Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Tidak ada Seorang pun yang bisa memilih dia terlahir sebagai suku bangsa apa

30 Mar 2024 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Penulis : Rochela Margaretha Budiman

Sekolah: SMAN 8 SURAKARTA 

Indonesia adalah negara dengan berbagai budaya, ras, dan suku  bangsa, akan tetapi dengan berbagai suku bangsa di Indonesia bisa terjadi diskriminasi antara satu suku dengan yang lain. Salah satunya diskriminasi terhadap suku tionghoa, contoh kasusnya, pada masa orde baru tanggal 1985 dikabarkan seorang anak berinisial L, seorang gadis keturunan tionghoa yang berada di bangku sekolah dasar kelas 5 SD di bully di sekolahnya. 

Pada saat itu, si L tinggal di sebuah kota kecil di Sumatra Selatan dan bersekolah di SDN 75, saat ujian telah berakhir dan memasuki tahun ajaran baru, tiba-tiba saja si L dipindahkan oleh orang tuanya ke SDN 19 JARAB 1. Tanpa mengetahui alasannya si L menuruti kemauan orang tuanya. 

Pada awalnya, si L pindah dengan riang, tidak mengetahui perbedaan antar suku, ras, agama, antargolongan dan terlebih lagi tidak mengetahui apa itu diskriminasi SARA. Pada hari pertama saat si L duduk dibangku kelasnya, akan tetapi sang guru tiba-tiba memindahkan dia di bangku paling belakang dan didudukan bersama satu anak laki-laki yang kebetulan juga keturunan tionghoa, dan  hanya mereka berdua saja yang keturunan tionghoa di dalam kelas itu. Mereka berdua kemudian menjadi bahan bullying teman sekelasnya, bahkan oleh guru wali kelasnya. 

Saat beberapa hari bersekolah di sana si L tidak menyadari diskriminasi tersebut, namun dengan berjalannya waktu dia merasa ada ketidak nyamanan, selalu diejek dan jadi bahan bullying oleh teman sekelasnya dan gurunya. Suatu saat dimana dia diejek oleh teman sekelasnya dia berani untuk menegur temanya, tetapi bukanya meminta maaf, teman tersebut malah menarik tangan si L dan berkata “Kamu cindo kan ?” mendengar hal tersebut terkejutlah si L. Oleh gurunya dia juga sering di jelek jelekan, nilai rapot si L juga dikasih nilai yang jelek. Perlakuan yang dia alami juga dialami oleh teman sebangku dengannya, pada akhirnya teman sebangku dengan dia jarang masuk ke sekolah hingga akhirnya berhenti sekolah karena sering dijadikan bahan bullying. Sangat jarang kita bisa menemui anak anak keturunan tionghoa dapat sekolah di negeri karena di batasi oleh pemerintahan orde baru pada zaman itu. Zaman orde baru adalah zaman  dimana diskriminasi adalah hal yang biasa, zaman dimana adanya penanaman kebencian kepada ras dan suku tertentu terutama kepada suku tionghoa.

Si L yang merasa terasingkan di sekolahnya tetap menjalani hari harinya demi menamatkan sekolah. Setelah satu tahun bersekolah disana, si L yang awalnya seorang gadis yang riang tumbuh menjadi sangat pendiam dan tidak berani bercerita kepada orang tuanya tentang bullying yang dia dapatkan dari sekolah. Pelan-pelan situasi disekolahnya mulai berubah, karena si L adalah anak yang baik dan tidak nakal, dia mulai diterima di lingkungannya setelah menginjak kelas 6 SD. Namun rasa trauma yang dia alami mendorong dia meminta kepada orang tuanya untuk melanjutkan sekolah di sekolah swasta katolik setelah lulus. 

Setelah lulus, si L melanjutkan sekolahnya di sekolah swasta katolik, setelah sekolah disana untuk beberapa waktu si L benar-benar merasakan perbedaan sikap dan perilaku antara berada di sekolah dengan etnis tertentu dan dengan yang berbanding terbalik dengan multiculture, yang bisa menerima satu sama lain dan berbaur dengan baik. 

Sekarang si L telah tumbuh dewasa dan memiliki dua orang anak, beliau bercerita jika suatu hari dia pulang ke kampung halamannya dimana tempat dia dilahirkan dan melewati SD tempat dia tumbuh dan di bully dulu akan ada rasa rindu sekaligus perasaan lirih yang masih terasa. Dimana seharusnya seharusnya masa kecil adalah masa-masa yang bahagia dan tidak terlupakan, namun apa yang dia alami justru malah sebaliknya.

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 tahun lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan