Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Kebersamaan Menuju Kerukunan

31 Mar 2024 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Hari Toleransi diperingati setiap tanggal 16 November. Pada hari Minggu,19 November 2023 PIA-PIR St. Kristoforus Paroki Wedi menggelar acara luar biasa yang melibatkan Pondok Pesantren, Pasraman, dan anak-anak sekolah minggu dari GKJ untuk merayakan semangat toleransi dan indahnya hidup bertoleransi.

Acara dimulai dengan sebuah flash mob yang berjudul “Geal-Geol”, di mana semua yang ada di lokasi, ikut  bergabung dalam keseruan flash mob tersebut. Kemudian, dibuka dengan doa pembuka yang disampaikan secara bergantian oleh tokoh-tokoh agama dari berbagai kepercayaan. Mulai dari Romo AG Luhur Prihadi yang mewakili agama Katolik, Bapak Kyai Muhammad Hidayatullah Susilo Eko Pramono dari Ponpes yang mewakili agama Islam, Bapak Mangku Purwadi yang mewakili agama Hindu, serta Diaken Sutaya dari GKJ Wedi yang mewakili agama Kristen.

Suasana semakin terasa indah dengan penerbangan burung Merpati sebagai simbol perdamaian dan persatuan Indonesia. Burung-burung itu diterbangkan oleh para tokoh agama yang hadir, meliputi Romo, Mangku, Kyai, dan Diaken, sebagai wujud dari semangat kebersamaan. Sambil menikmati snack yang disediakan, ada berbagai tampilan khas dari berbagai agama yang sangat menarik, mulai dari gerak lagu dari PIA Kristoforus Wedi dengan judul “Seperti Rusa Rindu Air” dan “Filipi ke Galilea”. Selanjutnya, tampilan “Bang Ceng-ceng” dari Pasraman Saraswati yang bermakna “Tentang realita saat ini. Nusantara yang indah dan kaya raya bukanlah milik satu golongan, semua yang lahir dan hidup di Nusantara patut menikmati keindahannya”

Peserta dari Pondok Pesantren juga ikut memeriahkan acara dengan penampilan Hadroh dan Sholawatan yang sangat memukau. Tak ketinggalan, PIR St. Kristoforus juga ikut memeriahkan acara dengan flash mob dan pantun yang menggambarkan perbedaan dan toleransi. Terakhir, pasraman Ganesha Putra memukau penonton dengan dua tarian indah, yakni “Hindu Itu Indah” dan “Tegal Toleransi”.

Ketika jam menunjukkan pukul 12.00 WIB, saatnya umat Katolik untuk berdoa Angelus (Malaikat Tuhan). Doa Angelus diikuti dengan khidmat oleh semua peserta yang beragama Katolik. Sedangkan yang beragama lain tidak keberatan dan sangat menghormati. Setelah doa Angelus dilanjutkan dengan penampilan dari Misdinar Paroki wedi yaitu “Fragmen Jatuh Dalam Dosa”. Juga ada game yang diikuti semua peserta yang hadir dari berbagai agama, game dimainkan dengan lagu, siapa yang mendapatkan barang saat lagu berhenti nanti akan maju untuk memperkenalkan diri dan asal tempat tinggalnya. Makan siang dilakukan secara bersama-sama dengan diiringi lagu “Salam Toleransi” ciptaan dari Bapak Petrus. Suasana sangat indah, kita saling membantu untuk menyiapkan makanan dan membantu anak-anak yang masih kecil untuk membawakan dan menyuapi.

 Sebelum acara berakhir ada penyerahan kenang-kenangan atas berlangsungnya acara Hari Toleransi. Kenang-kenangan berupa vandel, vandel tersebut dari Depag Kemenag Klaten pasti akan menjadi kenang-kenangan yang sangat berharga bagi para peserta dan masing-masing pemuka agama yang menerimanya. Diakhiri dengan flash mob “Nandhur Rukun Bakale Sugih Sedulur” menambah semangat persatuan dan indahnya bertoleransi kepada sesama teman yang berbeda agama. 

Acara tersebut sangat mengajarkan semua peserta yang hadir bahwa hidup itu akan selalu terus berdampingan dengan orang-orang yang berbeda, seperti berbeda agama, ras, suku, adat istiadat. Suasana kebersamaan, keberagaman dan hangatnya toleransi sangat terasa indah. Mengenalkan dan memperkenalkan hal baru kepada anak mengenai budaya dan kebiasaan agama lain,  mengajarkan toleransi sejak dini kepada anak agar terjalinnya silahturahmi yang baik antaragama dan tidak terjadi konflik yang memecah belahkan bangsa Indonesia.

 Kehidupan yang diwarnai oleh pelangi warna-warni keberagaman, mengajarkan kepada kita bahwa dalam perbedaan, terhamparlah keindahan yang tak tertandingi, dan dalam toleransi, terwujudlah kedamaian yang abadi. Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini, sikap dan perilaku toleransi terhadap keberagaman terus diterapkan oleh semua masyarakat.

Saya harap kegiatan toleransi yang mempertemukan dan memperkenalkan ciri khas dari berbagai agama, budaya, dan adat istiadat terus dilakukan di semua daerah yang ada di Indonesia, agar tetap mewujudkan persatuan dan kesatuan tanpa membedakan latar belakang dan meminimalisir terjadinya konflik, serta Bhineka Tunggal Ika semboyan negara kita tetap terjaga.

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 tahun lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan