Assallamuallaikum Wr.Wb
SayaSetiawan Pambudi, anak pertama dari 2 bersaudara,muslim,usia saat tulisan ini di buat 39th,berkeluarga dengan 1 istri dan 2 orang anak.
Saat itu,tepatnya 25 desember 2007, saya masih berusia 27 tahun, dan menjadi anggota salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia yang populer disebut NU, Nahdlatul Ulama, bergabung di Badan Otonom bernama PAGAR NUSA berposisi sebagai PASUKAN INTI, bertugas sebagai personel pengamanan internal dan eksternal, biasanya dalam bertugas bersama dengan BANSER,yang merupakan para militernya NU.
Saat itu kami mendapat tugas untuk ikut terlibat dalam membantu pengamanan perayaan Natal di sebuah gereja Katolik terbesar di Solo yang berada di Jl Slamet Riyadi tepatnya di kawasan Gendengan.Pada tahun 2007, disolo telah banyak kelompok-kelompok umat islam beraqidah dan berfaham radikal yang cenderung intoleran dengan umat agama lain, bahkan sesama islam diluar kelompok mereka, terutama kita, warga NU yang mereka cap dengan Ahlul bid’ah, penyembah kuburan, syirik, tanpa ingin tahu yang sebenarnya.
Kembali pada waktu kegiatan penjagaan perayaan Natal, kita mendapat tugas di pos luar dan pintu masuk parkir jemaat dihalaman gereja.Acara berlangsung dengan lancar dan khidmat sampai selesai, namun di saat kita mau pulang ada sekelompok orang berhenti di depan kita dan memaki-maki dengan kata-kata yang tidak pantas, dan langsung pergi dengan cepat.Sebagai manusia saya marah,dan ingin beradu fisik dengan mereka, tapi saya di tahan oleh rekan-rekan yang lain.
Begitu mudahnya mereka menuduh orang tanpa mau tahu kebenaran yang sesungguhnya, kami menjaga perayaan Natal bukan bearti kami setuju dan mengakui peribadatan umat Nasrani,tidak.Kami menjaga makhluk ciptaan Allah,karena di NU kita di ajarkan untuk mencintai,menghargai,dan melindungi sesama manusia,tanpa memandang agamanya, selama mereka tidak mengusik, dan mengganggu islam, mereka adalah saudara.
Seandainya kelompok-kelompok intoleran itu mau tahu sebenarnya hakekat keterlibatan kami dalam membantu pengamanan perayaan acara keagamaan umat agama lain, mungkin cara pandang mereka akan berubah, sayangnya mereka tak mau dan tak pernah mau tahu, sehingga hanya stigma negatif dan kebencian yang mereka tujukan pada kami.
Coba kita renungkan sejenak,jika kami warga NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia bersikap acuh dan tidak mau terlibat mengambil bagian dalam pengamanan kegiatan umat agama lain, kemudian terjadi aksi penyerangan atau gangguan keamanan pada kegiatan tersebut, lebih-lebih sampai jatuh korban, siapa yang akan dituduh..??kita, umat Islam, cap Islam sebagai agama teror dan menakutkan akan semakin terdoktrin dalam benak saudara-saudara non muslim, namun dengan terlibatnya kita maka stigma itu otomatis dapat terbantah dan terpatahkan.
Misal sampai terjadi aksi gangguan keamanan pada kegiatan umat agama lain,umat Islam keseluruhan tidak akan dituduh dan disalahkan karena fakta ya ada ormas Islam terbesar yaitu NU yang ikut menjaga,bearti ini adalah oknum yang berkedok agama, kira-kira seperti.itu yang ada dalam benak saudara-saudara non muslim.
Meskipun anggapan dan stigma negatif tetap mereka tujukan pada kami,tak akan pernah menyurutkan langkah kami untuk tetap terlibat dalam setiap kegiatan yang menjunjung tinggi keberagaman dan toleransi,karena sejatinya kujaga kita ,mereka,dan Indonesia
30 maret 2023

