Urban Farming Mojosongo: Dari Pekarangan Sempit, Warga Bangun Ketahanan Pangan

Urban farming Mojosongo (Dok. UNS)

Penulis: Diah Eka dan Erlina Dian

Warga Kampung Ngemplak Sutan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo, memanfaatkan pekarangan sempit di sekitar rumah untuk menanam berbagai jenis sayuran guna memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.

Kegiatan urban farming di desa ini berawal dari relokasi warga terdampak banjir Bengawan Solo ke kawasan Mojosongo. Masyarakat di sini harus beradaptasi dengan lingkungan baru di tengah kehidupan perkotaan yang diwarnai tekanan pertumbuhan penduduk, keterbatasan ruang, dan ketimpangan akses terhadap kebutuhan hidup.

Kondisi ini kemudian mendorong hadirnya program pelatihan dari Rumah Zakat pada tahun 2013 melalui pembinaan pemanfaatan lahan pekarangan sempit, yang perlahan berkembang menjadi praktik urban farming Kampung Ngemplak Sutan, Mojosongo.

Urban farming (Dok. UNS)
Urban farming (Dok. UNS)

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT), Kusrini, menyatakan tanaman yang dibudidayakan umumnya merupakan sayuran yang mudah dirawat dan cepat panen, sehingga dapat langsung dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan mereka.

“Tanaman seperti sawi dan bayam itu, bisa dipanen dalam waktu cepat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Selain membantu memenuhi kebutuhan pangan, kegiatan ini juga berdampak pada pengurangan pengeluaran ekonomi dalam rumah tangga. Salah satu warga, Mariyo, mengaku tidak lagi bergantung pada pasar untuk beberapa kebutuhan sayur.

“Sejak menanam sendiri, kebutuhan seperti cabai bisa dipenuhi dari pekarangan,” katanya.

Di sisi lain, keberadaan tanaman di lingkungan permukiman padat turut memberikan manfaat ekologis, seperti menurunkan suhu udara dan menciptakan lingkungan yang lebih hijau. Warga juga memanfaatkan limbah dapur sebagai pupuk kompos untuk mendukung pertanian organik sekaligus mengurangi sampah rumah tangga.

Urban farming di Kampung Ngemplak Sutan kini dikenal sebagai identitas kolektif sebagai Kampung Sayur Mojosongo. Praktik urban farming ini menjadi contoh bagaimana pemanfaatan pekarangan sempit dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.