Aku memiliki pengalaman tentang perbedaan yang kumiliki dan juga agak aneh, sebut saja aku ASH. aku sebenarnya adalah orang Jawa, warga Indonesia. tapi penampilanku tidak terlihat seperti orang Jawa lain pada umumnya. Karena kulitku putih dan mataku sipit, aku seringkali dianggap sebagai orang cina atau dari negara lain. Berawal dari waktu kecil aku masih SD menginjak kelas 2, aku sering bertanya-tanya “sebenarnya aku keturunan apa?”, banyak sekali orang yang pertama kali melihatku pasti mengira aku adalah orang cina, bahkan banyak sekali yang bertanya padaku “kau ini orang Jawa atau cina? Kau tinggal dicina ya? Apa kau orang luar negeri?”, disaat itu aku mulai ragu sebenarnya aku ini apa dan siapa? orang Jawa? Orang cina? Atau Orang luar negeri?, bahkan aku mulai ragu dengan identitasku dan percaya kalau aku ini bukan berasal dari Indonesia, karena banyak yang mengatakan aku bukan berasal dari Indonesia.
Dan juga banyak sekali yang menganggap aku ini orang kristen atau katolik, padahal agamaku Islam. Semasa masih SD aku memang tidak menggunakan hijab, jadi banyak yang menganggap aku ini bukan Islam, bila aku mengatakan aku sebenarnya orang Islam, pasti mereka menganggap aku ini mualaf. Dulu pernah ada tetangga baru pindahan, dia orang kristen dan rajin beribadah digereja, pernah aku itu bermain-main didepan rumahnya buat ambil bunga, lalu tetangga itu keluar mau ke gereja, terus melihatku dari atas sampai bawah dan malah diajak “nduk, ayo ke gereja bareng, sini sini” tentu saja aku menolak dan mengatakan agamaku Islam, tapi tetangga itu malah menganggap aku ini mualaf.
Dulu aku pernah bertanya pada ayahku “ayah, aku ini keturunan apa? Orang cina atau bukan? Atau Jawa?” Ayahku hanya menertawakanku “ada orang yang bertanya begitu padamu?” dan tetap tertawa, tidak memberi jawaban apapun padaku, jadi aku ngambek dengan ayahku dan tidak mau tanya lagi. Lalu aku mencoba bertanya pada saudaraku “aku ini orang Jawa atau cina?” Dan hasilnya tetap sama, aku ditertawakan.
Mereka bilang “kok bisa orang lain nganggep kamu cina” dan akhirnya aku tidak mendapatkan jawaban apapun dan aku ngambek sama saudaraku. Aku tidak menyerah dari situ, aku mulai tanya sama ibuku “Bu, aku ini asli Jawa apa cina?” Ibuku cuma jawab “siapa yang tanya gitu? Kamu ya kamu to”, lah? Terus aku ini apa?. Dan aku tidak mendapatkan jawaban apapun lagi, Akhirnya aku juga ngambek sama ibuku. Seiring berjalannya waktu, aku tetap percaya bahwa aku ini orang luar bukan orang Indonesia, bila ada orang bertanya “kau asal mana? Orang Jawa atau cina?” Aku selalu tidak berani mengatakan dengan lantang bahwa aku orang Jawa, orang Indonesia. Jadi biasanya aku menjawab “mungkin orang luar” aku menjawab seperti itu karena aku juga belum yakin, aku ini berasal dari mana?. Apalagi aku masih anak labil yang belum punya pendirian.
Dulu pernah ada teman pindahan dari Sulawesi, banyak juga yang bertanya asalnya darimana, tapi ya sudah, mereka hanya bertanya satu kali setelah itu tidak bertanya lagi, sedangkan aku pasti selalu ditanya berkali-kali, seolah-olah aku adalah makhluk asing yang tiba-tiba menghuni planet bumi mereka yang perlu dipertanyakan asal muasalnya, aku merasakan ketidakadilan disini, temanku ASM pernah nyelotek “eh..tuh, anak pindahan, asalnya dari Sulawesi, kalo kamu asalnya darimana sih?” Aku pun bingung untuk menjawabnya, jadi kujawab “gak tau juga” temanku nyahut “lah?” Akhirnya kami sama-sama tidak tahu darimana asalku.
Lalu ada temanku HJ penasaran sekali dengan asalku, tapi aku tidak menjawab dengan pasti aku asal mana. Karena aku terus menerus tidak memberitahu asalku dengan jelas, temanku kayak sebal “asalmu aslinya darimana to? Memangnya kamu asal dari alien gitu?” Waktu mendengar itu, aku jadi punya pemikiran aneh “apa benar aku asalnya dari alien ya?” Aku memikirkannya dengan serius, karena keluargaku juga tidak memberi jawaban aku asal mana, jadi waktu kecil aku dengan bangga dan pasti, berpikir “aku berasal dari alien” dulu aku anaknya polos pakai banget, tidak tahu apa itu alien.
Dulu aku mengira alien itu suatu suku atau negara. Lalu waktu aku pergi ke pasar dengan ibuku, ada tetangga yang bertanya “Kowe wong Endi nduk? Kok koyo wong Cino” dan aku menjawab dengan penuh keyakinan “aku dari alien budhe” dengan penuh senyuman kebanggaan, tiba-tiba kepalaku dipukul oleh ibuku “pangapura Bu, anak Kula ngomong ngelantur” dan aku dibawa pergi, lalu ibuku bicara padaku “Jangan ngomong ngelantur itu lagi, nanti dianggap gak jelas sama orang” aku sedikit bingung disitu dan bertanya “tidak boleh bicara begitu? Berarti benar aku asalnya dari alien Bu?” Sambil memasang wajah tidak percaya. Tapi yang kudapatkan malah pukulan yang disebut hidayah oleh ibuku, semenjak itu aku tidak mengakui lagi kalau aku ini asalnya alien.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai menginjak kelas 7 SMP, disitu aku ingin memulai diriku yang baru, aku sudah mulai memakai hijab karena sudah muak dianggap orang kristen atau katolik, dan sering diajak ke gereja bersama. Kupikir aku sudah terlihat seperti anak muslimah yang tidak perlu dipertanyakan lagi agamanya, tapi ekspektasiku dihancurkan waktu kelas pelajaran agama, ada yang bertanya “kamu mualaf to, nduk?” Dan yang bertanya adalah guru agama islamku sendiri, bahkan guru islamku juga mempertanyakan agamaku. Aku pun hanya menjawab “tidak pak, saya tidak mualaf” guruku nyahut “owalah..kirain kamu aslinya kristen, soalnya keliatan kayak orang kristen, apalagi kayak orang cina” aku menjawab “haha..bukan pak” lalu tiba-tiba teman sebangku ku bertanya “loh, kamu beneran bukan mualaf to? Kirain mualaf” disitu aku merasa tidak adil, karena teman sebangku ku ini sebenarnya seorang mualaf, awalnya agama dia katolik, tapi kenapa aku yang dipertanyakan agamanya, bukan teman sebangkuku? Apakah aku terlihat se kristen itu?, aku merasa frustasi.
Tapi aku baru menyadari, di SMPku, aku melihat hal-hal baru. Aku tahu bahwa ada orang disabilitas, tapi untuk pertama kalinya aku melihat secara langsung di sekolahku, dan juga ada beberapa murid yang berasal diluar kota dan diluar pulau. Ada yang cara logat bicaranya berbeda, ada yang dari bentuk wajahnya juga terlihat seperti bukan dari Indonesia, dan sifatnya juga lebih beragam dibandingkan disaat aku masih SD, yang dimana aku hanya bertemu dengan orang itu-itu saja. Aku pernah iseng bertanya pada salah satu temanku berinisial FDS yang terlihat seperti orang arab, aku bertanya “oy, kau sebenarnya orang mana?” Temanku menjawab “orang Indonesia lah”, oh…disitu aku sedikit terkejut, kupikir dia akan menjawab kalau dia orang luar negeri atau apalah, tapi menjawab dengan lantang bahwa dia Orang Indonesia.
Lalu aku lanjut bertanya ke yang lain, dia keturunan cina berinisial YS, mirip-mirip lah denganku, aku bertanya “kau dari cinakah?” YS menjawab “memang benar aku keturunan cina, tapi aku orang Indonesia”, aku bertanya lagi “tapi kamu keturunan cina kan? Kok bisa kamu nganggep dirimu orang Indonesia?” YS menjawab “ya kan setiap orang itu berbeda-beda, gak semua orang itu sama, apa kita harus mirip satu sama lain dulu untuk termasuk dalam suatu kelompok? Pastinya tiap orang ada bedanya, entah semirip apapun pasti ada perbedaannya, gak semua sama” setelah pembicaraan itu aku mulai memikirkan lagi dan melihat orang-orang sekitarku, memang benar, semuanya berbeda dan unik-unik. Justru, malah terlihat seru kalau berbeda seperti ini, dan aku pun mulai memahami bahwa memang Indonesia ini banyak keberagamannya. banyak pulau, tradisi yang berbeda, ras yang beraneka ragam, sifat bermacam-macam dan masih banyak lagi. Dan aku pun mulai yakin bahwa aku adalah Orang Indonesia, bila ada orang yang bertanya “apa kau cina? Apa kau orang luar negeri?” Aku akhirnya bisa menjawab dengan yakin “Aku adalah orang Indonesia”.
Nama: Aulia Sofia Hanjawi
Sekolah SMAN 8 Surakarta
