Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Maafkan Aku

03 Apr 2023 · 5" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Namaku Tyas, saat itu aku masih duduk di bangku SMP kelas VII. Baru saja lulus sekolah dasar, kini aku menginjakkan kaki di sekolah yang baru yakni SMP Negeri 19 Surakarta. Banyak sekali orang-orang baru yang kutemui di sekolah itu, terutama di kelas VII D. Hari pertama masuk sekolah sudah banyak teman-teman yang aku ajak berkenalan. Tetapi, satu anak perempuan yang duduk di bangku paling depan menarik perhatianku. Aliefia, anak perempuan berambut keriting mengembang yang ternyata mempunyai banyak kutu. Jorok, satu kata yang terpikirkan saat berkenalan dengan Aliefia.

Semakin berjalannya waktu, aku menyadari bahwa semua teman kelasku tidak mau berteman dengannya. Hanya satu orang yang mau menemaninya yaitu teman sebangkunya. Kami sesekali mengajaknya mengobrol dan bercanda. Karena berambut keribo, teman laki-laki di kelas kami memberi sebutan kepadanya “rambut brokoli”. Ada juga yang memanggilnya dengan sebutan “bo-kribo”. Kami terbiasa memanggil nama teman dengan sebutan-sebutan aneh seperti itu, ada yang dipanggil Harjo, Surip, bahkan Kebo pun juga ada. Kami merasa itu hal yang wajar terjadi di sekolah dan menganggapnya candaan saja. Saat dipanggil dengan sebutan itu biasanya Aliefia akan marah dan mengatai balik orang yang memanggilnya. Akhirnya itu menjadi kebiasaan kami di kelas untuk menggoda dan menjahili Aliefia.

Aliefia jarang sekali mengajak teman-teman yang lain untuk mengobrol. Biasanya kami yang akan membuka obrolan dengan menanyakan sesuatu kepadanya. Saat itu temanku mencoba bertanya kepada Aliefia tentang alamat rumahnya. Aliefia menjawab kalau dia memiliki rumah di sebuah kompleks perumahan yang ada di desa Gentan, Sukoharjo. Tetapi entah mengapa teman-teman di kelasku tidak percaya dan mencoba membuktikan ucapan Aliefia. Banyak yang menyebutnya pembohong karena ternyata rumahnya tidak berada di kompleks perumahan itu. Aku tidak tahu pasti bagaimana kebenarannya. Pada saat itu aku tidak ikut-ikutan untuk membuntuti dan mengulik tentang kebohongannya. Lagipula aku memang tidak ingin mencari tahu lebih banyak mengenai dia.

Ada satu kebohongan yang Aliefia katakan mengenai ibunya, dia tidak mengakui bahwa wanita tua yang selama ini mengantarnya ke sekolah itu adalah ibunya sendiri. Entah bagaimana kabar itu bisa ramai diperbincangkan di sekolahku dan bahkan guru-guru pun juga ikut membicarakannya.  Saat itu ada seorang guru olahraga di sekolah kami yang justru mem-bully Aliefia karena perilaku aneh dan kebiasaan berbohongnya itu. Sejujurnya aku merasa kasihan pada Aliefia, dia dipermalukan di depan teman-teman dan kakak kelas yang juga sedang berolahraga bersama kelas kami. Tetapi, waktu itu aku hanya diam dan membiarkan anak-anak lain menertawainya. Aku tidak berani membelanya atau bahkan sekedar menyuruh temanku untuk tidak menertawainya lagi. Ia menangis dan berlari pergi menjauh dari lapangan. Aliefia semakin menutup diri dari lingkungan di sekitarnya.

Ia tidak pernah lagi menceritakan apapun kepada kami, yang kami tahu saat itu hanyalah dia suka k-pop. Dulu memang k-pop belum terlalu terkenal seperti sekarang, sehingga banyak teman laki-laki yang mem-bully Aliefia hanya karena dia suka memuja-muja boyband dari Korea Selatan itu. Menurut kami Aliefia adalah anak yang aneh, dia sering berbicara sendiri, berbohong dan kadang juga tiba-tiba menangis entah apa penyebabnya. Mungkin satu sekolah menganggap kalau ia memang anak yang bermasalah secara mental.

Saat kelas VII kami tidak berada di satu kelas yang sama lagi. Meskipun satu sekolah, aku jarang bertemu dengannya. Mungkin karena sekolah kami yang cukup luas dan bangunannya berjauhan satu sama lain. Aku tidak tahu apakah dia juga di-bully di kelasnya yang baru. Tetapi dia mempunyai teman baru di kelasnya, mungkin ia sudah lebih bisa bergaul dengan teman-teman di sekitarnya. Naik ke kelas IX, kami berada di satu kelas kembali sama seperti saat kelas VII dulu. Bedanya tidak ada lagi yang mem-bully Aliefia, kami hanya berbicara seperlunya saja. Tetapi, sampai lulus pun aku belum mengucapkan kata maaf kepada Aliefia. Bahkan sampai sekarang ini aku tidak tahu bagaimana kehidupannya. Aku tidak berani mengakui kesalahan dan meminta maaf kepadanya. Aku bertanya-tanya, apakah dia dulu sangat membenciku sama seperti dia membenci teman-teman yang lain?

Satu penyesalan terbesarku yakni mengapa dulu aku selalu melihat kekurangan Aliefia saja. Padahal ia tidak memiliki kesalahan apapun kepadaku. Dengan teganya aku malah ikut andil menyakitinya dengan perkataanku sendiri. Tidak ada yang salah dengan rambut keritingnya, bahkan kecintaannya pada k-pop juga bukan suatu kesalahan. Aku merasa bahwa diriku dulu terlalu kekanak-kanakan dengan ikut melakukan bullying tanpa memikirkan dampaknya pada korban bullying itu sendiri. Bisa jadi saat itu Aliefia banyak berbohong karena takut di-bully oleh kami jika mengatakan yang sebenarnya. Secara tidak langsung aku juga ikut mendorong dia untuk mengatakan semua kebohongan itu.

Aku tidak tahu apakah kelak Ia akan membaca tulisan ini atau tidak. Tetapi, Aku ingin meminta maaf atas segala kesalahanku dan kesalahan teman-teman yang lain dulu. Maafkan aku karena saat itu tidak berani membelamu di depan guru olahraga, padahal aku tahu betul apa yang dilakukannya salah. Setiap orang terlahir dengan anugerahnya masing-masing yang diberikan Tuhan. Lalu mengapa manusia dengan lancangnya menghina anugerah dari Yang Kuasa itu sendiri? Aku sungguh sangat menyesal dengan apa yang telah aku perbuat dulu. Aku yakin sebenarnya ia adalah teman yang sangat baik, hanya saja kami yang tidak bisa memahami apa yang disebut menghargai orang lain.

 

 

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 tahun lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan