Toleransi

IMG-20230409-WA0018
Bakar kem
  • Kehidupan awal masyarakat dieng tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat bali. Dikalangan masyarakat Hindu Bali, Dieng dianggap merupakan asal-usul leluhur mereka.
  • Masyarakat dieng termasuk pemeluk Agama Islam yang taat dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap kepercayaan lain, hal ini dapat dilihat pada saat ada orang yang membakar kemenyan dikomplek candi, melakukan pertapaan di goa-goa sekitar telaga warna. Dan kegiatan lain yang bersifat keagamaan, tidak pernah ada yang kemudian mengganggunya.
  • Walaupun masyarakat Dieng adalah bagian dari suku jawa dan merupakan pemeluk agama Islam yang patuh dan taat, tetapi masyarakat Dieng memiliki rasa solidaritas yang penuh terhadap adat dan budaya, salah satu sikapnya terhadap para pemuka agama di Bali yang mengunjungi Dieng setiap sekali dalam upacara Maspe atau Mabakti.
  • Dalam pembahasan ini juga kita dapat belajar  proses sosial budaya jawa dan Islam dengan mencari aspek dari berbagai segi kehidupan melalui pendekatan budaya. Keadaan masyarakat jawa, sebelum munculnya berbagai macam agama dan budaya asli,mereka telah memiliki peradaban jawa yang khas yang tercermin dalam system sosial dan norma kemasyarakatan. Penelitian ini menemukan bahwa keberhasilan proses antara budaya dan agama tak terlepas dari proses penyebaran agama tersebut kedalam suatu wilayah. Penyatuan antara budaya dan agama Terlihat jelas dalam kecenderungan masyarakat yang taat agama namun tetap tidak bisa meninggalkan tradisi.    
  •    Setiap setahun sekali warga Dieng melakukan tradisi adat pemotongan rambut gimbal, dengan hal itu mayoritas agama Islam tidak keberatan dengan hal tersebut.Bagi agama Hindu membakar menyan dan Dupa menandakan mereka harus yakin kepada tuhan diatas sana
  •   Karena warga Dieng memegang teguh prinsip “Agama itu seperti baju walaupun berbeda -Beda tetapi harus memiliki akhlak yang mulia. Toleransi di desa Dieng, antara lain jika Ramadan, pemuda nonmuslim yang bertugas menjaga keamanan lingkungan dan rumah warga yang ditinggal pergi salat tarawih di masjid. Sebaliknya, jika Natal dan Waisak, banser bersama TNI dan Polri yang menjaga keamanan saat perayaan,” 
  •   Dengan banyaknya perbedaan diantara masyarakat Dieng tidak merubah sikap layaknya manusia yang memanusiakan sesama, walaupun disana mayoritas agama muslim,akan tetapi untuk Agama lain yang ingin beribadah atau melakukan kegiatan sesuai apa yang diajarkan agama tidak ada hambatan ataupun larangan yang berarti .
  •     Masyarakat Dieng adalah masyarakat yang mayoritas penduduknya adalah penganut agama Islam. walau begitu masyarakat Dieng juga masih mengamalkan kepercayaan kejawen, yaitu tradisi lokal masyarakat jawa sebelum masuknya agama Islam, yang banyak dipengaruhi oleh perpaduan Hindu-Budha dan kepercayaan lain.Masyarakat Dieng adalah termasuk masyarakat yang masih menjaga kearifan lokal demi menjaga tradisi. Walaupun dalam kehidupan masyarakat Dieng masih merasakan ritual-ritual seperti halnya ritual agama Hindu, ,karena dalam kehidupan masyarakat Dieng sudah terbiasa menjaga sikap toleransi dalam menerima pengaruh adat budaya luar khususnya Hindu Bali.
  •  
Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan