Menangisi Venesia dari Timur: Transformasi Identitas Kota Air Palembang Pada Masa Kolonial (1825–1942)

sungai musi
Sungai Musi. (Bisnis.com)

Palembang hari ini terasa sangat pengap karena dipenuhi oleh hamparan aspal beton. Kita seolah lupa bahwa dahulu kota ini adalah pusat peradaban air dunia. Sungai Musi bukan sekadar pemandangan melainkan urat nadi utama bagi seluruh warga. Namun identitas kota sungai tersebut perlahan mulai pudar ditelan oleh modernitas zaman.

Perubahan besar ini bermula ketika kolonial Belanda mulai menguasai wilayah kedaulatan Palembang. Tahun 1825 menjadi awal dari runtuhnya kekuasaan mandiri dari Kesultanan Palembang. Pemerintah kolonial ingin mengubah wajah kota agar sesuai dengan visi birokrasi mereka. Mereka mulai memaksa orientasi kehidupan warga untuk segera berpindah menuju ke daratan. Sejak saat itu pembangunan fisik mulai dipaksa untuk menjauhi tepian sungai Musi.

Pembangunan jalan raya memang dianggap sebagai lambang kemajuan dan juga kontrol birokrasi kolonial, namun justru menjadi titik kerusakan tata ruang tradisional Kota Palembang. Rawa yang dahulu menjadi paru-paru kota mulai diuruk tanpa sisa. Jembatan dan aspal dibangun diatas jalur-jalur transportasi air tradisional milik masyarakat Kota Palembang. Perahu-perahu kecil kini mulai kehilangan ruang untuk bersandar di tepian sungai Musi.

Warga lokal perlahan mulai terpinggirkan dari pusat perputaran ekonomi kota. Perahu tradisional kalah bersaing dengan kapal uap besar yang bersandar di dermaga beton. Kemandirian ekonomi masyarakat sungai mulai tergerus oleh kekuatan modal asing. Justru masyarakat Kota Palembang dipaksa menjadi buruh di atas tanah yang dahulu mereka kelola sendiri. Bahkan masyarakat Kota Palembang harus menampung kerusakan lingkungan yang sudah dilakukan kolonial atas nama modernitas.

Kehilangan ini bukan hanya soal hilangnya rumah rakit yang sangat indah dipandang. Kita kehilangan cara berpikir yang menghargai keseimbangan antara manusia dan alam sekitar. Modernitas yang dibawa oleh kolonial menyisakan luka ekologi yang sangat dalam bagi kota. Banjir yang sering melanda kini menjadi pengingat atas kesalahan besar masa lalu.

Suara-suara dari masa lalu seolah memanggil kita dari dasar sungai Musi terdalam. Mereka mengingatkan kita tentang harmoni yang pernah terjalin erat antara manusia dan air. Kita harus berani meninjau ulang konsep pembangunan kota yang sedang kita jalankan. Jangan sampai identitas kita benar-benar terkubur di bawah lapisan aspal yang panas dibawah modernitas yang menggersangkan jiwa-jiwa kita.