Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Toleransi Itu Indah

13 Apr 2023 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Namaku Ayu Nurul Hayya Azzahro, tahun 2014 umurku 14 tahun. Saat itu aku menimba ilmu di SMP N 19 Surakarta. Saat naik kelas 8, sekolahku menerapkan sistem pertukaran siswa dengan kelas lain. Yang awalnya aku kelas 7B dengan 32 murid beragama Islam menjadi kelas 8G yang jumlah 20 muridnya beragama Katolik dan 12 murid beragama Islam. Yang semula aku menjadi mayoritas sekarang menjadi minoritas. Saat itu ada kekhawatiran dalam diriku, karena tidak terbiasa menjadi minoritas. Maklum sejak kecil, teman-teman di lingkungan rumah dan sekolahku kebanyakan beragama Islam. Sehingga saat mengalami situasi menjadi minoritas ada kekhawatiran penolakan atau dikucilkan dari teman-temanku yang mayoritas.

Ternyata hal-hal yang kukhawatirkan tidak pernah terjadi sama sekali. 20 orang temanku yang  beragama Katolik sangat baik dan sangat menghormati perbedaan agama. Ada dua kejadian yang paling membekas dalam hidupku, yaitu saat hari raya perayaan umat Islam, yaitu pada bulan puasa Ramadhan dan hari raya Idul Adha. Umumnya saat bulan puasa Ramadhan akan ada acara buka bersama dengan teman sekelas. Saat itu aku dan 11 murid beragama Islam berencana tidak akan mengadakan acara buka bersama, karena kami menyadari kalo kami adalah minoritas. Namun tidak disangka-saat suatu hari saat sepulang sekolah, ketua dan wakil ketua kami yang beragama Katolik maju ke depan kelas dan mengajak diskusi mengenai acara buka bersama kelas kami. Akhirnya setelah diskusi didapatkan keputusan bahwa kelas kami akan mengadakan acara buka bersama di salah satu restoran ikan. Tidak sampai disini, setelah teman-teman Katolik inisiatif mengadakan acara buka bersama, bahkan mereka juga yang mengurusi semua hal dari mulai pemesanan tempat, iuran pembayaran, dresscode. Pokoknya teman-teman beragama Islam hanya terima beres dan datang ke acara buka bersama. Kejadian itu membuatku menjadi sangat terharu dan mengubah pandanganku terhadap mereka.

Kejadian yang kedua, yaitu saat perayaan Idul Adha. Saat Idul Adha hari ketiga sekolahku melakukan penyembelihan hewan Qurban. Setiap kelas akan mendapat jatah daging yang akan dimasak bersama setiap kelas dan akan dilombakan. Jadi satu minggu sebelum waktu penyembelihan, kelas kami mengadakan diskusi mengenai masakan apa yang akan dibuat dan barang apa saja yang perlu dibawa serta pembagian tugasnya. Kelas kami berencana memasak gulai daging sapi. Saat pembagian peralatan dan tugas, teman-teman Islam hanya perlu membawa pisau dan tugas memotong daging. Untuk peralatan berat seperti kompor, wajan, panci sudah dibawakan oleh teman-teman Katolik. Saat hari H perayaan tiba, kami memasak bersama-sama masakan gulai sapi, setelah selesai memasak kami makan bersama-sama dengan wali kelas kami. Sangat tidak disangka juga saat makanan kelas kami dilombakan kami mendapat juara 3. Bahkan sampai saat ini, saat mengingat momen kebersamaan dengan teman-teman Katolik masih sangat berkesan bagiku. Banyak hal-hal berharga yang dapat aku pelajari saat sekelas dengan teman-teman berbeda agama dariku, apalagi mengenai toleransi beragama. Terimakasih teman-teman kelas 8G ku, terkhusus teman-teman Katolikku yang telah mengajariku tentang toleransi beragama.

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 years lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 years lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 years lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 years lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 years lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan