Sama seperti sebelumnya, hari ini rasanya penuh semangat. Canda tawa menjadi suara-suara gaduh yang sulit diterjemahkan maknanya.
Namun, jelas ada dan turut mewarnai, menghiasi langit SMP Negeri 19 Surakarta.
Warna langit hari ini, di tempat yang aku selalu berada dalam menjalani sebagian besar hariku. Iya memang tak selalu biru, tenang, damai, dan berwarna indah.
Kadang ada angin besar yang tiba-tiba datang, cuaca panas, lalu sebentar hujan, dan muncul pelangi. Itulah sedikit kata yang tentu saja belum bisa melukiskan betapa indahnya warna yang Tuhan karuniakan untuk keluarga SMP Negeri 19 Suakarta.
Di SMP Negeri 19 Surakarta ada perbedaan agama, perbedaan kondisi latar belakang keluarga, beda asal suku, beda kemampuan, sampai perbedaan kondisi fisik. Kondisi ini bukan hanya tentang murid, namun juga para pendidik dan warga sekolah yang lain.
Tak selalu sama bahkan lebih sering berbeda. Perbedaan, pertentangan, perdebatan, bahkan tak jarang ada yang dinamakan bermusuhan, bertengkar, tak dapat dihindarkan. Lagi-lagi kondisi ini bukan hanya tentang murid, tapi juga dialami warga dewasa di lingkungan yang indah ini.
Hari ini, Jumat (22/3/2024), seperti hari – hari sebelumnya, kami awali aktivitas dengan kegiatan keagamaan doa pagi bersama sesuai agama masing-masing. Sebelumnya kukira semua berlangsung sesuai harapan ideal, yakni kami berdoa sesuai ketentuan.
Sampai pandanganku tertuju pada salah seorang murid kelas tujuh, sebut namanya Raka. Raka tampak dengan hikmat duduk dengan kepala menunduk pandangan serius ke Al-quran di depannya. Agar tak mengganggu konsentrasi murid-murid yang lain, dengan langkah pelan kudekati Raka.
Dengan suara berbisik, kuajak dia keluar ruangan. Setelah kupersilahkan duduk, segera kusampaikan pertanyaanku, tentang mengapa Raka ikut mengaji doa pagi bersama teman-teman yang beragama Islam, sedangkan dia beragama Kristen.
Raka ikut mengaji karena teman-teman sekelompoknya semua beragama Islam. Ingin disebut setia kawan, solid, kompak, dan tak mau di-bully. Ketika kutanyakan apakah ada yang memaksanya, apakah dia pernah di-bully, jawabnya ”tidak ada”. Semua hanya untuk antisipasi katanya.
Untuk sementara, kurasa keingintahuanku terjawab. Kuminta raka menuju tempat doa pagi murid-murid Kristiani agar dia bisa berdoa sesuai agamanya. Selesai doa pagi kebetulan aku tidak mengajar di jam pelajaran jam pertama.
Aku berjalan menuju ruang guru dengan lebih dari setengah permasalalan Raka yang belum selesai. Berdasarkan pengalaman, sangat jarang masalah hanya berdiri sendiri, pasti ada masalah lain yang menyertainya.
Benar adanya. Belum juga langkah kakiku memasuki ruang guru, sudah terdengar suara beberapa guru membicarakan tingkah Raka. Yakni soal dia yang terlambat doa pagi karena lebih dulu ikut doa teman-teman beda agama.
Ada yang menilai Raka anak nakal dan suka bikin ulah karena mengganggu temannya. Raka sering tidak masuk sekolah, ia korban salah asuhan orang tua, dan lain-lain. Mendengar perbincangan teman- teman guru, membuatku semakin merasa masalah Raka harusnya cepat dicari kebenaran dan solusinya.
Pikiranku terus mencari-cari solusi terbaik. Sementara tanpa kusadari terjadi perdebatan di antara teman-teman guru. Ada yang menyarankan Raka dikeluarkan saja agar tidak dicontoh teman yang lain, ada yang menyalahkan pendapat itu karena itu terlalu kejam. Adu argumen masih terus berlangsung hingga ada satu dua yang memilih meninggalkan ruangan.
Kupanggil beberapa anak yang merupakan teman-teman dekat Raka. Dari mereka bisa disimpulkan, Raka merupakan anak pindahan dari Sulawesi karena mengikuti orang tuanya pindah tugas kerja.
Ia merasa berbeda dari teman-temannya, baik berbeda warna kulit, logat bicara, juga kebiasaan. Terlebih ketika di Sulawesi dahulu Raka belajar di asrama yang semua beragama sama. Tiba giliran kupanggil Raka untuk kuberikan kesempatan bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi dan dirasakan versi dirinya.
Dari pengakuannya bisa disimpulkan Raka merasa perlu melakukan segala tingkah aneh agar bisa diterima di lingkumgan baru ini. Apa pun itu termasuk mengikuti agama temannya agar teman-temannya senang.
Dari video dan media sosial, Raka belajar cara agar bisa cepat diterima dalam lingkungan baru. Ia juga pernah menonton video tentang bullying di sekolah yang mengerikan hingga membuatnya takut kalau sampai mengalaminya.
Semua pemikiran itulah yang memotivasi Raka melakukan apa pun termasuk melanggar peraturan yang penting bisa menyenangkan teman-temannya.
Pertemuan Raka dan Teman-Temannya
Sesi berikutnya adalah kupertemukan Raka dan teman-teman dekatnya untuk bisa saling berbicara secara serius tentang pertemanan mereka. Biarlah di antara mereka saling menyampaikan tak ada syarat yang menyalahi aturan untuk mereka bisa bergaul dengan baik.
Di akhir cerita hari ini, ada pelukan persahabatan dan ungkapan penerimaan. Meski mereka menyebut norak, tapi terlihat nyata mereka bahagia. Aku sangat menghargai momen ini.
Setelah kurasa cukup tersampaikan pesan bagaimana seharusnya membawa diri dalam keberagaman lingkungan, tak perlu menjadi orang lain sebagai syarat sebuah pertemanan. Anak-anak kupersilahkan masuk ke kelas masing-masing.
Pagi ini masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya, hangat, cerah, penuh semangat. Ada canda tawa, ada saling menggoda, ada suara-suara yang masih riuh, dan lagi-lagi tak jelas apa maknanya. Namun, terdengar penuh keakraban.
Di antara pemandangan indah pagi ini, dapat kulihat juga, Raka, muridku yang akhir-akhir ini menyita perhatian guru-guru. Tetapi ada yang berbeda. Dari kejauhan kulihat dia tak lagi berjalan sendiri memasuki gerbang sekolahan dengan kepala tertunduk.
Kini, dia berjalan beriringan dengan teman-temanya dengan wajah penuh senyuman disertai cerita dan canda tawa. Alangkah indahnya pemandangan ini.
Memang seharusnya begitu, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi, apalagi menyimpulkan ketakutan adalah kebenaran yang pasti terjadi. Perbedaan agama, warna kulit, suku, kondisi keluarga, hingga perbedaan kemampuan memang nyata adanya. Ini ada untuk menghiasi nuansa kehidupan di keluarga SMP negeri 19 Surakarta.
Syukurlah kini kalian tak lagi menjadikan keberagaman itu sebagai penghalang langkah kalian. Tetaplah menjadi diri kalian masing-masing. Banggalah dan syukuri segala yang kalian miliki sebagai bekal bertahan dan memperjuangkan masa depan tanpa melupakan etika, aturan, dan toleransi.
Pemandangan indah pagi ini semakin sempurna dengan canda tawa bapak ibu guru. Seakan menegaskan perdebatan dan perbedaan pendapat kemarin semata salah satu bentuk kenyamanan kami.
Bahwa dalam keluarga boleh ada beda pendapat tetapi akan lebih besar maaf dan maklum. Satu lagi pelajaran yang bisa diambil, lebih baik menanyakan hal yang belum dipahami daripada salah mengambil kesimpulan sendiri.
Semoga setelah ini sampai pagi-pagi selanjutkanya keberagaman yang masih tetap mewarnai langit SMP Negeri 19 Surakarta bisa menjadi semangat, menambah semarak dan tak lagi menjadi penghalang kebersamaan.
Tetaplah beragam warna langitku. Sebagai penyemangat dan bekal kami menjalani kehidupan selanjutnya yang selalu ada toleransi dan kasih sayang di dalamnya tanpa mengorbankan jati diri.
Ditulis oleh:
Maryati, S.Pd.
Guru SMP Negeri 19 Surakarta

