Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Pengalaman pemahaman baruku tentang keberagaman

Saptaka Ghani
31 Mar 2024 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Nama saya Taka, seorang siswa SMA kelas 10, yang baru saja akan menginjak umur 16 pada bulan april besok. Saya merasa terlalu muda di antara teman-teman saya yang sudah berumur 16 sampai 18. Meskipun teman sebangku saya jauh lebih muda setengah tahun dari saya. Dari segi muka sama warna kulit, awalnya saya mengira dia bukan seorang muslim, ternyata kita tidak bisa melihat agama seseorang dari penampilan luarnya saja. Saya lumayan speechless saat mengetahui dia adalah seorang muslim. 

 

Keberagaman suku, ras, dan terutama agama baru saya rasakan saat menginjak kelas 7 SMP. Dulu waktu SD saya tinggal bersama Uti saya di pedesaan, dan mayoritas penduduk di sana adalah muslim. Keberagaman yang saya jumpai masih minim karena tinggal di pedesaan dan jarang sekali ada individu yang memiliki ciri khas yang berbeda. Semua beretnis Jawa, mayoritas beragama Islam. Hampir tidak ada keberagaman yang berunsur ras, suku, dan agama. Meskipun ada 1 tetangga saya yang beragama Kristen dan itu belum berdampak terhadap mindset saya.

 

Menurut saya waktu itu yang beragama Kristen atau Katolik pasti merupakan orang yang beretnis Tionghoa atau bule. Lalu saat SMP saya sedikit kaget ternyata yang beragama Kristen maupun Katolik tidak semuanya beretnis Tionghoa, saya menemui teman – teman SMP saya yang beragama Kristen merupakan seorang pribumi atau beretnis Jawa. 

 

Wajar saja, saat SD orang yang beragama Kristen yang saya temui kebanyakan beretnis Tionghoa, meskipun secara tidak sengaja bertemu seorang yang beragama Kristen dengan etnis Jawa yang notabene non muslim tidak menggunakan kerudung untuk wanita. Saya hanya beranggapan bahwa itu hanya seorang muslim yang tidak menggunakan kerudung. 

 

Kemudian saya bertanya – tanya, bagaimana dengan etnis Tionghoa yang saya anggap seorang kristen padahal beliau atau mereka adalah seorang muslim? Bahkan waktu SMP saja saya menemui teman saya yang beretnis Tionghoa yang beragama Islam. 

 

Banyak hal yang baru saya pahami saat menginjak jenjang SMP, apalagi saat SD saya hanya seorang no life yang mainnya kurang jauh. Teman saya pada waktu itu hanyalah yang itu itu saja, karena saya adalah seorang yang untuk susah bergaul. Melihat pergaulan di tempat tinggal mayoritas berisikan anak motor dan perguruan pencak silat yang sama sekali tidak cocok dengan diri saya pribadi. 

 

Saat SMP saya kembali tinggal bersama orang tua saya yang berada di Kota Magelang. Saya mencoba untuk lebih terbuka dan tidak no life, karena saya juga berpikir bagaimana saya mendapatkan teman jika terus seperti itu. Meskipun tetap saja tidak memiliki teman yang sangat akrab di sekolah, setidaknya saya punya teman bermain di rumah. 

Orang tua saya tinggal di perumahan TNI, yang notabene Kota Magelang juga merupakan pusat pendidikan TNI Kodam Diponegoro yang mencakup Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Walaupun begitu tetangga tetangga yang berada tinggal disini tidak hanya orang Jawa, orang luar Jawa pun sangat banyak, termasuk Ayah saya yang berasal dari Medan, Sumatera Utara. 

 

Dari sini saya memahami banyak sekali keberagaman yang ada di Indonesia. Ternyata tidak hanya etnis Jawa yang tinggal berada di sini namun banyak yang berasal dari Luar Jawa. Banyak juga yang beragama berbeda-beda. Orang Kristen tidak selalu beretnis Tionghoa, begitupun seorang Tionghoa tidak selalu beragama Kristen.

 

Memang benar kata peribahasa melayu, jangan menjadi kura – kura dalam tempurung. Banyak sekali keberagaman yang ada Di Indonesia, jangan lah menutup diri atas keberagaman yang ada. Keberagaman suku, ras, dan agama yang ada Di Indonesia merupakan suatu ciri khas bangsa Indonesia yang jarang temui di negara lain, dan ini yang patut kita banggakan

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 tahun lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan