Menolak Lupa: Jejak Solidaritas di Balik Banjir Besar Solo 1966

banjir 1966
Suasana Kota Solo yang dilanda banjir pada tahun 1966.

Kota Solo secara geografis memang dikelilingi oleh aliran sungai besar seperti Bengawan Solo dan anak sungainya, yakni Kali Pepe. Letak wilayah yang berada di dataran rendah membuat kota ini memiliki kerentanan alami terhadap luapan air sejak masa lampau. Jika melihat perbandingan pada kondisi banjir yang sering terjadi hingga siklus banjir besar, ini bukan merupakan hal baru. Namun peristiwa tahun 1966 tetap menjadi memori yang paling membekas bagi warga yang terdampak. Kondisi alamiah ini kemudian diperparah oleh perubahan tata ruang yang terus berlangsung seiring dengan pertumbuhan kota yang pesat.

Banjir bandang yang terjadi pada Maret 1966 berada di saat kondisi politik Indonesia sedang berada dalam titik yang sangat krusial. Enam kecamatan di jantung Kota Solo terendam air hingga melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat secara total pada waktu itu. Ini makin memperparah situasi Indonesia yang kala itu sedang masif melakukan pembantaian partai komunis, apalagi solo merupakan kawasan yang menjadi basis dari kelompok kiri tersebut.

Meskipun situasi keamanan nasional saat itu belum stabil, naluri kemanusiaan warga justru muncul sebagai kekuatan yang menyatukan mereka. Kerugian materi yang sangat besar tidak menghalangi niat masyarakat untuk saling bahu-membahu demi bertahan hidup di lokasi pengungsian.

Aktivitas warga ketika air merendam seluruh tempat di Pasar Gede Solo

Sumber : Solo Zaman Dulu

Praktik filantropi atau kepedulian sosial yang diwujudkan melalui penggalangan dan penyaluran dana menjadi kunci penting dalam proses penanganan dampak bencana banjir Surakarta kala itu. Berbagai lapisan masyarakat bergerak secara swadaya untuk menyediakan dapur umum serta menyalurkan bantuan pakaian layak pakai bagi para korban. Menurut Tirto, bantuan datang dari berbagai pihak dan daerah mulai dari Jakarta serta bandung yang dipelopori oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) menggalang dana sebagai bantuan bagi korban banjir Solo.

Tak kalah perhatian, Kompas kala itu juga membuka Dompet Korban Banjir berupa uang dan barang yang berasal dari bantuan pembaca, bantuan ini bisa dikirim melalui wesel pos atau diserahkan secara langsung kepada redaksi. Selain itu menurut surat kabar Berita Yudha, tercatat hasil sumbangan yang berasal dari masyarakat dan memuat nama-nama orang hingga sejumlah uang yang kemudian disumbangkan kepada korban banjir. Solidaritas ini membuktikan bahwa nilai gotong royong tetap mengakar kuat meski negara sedang berada di tengah krisis Perpolitikan yang hebat. Bantuan yang datang bukan sekadar materi, melainkan wujud dukungan moral agar warga yang terdampak mampu bangkit kembali dari keterpurukan.

Hingga saat ini, ketakutan akan banjir yang sama masih menghantui melalui ancaman luapan air pada beberapa titik di Surakarta, terutama di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Pepe. Pakar dan peneliti hingga akademisi menunjukkan identifikasi mereka pada  berbagai jenis kawasan berisiko yang memerlukan penanganan tata ruang lebih serius dan terintegrasi agar bencana serupa tidak terulang. Belajar dari bencana banjir Solo tahun 1966, Pemerintah Kota Solo perlu memberikan titik-titik tersebut untuk meminimalisir banjir yang sama dikemudian hari. 

Peristiwa banjir bandang tahun 1966 di Surakarta merupakan potret nyata bagaimana ketangguhan masyarakat dapat melampaui kondisi politik nasional yang sedang bergejolak. Meskipun ancaman banjir secara geografis tetap menghantui wilayah Kota Solo, solidaritas sosial yang terwujud dalam praktik filantropi mampu menjadi pilar utama dalam pemulihan pascabencana. Sejarah panjang solidaritas ini menjadi pelajaran berharga bagi generasi sekarang bahwa gotong royong adalah modal sosial yang sangat vital dalam menghadapi krisis. Mengingat risiko bencana yang masih terus mengintai di sepanjang Daerah Aliran Sungai Kali Pepe, narasi sejarah tersebut hendaknya menjadi pengingat bagi pemerintah untuk memperkuat penataan ruang yang lebih terintegrasi.

Memahami sejarah bencana bukan berarti hanya mengenang penderitaan masa lalu, melainkan menjadi landasan penting untuk mitigasi yang lebih baik. Dengan demikian, memori kolektif tentang musibah masa lalu dapat bertransformasi menjadi langkah preventif yang nyata demi masa depan Surakarta yang lebih aman bagi masyarakatnya.