Warisan Kolonial yang Masih Terasa di Kota Solo

WhatsApp-Image-2026-06-12-at-16.43.51-2
Gedung Bank Indonesia Surakarta, salah satu warisan arsitektur kolonial di Kota Solo."

Kota Solo tidak hanya dikenal sebagai kota budaya Jawa. Di balik wajah kotanya hari ini, masih tersimpan jejak panjang masa kolonial yang ikut membentuk perkembangan Solo sejak awal abad ke-20. Pengaruh itu terlihat dari bangunan lama, tata kota, hingga kehidupan sosial masyarakatnya.

Pada masa kolonial, Solo berkembang sebagai pusat pemerintahan Kasunanan sekaligus kota administrasi yang dipengaruhi Belanda. Dari situ muncul perpaduan budaya Jawa dan Eropa yang kemudian melahirkan gaya Indis. Gaya ini tampak pada berbagai bangunan lama yang masih berdiri sampai sekarang, seperti Bank Indonesia Surakarta, Pasar Gede Hardjonagoro, Gedung Djoeang 45, hingga kawasan Villapark. Bangunan-bangunan tersebut umumnya memiliki atap tinggi, deretan kolom besar, serta bentuk yang disesuaikan dengan iklim tropis.

Pasar Gede Hardjonagoro, warisan kolonial di Kota Solo.(Sumber: Solopos Espos Id)

 

Perkembangan kota juga didukung hadirnya berbagai fasilitas modern pada masa itu. Jalur kereta api, trem, listrik, sekolah, hingga tempat hiburan seperti Taman Sriwedari membuat aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah. Kehadiran transportasi ikut memperkuat posisi Solo sebagai kota perdagangan yang terhubung dengan daerah lain seperti Yogyakarta dan Semarang.

Di saat yang sama, Solo tumbuh menjadi kota dengan masyarakat yang beragam. Selain masyarakat Jawa, ada pula komunitas Eropa dan Tionghoa yang menetap dan beraktivitas di kota ini. Kawasan kota pun terbagi berdasarkan fungsi dan kelompok masyarakatnya. Area keraton tetap menjadi pusat budaya Jawa, sementara kawasan loji berkembang dengan pengaruh Barat yang lebih kuat. Adapun komunitas Tionghoa banyak berkembang di sekitar pusat perdagangan seperti Pasar Gede.

Pembagian kawasan itu menunjukkan bagaimana kehidupan sosial pada masa kolonial berjalan. Sistem pendidikan Barat mulai diperkenalkan, meski awalnya hanya bisa diakses kelompok tertentu. Dari situ, pola pikir masyarakat perlahan berubah, terutama dalam bidang administrasi, pendidikan, dan ekonomi. Meski begitu, budaya lokal tidak sepenuhnya hilang. Tradisi Jawa tetap bertahan dan berjalan berdampingan dengan pengaruh Barat.

Sampai sekarang, jejak kolonial masih terasa dalam wajah Kota Solo. Salah satu contohnya terlihat di kawasan Loji Wetan yang memperlihatkan perpaduan budaya Jawa, kolonial, dan Tionghoa dalam satu ruang kota. Warisan itu bukan hanya soal bangunan tua, tetapi juga bagian dari sejarah panjang yang membentuk identitas Solo hari ini.

Karena itu, pelestarian bangunan cagar budaya menjadi penting. Bangunan-bangunan lama bukan sekadar tempat wisata atau latar foto, melainkan penanda perjalanan kota dari masa ke masa. Dari jejak kolonial tersebut, Solo menunjukkan bahwa sejarah tidak benar-benar hilang, tetapi tetap hidup dan terasa dalam kehidupan kota sampai sekarang.

 

Referensi

A.   Surat Kabar

Kedaulatan Rakyat, Rabu, 25 Maret 1992.

B.   Artikel

Friska Candra Dewi, Ufi Saraswati, dan Abdul Muntholib, “Perkembangan Arsitektur pada Masa Kolonial di Surakarta Tahun 1900-1942: Tinjauan Politik, Sosial dan Pendidikan”, Journal of Indonesian History, Vol. 8, No. 2 (2019).

Kusumastuti, “Pengaruh Budaya Dalam Pembentukan Ruang Kota Sala Sejak Perpindahan Kraton Sampai Dengan Peletakan Motif Dasar Kolonial”, Region: Jurnal Pembangunan Wilayah dan Perencanaan Partisipatif, Vol. 1, No. 1, (2016).

C.   Sumber Online

“Kawasan Permukiman Kolonial “Villa Park Banjarsari” di Kota Solo”, https://hima.fib.ugm.ac.id/kawasan-permukiman-kolonial-villa-park-banjarsari-di-kota-solo/, Jumat, 4 Oktober 2024.