Aspirasi dan Tuntutan: Mengenang Demonstrasi Mahasiswa UMS 1998

Ilustrasi demonstrasi (AI/Freepik)
Ilustrasi demonstrasi (AI/Freepik)

Reformasi menjadi pembahasan utama yang banyak dibicarakan di seluruh penjuru negeri. Topik ini tidak terjadi begitu saja, salah satunya dikarenakan terjadinya krisis tahun 1998 yang membuat Indonesia di ambang kehancuran ekonomi. Hingga suara itu bergema di semua kalangan demi menyuarakan hak dan keadilan dalam menuntut pemerintah Orde Baru.

Krisis moneter 1998 merembet menjadi krisis politik, krisis hukum, hingga krisis kepercayaan yang menjadi aspek utama alasan terjadinya demonstrasi. Isi dari tuntuntan mahasiswa kepada Rezim Orde Baru adalah perubahan total terhadap segala aspek baik sistem ekonomi, politik, sosial, dan pemerintahan. Masyarakat mulai menuntut Soeharto untuk turun dari jabatan presiden yang sudah memimpin rezim selama 32 tahun. Tuntutan ini yang kemudian disebut sebagai Gerakan Reformasi.

Demonstrasi sebelumnya terjadi pada Maret didukung oleh pihak kampus salah satunya Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Rektor UMS waktu itu, Drs. H. Dochak Latief memimpin langsung demonstrasi bersama 5000 mahasiswa serta belasan dosen lainnya. Tak hanya mahasiswa dan dosen, banyak aktivis dan politikus yang turun langsung ke UMS untuk menuntut Reformasi. Namun, ketika tuntutan berlarut-larut tidak terselesaikan, demonstrasi kembali pecah hingga berubah menjadi bentrokan. Dukungan dari berbagai elemen mulai dari pelajar dan masyarakat makin memperkeruh suasana demonstrasi.

Demonstrasi sempat terjadi perundingan antara pihak SMPTA dan Aparat TNI yang ada disana. Hingga akhirnya demonstrasi berubah menjadi medan pertempuran antara rakyat dan polisi antihuru-hara (PHH) yang diutus langsung oleh rezim agar dapat meredakan bahkan membubarkan demonstrasi. Kendati demikian, rakyat tidak takut dan malah bersatu dan melawan aparat yang diterjunkan. Aparat pun juga tidak tinggal diam, mereka juga melakukan penahanan pada sejumlah massa yang melempari mereka dengan batu.

Dalam aksi bentrok tersebut sebanyak 63 mahasiswa dan 40 polisi cedera, di antaranya  52  mahasiswa terkena gas air mata, 11 mahasiswa perlu dijahit karena terkena lemparan batu, 2 diantaranya dilarikan ke RS Islam Surakarta. Puncak dari bentrok tanggal 14-16 Mei, dimana Komandan Korem 074/Warastratama yang dipimpin, Kolonel Infranteri Sriyanto memberikan peringatan keras untuk menembak mati di tempat. Selain itu ia meminta kepada masyarakat untuk tidak keluar rumah diatas pukul 22.00 WIB, bila tidak memiliki keperluan lain.