Mahakarya Kebhinnekaan Indonesia : Keunikan Blora

Pecel Blora
Indonesia merupakannegeri yang kaya akan keberagaman suku. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, berbagai suku, agama, dan budaya bersatu dalam satu kesatuan yang harmonis. Keberagaman suku di Indonesia bukanlah suatu kebetulan belaka, melainkan hasil dari protret sejarah panjang yang dipenuhi dengan perjuangan, toleransi, dan persatuan. Salah satu contoh keberagaman yang menarik adalah di salah satu daerah yang luas akan hutan dan tradisi serta kuliner unikyaitu Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah . Di sini, terdapat beberapakeunikan yang tidak biasa dialami di daerah lain di sekitar Blora, semua ceritaini berawal dari pengalamanseorang pria yang memulai karir bekerjanya di sebuah Bank BUMN di daerah Blora paling ujung Barat yaitu kecamatan Kunduran.

Pria tersebut bernama Fendi, berasal dari Kabupaten Grobogan dan seorang lulusan mahasiswa keguruan dari kampus swasta Di Semarang yang pada awal tahun 2014di usia 22 tahun memulai karirnya  sebagai pegawai di salah satu Bank BUMN sebagai Frontliner. Dengan pekerjaannya sebagai frontliner, Fendi mulai bertemu dengan nasabah yang berasal dari daerah Kabupaten Blora yang beragam.

Keunikan yang pertama Fendi rasakan adalah tentang bahasa, di Blora bahasanya menggunakan bahasa jawa yang mungkin tidak beda jauh dengan bahasa yang digunakan Fendi di daerah asalnya, tapi uniknya adalah mereka ketika mengungkapkan kalimat “mu” yang bermakna kepunyaan seperti “ nggon mu “ yang berarti kepunyaanmu, kalau di blora berubah jadi nggonem” . Contoh lain lagi seperti kata “ motor mu “ menjadi “motorem” . Sungguh unik dan agak terdengar lucu bagi orang dari bahasa lain.

Selain itu juga ada ungkapan reflek yang merupakan ciri khas orang Blora kalau berbicara ditambahkan kata “a” yang diungkapkan agak panjang di belakang setiap mereka berbicara, contohnya “ iyo aaa ?” , secara jelas berbeda dari ciri khas daerah asal Fendi Kabupaten Grobogan yang menggunakan imbuhan re di belakang seperti “iyo ree”. 

Ada satu ungkapan tertentu yang benar benar asing di telinga Fendi saat orang Blora berbica kata “buwoh” yang artinya menghadiri sebuah undangan pernikahan atau hajatan, awalnya Fendi sempat bingung dengan kata itu, dengan kalimat lengkap “ Aku tak buwoh sik yo “ yang ternyata artinya aku mau datang ke hajatan dulu ya”. 

Keberagaman lain yang dirasakan Fendi di Blora adalah dari sisi kuliner, tentu ada beberapa keunikan tersendiri dan mungkin hanya terdapat di Blora. Keunikan tersebuat adalah penggunaan bungkus daun , jika di tempat asal Fendi jika membungkus makanan dengan daun biasanya dilapisan dalam diberi daun pisang dahulu baru kemudian daun Jati diluarnya, tapi uniknya di Blora ini hampir segala jenis makanan yang dibungkus menggunakan langsung daun jati.

Memang di Blora ini sebagian besar wilayahnya adalah hutan yang masih banyak ditemukan pohon Jati yang masih berukuran besar, sehingga mempengaruhi warga setempat untuk memanfaatkan daun jati yang melimpah untuk membungkus makanan di sana. Bahkan makanan berkuah pun seperti kupat sambel , pecel atau soto juga langsung beralaskan daun jati tanpa dilapisi daun pisang. Bagi orang yang tidak terbiasa jelas pertama kali akan merasa kurang tertarik ketika melihat bungkus makanannya langsung dilapisi daun jati yang teksturnya kasar dan daun jati terkenal gatel jika terkena kulit. Tapi setelah mencobanya ternyata Fendi merasa ada hal yang berbeda jika bungkusnya langsung dengan daun jati, yang dikiranya akan menjadi terganggu ternyata membuat rasa masakan jadi lebih enak, sehingga lama kelamaan menjadi terbiasa.  

Selain bungkus daun jati, ada kalanya dimusim tertentu yaitu musim dimana banyak sekali terdapat kepompong ulat daun jati yang banyak di Blora, orang Blora pun memanfaatkan kepompong tersebut sebagai kuliner unik disana. Banyak anak kecil, remaja dan bahkan orang tua yang berburu ulat jati saat musimnya tiba. Caranya dengan mencari di reruntuhan daun jati yang jatuh ditanah, ulat ini sudah berada dalam fase kepompong . Orang Blora menyebutnya “Entung Jati”. Olahan masakan entung jati ini biasanya diolah menjadi oseng oseng yang diberi irisan cabai. Walaupun fendi belum pernah mencobanya tapi banyak temannya yang bercerita rasanya sangat gurih dan enak.

Keunikan lainnya dari sisi kuliner yang membuat Fendi menjadi senang bisa hidup di Blora dan meyakini ini adalah janis masakan terenak dengan sekaligus cara penyajiannya yang unik yaitu sate kambing khas Blora, Fendi meyakini sate kambing Blora adalah sate kambing terenak yang pernah dia makan, tepatnya di sate kambing Mbah Karmo Kecamatab Ngawen, bukan hanya di sini saja tapi ditempat lain satenya juga sangat enak. Sate kambing di Blora disajikan dikala masih panas, jadi ketika kita pesan sate akan langsung di sajikan 1 piring sate kambing yang masih panas dan setiap 5 sampai 10 menit akan diambil dan di ganti lagi dengan sate baru yang masih hangat.

Jika ada pelanggan yang baru datang pertama kali pasti bingung , bagaimana cara menghitungnya habis berapa tusuk kalau selalu diganti dengan yang baru dan hangat. Ternyata , tusuk sate yang sudah dimakan tidak boleh dibuang, tapi akan jadi semacam nota yang ketika mau membayar, tusuk sate tersebut yang akan dihitungberapa banyak sate yang dimakan. 

Adalagi keberagaman budaya indonesia di Blora ini, yaitu seni Barongan, hampir disetiap acara di daerah Blora sering menampilkan kesenian barongan, dan hebatkan Barongan Blora ini kabarnya terkenal dengan adanya tarian Barongan yang dipandu oleh pawangnya. Disetiap acara yang selalu ditungu tunggu oleh anak kecil remaja dan orang tua adalah penampilan barongannya.

Keberagaman lain adalah uniknya perayaan hasil panen di Blora yang dinamakan Gas Deso. Perayaan Gas Deso di Blora sangat meriah bahkan mengalahkan kemeriahan suasana lebaran, banyak nasabah bank yang saya jumpai yang kerjanya merantau di luar Blora bahkan di luar jawa yang pulang kampungnya menyesuaikan waktu Gas Deso di desanya. Hampir di setiap Desa merayakan secara besar besaran dengan arak arakan tumpengan hasil bumi, ada yang tradisi tarung barongan , dangdut , pengajian akbar dan hiburan menarik lainnya. Warga tampak sangat guyub dan bersyukur dengan hasil bumi yang mereka dapatkan.

Dari segala keunikan yang dimiliki Blora ini, tidak lepas dari stereotype para pendatang yang memandang Blora adalah daerah pelosok dan kalau orang jawa bilang tempatnya “ndeso “ jikalau belum mengenal dan tau keunikan yang ada di dalamnya. Fendi pun juga merasakan hal tersebut yang awalnya sempat berfikir tidak akan betah tinggal di Blora, tapi pada akhirnya menjadi tempat yang sangat nyaman dengan berbagai kuliner yang enak dan sangat murah serta kebaikan warga dan budaya yang menjadikan suatu hal yang sangat dikangeni bila tidak berada di Blora lagi. 

Kini Fendi sudah tidak tinggal di Blora lagi sejak 2019, dan hanya bisa berharap jika ada waktu bisa kembali berkunjung dan merasakan keindahan dan keunikan Blora kembali.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan