Tertarik Magang Kerja di Solopos

Tertarik Magang Kerja di Solopos

Beberapa waktu lalu, aku bersama beberapa temanku dari mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyempatkan berkunjung di kantor Redaksi Solopos. Dari kunjungan tersebut kami bisa memperoleh wawasan baru tentang perusahaan media Solopos.

Namun, saya memiliki cerita yang menarik lain usai kunjungan sehari di kota Batik Solo ini. Kebetulan ini adalah cerita tentang salah satu teman saya yang juga ikut melakukan kunjungan ke kantor Solopos.

Sepulang dari kantor Solopos teman saya yang bernama Charismanto mengajak saya mengobrol mengenai kesan kunjungan kami ke Solopos. Masih berada dalam perjalanan menuju kota Jogja, kami berdua pun asyik mengobrol di bangku belakang bus yang kami tumpangi.

Mulanya, teman yang akrab kusapa Charis ini bertanya kepadaku mau magang kemana di semester tujuh nanti. Saat ini, kami tengah berada di semester lima. Aturan di jurusan kami biasanya setiap mahasiswa harus magang ke perusahaan selama beberapa bulan di semester tujuh. Karena kami berada di jurusan komunikasi dan mengambil konsentrasi jurnalistik, otomatis kami nanti harus magang ke sebuah perusahaan pers.

Aku pun lantas menjelaskan kepadanya bahwa untuk saat ini, aku belum memiliki gambaran nanti akan magang kemana. Karena menurutku masih ada waktu untuk memikirkannya.

“Tau kondisi di kantor Solopos seperti itu, aku kok jadi pengen ngrasain gimana rasanya magang kerja di Solopos”, ujarnya.

“Owalah, pantesan kamu tadi semangat banget tanya-tanya gimana proses magang di Solopos. Ternyata kamu pengen magang disitu”, balasku.

Aku pun lantas berpikir sejenak mengenai perkataan teman saya itu. Memang tidak ada salahnya kalau kita menginginkan sesuatu. Apalagi setelah tau bagaimana keadaan langsung mengenai keinginan kita tersebut.

Charis pun kemudian meminta pendapatku terkait keinginannya itu. Padahal sebenarnya menurut pihak Solopos yang memberi penjelasan saat kunjungan kami disana, kalau seumpama seseorang magang kerja di Solopos ia harus siap terjun untuk menjadi seorang reporter di lapangan. Sedangkan si Charis sendiri seingatku pernah ngomong kepadaku bahwa meskipun ia senang menggeluti dunia jurnalistik, tapi ia tak pernah mimpi untuk menjadi seorang wartawan.

Aku pun menjadi bingung sendiri bagaimana menanggapi pernyataannya.
“Ya, mungkin kalau menurutku nggak apa-apa sih kamu punya keinginan seperti itu. Tapi kalau misalkan kamu magang di Solopos kan jauh dari Jogja. Kalau misalkan kamu ingin mendapatkan pengalaman baru di Solo dengan magang di Solopos ya itu pantas kamu coba”, ucapku.

Kami pun melanjutkan obrolan kami di perjalanan pulang dari Solo sampai Charis tertidur. Aku pun kemudian merenungi kembali tentang keinginannya itu. Mungkin asyik juga sih magang jadi wartawan itu. Tapi sebenarnya aku pun kadang masih belum terbayangkan bagaimana beratnya menjadi wartawan. Cuma kalau saat ini aku sering mencari foto kemudian membuat tulisan mengenai peristiwa yang sedang terjadi di dalam foto tersebut.

Nah, mungkin yang dapat disimpulkan dari cerita ini yaitu kita boleh berkeinginan untuk melakukan sesuatu. Meski kita tidak tahu besok kita akan menjadi seperti apa, tetapi kita tetap bebas bermimpi mulai dari sekarang. Dan untuk mewujudkan mimpi kita itu, dari sekarang kita juga harus mulai menentukan pilihan serta langkah yang tepat demi kebaikan proses kita.

#Soloensis

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan