Eksistensi Makam Soekarno terhadap Perkembangan Kota Blitar Tahun 1990 – 2004

Makam_Soekarno-1-2
Di Blitar, Sang Proklamator beristirahat dan sejarah tetap bercerita.

Pada periode 1990-an, Makam Bung Karno telah menjadi ikon wisata ziarah kebangsaan di Blitar. Makam ini menarik banyak peziarah dari berbagai penjuru Indonesia, baik untuk mengenang Soekarno maupun untuk melakukan tradisi ziarah yang bersifat religius dan budaya.

Pembangunan makam ini, yang diresmikan pada 21 Juni 1979, memiliki unsur kepentingan politik dari rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Makam ini dibangun tidak hanya untuk menghormati Soekarno, tetapi juga sebagai upaya untuk menciptakan simbol baru berideologi Pancasila guna melawan pengaruh simbol-simbol Orde Lama yang terkait dengan Soekarno.

Tradisi ziarah di makam ini melibatkan kegiatan seperti menaburkan bunga (kembang telon, seperti mawar, melati, dan kantil) sebagai bentuk penghormatan, yang mencerminkan nilai-nilai budaya Jawa dan Islam. Selain itu, makam ini menjadi tempat reuni bagi para pengagum Soekarno, di mana mereka berkumpul untuk mengenang perjuangan dan pemikirannya. Makam ini juga digunakan sebagai alat politik untuk mengurangi pengaruh Soekarno di panggung politik nasional sambil menciptakan citra positif bagi pemerintah Orde Baru di mata masyarakat. Meskipun demikian, makam ini tetap menjadi simbol kebesaran Soekarno sebagai “Bapak Rakyat Indonesia” yang tidak pernah jatuh di hati rakyat.

Pada periode pasca-1998, ketika Orde Baru berakhir, Makam Bung Karno semakin diperkuat sebagai destinasi wisata sejarah dan kebangsaan. Makam Bung Karno telah menjadi ikon wisata Kota Blitar, menarik wisatawan lokal maupun mancanegara. Pemerintah Kota Blitar, melalui kebijakan otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan perbaikan berikutnya (UU No. 32 Tahun 2004 dan UU No. 12 Tahun 2008), berupaya mengembangkan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi daerah, dengan Makam Bung Karno sebagai pionir pengembangan obyek wisata di kota ini.

Pada awal 2000-an, Pemerintah Kota Blitar mulai merencanakan pengembangan kawasan permukiman pendukung wisata di sekitar Makam Bung Karno, khususnya di Kelurahan Sentul dan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul. Makam Bung Karno menjadi media pembelajaran sejarah dan nasionalisme, yang diperkuat oleh keberadaan fasilitas pendukung seperti museum dan perpustakaan dikawasan tersebut. Museum Bung Karno menyimpan peninggalan bersejarah seperti kemeja putih, koper, dan lukisan unik yang menggambarkan Soekarno dengan efek visual jantungan yang berdetak, memberikan pengalaman yang mendalam bagi pengunjung untuk merasakan kehadiran Soekarno secara simbolis.

Kunjungan ke Makam Bung Karno di Blitar merupakan wujud penghormatan terhadap jasa Ir. Soekarno sebagai Proklamator Kemerdekaan, memperkuat dimensi emosional melalui kaitan pribadinya dengan Blitar.

Makam ini didukung Museum dan Perpustakaan Bung Karno, menjadikan media pembelajaran sejarah dan nasionalisme, membangkitkan cinta tanah air, terutama bagi generasi muda yang kurang memahami tanggung jawab kolektif terhadap bangsa.

Keberadaan destinasi wisata seperti Makam Bung Karno telah menciptakan dinamika hubungan sosial yang lebih hidup dan beragam di kalangan masyarakat lokal. Interaksi antara warga setempat dengan para wisatawan yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang budaya telah membuka ruang sosial yang lebih inklusif dan dinamis. Setiap kedatangan wisatawan tidak hanya membawa dampak ekonomi, tetapi juga memperkaya pengalaman sosial masyarakat melalui pertukaran cerita, tradisi, dan perspektif baru.

Di sisi lain, aktivitas ekonomi yang berkembang di sekitar kawasan wisata turut memperkuat jaringan sosial masyarakat. Berbagai usaha seperti penjualan suvenir khas daerah, kuliner lokal, jasa parkir, dan pemandu wisata tidak sekadar meningkatkan pendapatan warga, tetapi juga memperluas interaksi sosial mereka. Peningkatan jumlah pengunjung di kawasan Makam Bung Karno membawakonsekuensi serius terhadap lingkungan dan harmoni sosial masyarakat setempat. Setiap akhir pekan dan hari libur, ratusan bahkan ribuan wisatawan memadati areatersebut, menimbulkan masalah sampah yang semakin mengkhawatirkan.

Limbah plastik dari kemasan makanan dan minuman, serta sampah lainnya sering kali tidak terkelola dengan baik akibat minimnya fasilitas pembuangan dan kesadaran pengunjung. Tingginya intensitas kunjungan juga berpotensi menyebabkan kerusakan fisik pada situs budaya. Untuk mendukung keberlanjutan pariwisata di kawasan Makam Bung Karno, pelatihan kewirausahaan menjadi salah satu solusi penting dalam meningkatkan kompetensi masyarakat. Program pelatihan ini dirancang untuk mengajarkan strategi pemasaran digital, seperti pemanfaatan media sosial. Pelaku usaha juga dibekali dengan pengetahuan tentang pengelolaan bisnis yang berkelanjutan, termasuk manajemen keuangan, pelayanan prima, dan penerapan prinsip-prinsip ekonomi hijau.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mampu menarik lebih banyak wisatawan tetapi juga dapat mengelola usahanya secara lebih profesional dan ramah lingkungan. Pada periode 1990 hingga 2004, Makam Bung Karno tidak hanya berfungsi sebagai tempat ziarah untuk mengenang perjuangan Soekarno. Tetapi juga menjadi destinasi wisata sejarah yang memperkuat identitas Kota Blitar sebagai “Kota Patria”.

Sebagai ikon pariwisata Blitar, makam ini mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui aktivitas perdagangan dan jasa, sekaligus melestarikan budaya Jawa melalui acara seperti Grebeg Pancasila. Meskipun pada awalnya pembangunan makam ini terkait dengan kepentingan politik Orde Baru. Fokus pengembangan beralih ke peningkatan daya saing pariwisata melalui perencanaan strategis dan kolaborasi dengan masyarakat lokal.

Makam Bung Karno terusmenjadi simbol nasionalisme dan kebanggaan warga Blitar sekaligus mendukung ekonomi daerah melalui pariwisata budaya dan sejarah.