Transformasi Kali Pepe di Kota Solo

kali pepe
Awan gelap bergelayut di atas Kali Pepe, Jebres, Solo, Rabu (25/2/2026). dan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah Jawa Tengah berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang. (Dok.Solopos).

Tahukah Anda mengenai sejarah panjang Kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa tradisional? Kota Solo dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai budaya yang tetap eksis hingga kini. Nilai-nilai tradisi tersebut terus diwariskan melalui kehidupan masyarakat dan praktik kebudayaan sehari-hari. Banyak situs bersejarah terus ada dengan cara beradaptasi mengikuti perubahan zaman agar tetap memiliki makna.

Bangunan bersejarah mendapatkan pembaruan tanpa harus menghilangkan karakter historis yang masih kuat. Transformasi pemanfaatan area juga nampak jelas di sepanjang area bantaran kali Pepe. Walaupun mengalami perkembangan, Kali Pepe masih mempertahankan perannya sebagai saluran air di kota.

Kali Pepe adalah salah satu sungai yang menuju ke Sungai Bengawan Solo yang berada di sebelah utara kota. Aliran sungai ini membentang dari Terminal Gilingan hingga Sangkrah. Dari sudut pandang geografis, Kali Pepe memiliki peranan yang krusial dalam pengaturan ruang Kota Solo.

Namun, kondisi itu kini hanya menjadi bagian dari catatan sejarah yang telah berlalu. Keindahan Kali Pepe perlahan-lahan semakin memudar seiring dengan perubahan lingkungan dan aktivitas manusia. Kenangan akan kejayaan sungai tersebut masih tersimpan dalam ingatan masyarakat Kota Solo.

Kali Pepe telah berubah menjadi daerah kumuh akibat peningkatan limbah yang terus-menerus. Berbagai jenis sampah dibuang langsung ke dalam sungai sehingga menyebabkan bau yang tidak sedap. Pencemaran ini berasal dari kegiatan rumah tangga dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Banyak permukiman informal dibangun di sepanjang tepi Kali Pepe tanpa adanya pengaturan yang baik.

Memasuki pada awal tahun 1991, pembangunan ini dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Program ini direncanakan dengan jangka panjang agar hasil yang dicapai lebih baik. Pemerintah melakukan normalisasi aliran sungai dengan cara pengerukan dan pembersihan sampah. Penataan area sekitar sungai juga merupakan elemen penting dalam proses pembangunan ini.

Posisi Kali Pepe yang terletak di tengah kota menjadikannya sebagai tempat utama penampungan limbah. Sungai ini menerima aliran limbah dari berbagai kegiatan rumah tangga dan perkotaan. Besar volume limbah menjadi tantangan yang signifikan dalam pemulihan kondisi sungai. Oleh karenanya, pengelolaan yang terintegrasi antara pemerintah dan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan.

Kondisi Kali Pepe pada saat itu sangat buruk akibat timbunan lumpur yang melebihi dua meter. Timbunan ini menghalangi aliran air dan secara signifikan memperburuk pencemaran di sungai. Pendangkalan sungai mengurangi kapasitas penampungan air dan bisa berisiko menyebabkan banjir. Pemerintah kemudian merencanakan pembangunan serta perbaikan sebagai langkah utama untuk penanganan.

Biaya proyek ini diperkirakan berada di angka antara dua hingga empat miliar rupiah. Hartomo menyebutkan bahwa anggaran tersebut disusun berdasarkan tingkat kerusakan dan kebutuhan teknis di lapangan. Awalnya, sumber dana direncanakan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Dana tersebut ditujukan untuk pembangunan dan renovasi infrastruktur di sungai.

Namun, dalam pelaksanaannya, anggaran yang ada tidak mencukupi seluruh kebutuhan pekerjaan. Selama dua tahun, dana APBD yang tersedia masih mengalami defisit yang cukup besar. Keterbatasan anggaran menjadi kendala dalam mempercepat proses normalisasi Kali Pepe. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi tambahan untuk mendukung kelangsungan proyek pembangunan.

Memasuki September tahun 1992 pembangunan kali Pepe memasuki tahap akhir mencapai 90 persen. Proyek pembangunan diperkirakan rampung pada Desember mendatang juga berakhirnya normalisasi Kali Pepe. Untuk mengingat proyek ini akan dilakukan pembangunan monumen kali Pepe sebagai tugu peringatan. Monumen kali Pepe terletak di Srambatan dan dilaksanakan oleh gabungan pelaksana kontruksi Kotamadya Surakarta.

kali pepe
Dua perahu wisata membawa pengunjung menyusuri Kali Pepe yang dihiasi ratusan lampion di Solo, Jumat (17/1/2025). (Dok.Solopos)

Sekarang fungsi dari Kali Pepe berubah menjadi tempat wisata dan tempat untuk menghabiskan waktu luang. Kondisi permukiman yang kumuh sekarang menjadi lebih tertata dan rapi tetapi masih bau di beberapa titik. Masyarakat sekarang mulai sadar dengan kondisi di tempat tinggal mereka dan lebih bijak dalam mengambil keputusan.

Seperti pada rangkaian acara Grebeg Sudiro tahun 2025 Kali Pepe menghadirkan wisata air Lampion Imlek. Acara yang begitu meriah dan mejadi sumber pendapatan baru bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Solo. Tidak hanya itu, banyak spot menarik untuk dikunjungi seperti Cafe dan kuliner yang tersebar.