Pada 27 Mei 2006 sekitar pukul 05.54 WIB, gempa bumi berkekuatan 6,4 Mw terjadi di wilayah Bantul, Yogyakarta, Sleman, hingga Klaten. Guncangan berlangsung kurang lebih satu menit dengan pusat gempa berada sekitar 25 kilometer di tenggara Yogyakarta pada kedalaman sekitar 17 kilometer. Setelah gempa utama, masih terjadi ratusan gempa susulan dengan kekuatan terbesar mencapai 5,2 Mw.
Gempa ini terjadi akibat pergerakan Sesar Opak yang membentang dari kawasan Parangtritis hingga bagian timur Yogyakarta. Pergerakan sesar tersebut dipengaruhi aktivitas Lempeng Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa.


Kondisi Panggung Krapyak (Kandang Menjangan) pasca gempa, tampak pintu masuk dari sisi barat ditutup dengan bambu dan reruntuhan bangunan masih berserakan di pinggir bangunan. (Sumber: Arsip DPAD DIY/JIKN)
Setelah gempa terjadi, kondisi Yogyakarta dan wilayah sekitarnya mengalami kerusakan di berbagai tempat. Banyak rumah warga, fasilitas umum, dan bangunan lama terdampak akibat guncangan yang cukup kuat. Sejumlah bangunan mengalami retak pada dinding, roboh sebagian, hingga rusak berat sehingga tidak bisa digunakan kembali. Kerusakan ini tidak hanya terjadi di kawasan permukiman, tetapi juga di pusat kota dan daerah yang memiliki banyak bangunan berusia tua.
Besarnya kerusakan dipengaruhi kondisi bangunan yang sebagian besar belum dirancang tahan gempa. Banyak bangunan lama masih menggunakan material dan konstruksi tradisional sehingga lebih mudah rusak ketika terjadi guncangan kuat. Selain itu, kawasan budaya dan peninggalan sejarah di Yogyakarta juga ikut terdampak, seperti rumah tradisional, bangunan cagar budaya, dan beberapa situs bersejarah yang memiliki nilai penting bagi sejarah dan budaya masyarakat setempat.


Kondisi rumah warga yang hancur akibat gempa, dan Petugas kesehatan memberikan pengobatan kepada warga di tenda darurat di Kaligatuk, Srimulyo, Piyungan, Bantul. (Sumber: Arsip DPAD DIY/JIKN)
Di Bantul, banyak rumah warga ambruk dalam waktu singkat setelah gempa terjadi. Genteng dan dinding bata berserakan di jalan kampung, sementara warga berlarian keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Setelah gempa mereda, banyak keluarga bertahan di lapangan, halaman rumah, dan tenda darurat karena takut gempa susulan datang kembali.
Pada hari-hari awal, warga kesulitan mencari anggota keluarga, air bersih, dan bantuan yang belum merata. Di tengah kondisi itu, muncul banyak cerita tentang warga yang saling membantu. Ada yang mengevakuasi tetangga dari reruntuhan rumah, ada pula yang berbagi makanan dan tempat berteduh dengan keluarga lain yang kehilangan rumahnya.

