Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

BIARKAN ANAK MENJADI DIRINYA SENDIRI

Noer Ima Kaltsum
18 Nov 2017 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

BIARKAN ANAK MENJADI DIRINYA SENDIRI

Masih ingatkah kita (orang tua), bagaimana kita waktu masih sekolah? Apakah kita sangat bergantung pada orang tua? Apakah orang tua terlalu khawatir dengan keadaan kita, prestasi, akademik, usaha, tugas sekolah/kuliah kita? Ataukah mereka risau ketika kita berada di tempat Kuliah Kerja Nyata alias KKN?

Mungkin sebagian besar menjawab: tidak! Kita terlalu mandiri dan bisa menyelesaikan masalah, tugas sekolah dan kuliah sendiri dengan sedikit bantuan.

Orang tua zaman dahulu mendidik anak dengan sepenuh hati tanpa memaksa anak-anaknya menjadi seperti mereka. Justeru mereka berusaha keras agar anak-anaknya tidak seperti mereka. Orang tua menginginkan kita bisa melebihi mereka. Usaha, kemampuan dan pekerjaan, harus lebih mapan dari mereka. Orang tua cukup mengajarkan kemandirian kepada kita.

Orang tua hanya mendidik dan membimbing, mencarikan biaya untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Jarang orang tua yang terlibat langsung dalam menyelesaikan tugas-tugas anak-anaknya. Bahkan mungkin tugas anak-anaknya, orang tua tidak tahu-menahu sama sekali. Dalam hal ini untuk anak yang sudah dewasa. Untuk urusan ini, orang tua percayakan pada anaknya. Keterlibatan orang tua dalam bidang akademik, hanya sebatas membantu sebisanya bukan sepenuhnya.

Orang tua yang memiliki putra/putri yang sudah menjadi mahasiswa, tidak pernah khawatir anak-anaknya nanti akan bagaimana. Mereka sudah yakin kalau anaknya bisa menyelesaikan tugas atau masalahnya secara mandiri (ada sedikit, hanya sedikit bantuan).

Akan tetapi orang tua zaman sekarang, tentang tugas anak-anaknya terlalu cemas (kecemasan yang berlebihan). Anaknya belum maju berusaha, orang tua sudah menyodorkan bantuan. Anak-anak belum bertempur, orang tua sudah siap menyediakan obat-obatan yang diperlukan. Sebagian anak menjadi tidak mandiri dengan perlakukan orang tuanya. Kadang-kadang orang tua ikut berpikir keras untuk anaknya. Kekhawatiran orang tua sangat berlebihan. Permasalahan sepele bisa saja menjadi besar. Padahal anak mampu melewatinya.

Orang tua juga kadang menjadi orang yang egois. Keinginan mereka, anak harus menurut orang tua dalam banyak hal. Dari hal kecil hingga hal besar. Kalau anak-anak tidak mau memenuhi permintaan orang tua (cita-cita), orang tua gampang sakit hati, mudah terluka lantas mengatakan anaknya tidak penurut.

Lebih parah lagi, ada orang tua yang mengatakan anaknya durhaka hanya gara-gara anak tidak bisa menjadi “yang diharapkan” orang tua. Cita-cita anak mungkin tidak sama dengan keinginan orang tua. Stop, jangan lakukan sesuatu yang membuat anak-anak menjadi sangat tergantung pada orang tua. Anak-anak memiliki cita-cita, setiap anak unik dan istimewa, setiap anak memiliki hak untuk mengembangkan diri.

Mereka (anak-anak) tidak sama dengan orang tuanya. Mereka bisa saja berbeda jauh dari orang tua. Tugas orang tua membimbing dan mendidik. Kalau anak bisa mandiri, tanggung jawab terhadap agamanya tidak diragukan lagi, berakhlak dan budi pekerti baik, lantas buat apa kita sebagai orang tua mengkhawatirkan anak-anak. Kalau pemikiran orang tua sejalan dengan anak, okey baguslah. Akan tetapi kalau tidak sejalan, hargailah kemampuan mereka.

Tiap anak terlahir membawa rezeki masing-masing. Pandai dan pas-pasan kemampuan berpikir, berpotensi dan berbakat atau tidak, tiap anak berbesa. Ada ukuran pandai karena ada yang tidak pandai. Kalau semua orang tua menginginkan anaknya pandai, berarti di dunia ini justeru tidak ada yang pandai. Bukankah bila ada pandai, tentu ada bodoh? Setidaknya kemampuan pas-pasan, bahasa kerennya bodoh.

Kalau anak-anak memiliki kemampuan (kepandaian) yang pas-pasan, jangan paksa mereka (harus) menjadi seperti orang tua. Setiap anak memiliki kelebihan, maka kenali dan gali potensi anak. Jangan sampai orang tua sibuk “memaksa” anak lantas menjadi lupa bahwa ada potensi besar yang tersimpan dalam diri anak.

Tidak mungkin setiap anak menjadi dokter! Anak memiliki banyak pilihan. Mau jadi dokter, ilmuwan, pengusaha, pedagang, petani, wirausahawan dan lain-lain, silakan saja. Kalau bisa dukung mereka, beri motivasi dan semangat untuk mereka.

Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena terlalu memaksa agar anak sama seperti kita. Jangan sampai batu permata kita anggap hanya batu biasa.
Semoga bermanfaat!

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
4 bulan lalu • 2" baca

Magang di BPK DIY, Mahasiswa Ilmu Sejarah UNS Belajar Tari dan Gamelan

JOGJA — Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, yang tergabung dalam kegiatan magang sekaligus rekognisi KKN di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan pelatihan kesenian tradisional di kawasan Dalem Jayadipuran.   Pelatihan yang berlangsung selama empat minggu ini meliputi seni tari, karawitan […]

0 0
Candra Bi
6 tahun lalu • 3" baca

Cara Membeli Kaki Palsu Untuk Anda Yang Tinggal Di Daerah

Seorang yang kehilangan kaki berawal dari bermacam wilayah di Indonesia terhitung pasien kaki palsu di daerah terpencil atau pun pinggir kota. Penjual kaki palsu di mempunyai tujuan untuk mempermudah pasien di wilayah itu untuk memperoleh kaki palsu yang terbaik. Sebagai penjual kaki palsu di indinesia,  Kurnia Putra Ortopedi layani pemesanan pasien di semua teritori di […]

0 0
Denis Listiadi
6 tahun lalu • 3" baca

Cara Download Video TikTok Tanpa Watermark

Langsung saja, TikTok adalah aplikasi berbagi video yang sedang trending di era saat ini. Itulah sebabnya banyak orang membagikan video TikTok yang lucu dan informatif melalui WhatsApp atau platform lainnya. Namun, sebagian besar TikTok menerapkan watermark setiap kali video pengguna dibagikan. Jika Anda mencoba untuk membagikan atau memposting ulang video dari TikTok, Anda akan melihat […]

0 0
Bunga Dessyta Prameswari
6 tahun lalu • 4" baca

HUT Ke-75 RI Saat Covid 19 Terkait Teori Etika dan Islam

Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-75 pada 17 Agustus 2020 akan sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kini Indonesia tengah berjuang untuk melawan pandemi Covid 19 yang sampai saat ini masih mewabah. Upacara kemerdekaan yang biasanya dilakukan di Istana Merdeka dengan penuh kemeriahan, namun sekarang dilakukan secara terbatas dan online.             Perbedaan yang akan terjadi pada […]

0 0
fernando
6 tahun lalu • 3" baca

6 Tips Agar Belajar Online Semakin Lebih Optimal Bagi Anda

Merangkum dari halaman resmi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Berbagi, 6 tips ini adalah:  1. Motivasi diri  Buat motivasi untuk belajar dengan cara-cara berikut: Buat perjanjian dengan diri sendiri jika Anda hanya dapat melakukan kegiatan favorit Anda (seperti menonton atau bermain game) setelah semua target pembelajaran telah tercapai. Tulis dan tampilkan ungkapan motivasi favorit Anda […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan