerita, jadi pas kita ber empat berada di rumahaku itu, kita lagi membicarakan tentang mudik lebaran kayak, besok kamu mau kemana?, atau kayak thr kamu maunya berapa, dan masi banyak lagi, nah ngakaknya diposisi itu aku gaksadar kan kalau ada noiva yang agamanya beda sendiri, tapi dia tetap menghargai dan mendengarkan cerita kita kok guys, ok kembali lagi, karna saking asyiknya beberapa menit sekita 15-20 menitan gitu, itu kan cukup lama juga kan kalo dipikir-pikir, Mamahnya dia itu manggil noiva kayak “deek maem”gitu kan, itu sekitar jam 10-11 an gitu hahah..btw rumah kita depan-depanan guys jadi kayak main sampai malam tuh gak masalah gitu lo haha…Ok kembali lagi, dia setelah dipanggil itu langsung bilang ke aku “aku pulang dulu ya mbak”.

     Dia manggil aku dengan sebutan mbak guys, karena aku lebih tua 3 tahun. Nah aku otomatis bilang iya dong, dan dia pun pulang dan makan dulu, tinggal sisa aku sama mbak wafa dan adiknya syakira. Ngomong-ngomong guys, aku sama mbak wafa itu sebenarnya kelahiran 2009 sama tapi entah gimana, dia kayak sekolahnya duluan gitu lo, kayak pas aku kelas 5 dia kelas 6 gitu, otomatis mau gak mau harus panggil mbak dong haha, oke itu sedikit informasi ajan sih.. Ok balik lagi, kita bertiga itu lanjut ngobrol lagi tapi kita sedikit kepo sama noiva lagi ngapa sekarang gitu kan, lagipula kita ber3 juga udah mulai bosen sama topiknya akhirnya memutuskan untuk pergi kerumahnya si noiva kan, untungnya dia lagi disuapin sama mamahnya di teras depan gitu jadi lebih leluasa lah enak diluar

     Nah enah darimana datangnya tiba-tiba dia bilang kayak gini “mah masuk islam yok mah”. Gitu otomatis aku terjkejut bukan maen dong, kok bisa dia bilang kayak gitu ke mamahnya kayak, nggak expect aja sih, ya terus aku langsung nolehin wajahku ke mbak wafa terus dia pun juga, aku kepo sih sama respon mamahnya bakal jawab apa, dan ada keheningan sedikit diantara kita semua terus, aku mulai ngerasa gak enak nih, takutnya mamahnya itu kasih curiga ke aku sama mbak wafa, tapi untung mamahnya gak bilang macam-macam kayak, “kamu itu ngaruhi anak saya ya” atau lainnya lah, tapi beliau malah respon, “yaudah sana masuk sendiri,terus tidur sama mbak Brenda aja ya”. Gitu hahah aku sedikit kaget dong dengan responnya, aku langsung merasa gak enak banget, tapi kan faktanya kita gak ngelakuin apa-apa bukan!, nah makannya guys jangan berprasangka buruk dulu ke orang yang belum tentu.

     Hehe itu sih moral dari cerita yang aku dapet. Dan berteman beda secara personal itu cukup sering untuk jaman sekarang ya guys apalagi, menambah wawasan tentang perbedaan orang-orang dalam dan luar negeri. Menurutku sekarang anak-anak lagi suka cari teman dari luar negeri pake aplikasi lah, atau ada kenalan lah, jadi gak diheranin lagi sih.

     Untuk konflik diantara kitaber2 sih jarang ya menurut ku, karna kita saling mengalah satu sama lain dan ya paling cuman kayak marah marahan aja kayak ngambek gitu, kan wajar ya teman-teman, jadi ya paling kayak marahan sekedar nggak sependapat aja, atau karena ngambek gak diajak, random sih, so yaa…. Salinglah menghargai satu sama lain ya guys, walaupun kalian berbeda dari segi manapun selalu, melakukan hal yang dampaknya positif dan semua manusia nggak ada yang beda, semua sama…dan aku harap cerita ini bikin orang-orang atau kalian lebih termotivasi/ belajar tentang perbedaan kegeragaman cukup dari saya sampai sini, akhir kata

     Wasalamualaikum wr.wb.

 

Nama: Brenda Wanda Purnama

Sekolah: SMPN 3 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

MENDIDIK TOLERANSI BERAGAMA BUKAN HANYA TUGAS GURU AGAMA

Elsa Candra Putri, S.Pd.

Guru SMPN 19 Surakarta

085728524778

elsacandra23@gmail.com

 

“Sahur…sahur..monggo sahurr….” Suara-suara seperti itu sangat tidak asing ditelinga kita orang Indonesia. Bulan Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia. Tetapi bagaimana toleransi yang ada di sekitar kita? Jam 3 pagi sudah ramai speaker-speaker masjid membangunkan sahur, tentu itu sangat membantu masyarakat muslim yang lupa pasang alarm ataupun yang tidak bisa bangun pagi. Namun bagaimana dengan umat non muslim yang tinggal di sekitarnya? terganggukah?

Pernah menjadi perbincangan saat workshop di Solopos tentang kebijakan ditutupnya warung saat siang hari di bulan Ramadhan agar menghormati umat muslim yang sedang berpuasa. Apakah toleransi itu hanya untuk umat nonmuslim saja yang harus menghormati? Apakah aturan itu dibuat hanya untuk mayoritas? Walaupun menurut saya tidak semuanya benar namun juga tidak sepenuhnya salah. Tentunya suatu aturan dibuat dengan banyak pertimbangan dan percaya saja pada pembuat aturan bahwa setiap aturan sudah dipertimbangan manfaat dan kerugiannya. jika dilihat dari dampak negatifnya yaitu untuk orang-orang yang tidak berpuasa menjadi lebih sulit mencari jajanan di siang hari, selain itu ternyata omset penjual pun juga berubah. Namun dengan dasar toleransi umat beragama maka hal tersebut sudah dapat diterima masyarakat di sekitar kita. Sungguh indah toleransi di negeri kita ini dan memang seharusnya begitu karna dasarnya saja Indonesia memang negara yang beragam.

Lalu bagaimana toleransi di sekolah? Kebijakan tentang warung tutup saat siang hari juga menjadi masalah di sekolah. Bagaimana seharusnya? apakah kantin harus tutup saat Ramadhan? Bagaimana kita sebagai guru dalam menentukan kebijakan? Di satu sisi kita harus menghormati anak-anak yang beragama Kristen Katholik yang tidak memiliki kewajiban berpuasa, dan juga anak-anak yang sedang tidak berpuasa. Namun di lain sisi kita juga harus menghormati anak-anak yang berpuasa agar tidak tergoda. Dilihat dari sisi pedagang kantin, jika satu bulan tutup padahal penghasilan mereka satu-satunya adalah dari penjualan kantin bagaimana? Akhirnya dibuatlah kebijakan bahwa beberapa kantin boleh buka untuk melayani anak-anak yang tidak berpuasa agar mengajarkan toleransi juga kepada siswa bagaimana sikap kita saat bulan Ramadhan, bagaimana menumbuhkan rasa malu dan sungkan saat akan makan di depan teman-teman yang berpuasa, dan sikap-sikap positif lainnya. Mungkin inilah titik tengah yang dirasa terbaik. Karena kita sekolah negeri yang memiliki siswa yang beragam agamanya.

Namun kenyataannya, sungguh miris hati saya sebagai guru yang beragama Islam. Ternyata kesadaran anak-anak terhadap toleransi masih sangat kurang. Saat mengajar di kelas setelah istirahat, tercium aroma mie instan yang bisa dibayangkan aromanya seperti apa. Saya yang orang dewasa mungkin tidak tergoda, namun bagaimana dengan anak-anak yang notabene masih belajar puasa mendapat godaan seperti itu? Dan ternyata saat istirahat terlihat kantin sangat ramai walaupun mungkin diisi oleh siswa yang memang sedang tidak berpuasa. Namun bagaimana toleransi mereka, bagaimana menjaga sikap agar menghargai teman-temannya yang sedang berpuasa? PR guru terkait tiga dosa Pendidikan salah satunya intoleransi ternyata memang benar adanya. Kesadaran anak-anak terhadap toleransi beragama masih sangat kurang.

Tidak jarang saya menegur anak-anak yang dengan PD nya menenteng es teh plastikan jalan di tengah lapangan, pernah juga ada anak yang makan di lobby sekolah yang terbuka, ada juga anak yang makan bersama-sama di teras depan kelas. Ini menjadi PR bagi saya sebagai guru dan mungkin seluruh guru-guru lain di seluruh Indonesia. Bagaimana mengajarkan toleransi kepada siswa. Seharusnya bulan Ramadhan bisa dijadikan salah satu momentum yang baik untuk menanamkan toleransi. Peraturan harus dibuat untuk yang mayoritas agar tercipta ketertiban di lingkungan yang isinya orang-orang dari mayoritas itu. Dalam hal ini kantin harusnya tutup saja, toh anak-anak masuk sekolah tidak fullday, yang tidak puasa bisa ikut berpuasa sebentar selama di sekolah dan setelah itu bisa makan di rumah. Karena tugas kita sebagai guru kan tidak hanya mengajar pelajaran saja namun juga mendidik karakter siswa. Walaupun kita bukan guru agama, tetapi sebagai guru dan umat beragama Islam kita juga mempunyai kewajiban untuk mengingatkan anak-anak untuk berpuasa di bulan Ramadhan untuk yang menjalankan. Jika kita membiarkan mereka lalai, maka menjadi dosa juga untuk kita.

Mungkin seharusnya guru-guru pemangku kebijakan di sekolah bersama dengan guru agama seluruh agama yang ada di sekolah duduk bersama untuk membuat kebijakan khusus selama bulan Ramadhan yang tentunya harus berpihak kepada siswa dan memiliki dampak negatif yang terkecil. Karna mendidik agama juga merupakan kewajiban kita sebagai guru walaupun kita bukan guru agama. Selain itu juga perlu juga kerjasama dengan orangtua/wali siswa agar sejalan dengan visi dan misi sekolah sehingga Pendidikan dapat mencapai tujuan yang sama.

Ditulis pada Ragam | Tag , , , | Tinggalkan komentar

LAMPION KAMPUNG RAMADHAN: SIMBOL KEBERAGAMAN DI KOTA SOLO

LAMPION KAMPUNG RAMADHAN: SIMBOL KEBERAGAMAN

DI KOTA SOLO

Kota Solo, yang terkenal sebagai Spirit of Java, selalu menampilkan keunikan dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Salah satu tradisi yang paling dinantikan adalah pemasangan lampion di sepanjang jalan Jenderal Sudirman atau Kawasan Gladak-Pasar Gede. Tradisi ini bukan hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki makna yang mendalam, bahwa hal tersebut sebagai simbol keberagaman di tengah masyarakat Solo. Unik memang, jika mengingat bahwa pemasangan lampion di kawasan Pasar Gede tersebut diinisiasi oleh masyarakat Tionghoa dari Kelenteng Tion Kok Sie dalam rangka merayakan Imlek sekira tahun 2007. Sejak saat itu, tradisi lampion Kampung Ramadhan terus berkembang dan menjadi salah satu ikon Ramadhan di Solo. Setiap tahun, desain lampion selalu berbeda-beda, dengan tema yang selalu mengangkat nilai-nilai budaya dan tradisi lokal.

 

Simbol Keberagaman

Keberagaman merupakan salah satu nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Solo. Lampion berbentuk ketupat, masjid, bintang, kaligrafi, dan berbagai bentuk dan maupun warna memiliki maknanya sendiri. Ketupat misalnya, merupakan simbol makanan khas Ramadhan yang dinikmati oleh semua kalangan, tanpa memandang suku, agama, dan ras. Aneka rupa lampion tersebut menjadi pemersatu masyarakat Kota Solo dari berbagai latar belakang, suku, agama, dan ras. Tradisi lampion Kampung Ramadhan di Solo tidak hanya melibatkan masyarakat umum, tetapi juga berbagai sekolah di kota tersebut. Keterlibatan sekolah dalam tradisi ini memiliki peran penting dalam membentuk keberagaman dan toleransi di kalangan generasi muda. Keterlibatan pihak sekolah ini merupakan wujud kerja sama antara Dinas Pariwisata yang menggandeng Dinas Pendidikan dalam event Ramadhan tahun ini. Gabungan beberapa sekolah diminta membuat lampion untuk menyemerakkan event yang secara resmi bernama Solo Light Festival tersebut.

Toleransi dan keberagaman terpancar pada sekolah-sekolah yang menjadi peserta pembuatan lampion, yang tidak hanya sekolah dengan latar belakang yayasan Islam saja, tetapi juga sekolah negeri maupun sekolah dengan yayasan Kristen ataupun Katolik. Oleh karena itu, selain memeriahkan suasana Ramadhan dan menarik wisatawan, tradisi ini juga dapat meningkatkan toleransi dan rasa persatuan di antara masyarakat. Diharapkan tradisi lampion Kampung Ramadhan dapat terus dilestarikan dan menjadi salah satu ikon Ramadhan di Solo. Tradisi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perbedaan bukanlah halangan untuk bersatu dan bersama-sama menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh suka cita.

Ditulis pada Ragam | Tag , , | Komentar Dinonaktifkan pada LAMPION KAMPUNG RAMADHAN: SIMBOL KEBERAGAMAN DI KOTA SOLO

Pengalaman pemahaman baruku tentang keberagaman

Nama saya Taka, seorang siswa SMA kelas 10, yang baru saja akan menginjak umur 16 pada bulan april besok. Saya merasa terlalu muda di antara teman-teman saya yang sudah berumur 16 sampai 18. Meskipun teman sebangku saya jauh lebih muda setengah tahun dari saya. Dari segi muka sama warna kulit, awalnya saya mengira dia bukan seorang muslim, ternyata kita tidak bisa melihat agama seseorang dari penampilan luarnya saja. Saya lumayan speechless saat mengetahui dia adalah seorang muslim. 

 

Keberagaman suku, ras, dan terutama agama baru saya rasakan saat menginjak kelas 7 SMP. Dulu waktu SD saya tinggal bersama Uti saya di pedesaan, dan mayoritas penduduk di sana adalah muslim. Keberagaman yang saya jumpai masih minim karena tinggal di pedesaan dan jarang sekali ada individu yang memiliki ciri khas yang berbeda. Semua beretnis Jawa, mayoritas beragama Islam. Hampir tidak ada keberagaman yang berunsur ras, suku, dan agama. Meskipun ada 1 tetangga saya yang beragama Kristen dan itu belum berdampak terhadap mindset saya.

 

Menurut saya waktu itu yang beragama Kristen atau Katolik pasti merupakan orang yang beretnis Tionghoa atau bule. Lalu saat SMP saya sedikit kaget ternyata yang beragama Kristen maupun Katolik tidak semuanya beretnis Tionghoa, saya menemui teman – teman SMP saya yang beragama Kristen merupakan seorang pribumi atau beretnis Jawa. 

 

Wajar saja, saat SD orang yang beragama Kristen yang saya temui kebanyakan beretnis Tionghoa, meskipun secara tidak sengaja bertemu seorang yang beragama Kristen dengan etnis Jawa yang notabene non muslim tidak menggunakan kerudung untuk wanita. Saya hanya beranggapan bahwa itu hanya seorang muslim yang tidak menggunakan kerudung. 

 

Kemudian saya bertanya – tanya, bagaimana dengan etnis Tionghoa yang saya anggap seorang kristen padahal beliau atau mereka adalah seorang muslim? Bahkan waktu SMP saja saya menemui teman saya yang beretnis Tionghoa yang beragama Islam. 

 

Banyak hal yang baru saya pahami saat menginjak jenjang SMP, apalagi saat SD saya hanya seorang no life yang mainnya kurang jauh. Teman saya pada waktu itu hanyalah yang itu itu saja, karena saya adalah seorang yang untuk susah bergaul. Melihat pergaulan di tempat tinggal mayoritas berisikan anak motor dan perguruan pencak silat yang sama sekali tidak cocok dengan diri saya pribadi. 

 

Saat SMP saya kembali tinggal bersama orang tua saya yang berada di Kota Magelang. Saya mencoba untuk lebih terbuka dan tidak no life, karena saya juga berpikir bagaimana saya mendapatkan teman jika terus seperti itu. Meskipun tetap saja tidak memiliki teman yang sangat akrab di sekolah, setidaknya saya punya teman bermain di rumah. 

Orang tua saya tinggal di perumahan TNI, yang notabene Kota Magelang juga merupakan pusat pendidikan TNI Kodam Diponegoro yang mencakup Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun begitu tetangga tetangga yang berada tinggal disini tidak hanya orang Jawa, orang luar Jawa pun sangat banyak, termasuk Ayah saya yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. 

 

Dari sini saya memahami banyak sekali keberagaman yang ada di Indonesia. Ternyata tidak hanya etnis Jawa yang tinggal berada di sini namun banyak yang berasal dari Luar Jawa. Banyak juga yang beragama berbeda-beda. Orang Kristen tidak selalu beretnis Tionghoa, begitupun seorang Tionghoa tidak selalu beragama Kristen.

 

Memang benar kata peribahasa melayu, jangan menjadi kura – kura dalam tempurung. Banyak sekali keberagaman yang ada Di Indonesia, jangan lah menutup diri atas keberagaman yang ada. Keberagaman suku, ras, dan agama yang ada Di Indonesia merupakan suatu ciri khas bangsa Indonesia yang jarang temui di negara lain, dan ini yang patut kita banggakan

Ditulis pada Ragam | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

keberagaman ras di dunia pertemanan

Indonesia adalah negara dengan sejuta keberagaman. Keberagaman yang ada telah menjadi simbol persatuan dan dikemas dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, kita harus menjaganya agar tetap utuh dan harmonis.

 

Namun, belakangan ini Indonesia kerap mengalami krisis toleransi. Perbedaan yang ada justru menimbulkan perpecahan. Padahal, perbedaan itu sendirilah yang seharusnya membuat Indonesia menjadi indah karena lebih “berwarna”.

 

Sebagai warga negara yang baik, kita harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan dengan menganut paham toleransi. Jangan sampai Indonesia terpecah-belah akibat isu-isu negatif. Ingat kata pepatah, “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”

 

Indonesia adalah negara yang religius. Hal itu dibuktikan dalam sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Kebebasan dalam beragama dijamin dalam UUD 1945 pasal 29 yang menyatakan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

 

Ras merupakan klasifikasi yang digunakan untuk mengategorikan manusia melalui ciri fenotipe (ciri fisik) dan asal usul geografis. Asal mula keberagaman ras di Indonesia disebabkan oleh beberapa faktor seperti bangsa asing yang singgah di Tanah Air, sejarah penyebaran ras dunia, dan juga kondisi geografis. 

 

Ada beberapa ras yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Ras Malayan-Mongoloid yang berada di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, dan Sulawesi. Ras Melanesoid mendiami wilayah Papua, Maluku, dan juga Nusa Tenggara Timur. Selain itu, ada juga ras Asiatic Mongoloid yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, yaitu seperti orang Tionghoa, Jepang, dan Korea. 

 

bicara soal keberagaman tentu tidak akan pernah ada habisnya apalagi di negara Indonesia tercinta kita ini, tentunya keberagaman sudah ada walau di lingkup terkecil pun, seperti keberagaman di dalam keluarga tetapi saya juga pernah merasakannya sendiri tentang keberagaman itu, yaitu keberagaman antar ras di desa kecil bernama grasak.

 

cerita ini diawali dengan sepupu jauh saya yang memang berasal dari bumi Indonesia belahan timur tepatnya di pulau ambon, pastinya sangat jauh dari kediaman saya yang berada di jawa tengah, suatu hari sebelum lebaran dia pulang ke rumah nenek nya kebetulan rumah neneknya tepat di samping rumah saya, saat itu satu minggu sebelum lebaran tiba dia sudah sampai di rumah neneknya, saya masih mempunyai garis keluarga dengan dia tentunya saya sambut kedatangan dia dengan keluarganya kita panggil saja dia sebagai danis, danis ini adalah teman yang menurut saya teman yang baik, kenapa saya bisa bilang dia teman yang baik? nahh suatu pagi karna kebiasaan di desa saya setelah sholat subuh sembari berkumpul dengan teman-teman desa kita juga jalan jalan pagi keliling desa bisa sampai antar kecamatan, pastinya itu kegiatan yang seru dan menyenangkan karena kita bisa bertemu dengan rombongan desa lain yang juga sedang jalan pagi, disana kita bisa melihat keberagaman dalam lingkup yang lebih besar, bahkan orang-orang non muslim juga ikut rombongan untuk jalan-jalan pagi, tak terbayang kan betapa serunya kegiatan itu, si danis ini saya ajak untuk mengikuti jalan pagi setelah sholat subuh pertama dia menolak karna dia tidak jago menggunakan bahasa Indonesia, karena mungkin kebiasaannya dalam menggunakan bahasa daerah timur, dengan komunikasi seadanya sebisanya akhirnya dia terbujuk dan mau ikut untuk jalan-jalan pagi, nahh banyak hal lucu menyenangkan dan juga bisa belajar walau hanya dengan jalan jalan, ada satu kejadian teman saya sebut saja Yuda dia mengajak kenalan si Danis, dengan bahasa daerahnya dia memperkenalkan diri, akibatnya teman-teman yang lain kebingungan dengan bahasa yang digunakan, saya dengan pengetahuan seadanya tentang bahasa timur yang digunakan Danis berusaha menjelaskan, dann akhirnya mereka bisa memahami perkenalan dari Danis tadi, huftt seru, capek ,lucu jadi satu ketika dia ingin belajar bahasa jawa, tetapi yang ada kita ajari kepada Danis bahasa bahasa yang jorok, dengan kepolosannya dia mau mau aja untuk menggunakan bahasa itu, dari dia kita juga belajar bahasa timur seperti beta itu saya, dan masih banyak lagi, tak hanya itu momen seru terjadi saat kita ngabuburit bermain PlayStation 2 di rumah yuda, Danis cukup jago dalam memainkannya hal lucu yang terjadi ketika dia kesal menggunakan bahasanya walau kita tidak terlalu paham apa yang diucapkan tetapi itu cukup membuat kita terhibur dengan kemarahan dia, hal seru terjadi ketika kita aja danis untuk berenang di sungai, kita kaget sekaligus kagum ketika Danis berani untuk berenang di sungai, kita juga mengajarinya loncat dari jembatan di sungai, hanyut bersama gedebok pisang.

 

setelah pulang mandi sungai biasanya kita mengikuti kegiatan taman belajar al Qur’an yang ada di desa, hal lucu terjadi ketika dia ditawari untuk mengumandangkan adzan, kita ajari dia lalu kita istilahnya prank dia untuk adzan sampai dia ngomel lagi menggunakan bahasa daerahnya, hal itu yang membuat kita bisa tertawa terbahak-bahak.

 

saya menyadari bahwa memang perbedaan bahasa, kebiasaan, ras itu bisa berdampingan dan berteman baik, bisa menambah wawasan juga, hal hal seru banyak yang terjadi karena keberagaman

Ditulis pada Ragam | Tag , | Tinggalkan komentar

KEBERAGAMAN AGAMA ANTAR KELUARGA

Di dalam sebuah keluarga teman ku ada berbagai macam keyakinan agama yaitu ada yang ber agama Islam dan kristen.Walaupun mereka  berbeda keyakinan tetapi mereka tetap menjaga silaturahmi dan menghormati perbedaan itu dengan bersikap adil dan tidak membeda bedakan antara satu dengan yang lainnya.

Dan ketika ada acara ataupun kumpul bersama keluarga mereka bisa saling akrab dan rukun dalam menjalin hubungan kekeluargaan nya.Dan ketika di hari puasa mereka juga mengadakan buka bersama walaupun ada yang berbeda agama tetapi mereka ikut datang dan membersamai acara buka bersama tersebut karena bagi mereka itu sebuah sikap yang menghargai antar sesama keluarga.Dan pada perayaan hari raya Natal keluarga tersebut bergantian mengundang ke acara kumpul bersama dengan tujuan untuk mempererat tali silaturahmi yang terjalin antar keluarga.

ketika umat Islam melaksanakan ibadah untuk sholat,lalu umat yang beragama kristen menghargai dengan mengizinkan mereka untuk melakukan ibadah nya.Kemudian ketika pada hari Minggu ataupun hari besar umat Islam juga menghargai salah satu keluarga nya yang ingin melakukan ibadah di gereja pada saat itu.Kalau kita lihat dari banyaknya keberagaman yang ada di Indonesia baik dari segi agama,suku, ataupun ras kita sebagai manusia biasa harus bisa saling menghargai dan menghormati antar perbedaan yang terjadi di sekitar kita dengan bersikap adil dan tidak membeda bedakan dalam hal apapun.karena  setiap orang mempunyai hak masing masing dalam menentukan keyakinan dan kepercayaan mereka masing masing.Dan kita sebagai makhluk sosial harus bisa saling memahami dan berbuat baik kepada orang di sekeliling kita.karena kalau kita berbuat baik kepada orang lain, insyaallah suatu ketika kita juga akan diperlakukan dengan baik oleh orang lain meskipun entah itu kapan,yang pasti berbuat baik kepada orang lain tidak akan membuat kita celaka dan sebaliknya apabila kita berniat untuk berbuat jahat ataupun tidak baik kepada orang lain maka suatu saat akan berbalik kepada diri kita sendiri.

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Toleransi itu penting

Perbedaan adalah suatu hal yang wajar dan umum di dalam lingkungan kita sehari-hari,contohnya perbedaan agama yang terkadang menjadi konflik jika tidak diatasi dengan baik. contohnya bullying,merendahkan suatu agama lain,dan diejek karena suatu kondisi dan itu berdasarkan pengalaman saya sendiri dan akam saya ceritakan sebagian

 

Di dalam suatu keluarga,ada anak yang mempunyai orang tua yang awalnya berbeda agama namanya varia,ibunya kristen sedangkan ayahnya Islam,dan ibu nya memutuskan untuk masuk agama Islam agar tidak menimbulkan perselisihan dalam keluarga

tetapi masalah tidak hanya sampai disitu,orang tuanya kadang berdebat tentang banyak hal,salah satunya soal ajaran islam dan ditambah watak ayahnya yang merasa ilmunya selalu cukup yang membuat situasi semakin buruk dan tidak secara langsung menghancurkan mental anaknya dalam mempelajari agama maupun bersosialisasi dengan orang lain karena trauma nya

Tak jarang Varia memendam perasaannya lewat mendengarkan musik ataupun menggambar. beruntung ia mempunyai kakak yang selalu menemani saat dia sedih dan siap menjelaskan jika kurang paham soal ajaran islam.

Varia mempunyai seorang teman beragama kristen sebut saja Evi,mereka cepat akrab karena mereka teman lama sejak SD dan bertemu lagi di satu SMA,Evi cukup baik dan setia mendengarkan semua masalah dan menyemangati Varia,agama tidak menjadi halangan dalam berteman karena itulah mereka saling menoleransi agama mereka masing masing

Hikmah yang dapat diambil dari cerita tersebut adalah apapun masalah dan perbedaan setiap orang,kita harus menghargainya karena pada dasarnya kita itu manusia yang butuh pengertian dari sesama

Ditulis pada Ragam | Tag , | Tinggalkan komentar

Simfoni Perbedaan

Simfoni Perbedaan

Oleh

Yasin Shifan Rauf

SMA Negeri 1 Mojolaban

Email : yasinnsipannkuufff777@gmail.com

No Hp 085786447058

 

Jika tidak pernah merasakan perbedaan maka kita tidak akan pernah tahu rasanya bersyukur. Ungkapan bijak itu sangat aku rasakan dalam kehdupanku. Seperti umumnya kehidupan keluarga di Indonesia, aku  tinggal bersama kedua orang tua dan nenek kakekku. Walaupun anak tunggal aku tidak pernah merasakan kesepian karena ada kakek nenek yang menemani ketika orang tuaku bekerja. Apalagi ketika menginjak remaja, aku sudah mulai punya banyak teman dari berbagai latar belakang, agama, pun karakter. Aku tinggal di sebuah desa kecil bernama Ngombakan. Desaku  dikelilingi  area persawahan dengan mayoritas penduduknya adalah petani dan pembuat minuman tradisional. Ada 2 agama yang sangat menonjol di desaku yaitu Islam dan Hindu.  Di desaku ada sebuah Pura yang sering dikunjungi turis asing yaitu Sahasra Adhi Pura. Walaupun dengan 2 dominasi agama yang berbeda, masyarakat Desa Ngombakan hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati

Pada suatu hari ketika aku berusia sekitar 6 tahun, aku lupa kapan tepatnya, ada sebuah acara besar di desaku yang melibatkan perayaan dari 2 agama, yaitu Idul Fitri dan Diwali. Yang kuingat saat itu, masyarakat muslim di desaku merayakan Idul Fitri di masjid, sementara masyarakat Hindu merayakan Diwali di kuil mereka.  Hal yang sangat  menarik adalah ketika mereka saling mengundang satu sama lain untuk bergabung dalam perayaan mereka. Keluarga Muslim dengan senang hati mengunjungi kuil Hindu, dan sebaliknya, keluarga Hindu juga disambut kedatangannya oleh  tetangga mereka yang beragama Islam dengan hangat di masjid. Mereka tidak hanya berbagi makanan tapi juga cerita, dan tawa.  Tampak saling menghargai keunikan dari setiap upacara keagamaan masing-masing.

Untung tak dapat diraih, malang pun tak dapat ditolak. Suatu hari di tahun yang sama, 2016. Ayahku bilang  terjadi kebakaran sekolah di desaku. Rumah-rumah di sekitar sekolah turut hancur,  dan penghuni rumah pun tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka yang dilalap si jago merah. Walau peristiwa tersebut hanya melibatkan beberapa rumah, namun tragedi itu semakin memperkokoh ikatan kekeluargaan masyarakat Desa Ngombakan. Tanpa ragu masyarakat saling bahu membahu tanpa memandang agama atau keyakinan. Mereka membantu memadamkan api, memberikan tempat tinggal sementara, dan berbagi makanan dan pakaian dengan penuh kasih sayang.

Dalam keadaan genting seperti itu, perbedaan agama mereka tidak lagi menjadi hal yang dipertimbangkan. Mereka menyadari bahwa mereka semua adalah bagian dari satu komunitas yang sama, dan kekuatan mereka terletak dalam persatuan dan gotong royong.

Dari kejadian tragis itu, para keluarga-keluarga di desa Ngombakan itu belajar bahwa perbedaan agama tidak selalu menjadi penghalang. Sebaliknya, perbedaan itu seperti berbagai nada dalam sebuah simfoni indah; ketika digabungkan bersama, mereka menciptakan harmoni yang mempesona. Dalam kesulitan dan kesenangan, mereka menyadari bahwa kebersamaan dan saling menghormati adalah kunci untuk menjaga perdamaian dan persaudaraan di tengah-tengah perbedaan agama. Dan aku menjadi bagian di dalamnya. Aku muslim dan aku tidak takut dengan perbedaan.

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Ibu adalah Pahlawan Toleransi Keberagaman

Toleransi, adalah kata yang sering kita dengar akhir-akhir ini. Banyak kasus intoleransi yang terjadi, seperti pembullyan di sekolah, pelarangan beribadah oleh oknum-oknum tertentu, perbedaan pelayanan publik karena status client, dan masih banyak berita-berita yang membahas tentang tindakan intoleransi.

Secara tidak sadar, intoleransi terjadi di sekitar kita. Ada orang yang merasa iba atau menggebu-gebu merasa tidak adil atas berita intoleran yang terjadi di sosial media, tetapi secara tidak sadar mereka pun melakukan aksi intoleran juga. Contohnya, kasus yang baru hangat terjadi di awal tahun 2024 ini adalah pilpres. Beberapa pendukung paslon yang kalah merasa iba atau tidak terima karena merasa kekalahannya disebabkan oleh ketidak adilan hukum karena kedudukan salah satu paslon yang dianggap kuat karena punya “orang dalam”. Ya, mereka merasa menjadi korban tragedi intoleran hukum itu. Eits.. tapi coba deh lihat komen-komen pendukungnya, apakah mereka tidak sadar bahwa yang mereka lakukan merupakan tindakan intoleran juga? Contohnya, “Ahli neraka jahanam kau!”,”Tatapan mata licik sama persis dengan ketua KPU!” dan masih banyak lagi.

Bukannya saya menilai siapa yang salah siapa yang benar. Bukannya saya berarti timses dari salah satu paslon. Mari kita belajar dari realita yang sedang terjadi di Indonesia ini. Kemajuan teknologi mempunyai dampak yang luar biasa. Di sisi positifnya, informasi dapat menyebar dengan cepat. Bahkan jejak-jejak digital dapat membuka kasus besar seperti korupsi, pembullyan, penyalah gunaan kewenangan dan lain-lain. Dari segi negatifnya, banyak informasi yang tidak disaring di internet. Banyak bermunculan berita hoaks, penipuan dalam jual beli maupun kasus peminjaman online dan lain-lain. Selain itu komentar-komentar netizen yang tidak bijak pun banyak bermunculan di kolom-kolom komentar dan membuat perpecahan di media sosial.

Hubungan antara sosial media dan intoleran ini sangat erat kaitannya. Dengan maraknya beberapa kasus intoleran di media sosial ini hanya bisa disaring dengan pengetahuan yang luas dan pikiran yang positif oleh masing-masing orang. Pendidikan toleran pada dasarnya ada pada keluarga terutama pada IBU. Dikutip dari sebuah artikel penelitian oleh Rizki Nur Safitri (2020) mahasiswa UNESA yang mengangkat “Pengaruh Nilai Toleransi Keluarga dan Tingkat Pendidikan Ibu terhadap Karakter Toleransi Anak” menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan tingkat pendidikan ibu terhadap karakter toleransi anak dan nilai toleransi keluarga terhadap anak. Saya sangat setuju dengan pendapat ini. Saya akan mengambil kasus kecil saja yaitu pendidikan ibu saya di rumah.

Keluarga besar dari ibu saya sangat beragam dilihat dari latar belakang suku, budaya dan ekonomi. Ada yang beragama Hindu, Kristen, Katolik dan Islam. Ada yang berasal dari daerah Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Ada yang dari suku Sunda, Jawa dan Tionghoa. Tetapi entah kenapa keluarga tetap akur dengan perbedaan yang ada. Semua terjadi begitu damai, tanpa ada rasa permusuhan, iri dan dengki. Bahkan kita saling belajar dari keberagaman tersebut.

Ibu saya selalu mengajarkan bahwa harta bukanlah segalanya. Statemen yang sampai sekarang saya ingat adalah “Kenapa kita eman mengeluarkan uang? Apalagi untuk keluarga sendiri. Lagian, uang juga semakin dieman-eman semakin cepat habis.” Dari situlah muncul konsep di keluarga “Bantulah orang lain, kelak saat kamu susah, siapa tahu mereka adalah jalan keluarmu.”

Lho apa hubungannya dengan rasa toleran? Jangan salah, dengan konsep “tidak pelit” inilah secara tidak sadar muncul rasa toleran di keluarga kami. Di bulan Ramadhan ini, seperti biasa ibu saya menyiapkan sembako untuk keluarga dekat dan sesepuh di keluarga besar. Kaya-miskin, islam-non islam semuanya diberi sama rata. Meskipun kehidupan ekonomi keluarga saya tidak sekaya seperti bayangan anda sekalian, meskipun hanya satu kilo gula, kami akan berikan sebagai ucap syukur kepada yang Maha Kuasa dan mempererat tali silaturahmi antar sesama. Tak hanya keluarga, orang-orang yang bekerja dekat dengan keluarga kami pun juga dapat bagiannya. Tukang sampah, satpam, mbak yang sering membantu menyetrika baju keluarga kami, bahkan nenek-nenek lengganan kerupuk yang sering lewat depan rumah juga tidak tertinggal.

Konsep sedekah ibu saya pun saya terapkan ke dalam profesi saya sebagai seorang guru. Secara pribadi saya menilai, “Ilmu itu seperti sedekah, semakin banyak kamu menyebarkan ilmu, semakin kayalah ilmumu juga. Tetapi jika kamu pelit akan ilmu, ya ilmumu akan segitu-segitu aja, tidak bertambah.” Hal ini selalu saya sampaikan kepada semua siswa saya di kelas.

Hal ini menjadi konsep toleransi ilmu saya yang saya terapkan dalam pembelajaran saya. Saya memperbolehkan anak berlajar atau berdiskusi dengan teman saat pelajaran. Sambil saya mengajarkan bahwa teman itu tidak pandang bulu. Yang pintar mengajari yang kurang pintar. Yang pintar juga harus selalu rendah diri jika ada teman yang meminta bantuan.

Ada sebuah kejadian, ada salah satu siswa kelas saya di kelas 7, dia orangnya pendiam, dan tidak mudah bergaul dengan teman sekelasnya. Suatu ketika, saya memberikan tugas kepada seluruh siswa kemudian secara bergantian, satu per satu, saya berkeliling di kelas untuk mengoreksi jawaban mereka. Memang soal itu tidak mudah bagi siswa baru tingkat SMP, tapi saya sengaja memberikan soal itu untuk mengetes problem solving masing-masing siswa. Dan yang benar saja, hanya tiga siswa yang benar menjawab pertanyaan. Salah satunya siswa pendiam itu. Meskipun dia mendapatkan nilai sempurna, tetapi teman sebangku mendapatkan nilai jelek. Sudah saya prediksi, mereka akan mempunyai nilai yang berbeda dilihat dari salah satu karakter anak pendiam itu. Tapi siapa sangka, nilai yang tinggi diperolehnya. Uniknya, saya sengaja memarahi anak pendiam itu dengan berkata, “Kamu tuh gimana to, nilaimu aja 100 kok ga ngajarin temen sebangkunya. Mbok dibantu gitu.” Saya sengaja memarahi dia dengan kata-kata melambungkannya agar dia mempunyai sikap percaya diri. Siapa sangkat ternyata dia sebenarnya pintar. Responnya, tentu saja hanya tersenyum malu.

Dari situlah, disetiap pelajaran saya anak itu mulai percaya diri. Teman-temannya yang awalnya menjauhinya karena terlalu pendiam, mulai mendekatinya saat saya berikan tugas untuk minta diajarkan cara mengerjakannya. Saat awal ditanya suaranya kecil, sekarang tidak usah disuruh, dia akan maju ke dapan kelas mengerjakan soal.

Suatu ketika, ada seorang guru mengeluhkan anak itu karena di kelasnya hanya diam saja. Beliau juga bercerita bahwa anak itu termasuk berkebutuhan khusus berdasarkan tes dari puskesmas yang rutin dilakukan untuk siswa kelas 7. Tentu saya kaget, karena hal itu tidak terjadi di kelas saya. Saya ceritakan pengalaman saya itu kepada beliau, beliau pun juga terkejut dengan sikap anak itu di kelas saya. Kemudian ia mempraktekkan dengan cara yang sama dan akhirnya menunjukkan hasil yang baik pula.

Dari pengalaman itu, saya selalu menjaga sikap adil dan toleran saat pelajaran. Tidak pandang bulu, siapa saja mendapat perlakuan dan pembelajaran terbaik dari saya. Saya pun jarang marah ataupun sok menceramahi di kelas. Dengan nada yang tidak menceramahi, saya berusaha menggiring siswa atas apa yang dilakukannya benar atau salah. Saya bukan tipe guru yang mendengarkan segala keluh kesah siswa, bahkan saya tipe yang cuek dengan masalah pribadi mereka. Saya takutnya dengan mendengar keluh kesahnya, saya menjadi sosok guru yang pilih kasih. Saya hanya mengajarkan nilai-nilai kehudupan agar mereka dapat bertahan dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Toh, dengan kalian menceritakan masalah kalian kepada orang lain, belum tentu masalah itu terselaikan kan? Masalah akan selesai oleh pilihan dan keputusan yang kita ambil sendiri, bukan orang lain.

Siswa yang pintar atau kurang pintar, normal atau berkebutah khusus, baik atau nakal, semuanya sama sebagai seorang manusia. Semua mempunyai hak menuntut ilmu diluar bagaimana perilaku dan sikap mereka. Kelas akan nyaman dengan keberagaman yang ada apabila guru pun dapat menerima keberagaman itu dengan lapang, baik kelebihan maupun kekurangannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Safitri, Rizki Nur. 2020. Pengaruh Nilai Toleransi Keluarga dan Tingkat Pendidikan Ibu terhadap Karakter Toleransi Anak. http://ejournal.unesa.ac.id

Ditulis pada Ragam | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Kebersamaan Menuju Kerukunan

Hari Toleransi diperingati setiap tanggal 16 November. Pada hari Minggu,19 November 2023 PIA-PIR St. Kristoforus Paroki Wedi menggelar acara luar biasa yang melibatkan Pondok Pesantren, Pasraman, dan anak-anak sekolah minggu dari GKJ untuk merayakan semangat toleransi dan indahnya hidup bertoleransi.

Acara dimulai dengan sebuah flash mob yang berjudul “Geal-Geol”, di mana semua yang ada di lokasi, ikut  bergabung dalam keseruan flash mob tersebut. Kemudian, dibuka dengan doa pembuka yang disampaikan secara bergantian oleh tokoh-tokoh agama dari berbagai kepercayaan. Mulai dari Romo AG Luhur Prihadi yang mewakili agama Katolik, Bapak Kyai Muhammad Hidayatullah Susilo Eko Pramono dari Ponpes yang mewakili agama Islam, Bapak Mangku Purwadi yang mewakili agama Hindu, serta Diaken Sutaya dari GKJ Wedi yang mewakili agama Kristen.

Suasana semakin terasa indah dengan penerbangan burung Merpati sebagai simbol perdamaian dan persatuan Indonesia. Burung-burung itu diterbangkan oleh para tokoh agama yang hadir, meliputi Romo, Mangku, Kyai, dan Diaken, sebagai wujud dari semangat kebersamaan. Sambil menikmati snack yang disediakan, ada berbagai tampilan khas dari berbagai agama yang sangat menarik, mulai dari gerak lagu dari PIA Kristoforus Wedi dengan judul “Seperti Rusa Rindu Air” dan “Filipi ke Galilea”. Selanjutnya, tampilan “Bang Ceng-ceng” dari Pasraman Saraswati yang bermakna “Tentang realita saat ini. Nusantara yang indah dan kaya raya bukanlah milik satu golongan, semua yang lahir dan hidup di Nusantara patut menikmati keindahannya”

Peserta dari Pondok Pesantren juga ikut memeriahkan acara dengan penampilan Hadroh dan Sholawatan yang sangat memukau. Tak ketinggalan, PIR St. Kristoforus juga ikut memeriahkan acara dengan flash mob dan pantun yang menggambarkan perbedaan dan toleransi. Terakhir, pasraman Ganesha Putra memukau penonton dengan dua tarian indah, yakni “Hindu Itu Indah” dan “Tegal Toleransi”.

Ketika jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, saatnya umat Katolik untuk berdoa Angelus (Malaikat Tuhan). Doa Angelus diikuti dengan khidmat oleh semua peserta yang beragama Katolik. Sedangkan yang beragama lain tidak keberatan dan sangat menghormati. Setelah doa Angelus dilanjutkan dengan penampilan dari Misdinar Paroki wedi yaitu “Fragmen Jatuh Dalam Dosa”. Juga ada game yang diikuti semua peserta yang hadir dari berbagai agama, game dimainkan dengan lagu, siapa yang mendapatkan barang saat lagu berhenti nanti akan maju untuk memperkenalkan diri dan asal tempat tinggalnya. Makan siang dilakukan secara bersama-sama dengan diiringi lagu “Salam Toleransi” ciptaan dari Bapak Petrus. Suasana sangat indah, kita saling membantu untuk menyiapkan makanan dan membantu anak-anak yang masih kecil untuk membawakan dan menyuapi.

 Sebelum acara berakhir ada penyerahan kenang-kenangan atas berlangsungnya acara Hari Toleransi. Kenang-kenangan berupa vandel, vandel tersebut dari Depag Kemenag Klaten pasti akan menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagi para peserta dan masing-masing pemuka agama yang menerimanya. Diakhiri dengan flash mob “Nandhur Rukun Bakale Sugih Sedulur” menambah semangat persatuan dan indahnya bertoleransi kepada sesama teman yang berbeda agama. 

Acara tersebut sangat mengajarkan semua peserta yang hadir bahwa hidup itu akan selalu terus berdampingan dengan orang-orang yang berbeda, seperti berbeda agama, ras, suku, adat istiadat. Suasana kebersamaan, keberagaman dan hangatnya toleransi sangat terasa indah. Mengenalkan dan memperkenalkan hal baru kepada anak mengenai budaya dan kebiasaan agama lain,  mengajarkan toleransi sejak dini kepada anak agar terjalinnya silahturahmi yang baik antaragama dan tidak terjadi konflik yang memecah belahkan bangsa Indonesia.

 Kehidupan yang diwarnai oleh pelangi warna-warni keberagaman, mengajarkan kepada kita bahwa dalam perbedaan, terhamparlah keindahan yang tak tertandingi, dan dalam toleransi, terwujudlah kedamaian yang abadi. Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini, sikap dan perilaku toleransi terhadap keberagaman terus diterapkan oleh semua masyarakat.

Saya harap kegiatan toleransi yang mempertemukan dan memperkenalkan ciri khas dari berbagai agama, budaya, dan adat istiadat terus dilakukan di semua daerah yang ada di Indonesia, agar tetap mewujudkan persatuan dan kesatuan tanpa membedakan latar belakang dan meminimalisir terjadinya konflik, serta Bhineka Tunggal Ika semboyan negara kita tetap terjaga.

Ditulis pada Ragam | Tag , | Tinggalkan komentar

Harmoni Toleransi: Nyadran Tradisi Bersama Menuju Ramadan

Beberapa tahun lalu sebelum corona mewabah di Indonesia, tepatnya di tahun 2019, Desa saya menggelar acara Nyadran. Makna Sadranan/Nyadran sendiri adalah guna menyambut bulan puasa dan mengirim doa kepada leluhur yang telah tiada. Acara itu diikuti oleh 4 dukuh yang terdapat di 2 desa dan dihadiri oleh banyak warga lintas agama. Nyadran di daerah saya identik dengan kenduri, namun waktu itu para pemuda desa membuat acara semakin meriah dengan mengundang penyanyi beserta elektune nya. 

Acara dimulai dengan para warga yang datang berkunjung untuk nyekar para leluhur, sembari membawa makanan untuk acara kenduri. Setelah para warga nyekar, mereka mencari tempat duduk untuk mengikuti acara nyadran. Nyadran dimulai ketika arak arakan gunungan berisi aneka ragam pangan seperti buah, sayur, dan lauk seperti tempe dan gembus. Gunungan di bawa oleh pemuda Karang Taruna desa saya. Arak-arakan gunungan dilakukan dengan meriah dan diiringin irama gamelan oleh bapak-bapak desa saya. Ada 2 pemuda yang menari mengiringi jalannya Gunungan. 

Arak-arakan juga membawa sebuah Jodang yang berisi masakan jawa, seperti gudangan, tempe goreng, kerupuk, dan beberapa jajanan pasar. Sajian es pun dibuat untuk menuntaskan dahaga para pemuda dan warga yang ingin mengambil makanan di jodang. Semua masakan itu dimasak oleh organisasi kewanitaan ibu-ibu di desa saya. Saat proses memasak juga para ibu-ibu sangat menikmati dan senang melakoni karena dilakukan bersama-sama.

Sebelum prosesi doa dimulai, terdapat beberapa sambutan, uniknya pada kesempatan tersebut para panitia mengundang 2 kepala desa sebagai salah satu tamu penting. Hal itu dilakukan karena tradisi Nyadran diikuti oleh 2 desa yang berkumpul menjadi 1 di desa saya. Kedua Kepala Desa mengapresiasi jalannya kegiatan ini, karena banyaknya keberagaman acara ini dapat berlangsung dengan lancar, penuh suka cita, dan dapat menanamkan rasa toleransi antar warga.

Singkatnya saat memasuki prosesi doa bersama. Walaupun doa hanya dipimpin oleh pemuka agama muslim, namun umat agama lain tetap berdoa dengan hikmat sesuai kepercayaan dan keyakinannya masing-masing. Tidak terjadi kericuhan atau diskriminasi dalam prosesi doa bersama ini. 

Setelah doa selesai, kami semua menyerbu gunungan yang sudah ditempatkan di depan makam. Kami sangat antusias mencabut ragam pangan yang ada pada gunungan. Selain itu, orang tua kami juga saling bertukar menu makanan, tanpa melihat dan membeda bedakan orang yang mendapat bagian itu. 

      Ketika gunungan sudah habis, kami para remaja pun menyantap makanan yang kami dapat dari berbagai warga yang membawa kenduri. Kami senang karena bisa berbair dengan remaja lain tanpa memandang latar belakang keluarga, ras, agama dan suku. Salah satu teman kami pun ada yang berasal dari luar Jawa. Hal ini menjadi sarana kita untuk saling tanya jawab mengenai keberagaman yang ada. 

Sadranan dilanjutkan dengan acara musik dangdutan. Para pemuda karang Taruna baik laki-laki maupun perempuan ikut ber-euforia dan berdendang menikmati irama lagu dangdut. Para orang tua pun tak mau kalah, beberapa menyumbangkan sebuah lagu untuk memeriahkan hiburan pada saat itu. 

Acara berlangsung dengan kondusif dan aman. Walau diikuti oleh 4 dukuh dan berbagai warga lintas agama, kami semua menanamkan rasa toleransi dan saling menghargai perbedaan tersebut. Momen ini juga menjadi lahan untuk kami menjalin interaksi yang baik antar sesama warga dan membangun tali persaudaraan 2 desa yang berbeda. 

Ditulis pada Ragam | Tag , , | Tinggalkan komentar

“Berkat Persaudaraan: Saat Umat Beragama Bersatu dalam Kasih dan Toleransi”

Pada Rabu, 05 April 2023, di desa saya, Desa Kaporan, Kelurahan Pasung, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, melakukan kegiatan yang mempererat tali persaudaraan antarwarga. Dalam semangat toleransi dan saling menghormati serta menghargai antarumat beragama, umat Katolik di desa saya memutuskan untuk memberikan makanan atau takjil berbuka puasa kepada umat muslim yang sedang menjalankan puasa Ramadan.

      Biasanya kegiatan ini sudah diatur oleh umat muslim. Mereka saling berbagi tugas untuk menyiapkan makanan buka puasa, namun kami umat Katolik memilih untuk mengikutsertakan diri terlibat dalam menyiapkan makanan buka puasa. Kegiatan ini kami lakukan sebagai upaya menjaga kerukunan antarumat beragama di tengah banyaknya konflik yang timbul akibat perbedaan agama.

      Kegiatan tersebut diwakili oleh beberapa umat Katolik. Perwakilan dari umat Katolik memberikan makanan berupa 40 porsi bakso yang di jual oleh tetangga di desa kami sendiri. Ketika waktu berbuka puasa tiba, umat Katolik menyiapkan makanan dengan penuh kasih sayang dan membantu melayani umat muslim yang akan berbuka puasa. Suasana saat berbuka puasa di masjid sangat positif, penuh cinta, dan kebahagiaan saat umat beragama saling berbagi makanan dan menjalin kebersamaan.

      Kegiatan tersebut juga menjadi momentum yang indah dan membanggakan bagi desa kami. Hal ini dapat menunjukkan kepada sesama bahwa meskipun berbeda keyakinan, kita semua dapat hidup berdampingan dengan damai dan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain, kami juga merasa bersyukur bahwa makanan buka puasa ini dapat diterima dengan baik dan bermanfaat bagi warga sekitar. 

      Pada perayaan Idul Adha berikutnya, umat Muslim di Desa Kaporan memutuskan untuk mengungkapkan rasa terima kasih dan toleransi mereka kepada umat Katolik dengan cara yang sama. Mereka memutuskan untuk membagikan daging kurban kepada tetangga-tetangga yang beragama Katolik. Luar biasa! Berangkat dari hal baik, pasti juga akan mendapat kebaikan pula. Ketika hari perayaan tiba, umat Muslim mempersiapkan daging kurban untuk dibagikan kepada umat Katolik di desa mereka. Mereka merasa senang dapat berbagi berkah Idul Adha untuk semua warga tanpa memandang suatu perbedaan.

      Ketika umat Katolik menerima kedatangan umat Muslim yang membawa daging kurban, mereka menerima dengan tangan terbuka, mengucapkan terima kasih atas pemberian daging kurban, dan bersyukur karena walaupun tidak merayakan tetapi mereka juga mendapat berkat dari momen ini. Daging memang bisa dibeli sendiri tanpa menunggu pemberian, tetapi kerukunan dan saling dukung inilah yang membuat daging tersebut menjadi “MAHAL”.

      Perayaan Idul Adha kali ini juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antarumat beragama di Desa Kaporan. Momen berbagi daging kurban ini tidak hanya menjadi tanda penghargaan atas kerjasama lintas agama, tetapi juga sebagai simbol persatuan dan harmoni di tengah-tengah keberagaman yang ada di desa tersebut.

Setelah perayaan Idul Adha selesai, warga Desa Kaporan berusaha untuk terus memelihara semangat toleransi, saling menghormati, dan kerjasama yang telah mereka bangun. Dengan bekerja sama dan saling mendukung, mereka dapat menciptakan lingkungan yang damai dan harmonis bagi semua warga Desa Kaporan, tanpa memandang perbedaan agama atau kepercayaan.

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

PIKSON BUKAN ANAK NAKAL

Pikson remaja asal Papua memiliki perawakan tinggi, berambut keriting. Penampilannya sama sekali tidak rapi, wajahnya terlihat tegas, dan keras. Tatapan matanya tajam seakan ingin menerkam mangsa.

Awal mula saya kenal pikson itu di depan rumah Pikson. Kebetulan dia adalah tetangga baru di desaku. Awalnya aku merasa takut untuk berkenalan. Berbanding terbalik dengan Pikson perawakanku kecil dan aku memiliki wajah yang manis. Aku takut bila ada penolakan darinya.

Aku memberanikan diri menyapa dan berkenalan. Rasanya kurang etis bila ada tetangga baru kita hanya cuek saja. Ternyata apa yang aku pikirkan tentang Pikson tidak lah benar. Ia menyambutku hangat dengan Bahasa khasnya.

 Aku merasa tidak enak dengan Pikson karena berprasangka terhadapnya. Hanya karena penampilan aku beranggapan bahwa Pikson adalah anak yang nakal. Lantas aku berusaha untuk jujur dan meminta maaf.

Pikson tidak keberatan denga napa yang telah aku lakukan terhadapnya. Kemungkinan ia sudah memahami. Aku pun tidak membahasnya lagi agar dalam berkomunikasi, kami lebih akrab.

Sangat kotras dengan penampilannya. Pikson ternyata memiliki sifat baik hati dan tidak pelit. Ia sering berbagi makanan. Meskipun bahasanya keras tetapi kemanuasiannya tidak diragukan.

Pada waktu itu, aku dalam kondisi yang gabut. Pikson mempunyai ide untuk pergi berpetualang. Lebih tepatnya berburu. Kami berburu tidak menggunakan senapan. Aku yang sama sekali tidak memiliki pengalaman berburu, banyak diajari Pikson. Ia mengajarkan berburu yang benar tanpa harus rusuh. Ia mengajariku cara memasang perangkap, memancing hewan darat memakai suara samaran. Sangat kreatif. Aku sangat berkesan.

Azan berkumandang. Waktunya salat duhur. Aku memutuskan untuk pulang duluan. Baru sadar ternyata Pikson mengikutiku. Ia ingin menungguku salah duhur sambil menghabiskan jambu yang dimakannya sekaligus mengambil senar.

Sesampai di rumah aku bergegas mengambil air wudhu dan sarung untuk menjalankan salat duhur. Setetelah itu, saya menghampiri Pikson untuk melanjutkan berburu. Kami melihat perangkap hewan yang tadi dipasang. Ternyata perangkap itu belum mengenai mangsanya.

Saya merasa kecewa. Berbeda dengan Pikson, ia lebih terlihat biasa saja, seakan sudah terbiasa. Ia berjiwa besar dan sangat bijaksana. Ia mengajak pulang tanpa ada raut penyesalan.

Hari ke hari kita bermain bersama. Meskipun aku Jawa, ia Papua, kami tidak pernah dibuat pusing karena masalah. Ia sangat menghargaiku. Aku pun demikian. Ini pertama kalinya aku berkawan dengan orang Papua. Penampilan fisik tidak dapat menjadi ukuran sifat seseorang.

Pikson membuka pengetahuanku bahwa orang Papua tidak semuanya kasar. Ia justru banyak mengalah dan lebih dewasa. Kini aku tidak bisa bermain dengan Pikson lagi. Pikson Kembali ke tanah Papua bersama keluarganya. Persahabatanku dengan Pikson sangat bermakna.

Persahabatan kami masih berlanjut hingga saat ini meskipun hanya lewat udara. Kita tidak bisa menghakimi karakter orang dari asal daerah, warna kulit, cara berpakaian, dan gaya bicara.

Nama : Maulana Zuhad Firmansyah

Asal Sekolah : SMKN 3 KLATEN

Kelas : X Perhotelan 2

Email : yuhadfirmansyah@gmail.com

 

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Exploring Virtual Medical Assistants in Santa Cruz

 

What is a Virtual Medical Assistant ?

A Virtual Medical Assistant in Santa Cruz is a digital platform or service designed to provide medical support and assistance to patients in the Santa Cruz area remotely. These assistants leverage technology to offer various healthcare services without the need for in-person visits. Here’s a closer look at what they entail:

1. Roles and Responsibilities

  • Appointment Scheduling : Virtual Medical Assistants can help patients book appointments with healthcare providers conveniently.

  • Health Monitoring : They assist in monitoring and tracking patients’ health conditions, such as blood pressure, glucose levels, or heart rate, often through connected devices.

  • Medication Reminders : These assistants send reminders to patients for medication doses and refills, ensuring compliance with treatment plans.

  • Patient Education : Providing information about health conditions, medications, and lifestyle changes is another crucial role of Virtual Medical Assistants.

2. Features and Benefits

  • Convenience : Patients in Santa Cruz can access medical support from anywhere with an internet connection, saving travel time and hassle.

  • Improved Access to Care : Especially beneficial for those with mobility issues or living in remote areas where access to healthcare facilities is limited.

  • Timely Intervention : Through continuous monitoring, Virtual Medical Assistants can detect early signs of health issues, enabling timely interventions.

  • Cost-Effectiveness : Reduced need for in-person visits can lead to cost savings for both patients and healthcare providers.

3. How They Work

  • Online Platforms : Patients can access Virtual Medical Assistants through online platforms or mobile applications.

  • Secure Communication : Communication between the patient and the assistant is usually secure and compliant with healthcare privacy regulations like HIPAA.

  • Integration with Healthcare Systems : Some platforms integrate with existing healthcare systems, allowing seamless sharing of patient data with doctors.

4. Examples of Virtual Medical Assistant Platforms

  • HealthTap : Offers virtual consultations, prescription refills, and health advice.

  • K Health : Provides AI-powered symptom checking and virtual doctor consultations.

  • 98point6 : Offers text-based consultations with board-certified physicians.

In conclusion

Virtual Medical Assistants in Santa Cruz bring the convenience of healthcare to patients’ fingertips. From scheduling appointments to monitoring health and providing education, these platforms play a vital role in improving access to care and empowering patients to take control of their health.

 

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Stereotip SMK dan SMA

Stereotip merupakan sekumpulan informasi baik positif maupun negatif yang dipercaya individu terkait karakteristik individu lain berdasarkan kelompoknya. Sedangkan prasangka adalah keyakinan negatif terhadap karakteristik individu lain dalam suatu kelompok berdasarkan kelompoknya (Baron & Branscombe, 2018). Stereotip dan prasangka banyak digunakan oleh manusia untuk cognitive misers atau menyelesaikan masalah dengan cepat, sehingga dapat mengurangi beban pikiran dan dapat menggunakan pikirannya untuk hal yang lain (Baron & Branscombe, 2018).

Selama ini stereotip terhadap anak SMK selalu menafsirkan bahwa mereka adalah seorang pelajar yang berkecimpung dengan dunia teknis, sedikit di akademis, tidak mengejar ijazah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu kuliah. Akan tetapi dididik untuk memiliki kemampuan standar industri. Mereka dicetak agar siap untuk mengawali sebuah pekerjaan, baik berwirausaha ataupun bekerja di dunia industri (DU/DI). 

Banyak yang mencibir kalau anak SMK itu sekolah menengah ke bawah, paling lulus sekolah hanya kerja di pabrik, itupun kalau diterima. Bahkan yang paling parah paling juga tidak akan lulus sekolah karna “hamidun” (hamil duluan). Apalagi saya yang masuk di jurusan Kecantikan. Itu cibirannya mantabbb bangettt, anak Kecantikan itu selalu dibanding bandingkan dengan jurusan lain, kalau masuk di Kecantikan pasti akan dicap sebagai anak yang sok cantik, pakai make up, nail art, warnain rambut, ganjen lah, centil lah, pokok nya yang jelek-jelek. Tapi sebenarnya tidak, buktinya saya fine saja masuk di SMK, tidak ada masalah. Akan tetapi masih sangat banyak pada pandangan masyarakat yang belum bisa memahami akan hal tersebut.

Kebanyakan masyarakat berpandangan bahwa jika masuk ke SMK itu sulit untuk kuliah, karena kebanyakan yang diajarkan adalah praktik, sehingga saat SNMPTN/SBM harus belajar ekstra karna hal-hal yang diujikan banyak yang di luar materi mereka sehari-hari, masyarakat takut jika mereka gagal bersaing dengan SMA yang waktu belajarnya memang full dengan materi SNM/SBM. Tapi kenyataannya juga banyak siswa yang kuliah dari lulusan SMK. 

Dan sebaliknya masyarakat banyak yang berpandangan bahwa jika memasukkan anaknya ke SMA maka akan lebih mudah untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dari pada masuk di SMK. Seperti pandangan tetangga saya, ketika pendaftaran PPDB saya ditanya oleh tetangga saya.

“Dinn, mau ngelanjutin di mana sekolahnya? pasti SMA yahh?”

“Engga kok Mb saya mau melanjutkan di SMK.” Jawab saya.

 “Loh apa engga mau kuliah to kamu, Din?” 

“Mb bukannya kalau mau kuliah itu engga harus dari lulusan SMA yah?” 

“Yaaa, tapi kannn kalau nerusin di SMA lebih banyak peluang buat bisa kuliahnya, soalnya disana lebih banyak di ajarkan teori dari pada praktiknya”.

“Iya Mb saya tahu kok kalau hal itu, akan tetapi tidak menjadikan masalah, tidak menjadikan penghalang bagi siswa yang lulusan SMK untuk melanjutkan kuliah, buktinya saja banyak alumni SMK 3 yang kuliah, membuka butik, menjadi seorang MUA, kerja di Jepang, ada juga murid dari sana yang sudah menjadi guru disana, dan Ibu Bupati Klaten, Ibu Sri Mulyani dapat membuktikan bahwa lulusan SMK 3 Klaten bisa kuliah.”

Pada 1991 sampai 1994, Ibu Sri Mulyani menempuh pendidikan di Sekolah Kepribadian Center. Setelah itu beliau melanjutkan sekolah di SMK Negeri 3 Klaten pada tahun 1994 – 1997, Ibu Sri Mulyani melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Widya Dharma Klaten. Beliau membuktikan bahwa lulusan SMK tidak menjadikan penghalang untuk bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Memang kebanyakan yang melanjutkan kuliah adalah lulusan SMA, karena mereka dibidik untuk melanjutkan kuliah. Tapi dari semua pendapat masyarakat tadi, kita juga harus memahami jikalau SMK dan SMA itu memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. 

Kelebihan SMK: 

Menguasai Keahlian Jurusan,

Lebih Mengutamakan Pelajaran Praktik,

Merasakan Praktik Kerja di Dudi secara langsung,

Siap Bekerja Setelah lulus SMK, dan 

Lebih Mudah Membuka Peluang Usaha. 

     Kelebihan SMA: 

Materi yang diberikan lebih luas,

Belajar lebih disiplin,

Potensi penerimaan PTN lebih tinggi, 

Memiliki peluang lintas jurusan, dan 

Potensi pengembangan akademik lebih unggul.  

Nah dari kelebihan dari masing-masing sekolah di atas, saya yang sekolah di SMK ingin memotivasi masyarakat semua, bahwa lulusan SMK itu juga bisa kuliah. Saya harus menunjukkan kalau SMK itu bisa dan SMK itu hebat. Saya juga berharap kalau masyarakat bisa menyadari bahwa di setiap sekolah pasti memiliki keunikannya masing-masing. Masyarakat harus saling menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap perbedaan yang ada, serta dapat menanamkan rasa toleransi sejak dini. Berbeda pendapat itu wajar, yang tidak wajar itu jika tidak menghargai perbedaan tersebut. Mari kita saling menghargai.

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Persahabatan Minang-Jawa

Aku Florentina Chelsea atau kerap disapa dengan nama Chelsea. Aku memiliki sahabat bernama Aida. Ia seorang muslim yang berasal dari Suku Minang.

Kami berkawan sejak kecil. Namun saat ini kami terpisah oleh jarak. Ia pindah ke Jakarta mengikuti orang tua yang menjalankan dinas. Meskipun kami berjauhan, kami masih sering berkomunikasi melalui WhatsApp .

Bagiku Aida adalah sahabat yang baik jujur, rendah hati, humoris, pemaaf, ramah, dan tidak sombong. Dia juga memiliki sikap toleransi yang luar biasa. Meskipun seorang muslim, ia tidak pernah takut bersahabat dengan saya. Padahal pada waktu itu kebanyakan teman seusiaku tidak mau berkawan dengan ku karena aku seorang kristiani.

Aida selalu memberi petuah kepada teman-teman agar tidak membeda-bedakan dalam pertemanan. Berawal dari itu, saat ini aku memiliki banyak teman tanpa melihat agamaku.

Persahabatan kami tidak hanya berbeda agama. Kami juga berbeda agama. Aku Jawa, dia Minang. Aku sangat ingat tradisi keluarga Aida menjelang bulan Ramadhan. Mereka melakukan tradisi makan bajamba dan mandi balimau.

Aku sangat ingin mengetahui tradisi itu karena setahuku kalau di Jawa sebelum bulan Ramadhan akan diadakan nyadran” sebagai penghormatan untuk leluhur. Aku minta dijelaskan tentang tradisi yang secara turun-temurun itu dilakukan. Aida menjelaskan maksud, tata cara, dan makna tradisi itu dengan senang hati. Tentu saja berdasar sudut pandang budaya dan sukunya.

Tradisi makan bajamba adalah tradisi makan yang dilakukan oleh masyarakat suku Minangkabau dengan cara duduk bersama-sama dalam suatu ruangan atau tempat yang telah ditentukan. Kemudian makan bajamba dilaksanakan secara bersama-sama. Makan bajamba bagi laki-laki duduk bersila di atas lantai mengelilingi talam (biasanya juga menggunakan daun pisang) dan saling berhadapan. Bagi perempuan duduk bersimpuh, juga saling berhadapan. Makan bajamba paling banyak adalah 6 orang di tiap kelompok.

Mandi balimau dilakukan selang satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan. Makna tradisi ini adalah untuk kebersihan hati dan tubuh manusia dalam rangka mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah puasa. Dalam tradisi ini mandi harus ditambah dengan ramuan alami beraroma wangi daun pandan, bunga kenanga, dan akar tanaman gembelu.

 

 

Setelah aku perhatikan ternyata mandi balimau sama dengan padusan” yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Hanya saja dalam rutinitas padusan” tidak ditambah ramuan alami. Cukup menggunakan shampoo. Namun demikian maknanya sama yitu mempersiapan diri untuk melaksanakan ibadah puasa. Hal ini menambah kekagumanku terhadap keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Logat bahasa kami yang berbeda turut mewarnai persahabatan lintas suku dan budaya. Tidak jarang kami tertawa. Bagi Aida Bahasa Jawa itu terdengar lucu. Begitupun bagi saya, logat Bahasa Minang juga terdengar unik.

Secara personal perbedaan kami juga sangat nyata. Saya pecinta makanan asin dan pedas. Sedangkan Aida suka makan makanan yang manis. Saya menyukai suasana di malam hari. Sementara Aida menyukai susasan pagi hari. Perbedaan-perbedaan inilah yang membuat kami saling memahami dan menerima. Persahabatan kami tetap solid dan kompak.

Persahabatan kami dilandasi kejujuran. Apabila diantara kami ada yang salah, kami tidak merasa segan untuk meminta maaf agar kesalahpahaman tidak berlarut-larut dan berujung konflik. Aku semakin salut dengan Aida. Ia dibesarkan oleh keluarga muslim yang taat agama. Akan tetapi, ia tidak pernah dilarang berteman denganku.

Gantungan kunci dan boneka beruang mini adalah tanda persahabatan kami. Ketika Aida dan keluarga memutuskan untuk pindah ke Jakarta, aku memberinya gantungan kunci. Gantungan kunci ini kubuat sendiri. Aida memberiku boneka beruang mini. Sampai saat ini masih kami simpan untuk mengobati rasa rindu.

Meskipun jauh, kami masih saling memberi semangat. Aida tidak enggan memberiku ucapan selamat merayakan hari natal meskipun dia seorang muslim yang taat. Aku pun turut mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Kami lahir dari latar berbeda. Akan tetapi, kami tidak dipisahkan karena perbedaan.

Ditulis pada Ragam | Tag , | Tinggalkan komentar

Persahabatan Jawa-Minang

Aku Florentina Chelsea atau kerap disapa dengan nama Chelsea. Aku memiliki sahabat bernama Aida. Ia seorang muslim yang berasal dari Suku Minang.

Kami berkawan sejak kecil. Namun saat ini kami terpisah oleh jarak. Ia pindah ke Jakarta mengikuti orang tua yang menjalankan dinas. Meskipun kami berjauhan, kami masih sering berkomunikasi melalui WhatsApp .

Bagiku Aida adalah sahabat yang baik jujur, rendah hati, humoris, pemaaf, ramah, dan tidak sombong. Dia juga memiliki sikap toleransi yang luar biasa. Meskipun seorang muslim, ia tidak pernah takut bersahabat dengan saya. Padahal pada waktu itu kebanyakan teman seusiaku tidak mau berkawan dengan ku karena aku seorang kristiani.

Aida selalu memberi petuah kepada teman-teman agar tidak membeda-bedakan dalam pertemanan. Berawal dari itu, saat ini aku memiliki banyak teman tanpa melihat agamaku.

Persahabatan kami tidak hanya berbeda agama. Kami juga berbeda agama. Aku Jawa, dia Minang. Aku sangat ingat tradisi keluarga Aida menjelang bulan Ramadhan. Mereka melakukan tradisi makan bajamba dan mandi balimau.

Aku sangat ingin mengetahui tradisi itu karena setahuku kalau di Jawa sebelum bulan Ramadhan akan diadakan nyadran” sebagai penghormatan untuk leluhur. Aku minta dijelaskan tentang tradisi yang secara turun-temurun itu dilakukan. Aida menjelaskan maksud, tata cara, dan makna tradisi itu dengan senang hati. Tentu saja berdasar sudut pandang budaya dan sukunya.

Tradisi makan bajamba adalah tradisi makan yang dilakukan oleh masyarakat suku Minangkabau dengan cara duduk bersama-sama dalam suatu ruangan atau tempat yang telah ditentukan. Kemudian makan bajamba dilaksanakan secara bersama-sama. Makan bajamba bagi laki-laki duduk bersila di atas lantai mengelilingi talam (biasanya juga menggunakan daun pisang) dan saling berhadapan. Bagi perempuan duduk bersimpuh, juga saling berhadapan. Makan bajamba paling banyak adalah 6 orang di tiap kelompok.

Mandi balimau dilakukan selang satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan. Makna tradisi ini adalah untuk kebersihan hati dan tubuh manusia dalam rangka mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah puasa. Dalam tradisi ini mandi harus ditambah dengan ramuan alami beraroma wangi daun pandan, bunga kenanga, dan akar tanaman gembelu.

 

 

Setelah aku perhatikan ternyata mandi balimau sama dengan padusan” yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Hanya saja dalam rutinitas padusan” tidak ditambah ramuan alami. Cukup menggunakan shampoo. Namun demikian maknanya sama yitu mempersiapan diri untuk melaksanakan ibadah puasa. Hal ini menambah kekagumanku terhadap keragaman budaya yang ada di Indonesia.

Logat bahasa kami yang berbeda turut mewarnai persahabatan lintas suku dan budaya. Tidak jarang kami tertawa. Bagi Aida Bahasa Jawa itu terdengar lucu. Begitupun bagi saya, logat Bahasa Minang juga terdengar unik.

Secara personal perbedaan kami juga sangat nyata. Saya pecinta makanan asin dan pedas. Sedangkan Aida suka makan makanan yang manis. Saya menyukai suasana di malam hari. Sementara Aida menyukai susasan pagi hari. Perbedaan-perbedaan inilah yang membuat kami saling memahami dan menerima. Persahabatan kami tetap solid dan kompak.

Persahabatan kami dilandasi kejujuran. Apabila diantara kami ada yang salah, kami tidak merasa segan untuk meminta maaf agar kesalahpahaman tidak berlarut-larut dan berujung konflik. Aku semakin salut dengan Aida. Ia dibesarkan oleh keluarga muslim yang taat agama. Akan tetapi, ia tidak pernah dilarang berteman denganku.

Gantungan kunci dan boneka beruang mini adalah tanda persahabatan kami. Ketika Aida dan keluarga memutuskan untuk pindah ke Jakarta, aku memberinya gantungan kunci. Gantungan kunci ini kubuat sendiri. Aida memberiku boneka beruang mini. Sampai saat ini masih kami simpan untuk mengobati rasa rindu.

Meskipun jauh, kami masih saling memberi semangat. Aida tidak enggan memberiku ucapan selamat merayakan hari natal meskipun dia seorang muslim yang taat. Aku pun turut mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa. Kami lahir dari latar berbeda. Akan tetapi, kami tidak dipisahkan karena perbedaan.

Ditulis pada Ragam | Tag , , | Tinggalkan komentar

TETESAN TOLERANSI

Hai perkenalkan nama saya nana, saya ingin bercerita sedikit tentang kehidupan saya di antara 2 keluarga yang berbeda agama yaitu agama Islam dan Kristen. Dulu ibu saya beragama Islam tetapi setelah itu beliau memilih untuk menganut keyakinan agama Kristen karena akan menikah. Saat itu ibu saya beragama Islam kemudian menikah dengan bapak saya yang beragama kristen. Pada zaman ibu dan bapak saya melakukan pernikahan beda agama itu diperbolehkan. Setelah orang tua saya menikah, ibu saya memantapkan hati untuk berpindah ke agama ke Kristen. 

Orang tua saya sama-sama 7 bersaudara. Ibu saya anak ke-2 dari 7 bersaudara, sedangkan bapak saya anak ke-4 dari 7 bersaudara. Orang tua saya dikaruniai 3 anak, 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, yaitu saya. 

Waktu saya kecil saya belum menyadari bahwa keluarga antara orang tua saya itu berbeda agama. Sebenernya saya juga sering sekali main dikeluarga ibu saya, dan saya juga sering melihat tante saya sedang sholat. Tapi disitu saya masih anak kecil, jadi bertanya-tanya “ini tante baru ngapain si” tidak taulah saya, saya merasa diri saya yang dulu sangat tidak tau apa-apa. Tetapi setelah saya beranjak remaja, saya yang sudah bersekolah dijenjang SD, mendapatkan pelajaran agama dan mempunyai teman yang berbeda agama. Seperti islam, katholik dan Hindu. 

Dari situ saya mulai menyadari bahwa keluarga saya yang dari pihak orang tua saya itu berbeda. Keluarga ibu yang meyakini agama Islam dan keluarga bapak yang meyakini agama kristen. Saya juga tahu dari acara-acara besar seperti bulan puasa, lebaran, dan natal yang dilakukan keluarga ibu dan bapak. 

Walau keluargaku dan keluarga dari pihak bapak berbeda keyakinan dengan keluarga ibu saya, itu bukan menjadikan penghalang dan masalah bagi kita untuk saling mendekatkan diri. Kita saling menghargai dan menghormati satu sama lain walau berbeda keyakinan.

     Pada waktu hari besar agama Islam (Hari Raya Idul Fitri) saya dan keluarga saya ikut keluarga ibu saya untuk merayakannya. Pada Hari Raya Idul Fitri pada tahun lalu adanya virus corona di Indonesia. Pada bulan juni tahun 2019, tepatnya tanggal berapa saya lupa.

Hari pertama pada Hari Raya Idul Fitri, suasana pagi hari yang sangat menyejukkan. Matahari yang menyebarkan sinarnya seakan ingin berbagi sebuah kebahagiaan yang membuat pagi kami menjadi sangat indah, kami sekeluarga besar sudah mulai berkumpul di teras rumah kakek saya dengan penampilan rapi. Yang perempuan memakai mukena dan yang laki-laki memakai baju koko dan sarung. Mereka mau menunaikan sholat Ied yang diadakan di tempat yang sangat luas. Saat mereka menunaikan sholat Ied, saya di rumah menata makanan atau snack. 

Setelah mereka selesai menunaikan ibadah sholat Ied dan berganti pakaian. Saya dan keluarga saya melakukan sungkem atau bisa dikatakan saling meminta maaf jika ada kesalahan atau apapun yang dilakukan terutama kepada yang lebih tua dan sepantaran. Setelah itu kita pergi ke rumah saudara yang masih 1 garis keluarga. Kita disana melakukan sungkem dan makan bersama. Tak lupa juga kita ziarah kepada leluhur.

Singkat cerita sudah hari raya Idul Adha, keluarga saya juga diberi daging qurban. Kita juga melakukan bakar-bakar bersama, ada daging sapi, daging kambing, sosis, dan lain-lain. 

Waktu kami sekeluarga merayakan hari natal pada tanggal 25 Desember kita juga saling berbagi. Orang tua saya mengundang kerabat dekat walau berbeda keyakinan. Pagi itu pada tanggal 25 Desember kami sekeluarga pergi ke gereja pada pukul 07.00 untuk menunaikan kewajiban sebagai umat Kristen yaitu ibadah pada saat hari Natal. Pulang dari gereja banyak kerabat yang datang untuk berkumpul bersama merayakan hari natal. Saat malam hari tiba keluarga saya berkumpul untuk melakukan bakar-bakar sebagai bentuk saling menghormati walau berbeda keyakinan.

Ditulis pada Ragam | Tag , | Tinggalkan komentar

Menghargai Warisan Leluhur melalui Tradisi Sebaran Apem

Tradisi sebar apem merupakan tradisi yang sudah lama dilestarikan oleh masyarakat Jatinom, Klaten dan sekitarnya konon tradisi ini sudah dilestarikan sejak tahun 1589 Masehi atau 1511 Saka. Awal mula tercipta tradisi sebar apem ini karena terjadi sebuah peristiwa yang dialami oleh sosok ulama besar di daerah Klaten yang berperan sebagai seorang tokoh penyebar Agama Islam,  beliau adalah Ki Ageng Gribig.

Awal mula terciptanya tradisi sebar apem atau biasa disebut tradisi  yaqowiyyu  bermula pada saat Ki Ageng Gribig pulang setelah menunaikan ibadah haji ditanah suci. Ki Ageng Gribig pulang ke tanah air dengan membawa oleh oleh berupa kue apem.  Dinamakan kue apem sebab apem diambil dari Bahasa Arab Affum yang memiliki arti maaf. Tujuannya beliau akan membagikan kue apem tersebut kepada sanak saudara, para tetangga, dan juga kepada beberapa murid beliau. 

Namun sayangnya, buah tangan yang dibawa oleh Ki Ageng Gribig itu tidak cukup untuk dibagikan kepada semua orang sehingga kemudian beliau menyuruh keluarganya untuk bersama sama membuat kue apem yang tujuannya nanti akan dibagikan kepada masyarakat sekitar. Bermula sejak saat itu Ki Ageng Gribig mulai mengamanatkan kepada seluruh masyarakat Jatinom dan sekitarnya untuk memasak sesuatu sebagai bentuk sedekah, rasa syukur dan juga sebagai bentuk permintaan maaf,  yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat sekitar dan juga kepada masyarakat yang kurang mampu. 

Bermula dari amanat Ki Ageng Gribig inilah munculnya tradisi yaqowiyyu atau biasa dikenal sebagai tradisi sebaran apem. Asal-usul nama tradisi yaqowiyyu karena Yaa Qowiyyu sendiri diambil dari penggalan bagian akhir doa dan juga dari asmaul husna yang memiliki arti memohon kekuatan kepada Allah SWT. Dalam Bahasa Arab Yaa Qowiyyu memiliki arti Maha Kuat. Tradisi ini biasa dilaksanakan pada saat bulan sapar, bulan sapar merupakan bulan kedua dalam penanggalan Jawa. 

Setiap tahun masyarakat selalu antusias dalam menyambut bulan sapar, masyarakat sekitar daerah Jatinom berbondong-bondong membuat kue apem yang di variasi ada yang menggunakan isian nangka, coklat, original, dan lain sebagainya. Kue apem dibungkus menggunakan plastik kemudian kue apem ditata membentuk seperti gunungan sehingga terciptalah julukan “gunungan apem”. Terkadang masyarakat menyelipkan uang yang dibungkus plastik kedalam kue apem yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang kurang mampu sehingga mereka memberi sedekah dengan melalui cara tersebut. 

Setiap tahun terdapat ribuan kue apem yang nantinya akan disebarkan oleh para ulama penyebar agama dan para tokoh lain seperti Bupati, Wakil Bupati, bahkan Gubernur juga ikut serta dalam menyebarkan kue apem yang dilaksanakan dari atas tingginya panggung yang berada di selatan masjid dan berada di daerah sekitar pemakaman Ki Ageng Gribig. Dari adanya tradisi sebaran apem tersebut masyarakat mempercayai bahwa setiap orang yang mendapatkan kue apem tersebut akan mendapatkan kesejahteraan, kekuatan, dan keselamatan dalam segala urusannya karena sebelum kue apem dibagikan para ulama akan membaca doa bersama sebelum membagikan kue apem tersebut. 

Sampai saat ini tradisi sebar apem masih menjadi sebuah kebiasaan yang rutin setiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat bahkan tak jarang masyarakat di luar daerah Klaten juga ikut serta dalam meramaikannya, bukan hanya masyarakat yang beragama Islam saja namun banyak juga masyarakat yang beragama non-Islam juga ikut serta didalam acara tradisi sebar apem tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu tradisi sebar apem saat ini bukan hanya terdapat sebar apem saja namun banyak acara lain didalam rangkaian acaranya, terdapat beberapa acara seperti acara festival drumband, festival busana, penampilan ondel-ondel, penampilan jaranan, penampilan reog, penampilan paskibra dan juga terdapat acara gejug lesung yang dipersembahkan dari para petani wanita yang berasal dari daerah Jatinom dan sekitarnya.

Nama : Annisa Nailal Chusna

Kelas : XI Busana 3

Sekolah : SMK Negeri 3 Klaten

Email : annisanailal09@gmail.com

Ditulis pada Ragam | Tag , , , , , , | Komentar Dinonaktifkan pada Menghargai Warisan Leluhur melalui Tradisi Sebaran Apem