Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Beli Makanan via Online Selama Pandemi Dianggap Sebagai Coping Stress Menurut Dr. Ray Wagiu Basrowi

Candra Bi
18 Okt 2021 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Pandemi COVID-19 dan pemberlakuan PPKM di Indonesia ternyata tidak hanya memengaruhi pola pembelian makanan masyarakat, tetapi juga mengubah persepsi masyarakat terhadap pengalaman pembelian makanan secara online.

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Health Collaborative Center (HCC) dengan Peneliti Utama Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi pada 3806 responden yang terdiri dari 82% perempuan dan 18% laki-laki, yang tersebar di 20 provinsi di Indonesia.

Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa ternyata selama periode PPKM kegiatan membeli makanan secara online dapat dikategorikan sebagai coping stress. Terbukti 7 dari 10 responden mengatakan menikmati pembelian makanan secara online sebagai bagian dari aktivitas dirumah saja.

Bahkan 6 dari 10 responden setuju dan mengakui bahwa membeli makanan secara online dari rumah selama PPKM membuat mereka merasa lebih baik. Mereka menganggap, belanja makanan secara online dianggap sebagai reward system atau penghargaan kepada diri sendiri dan keluarga.

Menurut Dr. Ray Wagiu Basrowi, 69% responden setuju jika membeli makanan online melalui aplikasi adalah bentuk menghargai diri sendiri selama pandemi dan bukan semata-mata kegiatan pemenuhan gizi saja. Ketika dikaitkan dengan perasaan jenuh bekerja dari rumah yang dialami para responden yang juga rata-rata pekerja, 70% responden mengatakan mengatasi jenuh dengan memesan makanan online.

Tak hanya itu, terdapat sekitar 45% responden dikategorikan secara impulsive membeli makanan secara online murni untuk mengatasi stress dan kejenuhan akibat work from home dan harus beraktifitas di rumah saja.

“Penelitian ini membuktikan bahwa ada aspek multidimensi selama pandemi yang terjadi pada perilaku sederhana, seperti membeli dan mengonsumsi makananan. Adanya tuntutan untuk tinggal dan beraktivitas di rumah saja memberi dampak disruptif dalam perubahan perilaku memproses dan membeli makanan, yang bergeser dari sekadar menyiapkan santapan menjadi potensi coping stress bahkan konsekuensi jangka panjang bisa berakibat pada kesehatan,” tutur Dr. Ray Baswori.

Penelitian ini menunjukkan jika kelompok pekerja berpenghasilan rendah menjadi kelompok paling banyak mengakses pemesanan makanan secara online. Sebanyak 67% responden yang aktif membeli makanan secara online melalui apps merupakan kalangan pekerja dengan sosio ekonomi kategori penghasilan di bawah Rp 5juta per bulan. Dengan alasan akses beli makanan online dinilai lebih hemat.

Analisis dari penelitian ini menunjukkan dengan tingkat penghasilan yang rendah dan menengah, maka pekerja akan memilih makanan dengan harga yang terjangkau. Ditambah pertimbangan jarak pengantaran dengan implikasinya terhadap biaya antar tanpa melihat apakah makanan memiliki kandungan gizi baik atau tidak.

“Temuan penelitian ini tentu nya dapat dilihat sebagai insight bagi industri tapi juga penting bagi pemerintah dan para stakeholder kesehatan, untuk melakukan intervensi spesifik agar perubahan perilaku belanja makanan secara online ini juga tidak memberi efek yang tidak baik untuk kesehatan mental dan status gizi masyarakat,” pungkas dokter sekaligus pemilik Instagram @ray.w.basrowi.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Ray dapat menjadi masukan untuk para penyedia aplikasi online untuk memberikan fitur baru berupa rekomendasi makanan sehat yang ada di sekitar calon pembeli. Adanya tampilan menu pilihan sehat dengan harga terjangkau, akan membantu masyarakat mendapatkan asupan informasi gizi secara merata.

“Terdapat dua intervensi yang dapat dilakukan sebagai kontrol perilaku. Pertama, perlu adanya mitigasi melalui program kesehatan mental terkait perilaku kuliner secara online. Dan yang kedua, diperlukan adanya intervensi informasi gizi pada aplikasi online yang dikaitkan dengan informasi kesehatan mental seperti pengaruh makanan terhadap kestabilan hormon,” papar Dr Ray.

Health Collaborative Center (HCC) sendiri merupakan wadah promosi dan advokasi kesehatan non-profit di Indonesia dalam bidang kesehatan masyarakat dan kedokteran komunitas. Didirikan sejak Juni 2019 oleh praktisi kesehatan kerja dan industri, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK.

HCC fokus pada kajian ilmiah, riset dan edukasi maupun promosi kesehatan di bidang nutrisi, kesehatan kerja, kesehatan ibu dan anak serta kedokteran komunitas. Untuk menjangkau kaum millennial, HCC juga menggunakan platform sosial media dengan inisiatif #SEHATINDONESIA.

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 tahun lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan