Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

PIKSON BUKAN ANAK NAKAL

31 Mar 2024 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Pikson remaja asal Papua memiliki perawakan tinggi, berambut keriting. Penampilannya sama sekali tidak rapi, wajahnya terlihat tegas, dan keras. Tatapan matanya tajam seakan ingin menerkam mangsa.

Awal mula saya kenal pikson itu di depan rumah Pikson. Kebetulan dia adalah tetangga baru di desaku. Awalnya aku merasa takut untuk berkenalan. Berbanding terbalik dengan Pikson perawakanku kecil dan aku memiliki wajah yang manis. Aku takut bila ada penolakan darinya.

Aku memberanikan diri menyapa dan berkenalan. Rasanya kurang etis bila ada tetangga baru kita hanya cuek saja. Ternyata apa yang aku pikirkan tentang Pikson tidak lah benar. Ia menyambutku hangat dengan Bahasa khasnya.

 Aku merasa tidak enak dengan Pikson karena berprasangka terhadapnya. Hanya karena penampilan aku beranggapan bahwa Pikson adalah anak yang nakal. Lantas aku berusaha untuk jujur dan meminta maaf.

Pikson tidak keberatan denga napa yang telah aku lakukan terhadapnya. Kemungkinan ia sudah memahami. Aku pun tidak membahasnya lagi agar dalam berkomunikasi, kami lebih akrab.

Sangat kotras dengan penampilannya. Pikson ternyata memiliki sifat baik hati dan tidak pelit. Ia sering berbagi makanan. Meskipun bahasanya keras tetapi kemanuasiannya tidak diragukan.

Pada waktu itu, aku dalam kondisi yang gabut. Pikson mempunyai ide untuk pergi berpetualang. Lebih tepatnya berburu. Kami berburu tidak menggunakan senapan. Aku yang sama sekali tidak memiliki pengalaman berburu, banyak diajari Pikson. Ia mengajarkan berburu yang benar tanpa harus rusuh. Ia mengajariku cara memasang perangkap, memancing hewan darat memakai suara samaran. Sangat kreatif. Aku sangat berkesan.

Azan berkumandang. Waktunya salat duhur. Aku memutuskan untuk pulang duluan. Baru sadar ternyata Pikson mengikutiku. Ia ingin menungguku salah duhur sambil menghabiskan jambu yang dimakannya sekaligus mengambil senar.

Sesampai di rumah aku bergegas mengambil air wudhu dan sarung untuk menjalankan salat duhur. Setetelah itu, saya menghampiri Pikson untuk melanjutkan berburu. Kami melihat perangkap hewan yang tadi dipasang. Ternyata perangkap itu belum mengenai mangsanya.

Saya merasa kecewa. Berbeda dengan Pikson, ia lebih terlihat biasa saja, seakan sudah terbiasa. Ia berjiwa besar dan sangat bijaksana. Ia mengajak pulang tanpa ada raut penyesalan.

Hari ke hari kita bermain bersama. Meskipun aku Jawa, ia Papua, kami tidak pernah dibuat pusing karena masalah. Ia sangat menghargaiku. Aku pun demikian. Ini pertama kalinya aku berkawan dengan orang Papua. Penampilan fisik tidak dapat menjadi ukuran sifat seseorang.

Pikson membuka pengetahuanku bahwa orang Papua tidak semuanya kasar. Ia justru banyak mengalah dan lebih dewasa. Kini aku tidak bisa bermain dengan Pikson lagi. Pikson Kembali ke tanah Papua bersama keluarganya. Persahabatanku dengan Pikson sangat bermakna.

Persahabatan kami masih berlanjut hingga saat ini meskipun hanya lewat udara. Kita tidak bisa menghakimi karakter orang dari asal daerah, warna kulit, cara berpakaian, dan gaya bicara.

Nama : Maulana Zuhad Firmansyah

Asal Sekolah : SMKN 3 KLATEN

Kelas : X Perhotelan 2

Email : yuhadfirmansyah@gmail.com

 

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 tahun lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan