Naila Eka Kiyana itu lah nama ku. Aku sekolah di SMA N 7 Surakarta. Saat ini aku duduk di bangku kelas 10. Aku adalah sosok yang anak yang ceria dan selalu menjadi diri aku sendiri dimanapun aku berada.
Di awal memasuki SMA aku bertemu sosok orang yang awalnya aku kira dia berbeda dari yang lain. Ia bernama Jeje. Dia adalah sosok cowok yang aku kira dia memiliki personality yang berbeda dari yang lain. Pertama kali mengenalnya aku sangat senang dan merasa bahwa hidupku lengkap.
Ia adalah teman yang sekelas denganku. Pertama kali kita berteman kita seringkali membagikan pengalaman pribadi kita. Dan ternyata banyak sekali pengamalan pribadi kita yang memiliki persamaan. Namun sayangnya aku dengan dia tidak dapat bersatu dengan seutuhnya. Hal ini terjadi karena aku Islam dan dia Kristen.
Tetapi dengan adanya perbedaan agama diantara kita itu bukanlah menjadi suatu penghalang untuk saling menyayangi. Justru aku dan dia saling menghargai semisal diwaktu jam sholat dia selalu mengingatkanku untuk segera melakukan ibadah sholat, begitu pula aku yang selalu menyuruhnya untuk pergi ke gereja.
Seiring berkembangnya waktu kita mulai satu pemikiran. Disitu lah aku mulai terbuka dengannya. Segala apa pun yang pada waktu itu terjadi padaku aku ceritakan padanya, dan mulai muncul chemistry diantara aku dan dia.
Setelah lamanya kita bersama dan dia mulai menganggap ku untuk menjadi rumah kedua untuknya, namun semua itu sirna begitu aja. Dia berubah begitu aja, mulai dari sikap, gaya bahasa hingga kebiasaannya. Awalnya aku tak tau dia berubah karena apa, tapi semakin kesini aku semakin tau apa yang membuatnya berubah begitu saja.
Waktu itu aku menelusuri apa aja yang membuat ia berubah. Ternyata ia selama ini berubah karena ada sosok penggantiku. Sosok itu adalah temen kelas sebelah sebut saja dengan Cece. Cece adalah cewek kelas sebelah yang seagama dengan si doi.
Sialnya, dia menyembunyikan semuanya itu. Jeje tidak menceritakan kepadaku sama sekali tentang sosok penggantiku. Aku mengetahui semuanya dari orang lain yang bercerita.
Aku sempat bertanya siapa sosok Cece tersebut kepada temankh. Ternyata Cece ini menaruh rasa dan memberikan effort kepada si Jeje. Aku pun yang berbeda agama dengan Jeje langsung mundur begitu saja, karena aku tau sepanjang apapun kita bersama pasti endingnya tetap sama yaitu tidak dapat bersatu
Disaat itu lah dia mulai menjauhi ku dan selalu sibuk saat ada di dekatku. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Dan aku adalah sosok cewek yang selalu berpikiran positif, jadi aku tidak pernah beranggapan tentang hal hal negatif kepadanya.
Sialnya aku selalu mendapatkan firasat yang kurang enak tentangnya. Firasat tersebut mengenai si Jeje yang datang kepadaku membawa kisah lalu pergi mencari pengganti lain. Awalnya aku beranggapan bahwa itu semua hanyalah firasat yang belum ada kejadian nyata.
Namun semua yang menjadi firasat ku ternyata menjadi suatu kenyataan, dia meninggalkanku disaat telah menemukan sosok cewek yang telah memberinya effort. Aku yang ga memiliki effort apa pun hanya bisa mengikuti jalannya alur aja.
Semenjak itu ikatan ku dengan dia tidak lah baik baik saja, dan pada akhirnya kita menjadi sosok yang asing, dan bahkan tanpa interaksi sedikit pun walaupun kita satu kelas.
Setelah semuanya itu terjadi padaku aku sempat menyesal telah mengira bahwa ia berbeda dari yang lain, dan munculah trust issue kepada semua orang terutama kepadanya
Disaat aku mulai lupa dengannya dia datang kembali disaat Cece sudah mulai bosan dengannya. Waktu itu Jeje sangat sedih, aku pun juga ikut merasakan apa yang telah ia rasakan, namun aku tidak ada saya apapun untuk membantunya.
Aku bingung harus berbuat apa, tapi aku lebih memilih cuek dan seakan sudah tidak peduli lagi dengannya, hal itu aku lakukan karena aku telah berfikir bahwa kita sudah tidak ada ikatan lagii. Kondisi itu juga ia butuh waktu untuk sendiri.
Setelah kesedihan itu berlalu, dia pun memintaku untuk kembali dalam dekapannya lagi tetapi hal itu tidak bisa aku lakukan lagi. Dan pada akhirnya sampai sekarang kita adalah sosok 2 insan yang memulai tapi tanpa mengakhiri dengan kata selesai.
Aku hanya bisa berharap dengan adanya perjalanan kita selama ini aku dan dia menjadi sosok pribadi yang lebih baik lagi, menghargai perbedaan yang ada dan saling melengkapi satu sama lain. Dan satu hal lagi yang perlu kita ingat perbedaan bukan menjadi suatu penghalanguntuk memulai suatu ikatan, walaupun pada akhirnya sulit untuk disatukan.
