Pada hari Jumat 28 April 2000, tepatnya sekitar pukul 01.00 WIB, kebakaran hebat melanda Pasar Gede Hardjonagoro yang berlokasi di Jalan Urip Sumoharjo, Solo. Sumber api berasal dari korsleting listrik di lantai II, yakni di kawasan Diskotik Solo Biliar yang lokasinya berdekatan dengan pos polisi Pasar Gede. Pihak kepolisian melalui Kapolresta Solo Letkol (Pol) Robby Kaligis saat itu menyatakan penyelidikan untuk mengungkap penyebab kebakaran terus berjalan.
Peristiwa ini diawali dengan adanya ledakan kecil di dalam Diskotik Solo Biliar pada pukul 01.00 WIB. Hanya dalam waktu 15 menit, kobaran api membesar lalu membumbung tinggi dan merambat dengan cepat ke arah selatan hingga mencapai pos polisi, kemudian terus menjalar ke bagian atap sisi utara bangunan. Tak butuh waktu lama, nyaris seluruh area pasar dilahap si jago merah. Tiga unit mobil pemadam kebakaran baru tiba di lokasi sekitar pukul 01.45 WIB. Keterlambatan ini terjadi akibat kendala komunikasi yang menghambat penyampaian informasi kepada pihak pemadam. Guna memperkuat upaya pemadaman, bantuan tambahan akhirnya didatangkan dari wilayah Klaten, Sukoharjo, dan Boyolali.
Kebakaran ini meninggalkan kerugian yang sangat besar. Nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp15 miliar, sementara ratusan lapak pedagang musnah. Para bakul yang menggantungkan hidup di pasar tersebut hanya bisa menangis menyaksikan tempat usaha mereka rata dengan tanah. Tak sedikit di antara mereka adalah para ibu yang sehari-hari berjualan pada malam hari dan kini harus kehilangan sumber penghidupan mereka.
Karya Karsten Itu Dua Kali Direhabilitasi
Artikel berjudul In Memoriam Pasar Gede Solo (Bagian I): Karya Karsten itu Dua Kali Direhabilitasi yang diterbitkan oleh Solopos ini menceritakan tentang sejarah dan nilai penting Pasar Gede bagi masyarakat Solo setelah terjadinya kebakaran pada hari Jumat, 28 April. Pasar Gede yang juga dikenal sebagai Pasar Hardjonagoro, merupakan pasar terbesar yang dibangun di era Pakoe Boewono X, dirancang oleh arsitek asal Belanda, Thomas Karsten, dengan gaya arsitektur tropis Eropa yang khas dan tidak dimiliki oleh pasar lain di Solo maupun di Indonesia. Bangunan ini terdiri atas dua gedung yang dihubungkan oleh jembatan di atas Jl. Urip Sumoharjo, berlokasi strategis di pusat kota tepat di hadapan Balai Kota Solo.
Pengelolaan Pasar Gede berada di bawah naungan Keraton Kasunanan Solo, dan sejak didirikan, pasar ini telah mengalami dua kali rehabilitasi besar, yaitu pada tahun 1949 akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh massa dan pada tahun 1981 serta 1986/1987 yang menghasilkan bangunan baru bernama Akaru Biliar. Sebelum terkena kebakaran, pasar ini menaungi 578 pedagang dengan berbagai macam komoditas, dari makanan, perlengkapan rumah tangga, tekstil, hingga jamu, dan menjadi tempat perdagangan pertama di Solo yang dirancang secara profesional serta dikunjungi ribuan orang setiap harinya, termasuk mereka yang datang dari luar kota.
Ratusan Bakul Meratap Pilu
Masyarakat dari berbagai kampung seperti Pasar Kliwon, Sangkrah, dan sekitarnya berbondong-bondong menuju Pasar Gede setelah mendengar kabar kebakaran. Pasar Gede yang biasanya tak pernah sepi itu semakin ramai oleh warga yang ingin menyaksikan langsung. Para pengusaha yang menempati lantai II ikut meratap pilu, begitu pula ratusan pedagang kecil yang menempati area Pasar Gede di bawahnya. Kejadian memilukan itu berlangsung sekitar pukul 03.30 WIB saat bakul-bakul mulai berdatangan. Seorang wanita ikut meratapi bangunan yang “berselimut” api. Tidak hanya lokasi jualannya yang terbakar, tetapi juga jalan-jalan di sekitarnya ikut terdampak.
Mbah Hadi: Ini Firasat Buruk
Kebakaran yang terjadi di Pasar Gede Solo mendapat perhatian dari ahli perhitungan Jawa, sekaligus Kepala Museum Radyapustaka Solo, K.R.H. Darmodipuro (Mbah Hadi), yang menganggapnya sebagai pertanda buruk bagi masyarakat Solo. Ia menyatakan peristiwa ini berkaitan dengan karakteristik hari Jumat Wage yang memiliki sifat aras pepet, dan menambah kekhawatirannya karena Keraton Solo juga pernah mengalami kebakaran pada malam yang sama.
Di sisi lain, Pangageng Parentah Keraton Solo, Drs. G.P.H. Dipokusumo (Mas Dipo), menjelaskan bahwa Pasar Gede atau Pasar Hardjonagoro mengandung nilai filosofis yang dalam sebagai simbol hubungan antara hablumminallah dan habluminannas milik Keraton. Pasar ini juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992. Oleh sebab itu, pihak Keraton berharap bahwa pembangunan kembali Pasar Gede dapat mempertahankan fitur arsitektur bangunan lama, demi melestarikan identitas dan kebanggaan kota Solo.


Surat Kabar Solopos. Sabtu, 27 Mei 2000
Pedagang Boyongan Ke Lokasi Darurat
Pada 26 Mei 2000, ratusan pedagang Pasar Gede Solo dipindahkan ke pasar darurat di kawasan Plasa Beteng setelah kebakaran yang terjadi pada 28 April 2000. Perpindahan ini diawali dengan acara slup-slupan atau selamatan yang disertai kirab sebagai bentuk doa agar para pedagang tetap memperoleh keselamatan dan kelancaran usaha selama menempati lokasi sementara.
Pemerintah Kota Solo menjadikan pembangunan kembali Pasar Gede sebagai prioritas karena pasar ini merupakan pusat kegiatan ekonomi masyarakat sekaligus bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah penting. Pasar darurat tersebut menampung sekitar 886 orang yang menggantungkan mata pencahariannya pada aktivitas perdagangan di Pasar Gede.
Peristiwa ini juga mengingatkan pada sejarah tahun 1929–1930, ketika para pedagang Pasar Gede pernah dipindahkan sementara selama proses renovasi pasar. Karena itu, perpindahan pedagang pada tahun 2000 dianggap sebagai pengulangan peristiwa yang pernah terjadi sekitar 70 tahun sebelumnya.
