Beda tapi Cinta

WA

Andaikan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral diberi nyawa, siapa yang bisa menjamin jika mereka tidak jatuh cinta?

Hi, namaku Nuri Kristianingsih. Aku tinggal di Kota Solo. Aku adalah mahasiswa psikologi di salah satu universitas di Semarang. Saat ini aku berusia 23 tahun. Aku terlahir di keluarga Kristen dan aktif dalam kegiatan gereja.

Menurutku, perbedaan adalah sesuatu yang indah. Dimana kita bisa saling belajar dan menghargai orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Bukankah semua agama selalu mengajarkan tentang kebaikan?

Inilah kisah ku, cerita tentang cerita beda agama. Aku termasuk orang yang aktif di media sosial, aku tertarik berkenalan dengan orang baru, dia adalah Tegar mahasiswa universitas di Purworejo. Kami berkenalan pada tahun 2018 saat itu aku sedang mengurus pendaftaran sebagai mahasiswa baru di salah satu kampus di Semarang.

Setelah hampir 1 bulan berkomunikasi via whatsapp, kami memutuskan bertemu di Solo. Kami keliling Kota Solo dengan hati yang berbunga. Entah apa yang kami pikirkan waktu itu, kami hanya menikmati waktu Bersama dari siang-malam untuk jalan-jalan menikmati kuliner Kota Solo yang banyak.

Aku mengajaknya singgah di rumah dan bertemu dengan keluarga dan makan bersama, selanjutnya aku mengajaknya ke Taman Balekambang kemudian jalan-jalan ke Mall dan menungguinya menunaikan sholat di masjid mall. Setelah selesai sholat aku mengajaknya ke kuliner Pasar Gede, kami saling bertukar cerita sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB.

Kemudian kami memutuskan untuk langsung ke stasiun Purwosari karena harus naik kereta api prameks dengan jadwal keberangkatan paling malam pukul 19.00 WIB. Sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta kami tak berhenti bercerita, bersenda gurau, kemudian dia ijin untuk sholat maghrib. Tak terasa terdengan announcement di stasiun yang memberikan informasi tentang kereta prameks dengan tujuan Yogyakarta akan datang, kemudia dia berpamitan pulang entah kenapa pada waktu itu aku sedih.

Sesampainya di rumah dia memberi kabar dan bilang kapan-kapan akum akan diajak main ke rumahnya. Semakin hari kita semakin intens chattingan dan teleponan. Sampai akhirnya kita memutuskan untuk menjalin hubungan pacaran.

Kita tahu kalau kita berbeda keyakinan, aku Kristen dan dia Muslim. Namun itu awalnya tidak menjadi permasalahan buat kami. Kami saling mengingatkan jadwal ibadah, dia selalu hafal jadwal saya ke greja, bahkan dia tidak masalah kalau malam minggu aku harus mengikuti ibadah kaum muda di Greja. Aku selalu mengingatkan jadwal sholat dan jumat’an ataupun ketika dia ijin mengikuti pengajian di Masjid saya tidak mempermasalahkan hal tersebut.

Ketika bulan ramadhan tiba dan dia menjalankan ibadah puasa aku selalu memasang alarm sahur setiap pagi untuk membangunkan dia agar tidak lupa sahur sehingga memiliki tenaga untuk menjalankan ibadah puasa, aku memarahinya saat dia bilang tidak puasa kecuali kalau dia sakit. Aku senang ketika waktu mau buka puasa aku selalu menemaninya buka puasa walupun hanya via online.

Saat lebaran hari ke 2 aku pertama kali datang ke rumahnya untuk bersilaturahmi dengan keluarganya, aku sangat excited dan bingung mau membawakan apa, sampai aku tanya mama dan malah dibelikan untuk dibawa ke Purworejo. Dia menjemputku bersama kakak perempuannya yang Bernama Galuh Permatasari dan bersilatuahmi dan meminta ijin ke mama untuk mengajak aku main ke rumahnya. Kondisi jalan saat itu lumayan padat, mungkin karena masih lebaran ya, kami banya cerita di dalam mobil, lebih seperti interogasi kak Galuh ke aku mungkin ya.

Sesampainya di rumah, ibunya menyambut hangat kedatangan kami, kenapa aku memanggilnya ibu, kareda pada saat pertama kali bertemu saya memanggil tante namun dimarahi, katanya panggil ibu saja. Banyak hal yang aku syukuri, aku diperbolehkan mengenal keluarga ini, keluarga yang sangat hangat, baik dan aku merasa sangat dicintai dikeluarga ini.

Pada tahun 2020 aku diberitahu kak galuh bahwa bulan desember nanti kakak akan menikah dengan mas najib. Aku senang mendengar kabar itu, kemudia kak galuh bertanya apakah aku mau atau tidak kalau menjadi bridesmaid dalam pernikahannya, bukan main rasanya aku langsung mengiyakan hal tersebut. Kak galuh memberitahu kalau besok semua bridesmaid memakai hijbab dek karena sudah paket..

Aku bingung harus jawab apa, aku bercerita kepada Tegar, dia juga tidak memaksakan dan dikembalikan lagi ke aku apapun keputusan aku, dia meyakinkan bahwa dia dan keluarga akan menerima. Kemudian setelah aku berpikir dan aku memutuskan untuk mau, aku hanya berpikir tidak mau membuat kecewa keluarganya, aku berpikir kan hanya berhijab, dan berhijab tidak berdosa juga dan Kristen Ortodoks pun mereka berhijab dalam kesehariannya, well it’s okay.

            Pada akhir tahun 2021 kak Galuh lahiran, sebulan setelahnya aku datang untuk melihat anaknya rendra namanya, bayi laki-laki lucu dan gemuk. Aku membawakannya beberapa perlengkapan bayi sebagai hadiah dan aku menginap di rumah kak galuh untuk menemaninya karena mas Najib sedang dinas.

          Keesokan paginya dihari minggu, kak galuh membangunkan ku untuk pergi ke Gereja, aku memang tidak memasang alarm karena aku berpikir ibadah online saja karena tidak ada Gereja GBI di sini. Namun kak Galuh bilang di seberang komplek ada Gereja dan menyuruhku ke gereja dulu. Kemudian aku search google dan benar ternyata ada Gereja GKJ, kemudian aku bersiap dan berangkat ibadah,jam 9 dengan di antar Tegar dan di jemput lagi oleh Tegar. Sungguh aku merasakan sangat di terima dengan keadaanku walaupun berbeda agama dikeluarga ini.

Kami menjalani hubungan LDR selama 3 tahun, hubungan LDR yang tidak hanya long distance relationship tetapi juga long distance religion. Kami hanya saling support, banyak hal yang kami alami dalam perjalanan cinta ini, perbedaan yang menyatukan kami, perbedaan yang tidak pernah membuat kami berdebat dan memaksakan kehendak untuk meninggalkan keyakinan kami. Sekalipun kami sedang bertengkar hebat, tapi kami tidak pernah menyalahkan dan menyesal pernah menjalani kisah cinta beda agama selama 3 tahun ini.

Bahkan sampai sekarang kami masih menjalin komunikasi yang baik setelah kami memutuskan untuk berpisah secara baik-baik. Aku masih berhubungan dengan ibu dan kak Galuh, mereka sering menanyakan kabar dan memberi ucapan apapun yang sudah aku capai. Tegar juga masih berhubungan baik dengan mama dan sering chattingan hanya sekedar menanyakan kabar. Kami saling memberikan support dan selalu memberikan ucapan selamat hari raya. Kami memang sudah tidak bersama tapi kami tidak menjadi asing.

Demikian cerita kisah tentang perjalanan hidup yang saya alami, semoga dengan adanya perbedaan tidak menjadikan kita saling membenci namun saling menghargai dan mengasihi. God Bless.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan