Menyatu dengan Budaya Bali Lewat Workshop Perhiasan Perak di Ubud

Liburan di Bali seringkali identik dengan mengunjungi pantai, pura, atau menikmati kuliner khasnya. Namun, di tengah pesatnya perkembangan pariwisata, muncul tren baru yang mengutamakan pengalaman personal dan interaktif. Salah satu aktivitas yang semakin banyak dipilih wisatawan adalah workshop membuat cincin perak di Ubud. Informasi lebih lanjut mengenai pengalaman ini dapat ditemukan melalui https://www.silverclass-ubud.com/ yang menghadirkan kelas kreatif untuk semua kalangan.

Dengan mengikuti workshop ini, wisatawan bukan hanya mendapatkan suvenir khas Bali, tetapi juga berkesempatan menyatu dengan budaya lokal dan merasakan langsung proses pembuatan perhiasan yang sarat nilai seni.

Kekuatan Wisata Berbasis Pengalaman

Wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism) semakin diminati karena memberikan nilai tambah lebih dari sekadar kunjungan. Workshop perak di Ubud menjadi contoh nyata bagaimana liburan bisa berubah menjadi perjalanan penuh makna.

Beberapa nilai utama yang membuatnya istimewa antara lain:

  • Proses belajar yang interaktif – Peserta dilibatkan sejak awal hingga hasil akhir.

  • Nilai budaya yang kuat – Seni perak adalah bagian dari tradisi Bali yang diwariskan turun-temurun.

  • Hasil yang personal – Setiap cincin yang dibuat menyimpan cerita dan kenangan unik.

  • Meningkatkan keterampilan baru – Peserta memperoleh pengetahuan dasar dalam seni kerajinan perak.

Suasana Workshop yang Ramah dan Inspiratif

Silver Class Ubud dikenal dengan pendekatan pengajaran yang ramah, membuat peserta merasa nyaman sekalipun baru pertama kali mencoba. Dalam waktu sekitar 2,5 jam, wisatawan akan melewati proses kreatif mulai dari merancang desain, membentuk logam, mengukir, hingga memberi polesan akhir.

Proses Kreatif yang Dialami Peserta

  1. Membuat konsep desain – Setiap peserta bebas berkreasi sesuai selera.

  2. Melelehkan dan membentuk perak – Menggunakan teknik tradisional yang masih dipertahankan hingga kini.

  3. Menghias dan memberi detail – Ukiran sederhana maupun detail personal dapat ditambahkan.

  4. Polesan akhir – Cincin dirapikan hingga tampak indah dan siap digunakan.

Hasilnya bukan sekadar cincin indah, tetapi juga pengalaman berharga yang selalu diingat.

Ubud Sebagai Jantung Kreativitas Bali

Ubud sudah lama dikenal sebagai pusat seni dan budaya. Selain kerajinan perak, kawasan ini juga terkenal dengan lukisan, tari tradisional, hingga kuliner khas yang menggugah selera. Keindahan alam berpadu dengan kehidupan seni menjadikan Ubud destinasi yang tak tergantikan. Workshop perak menjadi salah satu cara terbaik menikmati atmosfer kreatif tersebut.

Dampak Positif untuk Masyarakat Lokal

Workshop seperti ini tidak hanya memberikan pengalaman unik bagi wisatawan, tetapi juga berdampak positif bagi komunitas setempat. Para pengrajin perak mendapat dukungan ekonomi, sementara wisatawan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang budaya Bali. Inilah wujud nyata dari pariwisata berkelanjutan yang memberi manfaat timbal balik.

Penutup

Liburan di Bali bisa lebih bermakna dengan mengikuti workshop membuat cincin perak di Ubud. Aktivitas ini menghadirkan kombinasi sempurna antara seni, budaya, dan pengalaman pribadi yang tak terlupakan. Lebih dari sekadar suvenir, cincin buatan tangan sendiri menjadi simbol perjalanan penuh cerita di Pulau Dewata.

Ditulis pada Gaya Hidup | Tag , | Tinggalkan komentar

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah teks.

            Analisis wacana tekstual berfokus pada struktur internal sebuah teks, termasuk tata bahasa, gaya penulisan, dan penggunaan kata. Dalam konteks ini, para peneliti mencari pola-pola dan pengulangan kata-kata yang mungkin mengungkapkan tema utama atau pesan yang disampaikan oleh penulis. Misalnya, dalam puisi, pengulangan kata atau penggunaan figur retoris tertentu bisa menjadi petunjuk penting untuk mengungkapkan perasaan atau gagasan yang ingin disampaikan.

            Di sisi lain, analisis wacana kontekstual menyoroti hubungan teks dengan konteks sosial, budaya, dan sejarah di mana teks tersebut dibuat. Ini melibatkan mempertimbangkan latar belakang penulis, audiens yang dituju, serta situasi politik atau sosial pada saat teks tersebut diciptakan. Dengan memahami konteks ini, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang tujuan dan dampak sebuah teks. Kombinasi analisis wacana tekstual dan kontekstual memungkinkan kita untuk membaca sebuah teks dengan lebih menyeluruh. Misalnya, ketika membahas novel sejarah, analisis tekstual dapat membantu kita memahami gaya narasi dan karakterisasi, sementara analisis kontekstual membantu kita menghubungkan tema-tema dalam novel tersebut dengan situasi sejarah yang sesungguhnya.

            Namun, penting untuk diingat bahwa analisis semacam ini tidak selalu menghasilkan interpretasi yang sama bagi setiap pembaca. Terkadang, berbagai faktor seperti latar belakang budaya atau pengalaman personal dapat memengaruhi cara kita memahami sebuah teks. Oleh karena itu, analisis wacana tekstual dan kontekstual juga mengajarkan kita untuk menjadi lebih sensitif terhadap beragam perspektif yang mungkin ada.

            Dalam era di mana informasi tersebar luas dan pemahaman yang dalam semakin dihargai, kemampuan untuk melakukan analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah keterampilan yang sangat berharga. Ini memungkinkan kita untuk tidak hanya memahami pesan-pesan yang tersurat dalam sebuah teks, tetapi juga untuk menggali makna yang lebih mendalam dan kontekstual dari apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Sebagai pembaca yang terampil, kita dapat menemukan kekayaan makna di balik setiap kata dan melihat teks sebagai refleksi dari dunia yang lebih luas di sekitar kita.

 

Penulis

Nova Putri Ramadhani & Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.

Ditulis pada Ragam | Tag , , , | Tinggalkan komentar

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.

            Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks yang kita hadapi setiap hari. Ini membuka pintu bagi kita untuk memahami bagaimana wacana dibangun, siapa yang memiliki kuasa untuk membentuknya, dan bagaimana wacana tersebut mempengaruhi konstruksi sosial realitas kita. Dalam era di mana informasi tersebar luas melalui media sosial dan platform digital, pemahaman akan bagaimana wacana diproduksi dan disebarkan menjadi semakin penting.

            Dalam analisis wacana kritis abad ke-21, ada penekanan yang kuat pada aspek-aspek seperti ideologi, hegemoni, dan resistensi. Kami tidak hanya memeriksa apa yang dikatakan oleh suatu teks, tetapi juga apa yang tidak dikatakan, serta bagaimana pemilihan kata, struktur kalimat, dan konteks komunikatif mempengaruhi pemahaman kita tentang suatu topik. Lebih jauh lagi, analisis wacana kritis memungkinkan kita untuk menggali narasi-narasi alternatif yang mungkin terpinggirkan atau ditekan dalam diskursus dominan. Ini memberikan suara kepada kelompok-kelompok yang sering kali diabaikan atau direpresentasikan secara negatif dalam wacana mainstream.

            Namun demikian, wacana kritis juga menghadapi tantangan dalam era digital ini. Informasi yang berlimpah dan laju perubahan yang cepat dapat membuat analisis menjadi lebih kompleks. Selain itu, dengan adanya filter bubble dan echo chamber di media sosial, kita cenderung terpapar pada wacana yang memperkuat pandangan kita sendiri, sehingga mempersempit cakupan analisis wacana kritis.

            Oleh karena itu, sementara analisis wacana kritis tetap menjadi alat yang sangat relevan dalam memahami dan mengeksplorasi dinamika kuasa dan identitas dalam masyarakat kontemporer, perlu untuk terus mengembangkan pendekatan-pendekatan baru yang sesuai dengan tantangan-tantangan yang dihadapi dalam era digital ini. Hanya dengan demikian kita dapat memahami lebih baik bagaimana wacana berperan dalam membentuk dunia di sekitar kita dan bagaimana kita dapat bertindak secara kritis dalam menghadapinya.

 

Penulis

Nova Putri Ramadhani & Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.

Ditulis pada Ragam | Tag , | Tinggalkan komentar

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen seperti tata bahasa, kosakata, gaya penulisan, dan penggunaan retorika untuk memahami bagaimana teks tersebut mempengaruhi pembaca dan menyampaikan pesan tertentu. Sementara itu, analisis wacana kontekstual melibatkan memahami teks dalam konteks sosial, budaya, dan historisnya. Ini melibatkan mempertimbangkan faktor-faktor seperti latar belakang penulis, tujuan penulisan, audiens yang dituju, dan konteks sosial dan budaya di mana teks tersebut muncul. Dengan memahami konteks ini, kita dapat lebih memahami makna yang terkandung dalam teks dan bagaimana teks tersebut dapat diterima atau ditafsirkan oleh pembaca. Adapun beberapa contoh penggunaan analisis wacana tekstual dan kontekstual dalam sebuah teks. Misalnya, Anda dapat memilih sebuah iklan televisi yang populer dan menganalisisnya menggunakan pendekatan ini. Anda dapat memulai dengan menjelaskan konteks sosial dan budaya di mana iklan tersebut muncul. Misalnya, apakah iklan tersebut ditujukan untuk pasar global atau lokal? Apakah ada nilai-nilai atau norma budaya tertentu yang terkait dengan produk atau layanan yang diiklankan?

Selanjutnya, Anda dapat menganalisis wacana tekstual iklan tersebut. Anda dapat memeriksa penggunaan bahasa, gaya penulisan, dan elemen-elemen retorika yang digunakan dalam iklan tersebut. Misalnya, apakah iklan tersebut menggunakan bahasa yang persuasif atau mengandung unsur humor? Apakah ada penggunaan gambar atau musik yang mempengaruhi pesan yang disampaikan?

Setelah itu, Anda dapat menganalisis bagaimana wacana tekstual tersebut berhubungan dengan konteks sosial dan budaya yang telah Anda jelaskan sebelumnya. Misalnya, apakah iklan tersebut mencerminkan nilai-nilai atau tren budaya yang sedang berlaku? Apakah ada aspek-aspek tertentu dalam iklan yang dapat diterima atau ditafsirkan secara berbeda oleha udiens yang berbeda?

Ditulis pada Ragam | Tag , | Tinggalkan komentar

Dua Hal yang Bermakna

 

DUA HAL YANG BERMAKNA

Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal yang kumuliki. Yang pertama adalah salah satu bagian tubuhku yang katanya tidak umum jika dilihat dari jenis suku bangsa yang ada di dalam diriku. Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak keanekaragaman yang luar biasa. Dari agama, ras, suku, golongan, makanan khas, pakaian adat, rumah adat dan masih banyak lagi. Suku Jawa merupakan suku yang ada dalam diriku. Pada umumnya ciri fisik suku Jawa adalah kulit sawo matang, rambut agak ikal, badan tidak terlalu tinggi, muka lonjong, dan mata tidak sipit. Nah…semua ciri fisik itu aku memilikinya tapi ada satu bagian tubuhku yang agak “unik” dan sedikit beda dengan orang Jawa pada umumnya atau bahkan orang Indonesia yaitu mata sipit. Aku memiliki mata yang sipit seperti orang keturunan Tionghoa. Jika orang kenal dengan aku pertama kali, mereka mengira pasti aku orang keturunan. Padalah yang aku tahu kalau Bapak dan Ibuku asli orang Indonesia bahkan kadang-kadang aku mencari tahu silsilah kakek buyutku dan aku belum menemukan yang berbau keturunan. Semuanya adalah orang Indonesia asli. Karena aku memiliki mata yang sipit, aku dari kecil sering dipanggil dengan sebutan “Cina”. Sejak aku bersekolah di SD sampai menempuh bangku perkuliahan, pasti ada saja temanku yang memanggil aku dengan sebutan “Cina” tersebut. Saat aku masih kecil aku hanya tersenyum jika orang-orang memanggil aku seperti itu karena aku tidak tahu maksudnya. Saat aku mulai beranjak dewasa ada sedikit rasa risih dan aneh jika orang-orang memanggilku dengan sebutan itu. Walau begitu aku tidak pernah marah atau mungkin ingin membalas kepada orang yang memanggilku dengan sebutan itu. Bahkan, aku tidak merasa rendah diri karena keunikan yang aku miliki tentang mataku yang sipit itu. Aku tetap menjalani hidup dengan bahagia. Saat aku bersekolah, aku tetap mempunyai banyak teman dan teman-temanku tersebut tidak pernah membeda-bedakan atas hal “unik” dalam diriku tersebut. Hal yang aku lakukan untuk membuat “membalas” orang-orang atau teman-teman yang memnaggilku dengan sebutan itu adalah dengan prestasi yang dalam kegiatan sekolah baik di bidang akademik ataupun nonakamedik. Saat SD sampai SMA aku selalu memiliki waktu belajar sehingga dalam jenjang tersebut aku selalu mendapat ranking yang cukup bagus. Dalam bidang nonakademik saat masih SD aku juga pernah menjadi runner-up pingpong dalam dalam lomba porseni SD tahun 2000. Dengan melakukan hal-hal yang berguna tersebut membuat aku lebih dapat menghargai keunikan yang aku memiliki dan teman-teman tidak pernah memandang aku bahwa aku berbeda. Saat aku duduk di bangku SMA ada salah satu temanku yang memanggilku dengan sebutan “merem” karena mataku yang sipit ini. Tapi, saya tidak pernah marah dengan sebutan itu. Aku sudah terbiasa mendapat sebutan yang aneh-aneh tersebut.

Hal kedua yang sering kali membuat aku agak kurang percaya diri jika bertemu orang baru saat aku kecil adalah namaku. Namaku Wiwid Anggriawan. Jika, orang baru pertama berkenalan dengan aku dan aku menyebut namaku adalah Wiwid, kebanyakan orang akan berpikir bahwa aku adalah manusia dengan jenis kelamin perempuan atau wanita. Banyak orang dari mulai aku kecil bahkan sampai saat ini jika mendengar namaku adalah Wiwid, sebutan yang aku dapatkan biasa “mbak” kalau tidak “bu”. Hehehehe…aku merasa geli dan lucu saja saat hal itu terjadi. Aku kadang-kadang berpikir apakah nama “Wiwid” itu identik dengan nama perempuan ya? Padalah dulu waktu SMA, aku pernah mempunyai teman dengan nama yang sama seperti namaku dan dia berjenis kelamin laki-laki sama dengan aku. Aku pernah bertanya pada orang tuaku arti namaku. Kata mereka kata “wiwid” itu dari bahasa Jawa “wiwitane” yang artinya awalan bisa juga diartikan pertama. Ya…aku adalah anak pertama. Sedangkan “anggriawan” kata almarhum ibuku artinya tidak ada ada, kata ibuku, ibuku suka dengan kata itu aja jadi kemudian digabung dengan kata “wiwid” dan jadilah namaku saaat ini. Aku tidak pernah merasa menyesal dan marah kepada orang tuaku karena memberikan nama itu kepadaku. Aku tetap bersyukur atas pemberian nama itu dari orang tuaku.

Dari dua hal tersebut semoga kalian para pembaca dapat mendapatkan hal positif dari dua hal dari diriku yang cukup “unik” tersebut. Pesan yang ingin kusampaikan ada dua. Pertama kepada orang tua dan calon orang tua, pilihlah nama yang baik dan nama itu adalah doa kalian untuk anak-anak Anda suatu saat nanti. Kedua, segala bentuk hal unik yang Tuhan berikan dalam hidup kita jangan pernah kalian sesali atau membuat kalian menjadi orang yang rendah diri. Aku yakin dan percaya bahwa Tuhan memberikan hal-hal yang unik dalam diri kita baik dari segi fisik, kognitif, warna kulit, bentuk rambut atau hal lain pasti suatu saat nanti akan dapat menjadikan hidup kalian lebih bermakna dan fungsi serta tugas yang Tuhan berikan kepada kalian dari hal unik tersebut pasti akan ada maksudnya. Jalani hidup ini dengan penuh bahagia, ucapan syukur, dan selalu berserah hanya kepada-Nya pasti hidup kita akan menjadi seseorang yang berguna dan bermafaat untuk setiap orang yang kita temui serta setiap orang yang ada di sekitar kita.

 

Nama   : WIWID ANGGRIAWAN, S. Pd.

Sekolah : SMP N 11 SURAKARTA

Ditulis pada Ragam | Tag , , | Tinggalkan komentar

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.

     Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman yang saling mendukung. Aisyah, yang pandai dalam bahasa Inggris, membantu dalam penyusunan kata-kata dan tulisan, sementara Kirana menambahkan keunikan melalui karya seni. Kerjasama ini menjadi dasar bagi persahabatan mereka.

     Walaupun memiliki perbedaan kemampuan, hubungan Aisyah dan Kirana tidak hanya terbatas pada bidang akademis, tetapi juga terbentuk saat mereka menghadapi tantangan hidup. Ketika salah satu dari mereka mengalami kesulitan, Aisyah dan Kirana saling memberikan dukungan secara tak tergoyahkan. Aisyah memberikan panduan dan dukungan untuk memahami materi bahasa Inggris yang kompleks, sementara Kirana menyajikan kreativitasnya untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan bagi keduanya. Dengan cara ini, mereka saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain dalam perjalanan mereka.

     Meski harus berpisah ketika memasuki jenjang SMP dan memilih sekolah yang berbeda, persahabatan Aisyah dan Kirana tetap kokoh. Mereka menemukan cara untuk tetap terhubung, bahkan jarak memisahkan mereka. Dengan bantuan teknologi dan komunikasi jarak jauh, Aisyah dan Kirana terus membantu satu sama lain dalam tugas-tugas sekolah, memberikan dukungan moral, dan berbagi kebahagiaan.

     Kisah sederhana Aisyah dan Kirana memberikan pelajaran tentang toleransi dan menghargai keberagaman kemampuan. Persahabatan mereka menunjukkan bahwa adanya sikap toleransi dapat membawa dampak positif pada hubungan antarindividu.

 

Kanaya Devi Maharani

SMPN 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Keberagaman Beragama

     Pada suatu hari aku mempunyai teman yang bernama Angkasa. Aku dan Angkasa berbeda agama, aku islam sedangkan dia kristen.Suatu hari aku bertemu Angkasa di toko, aku menyapanya lalu dia juga menyapaku tetapi seperti malu malu. Keesokan harinya aku bertanya kepada Aksa, ” mengapa kamu kemarin saat menyapaku seperti malu?”.Lalu dia menjawab “aku malu karena disitu aku sedang makan siang dan aku seperti tidak menghargai orang muslim yang sedang berpuasa”.

     Aku yang mendengarkannya sangat senang karena seperti dia bisa menghargai orang lain yang sedang melakukan ibadah.Angkasa juga pernah ikut berpuasa karena ingin mencobanya .

     Angkasa selalu menolongku saat aku kesulitan, seperti saat aku sedang  pergi ke sekolah.Saat itu aku pergi kesekolah menggunakan sepeda ontel ternyata ban sepedaku gembos lalu Aksa tidak sengaja lewat, lalu karena ban nya gembos Aksa mengantar sepedaku di tambal ban terdekat.Kami menunggu bersama, saat sepedaku sudah selesai di tambal akhirnya aku dan Aksa berangkat ke sekolah bersama sama.Sekian cerita dari saya Terimakasih.

 

Jessica Grace N

SMPN 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Toleransi di Organisasi

     Pada suatu ketika, ada sebuah Organisasi Pramuka yang disebut Dewan Galang. Organisasi ini berada di SMPN 19 Surakarta. Pada Kisah Organisasi ini dapat menjadi kisah imperatif hidup kita. Pada tanggal 1-3 Maret 2024 Pangakalan SMPN 19 Surakarta mengadakan sebuah Perkemahan Jumat, Sabtu, Minggu atau yang di singkat adalah PERJUSAMI. Perjusami ini di ikuti oleh siswa kelas 7 serta dewan Galang kelas 8.

     Saat itu Dewan Galang SMPN 19 Surakarta beranggotakan 36  siswa yang terdiri dari 26 perempuan serta 10 laki-laki. Pada 10 siswa laki-laki ini ada 1 siswa yang beragama Katolik sendiri dan sisa dari anggota laki-laki ini ada Islam. Cerita di mulai ketika masuk pada acara sholat maghrib. Hosea yang menjadi anggota Dewan Galang yang beragama Katolik sendiri di minta oleh teman-temannya untuk menjaga tenda. Hosea pun setuju, Ia mempersilahkan dan menunggu tenda  sampai teman – temannya datang kembali. Setelah kembali mereka mengajak Hosea untuk makan malam bersama.

     Suatu ketika Ezra yang baru balik dari makan bersama, melihat bahwa ada barang yang di tenda nya hilang.Ezra pun langsung mencari barang tersebut dengan menanyakan Hosea.Hosea menjawab bahwa dari tadi tidak ada yang masuk tenda kecuali Hosea.Ezra yang kebingungan lalu menyurigai Hosea.Terjadi perdebatan dan ketegangan antara mereka berdua. Fendi dan teman-teman yang baru datang lalu melerai mereka.Fendi yang sebagai ketua dewan Galang lalu mengusulkan   untuk diadakan diskusi menyelesaikan masalah.

     Diskusi ini di mulai dengan Hosea yang melakukan pembelaan. Hosea berkata bahwa dari tadi tidak ada orang yang masuk tenda.Ezra pun ragu, Fendi mengajak teman-teman yang lain untuk mencari barang tersebut dengan seksama. Setelah mereka mencari, mereka tidak menemukan apa-apa. Ezra tidak terima, lalu Ezra semakin menyudutkan Hosea. Tiba-tiba ada siswa kelas 7 yang memanggil         mereka.Siswa Kelas 7 itu ternyata mengembalikan barang milik Ezra yang jatuh di jalan.

     Ezra pun mengambil barang tersebut.Ia pun mengeceknya dan ternyata itu adalah barang milik Ezra yang hilang. Ezra pun mengucapkan terimakasih pada siswa kelas 7 tersebut. Ezra merasa bersalah, ia lalu meminta maaf kepada Hosea karena ia telah menuduh nya. Hosea pun memaafkan Ezra dengan sepenuh  hati. Lalu Fendi mengajak teman-temanya untuk selalu menjaga persahabatan mereka. Keesokan hari nya mereka menjalankan tugas untuk membimbing adik-adik kelas 7. Dewan Galang terlihat sudah kembali dengan saling bekerja sama satu sama lain tanpa ada rasa membedakan. Setelah kejadian itu mereka sadar bahwa mereka adalah tim, yang mana mereka harus menghargai dan menghormati satu sama lain.

     Kisah ini ditutup dengan kegiatan Perjusami yang berjalan lancar dan mereka kembali ke SMPN 19 Surakarta dengan selamat dan bahagia. Pada masalah yang di hadapi oleh Dewan Galang ini memberikan kita untuk selalu toleransi antar keberagaman. Baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan sekitar untuk selalu menghormati dan menghargai satu sama lain. Pada Kisah ini bukan saja cerita di Dewan Galang SMPN 19 Surakarta saja tapi harus ada di sekitar kita. Dan sikap-sikap ini harus di perjuangkan Untuk seluruh o rganisasi-organisasi pendidikan.

 

Hosea Joy AN

SMPN 19 Surakarta

 

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Berita Kisah

     “Di sebuah kota kecil yang damai, tinggal lah tiga teman dekat: Ahmad, Budi, dan Chris. Ahmad adalah seorang Muslim yang taat, Budi adalah seorang Kristen yang rajin ke gereja, dan Chris adalah seorang penganut Hindu yang setia.

     Setiap kali mereka berkumpul, percakapan tentang agama selalu muncul. Ahmad akan bercerita tentang pentingnya puasa selama bulan Ramadan, Budi akan menceritakan pengalaman- pengalamannya di gereja, dan Chris akan berbagi cerita tentang festival Hindu yang meriah.

     Meskipun berbeda keyakinan, mereka selalu menghormati satu sama lain. Ahmad tidak pernah merasa terancam ketika Budi dan Chris berbicara tentang Yesus atau dewa-dewa Hindu mereka. Budi juga selalu menghargai waktu Ahmad untuk shalat lima waktu, dan Chris tidak pernah memaksa mereka untuk ikut festival Hindu.

    Suatu hari, ketika ada perayaan agama besar di kota, ketiganya memutuskan untuk mengunjungi tempat ibadah masing-masing. Ahmad mengajak Budi ke masjid lokal untuk merasakan atmosfer Ramadan, sementara Chris mengundang mereka berdua ke kuil Hindu untuk ikut serta dalam ritual.

     Di tempat ibadah masing-masing, mereka merasakan kedamaian dan keindahan dari kepercayaan agama teman-teman mereka. Ahmad terpesona oleh doa-doa yang didengarkan bersama-sama di masjid, Budi merasakan kedekatan spiritual di gereja, dan Chris merasakan kekuatan dari ritual Hindu yang dipimpin oleh pendeta.

     Saat mereka kembali berkumpul, mereka saling berbagi pengalaman dengan penuh kegembiraan. Mereka menyadari bahwa, meskipun memiliki keyakinan agama yang berbeda,  mereka tetap bisa menjadi teman yang saling mendukung dan memahami satu sama lain.

     Kisah persahabatan mereka menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitar mereka, menunjukkan bahwa perbedaan agama tidak perlu menjadi pemisah, tetapi justru bisa menjadi peluang untuk belajar, menghormati, dan merayakan keragaman.”

 

Hasna Salsabila

SMPN 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Keberagaman Talenta

     Hari-hari yang cerah ini ,mungkin sebentar lagi akan digantikan dengan awan mendung yang amat gelap dan burung-burung yang awalnya berterbangan dengan bebas, harus mencari tempat yang teduh bersama dengan anaknya. Sering sekali kita menemukan teman-teman sepantaran dengan talenta masing-masing yang tentunya unik dan spesial. Menari dan bermain gamelan contohnya.

     Namun, tak menutup kemungkinan bahwa talenta lainnya juga begitu menarik dan menjadi daya tariknya sendiri. Sayangnya, di beberapa talenta tersebut yang jarang diperkenalkan selalu diremehkan dan dianggap rendah.

Pada saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku tidak bisa melakukan gerakan olahraga satupun. Aku tak pernah bisa memegang bola voli dengan benar, apalagi memainkannya. Namun, aku sangat senang karena ada temanku yang bisa voli menyempatkan waktunya untuk mengajariku beberapa teknik bermain voli.

     Temanku yang sedang kubicarakan bernama Titis, dia memiliki tubuh yang tinggi dan rambutnya sedikit bergelombang. Aku betul-betul bersyukur memiliki teman sepertinya. Pada saat pelajaran seni budaya berlangsung, Titis mendapatkan tugas kelompok seni budaya dan kebetulan dia sekelompok denganku. Tugas tersebut berisi tentang perintah guru untuk membuat logo sebuah perusahaan berupa restoran. Senangnya, aku memiliki talenta menggambar. Namun, aku juga mengerti bahwa temanku tak bisa menggambar. Jadi aku membantunya dengan sabar dan menggambar bersama dengan senang.

     Aku juga tak lupa mengajarinya sedikit tentang dunia seni, walaupun wajahnya sudah kelihatan kelaparan karena aku menjelaskannya 8 menit. Awan yang mendung tadi seketika menghilang. Burung-burung berkicauan dengan senang. Hanya langit biru dan tanaman hijau asri yang menghiasi dunia ini. Membuatnya terlihat menyejukkan dan harmonis. Begitu juga dengan keberagaman.

     Keberagaman yang tercipta dalam dunia ini telah menciptakan kesadaran para manusia untuk lebih mengedepankan sikap saling menghormati, menghargai, serta toleransi. Begitu juga dengan sikap menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan. Hal ini bisa terjadi karena keberagaman.

 

Fazila Tatyana Azalia

SMPN 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Persahabatan di Dalam Tali Perbedaan

Saya Fabianus Elang Agung Pambudi dari SMP Negeri 19 Surakarta, Ini kisah hidupku

     Aku merupakan salah satu anak yang mudah bergaul dan mudah memiliki teman. Masa-masa kecilku adalah masa yang indah yang di hiasi oleh keberagaman agama. Aku beragama Katholik dan teman-temanku mayoritas beragama Islam. Dikarenakan di kampungku mayoritas beragama Islam dan aku termauk anak yang mudah bergaul jadi aku memiliki banyak teman yang beragama Islam.

     Dulu memang di kampungku mayoritas beragama Kristiani tetapi dari tahun ke tahun sudah banyak warga yang berpulang ke surga dan banyak pula yang pindah rumah. Karna tidak memiliki teman lagi maka aku mencoba berteman dengan banyak anak-anak RT sebelah yang beragama Islam. Dan disinilah kisah 4 sahabat yang saling menghargai dan mendukung satu sama lain.

     Elang, Valen, Fadhil, Vino adalah 4 anak yang sering bermain dan terkenal di kampungku. Aku dan Valen merupakan teman dekat, kami sudah saling mengenal dari TK. Meski berbeda agama tetapi kami tetap berteman. Meski terpisah setelah kami berbeda sekolah saat hendak naik SD. Kamipun bertemu kembali saat kelas 4. Karna aku kesepian teman-temanku pergi akupun bersepeda keliling kampung.

     Aku bertemu Valen dan temannya yang bernama Fadhil yang ternyata satu kampung. Akupun bersahabat kembali dengan Valen dan sahabat baru yaitu Fadhil. Kami bertemu Vino saat sedang bermain game di rumah Valen, Vino datang untuk membeli es yang di jual oleh tantenya Valen. Dari situ kami mengenal Vino, anak Surabaya yang pindah ke Solo karena ada urusan keluarga.

     Kami sangat dekat hingga aku sering bermain di halaman Masjid untuk sekedar main game,  bermain bola, petak umpet dan berbincang-bincang di Masjid. Aku memiliki satu kejadian lucu di saat hari Jumat aku hendak bermain di Masjid saat siang hari karena Valen, Fadhil, Vino sudah menunggu.

     Aku di beri sebungkus nasi ayam oleh Ustad di masjid tersebut karena sedang ada Jumat berkat untuk anak-anak. Akupun menolak karena aku tidak ikut Sholat Jumat di Masjid tetapi Ustad tersebut memaksaku dan akupun mengambilnya lalu mengucapkan terimakasih dengan malu. Suatu hari aku di ajak Valen, Fadhil, Vino ke Masjid seperti biasa tetapi tidak untuk bermain. Aku di ajak mereka untuk bermain air di bak mandi Masjid sekalian membersihkannya,

     Akupun kebingungan tetapi aku ikut masuk ke bak mandi tersebut dan membantu membersihkannya. Kamipun pulang dengan penuh canda tawa dan basah kuyub. Akupun pernah di ajak Takbiran di Masjid dan keliling kampung membawa sound sistem untuk menyambut Lebaran di esok hari.

     Kami sudah bisa mentoleransi perbedaan satu sama lain mulai dari hal kecil seperti berhenti bermain saat adzan Ashar dan adzan Maghrib hingga menunggu selesai sholat dan menungguku pulang Gereja ketika ingin bermain game di malam hari. Kami tidak memandang perbedaan seperti contohnya Vino, kami menerimanya dengan baik walau bahasa dan kebiasaan yang relatif berbeda dengan kami.

     Kami berteman tidak memandang kasta dan agama kami berteman dengan semua orang yang ingin berteman dengan kami. Kamipun di pertemukan kembali di satu sekolah yang sama yaitu SMP Negeri 19 Surakarta.

 

Fabianus Elang Agung Pambudi

SMPN 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Agama Bukanlah Penghalang untuk Berteman

     Pada tahun 2020 kemarin keluargaku pindah rumah. Pada lingkungan tempat tinggal baru aku merasa sedikit tertekan karena rata-rata yang tinggal di situ beragama non muslim. Tapi beruntungnya masih ada beberapa orang yang beragama muslim. Suatu hari aku mengajak teman-teman muslim ku untuk bermain.

     Tetapi hanya satu orang saja yang bisa. Karena aku bosan, aku dan satu teman ku tadi pergi jajan ke warung dan didepan warung tersebut ada sekumpulan orang-orang seumuran ku yang sedang bermain. Ya, mereka adalah teman-teman ku yang beragama non muslim. Disitu aku dan satu teman ku tadi hanya bisa melihat orang-orang itu bermain. Tak berselang lama, salah satu dari mereka memanggil kami.

     Awalnya aku dan teman ku ragu untuk mendekat kepada dia karena kami berpikir kalau mereka akan mem-bully kami. Dan ternyata dugaan kami salah, ternyata mereka hanya ingin mengajak kami untuk bermain. Walau masih ragu, kami pun memberanikan diri untuk gabung. Yang bikin kaget adalah awalnya aku pikir mereka akan jutek dan tidak mau menerima kami, ternyata mereka sangat ramah. Mulai saat itu kami bermain bersama-sama sekaligus mengajak teman lain muslimku untuk gabung.

     Kita tidak boleh berprasangka buruk kepada seseorang dan kita tidak boleh pilih-pilih teman.

 

Fabiano Anggoro Putra

SMPN 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Keberagaman Melalui Pengalaman Pembullyan

     Keberagaman sering menjadi kunci untuk memahami dan mengatasi isu masyarakat termasuk pembullyan. Pelaku pembullyan seringkali memiliki pengalaman dan latar belakang yang beragam.

     Beberapa pelaku mungkin tumbuh dalam lingkungan yang penuh tekanan. Selain itu, pengaruh kebiasaan sekitar membuat mereka bersikap dan berperilaku semena-mena terhadap orang lain.

     Memahami pengalaman keberagaman pelaku pembully menjadi Langkah awal yang penting untuk mengatasi pembully-an. Langkah-langkah berikut juga dapat mengurangi pembullyan. Pertama, kesadaran terhadap isu prasangka terkait pembullyan.

     Kedua, bisa melakukan pendekatan kepada pelaku pembully. Ketiga, adanya bimbingan kepada pelaku pembully dan dukungan kepada korbannya.

     Pengalaman keberagaman pelaku pembullyan dapat memberikan wawasan untuk mencegah adanya kasus pembullyan yang lebih fatal.

 

Caesilia Puan Nugrahaningtyas

SMPN 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Toleransi antar umat beragama

     Toleransi antar agama adalah menghormati agama yang diyakini oleh orang lain, tidak memaksakan keyakinan agama, dan tidak memandang rendah agama lain. Kisah antara dua remaja berbeda keyakinan ini mungkin menjadi kisah yang inspiratif.

     Imanuel adalah seorang remaja yang beragama katolik  dan salah satu temannya yang beragama Islam yaitu rasen. Pada suatu hari mereka berembung untuk rencana liburan. Rasen berencana untuk berangkat menggunakan kereta api dan Imanuel menyetujui untuk idenya tersebut.

     Liburan telah tiba rasen menanyakan apakah dapat berangkat pada esok hari, Imanuel pun menolaknya karena besok adalah hari Sabtu dan ia harus beribadah pada sorenya. Lalu mereka pun mengundurkan perginya pada hari Selasa.

     Pada hari Selasa berangkatlah mereka ke stasiun Solo Balapan untuk membeli tiket. Mereka berencana untuk pergi ke Wates. Mereka berangkat pada jam 7 tepat dan sampai di Wates jam 9 tepat. Mereka pun pergi ke spot untuk fotografi kereta. Terasa sudah jam 12 dan rasen Harus sholat, masjidnya cukup jauh dari spot. Lalu Imanuel menemaninya ke masjid tersrsebut. Setelah sholat mereka memutuskan untuk kembali ke Jogja dan rehat sejenak sebelum kembali ke Solo.

     Kisah antara Imanuel dan rasen bukan hanya kisah keberagaman agama biasa, tetapi dalam kisah tersebut mengandung pencerminan nilai toleransi yang  patuh ditiru untuk kalangan muda.

 

Benediktus Imanuel D.S

SMPN 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Toleransi di Atas Tanah Berbudaya

     Namaku Ayudya dan sejak kecil, aku suka dengan budaya Jawa terutama dengan tari tradisional. Suatu hari, aku mendapatkan kesempatan untuk belajar menari pada sebuah sanggar tari di kota yang sangat berbudaya, yaitu kota Solo. Sanggar ini terkenal dengan keberagaman anggota yang berasal dari latar belakang sosial, agama, dan suku yang berbeda-beda.

     Setelah beberapa minggu belajar di sanggar tari tersebut, aku mulai merasakan keberagaman pendapat di antara sesama anggota sanggar tersebut. Perbedaan pendapat yang paling sering terjadi biasanya mengenai tata cara menari atau cara memainkan musik. Ada beberapa anggota yang merasa lebih nyaman dengan tata cara mereka sendiri dan menganggap bahwa cara mereka adalah yang terbaik, sementara anggota lain mengikuti tata cara yang sudah disepakati bersama.

     Aku sebagai anggota baru di sanggar tari tersebut, sering merasa bingung dan ragu. Aku tidak tahu persis harus mengikuti tata cara yang mana, dan tidak ingin memicu konflik dengan anggota lain. Namun, ada salah satu guru yang melihat kebingunganku, beliau memberikan saran dan mengajarkanku untuk lebih terbuka dan menghargai pandangan dari anggota lain.

     Dengan berlatih dan mengikuti tata cara yang berbeda-beda, aku mulai merasakan bahwa setiap pendekatan memiliki keistimewaan tersendiri. Aku mulai merasa lebih menghargai keberagaman pandangan dan mulai menyadari bahwa keberagaman tersebut sebenarnya bisa dikolaborasikan sehingga membentuk ide-ide baru yang kreatif dalam menari maupun menabuh.

     Aku juga semakin menyadari bahwa dialog terbuka dan menghargai perbedaan pendapat sangat penting dalam mencapai keberhasilan dalam sebuah tim. Dengan mendiskusikan tata cara menari atau cara memainkan musik dengan anggota lain, lalu mencari solusi terbaik yang tidak hanya memuaskan satu pihak, tetapi juga memenuhi kebutuhan lainnya.

     Dalam proses tersebut, aku belajar untuk lebih memahami orang lain dan lebih respect pada pendapat orang lain, meskipun berbeda dengan pandangan pribadiku. Aku juga belajar mendengar pendapat anggota lain dan secara positif mendukung ide-ide tersebut saat itu diperlukan.

     Pada suatu saat aku dan anggota lainnya tampil di panggung besar dan berhasil menampilkan penampilan yang memukau dan lengkap dengan keberagaman ide. Dalam keberhasilan itu, aku menyadari betapa pentingnya kepemimpinan yang baik, dialog yang terbuka, dan kemampuan untuk menghargai perbedaan pendapat sebagai kunci keberhasilan dalam sebuah tim.

     Dalam pengalamanku di tanah yang berbudaya ini, aku belajar bahwa toleransi dan menghargai perbedaan pendapat memang tidak mudah, tetapi seiring dengan adanya dialog terbuka, keinginan untuk mengerti dan bersama-sama mencapai kesuksesan, toleransi pun akan menjadi lebih mudah dicapai. Kepedulian pada orang lain selalu menjadi kunci utama dalam menghasilkan sesuatu dengan kualitas yang terbaik.

 

Ayudya Veronika

SMPN 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Saat Kenaikan Kelas

Kelas2 saat kenaikan kelas 3 semua teman teman ku sangat tegang saat itu, raport pun di bagikan ada salah satu teman tidak naik kelas, dia di bully karena dia tidak naik kelas. Teman temanku membawa fisik karena kulitnya hitam, saya juga saat itu ikut mengejek teman saya yang tidak naik kelas tersebut. sampai… ia tidak ingin bermain dengan ku dan teman- temanku lagi, padahal sebelumnya ia sering bermain dengan saya dan teman teman saya. Dia orang nya baik tapi dia ngeyel, dia selalu tidak masuk bahkan seminggu tidak masuk pun dia pernah dan tidak ada surat ijin, dia setiap ada PR selalu di kerjakan kakaknya atau pun orang tuanya.Aku memaklumi dia karena dia jauh dari kata cukup.

Waktu pun terus berjalan dan sekolah libur 2 tahun nah saat itu awal masuk kelas 6 teman ku yang bernama bayu tidak naik kelas lagi sampai dia beda dua tahun dengan saya dan teman teman saya. semua temanku sudah tidak membuli dia karena awal masuk mereka masih malu-malu. keesokan harinya teman ku ada yang berantem dengan si bayu karena katanya ejek ejekan saya saat itu tidak tahu apa apa karena saya baru datang. Mereka di pisah oleh temanku, mereka di suruh saling meminta maaf dan saling berpelukan saat itu mereka menjadi teman dekat.

Pertengahan kelas 6 teman-temanku dan si bayu sudah kumpul bersama lagi, mungkin mereka sudah berpikir lebih dewasa mereka mungkin sudah memahami bagaimana menjadi bayu. Mereka saling menghargai perbedaan walaupun dia berbeda golongan, lanjut berjalannya waktu kelulusan pun tiba.Si bayu menahan air mata karena teman temannya sudah ingin lulus sekolah sebelum perpisahan semua teman teman bayu berjabat tangan dengan bayu, bayu sambil menangis karena dia tidak bisa menahan air matanya. Mungkin bayu tidak memikirkan dulu teman temannya membuli dia,karena kebersamaan itulah bayu melupakan semua hal yang menyakitinya.

 

Aprilino Takasi Amanda

SMPN 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Stop Membedakan Teman

     Pada suatu pertemanan ada salah satu yang mempunyai keterbatasan/penyakit kusus (Ria) beliau sangat merenung setiap harinya. Tapi ada sahabat yang selalu mendampinginya (Lana) selalu namun mereka di pisahkan oleh beda agama (saat beribadah), sialnya mulut manusia itu ada yang jahat maupun yang baik.

     Padahalkan manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan masing masing, ada masanya Ria putus asa dari rahmat tuhan, beliau menangis berlebihan dan beliau selalu terbuly dalam setiap harinya ya karna keterbatasan fisik itu. Tetapi si Lana tetap saja meyakinkan bahwa tuhan itu membagi kesulitan seporsi dengan kemampuan umatnya. Nah tetapi si Ria tetap mengeluh kenapa beliau mengidap penyakit tersebut, si Lana pun menasehati bahwa didalam kesulitan pasti ada kemudahan. Dan pastinya tuhan juga akan mengabulkan doa Ria, tetapi belum juga itu saatnya.

     Ria pun sadar bahwa bullyan bukanya di buat emosi tetapi motivasi diri. Apa keunggulan mereka yang menghina kamu (Ria) mereka juga mempunyai minus yaitu tidak bisa menjaga mulut mereka dan mengontrol perilaku kata mereka terhadap orang ucap lana. Lana pun senang bahwa Ria sadar atas hinaan itu apapun kondisinya.

     Berteman/bersahabat bukan tentu menjadi halangan. Bahwa setiap manusia juga mempunyai cara untuk mereka hidup masing masing. Dan jangan salah kita bisa memilih teman dengan konteks pergaulan nya menuju kebaikan. Jangan salah kan satu sama dengan lainnya tetapi perbaiki diri sendiri.

 

Alim Abdul Sholeh

SMPN 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Kisah Keberagaman

     Saya dibesarkan dalam keluarga yang memiliki latar belakang budaya yang beraggam. Ibu saya berasal dari desa. Sementara, ayah saya berasal dari kota. Mereka membawa tradisi, bahasa, dan nilai-nilai yang berbeda ke dalam rumah tangga mereka. Sejak kecil saya diajarkan untuk menghargai dan menghormai keberagaman budaya di keluarga saya.

     Kami merayakan banyak festival tradisional dari kedua budaya ibu dan ayah saya. Kami juga memasak dan menikmati makanan tradisional dari kedua daerah yang berbeda. Serta, kami juga belajar bahasa masing-masing daerah tempat ibu dan ayah berasal.

Peristiwa ini memberi saya pemahaman yang lebih dalam tentang keberagaman budaya dan membuat saya merasa bangga akan budaya yang beragam dalam diri saya.

     Kisah hidup saya mengenai keberagaman budaya mengajarkan saya untuk menjadi lebih terbuka, toleran dan menghargai perbedaan. Hal ini telah membentuk pandangan dunia dan identitas saya. Membuat saya merasa bersyukur atas kekayaan budaya yang saya miliki.

 

Alifio Favian A

SMPN 19 SURAKARTA

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Keragaman Budaya di Indonesia

KEBERAGAMAN BUDAYA di INDONESIA

-PENGERTIAN BUDAYA Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang , dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Bentuk:

-BENTUK-BENTUK BUDAYA DI INDONESIA Dari berbagai keragaman itulah melahirkan bentuk keragaman budaya INDONESIA yang taka ada tandingannya. Berikut adalah bentuk dari keragaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia yang memiliki kekayaan warisan budaya melimpah seperti rumah adat ,pakaian adat ,upacara adat ,tarian adat tradisional ,alat music tradisional,lagu tradisional ,senjata tradisional ,bahkan hingga beragam makanan khas

-MANFAAT BUDAYA Budaya juga membawa banyak manfaat bagi bangsa INDONESIA. Beberapa contoh manfaat budaya bagi bangsa Indonesia sebagai berikut :

1.Sebagai ikon pariwisata

2.Menubuhkan sikap Nasionalisme

3.Menigkatkan dan mendapatkan penghasilan Nasional

4. Alat pemersatu Bangsa Indonesia

5.Sebagai identitas Bangsa Indonesia

-SIKAP YANG DILAKUKAN Budaya merupakan warisan leluhur yang dimiliki Indonesia yang tak ternilai harganya. Upaya untuk mempertahankan agar budaya tetap sebagaimana adanya. Dengan mempertahankan dan melestarikan kebudayaan Bangsa Indonesia yang menjadi dasar jati diri Bangsa,maka Sikap yang dapat dilakukan untuk melestarikan budaya bangsa sebagai berikut:

1.Mau menerima keragaman suku bangsa dan budaya yang ada di masyarakat kita

2.Mempelajari kesenian daerah lainnya

3.Mengembangkan budaya daerah sendiri

4.Mengadakan pertunjukkan kesenian daerah

5.Tidak terpengaruh dengan budaya asing

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar

Berani Jadi Kunci Utama

     Di sebuah sekolah menengah, seorang siswi bernama alisa sering menjadi korban pembullyan oleh sekelompok siswa yang lebih besar dan lebih kuat. Mereka sering mengejeknya karena penampilannya yang berbeda dan kegemarannya dalam pelajaran. Meskipun alisa mencoba untuk tetap tegar, namun tekanan dari bullying tersebut membuatnya merasa terisolasi dan sedih.

     Suatu hari, seorang siswa baru bernama afan dia melihat bahwa alisa sering menjadi target pembullyan dan merasa prihatin. Afan memutuskan untuk bertindak dengan keberanian dan kepemimpinannya, afan berbicara dengan kelompok pembully tersebut dia berusaha membuat mereka sadar akan dampak buruk dari perilaku mereka terhadap alisa

    Meskipun awalnya ada yang menolak, namun lambat laun, beberapa dari mereka mulai menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada alisa

     Afan tidak berhenti di situ dia juga mengorganisir acara di sekolah untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menghormati keberagaman dan menghentikan perilaku bullying.

    Alisa merasa sangat terharu dan bersyukur atas dukungan dari afan dan siswa-siswa lainnya. Akhirnya, atmosfer di sekolah berubah alisa tidak lagi menjadi korban pembullyan, dan suasana di sekolah menjadi lebih inklusif dan ramah semua siswa belajar untuk saling menghormati dan mendukung satu sama lain, memahami bahwa keberagaman adalah kekuatan yang harus dihargai dan dipelihara.

    Kisah ini menjadi bukti bahwa dengan keberanian dan solidaritas, pembullyan bisa terpecahkan, dan keberagaman bisa menjadi sumber kekuatan yang besar bagi sebuah komunitas Ingat kita di ciptakan berbeda tapi perbedaan itulah menjadi tonggak persatuan kita.

 

Aina Asya Nancita

SMP N 19 Surakarta

Ditulis pada Ragam | Tag | Tinggalkan komentar