Riszki Marfuah, 25, adalah anak dari bapak Sadiman dan ibu Yatmi. Dia anak ke-4 dari 7 saudara. Ia menderita Lupus. Systemic lupus erythomatosus (SLE) atau sering dikenal sebagai penyakit Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang dapat merusak bagian tubuh manapun (kulit, sendi, dan/atau organ tubuh).
Akibatnya, Riszki tergantung pada banyak obat. Karena dia sering sakit-sakitan dengan gejala kedua kakinya bengkak, mengalami perubahan dari rontok hingga hampir botak, nyeri sendi di sekujur badan, anemia, lemas, dan di kedua tangan ada benjolan atau biasa orang Jawa menyebutnya dengan “Uci Uci”.
Ia harus menjalani seluruh proses pengobatan dan sampai saat ini sudah 10 tahun bergelut dengan penyakit SLE yang kronis.
Kronis berarti tanda dan gejala cenderung bertahan lebih lama dari enam minggu dan seringkali selama bertahun-tahun.
Untuk menyelami proses yang dialami seorang dengan SLE, mari mengenal sedikit penyakit yang sering dijuluki sebagai penyakit 1.000 wajah ini.
Riszki tidak pernah mengira hidupnya akan sampai saat ini. Hidup yang setiap harinya tergantung mengkonsumsi bermacam-macam banyak obat-obatan.
“Yaa… Karena aku punya penyakit. Bisa dibilang penyakit kronis Lupus atau SLE ( Systemic Lupus Erythomatosus)” ujar si Riszki. Tapi sekarang riszki tidak menganggap sebagai penyakit melainkan anugerah dari Tuhan.
Semua berawal pada tahun 2013 bulan November. Awalnya keluarga menganggap yang dialami Riszki sebagai sakit biasa, tapi riszki tidak sembuh-sembuh setelah berulangkali berobat ke banyak dokter.
Banyak diagnosa yang Riszki dapatkan seperti tipes, gejala demam berdarah karena kedua kakinya bengkak, bahkan ada yang mengira Riszki hamil karena kaki bengkak dan lemas. Padahal umurnya saat itu masih 15 tahun dan masih sekolah kelas 10 SMK N 6 SUKOHARJO.
Hingga akhirnya keadaannya drop lemas tak berdaya, lalu keluarganya membawanya periksa ke puskesmas. Baru dilihat soal sakit yang diderita Riszki dokter yang ada di puskesmas merujuk langsung ke RS dr.oen Solo Baru karena merasa ada penyakit yang tidak beres.
Lalu Riszki dan keluarganya pun langsung ke RS dr.oen Solo Baru, bertemu dengan dokter penyakit dalam. Sesudah Riszki diperiksa, dokter di RS dr.Oen Solo Baru merujuknya ke RSUD dr.Moewardi karena merasa perlu pemeriksaan yang lebih lanjut dengan peralatan yang lebih lengkap.
Bulan Februari tahun 2014 mulai periksa ke RSUD dr.Moewardi saat itu Riszki masuk poli anak karena umurnya yang masih 16 tahun dan belum mempunyai KTP.
Awalnya dokter mengira Riszki sakit JRA atau rematik dini, rematik yang biasa terjadi pada anak-anak/remaja. Tapi setelah diberi obat riszki belum sembuh juga. Barulah dokter memeriksa keseluruhan dan pada bulan Mei Riszki didiagnosa Lupus.
Toleransi
Tidak mudah bagi seorang penderita Lupus bergaul dengan teman-temannya. Tapi, tidak mudah juga teman-temannya menyesuaikan diri dengan penderita Lupus. Di sinilah dibutuhkan toleransi.
Bercerita mengenai toleransi, secara istilah sendiri toleransi adalah sikap menghargai dan menghormati perbedaan antar sesama manusia. Allah SWT menciptakan manusia berbeda satu sama lain.
Kejadian ini diambil waktu di bangku SMK N 6 SUKOHARJO, sebagian dari mereka teman teman Riski menganggap bahwa penyakit lupus ini penyakit yang mengerikan, menjijikan, sehingga sebagian dari mereka ada yang menjauhi Riszki.
Padahal penyakit ini tidak menular bahkan Riszki termasuk orang yang spesial, istimewa dihadapan Tuhan, bahkan didepan teman teman yang lain. Karena tidak semuanya mampu melewati hari harinya seperti Riszki. Seperti nyeri sendi disekujur tubuh, anemia, dan lemas.
Suatu hari ketika masih di bangku SMK N 6 SUKOHARJO dikelas mereka akan merencanakan suatu kegiatan, salah satu dari mereka berkata, “si Riszki ga usah diajaklah, orang dia cuma buat kita susah, apa apa ga bisa, sakit sakitan terus, males malesan.”
Dan seketika Riszki mendengar kalimat itu, disitu hati Riszki sangat sangat sakit, kecewa sampai nangis tersedu sedu. Tapi salah satu dari mereka yang lain langsung reflek memeluk dan berkata “Jangan begitu semua berhak ikut kegiatan sekolah, tanpa terkecuali. Semisal nanti Riszki ga kuat baru jangan dipaksa ikut. Sakit sehat semua kehendak Allah.” Sambil mengelus-elus punggung si Riszki.
Perbedaan pendapat ini harusnya bisa menjadi renungan agar saling menghargai sesama. Saat berinteraksi dengan sesama manusia, kemungkinan besar akan menemui beragam pendapat dan perbedaan. Jadi, apa pun jenis perbedaannya, jangan sampai membuat mereka terpecah belah hingga berbuat resialisme. Sejak saat itulah mereka semua saling mengerti keadaan Riszki dan berdamai, memahami kondisi Riszki serta berteman baik sampai saat ini.
Walau awalnya Riszki tidak bisa menerima sakitnya, putus asa, dan tidak semangat untuk sembuh, tidak semangat untuk sekolah, tidak bisa mencapai mimpinya yang berkerja di kantoran karna riwayat sakitnya, umurnya tidak panjang
Tapi pada akhirnya Riszki sadar begitu banyak disekeliling Riszki yang menyayanginya keluarga, kerabat, teman temannya, tetangga semua menyemangati Riszki untuk sembuh. Diibaratkan sebagai pelangi yang indah dilihat dan dirasakan oleh Riszki karena menerima atas perbedaan yang Tuhan berikan.

