PESTA YANG TERTUNDA

IMG_20230409_140342

Taufiq adalah nama yg di berikan oleh orang tua saya dengan harapan supaya kelak saya selalu di berikan keberkahan. Saya anak dari seorang bapak yang bekerja sebagai seorang wiraswasta dan ibu menjadi guru di sebuah TK yang berada di desa kwarasan.

     Saat itu usia menginjak angka 18 tahun, mungkin di usia saat itu semangat untuk mencari hal baru sedang menyala-nyalanya.

     Jadi mungkin karena semangat mencari jatidiri tadi sedang berapi-apinya menghasilkan banyak mengenal latar keadaan setiap kawan-kawan sebaya yang sering mengajak mampir ke kawan satu ke kawan lainnya.

     Dari situ kisah ini di mulai saat ada beberapa teman saya yang bernama Rio, Dede, Yusuf, Uta dan Antonius yang sedang menunggu hasil keputusan ujian nasional yang saat itu kementerian pendidikan mematenkan nilai minimal untuk kelulusan.

     Sebenarnya di saat itu mereka sudah optimis untuk kelulusannya, dan sudah menyiapkan pilox dan spidol untuk persiapan perayaannya, bahkan saya sudah mengubah knalpot motor saya menjadi knalpot brong.

    Kebetulan dari kami berlima hanya Rio dan Dede yang menuntut ilmu di sekolah yang sama mereka sekolah di SMA MURNI SURAKARTA, sedangkan saya sendiri bersekolah di SMK HARAPAN , Antonius di SMK KRISTEN 2, Yusuf SMA KRISTEN SIDOKARE sedangkan Uta sekolah di SMK SANTO PAULUS. 

     Pada saat malam sebelum kelulusan kami semua berkumpul di rumah dede atau kita biasa menyebut basecamp kwarasta, kwarasta sendiri adalah nama grup kami yang kebetulan semua suka dengan aliran musik reggae, di basecamp ini kami dengan latar belakang keyakinan yang berbeda-beda menjadi sebuah kesatuan yang tidak mempermasalahkan soal keyakinan kita masing-masing, pada malam itu kita semua nongkrong sambil membakar singkong bakar dan merokok diam-diam, karena memang kami semua belum berani untuk mempublikasikan perkara rokok ini.

      Nah di saat itu kami berbincang kesana kemari dengan asik sambil menyantap singkong bakar yang sudah matang, tiba-tiba ada satu ucapan yang terdengar dari Antonius yang kira-kira begi ucapannya

“Sesok nek wes nduwe gawean dewe-dewe opo yo do isoh nongkrong ngene ?”

Kalau di artikan ke bahasa nasional berarti begini:

“Besuk kalau masing-masing punya pekerjaan sendiri apa masih bisa nongkrong begini ?”

Seketika tanpa berpikir kami semua menjawab tanpa berpikir, 

“Yo genah isohlah” ( ya pasti bisalah ). 

Memang kami semua tidak merencanakan untuk melanjutkan pendidikan setelah tamat SMA/SMK ini.

     Seolah sudah yakin akan kelulusan kita semua pada esok hari, kita menyiapkan rute konvoi motoran kita dengan mengambil rute yang dimana kita biasa nongkrong sepulang sekolah dulu,  kita juga saling menandatangani seragam putih yang biasa kita gunakan untuk sekolah setiap harinya, coretan-coretan tangan dengan spidol warna-warni pun sudah tersirat di seragam identitas kita, setelah itu kami semua memakai seragam itu dan tersenyum lepas mengabadikan momen dengan foto digital milik Yusuf. 

      Saking asiknya dengan gegap gempita ini tak terasa sudah jam 03.00 dini hari, kami semua memutuskan untuk mengakhiri pertemuan malam yang indah ini dengan pulang ke rumah masing-masing, setelah sampai di rumah, saya langsung menggantung pakaian seragam tadi di sisi dalam pintu kamar saya, yang kalau pintunya tertutup bisa terlihat dari tempat tidur saya, sambil membayangkan keseruan aktifitas pada esok hari. 

       Hari itu pun tiba, hari harapan dimana angan yang semalam kita obrolkan akan di buktikan hari ini. Kebetulan pengumuman kelulusan akan di umumkan pada siang hari jam 14.00, jadi sekitar jam 11.00 kita kumpul lagi di basecamp untuk berdoa bersama, dengan harapan acara konvoi kita nanti lancar dan lulus semuanya. Dan akan berkumpul lagi di basecamp jam 16.00 setelah acara dengan teman-teman sekolah selesai.

       Saya pun langsung menggeber motor saya yang saat itu sudah di ganti dengan knalpot brong, sesampainya di sekolah karena menunggu waktu pengumuman yang lama saya pun nongkrong kembali di warung pojokan luar sekolah yang kebetulan saat itu teman-teman sekolah sudah banyak yang datang, saking banyaknya yang menggerombol pada siang itu hingga tiba-tiba ada satu mobil bak terbuka milik polisi datang dan beberapa polisi turun untuk menanyakan ada atau tidaknya miras di gerombolan kita, tidak di sangka ternyata di bagian dalam warung ada beberapa teman sekolah yang membawa miras, mau tidak mau para polisi tersebut membawa mereka ke dalam sekolah untuk di serahkan ke guru,

     Setelah menunggu waktu yang cukup lama untuk mengetahui hasil kelulusan akhirnya waktu itupun tiba setelah ibu saya keluar dari kelas saya dan memberikan saya wajah yang berseri saat itu pun saya langsung menghampiri dan membuka amplop yang berisikan hasil kelulusan tadi, dengan gerakan membuka amplop secepat kilat terbukalah amplop itu dan terlihat tulisan “TAUFIQ RAMADHAN = LULUS”, seketika saya pun langsung meminta izin ke orang tua saya untuk merayakan kelulusan ini, dan alhamdulillah izin di dapatkan.

      Ternyata pada saat itu sekolah kami lulus 100%, tidak menunggu lama saya langsung ikut semprot pilox yang sudah teman-teman lakukan di luar sekolah, sambil berjoget kesana kemari mereka pesta pilox sambil menggeber-geber motor mereka. 

      Tak lama setelah itu saya konvoi dengan teman-teman sekolah yang saat itu sudah bersiap untuk keliling kota, setelah saya rasa cukup untuk teman sekolah, saya balik ke basecamp dengan harapan semua sudah berkumpul di sana dengan sukacita.

    Sesampainya di sana saya cuma mendapati Uta, Antonius, dan Yusuf yang sudah di basecamp dan kabar baiknya mereka juga di nyatakan lulus, setelah menunggu kurang lebih 40 menitan akhirnya si tuan rumah datang juga basecamp, namun ada wajah berbeda dari mereka dengan kami. Benar, kabar buruk itupun datang, Rio yang selama ini menurut kita orang lebih pintar dari kita di nyatakan tidak lulus, sementara Dede dinyatakan lulus.

    Saat itu Rio langsung pulang ke rumah tanpa meninggalkan satu kata pun pada kita dia hanya meninggalkan senyum simpul, dan kita hanya melihat dengan bingung harus berbuat bagaimana, sesaat kita berbicara serius pada kawan yang masih ada basecamp, dan muncul pertanyaan seperti ini

“Opo awak e dewe ijek arep tetep konvoi?”

(Apa kita tetap akan konvoi?

Dan semua menjawab dengan pasti bahwa kita tidak akan konvoi.

      Setelah itu kita langsung pulang ke rumah masing-masing dengan hati yang legowo untuk tidak berkonvoi, dan nanti akan kumpul kembali setelah maghrib. 

    Maghrib pun tiba setelah selasai menunaikan kewajiban saatnya kumpul dan berkunjung ke rumah Rio, kami semua datang dengan niat untuk menghibur Rio. Situasi kaku pun tak ter elakkan, hingga Rio pun meminta istirahat dan meminta kita juga untuk istirahat. 

    Tiba-tiba ucapan dari Yusuf mengisyaratkan bahwa kita tetap akan mendukung keputusan Rio setelah kejadian ini, mau ambil paket c atau mengulang pun akan selalu kita dukung.

    Setelah beberapa hari akhirnya Rio ikut kembali ke basecamp dan akan mengambil keputusan bahwa dia akan kursus dan melanjutkan paket c, keputusan itu pun langsung di respon positif oleh kita semua, dan kita semua bersedia untuk membantu dari segi transportasi dan waktu untuk mengantar dan menjemput pada saat ujian paket C.

      Singkat cerita setelah mengikuti ujian paket c dan alhamdulillah dinyatakan lulus kita sepakat untuk mengulang konvoi yang tertunda waktu itu, karena sekarang sudah ada dari kita yang sudah bekerja kita juga sudah mengatur kapan kita konvoi.

    Hari itu tiba, hari di saat orang lain tidak mengira bahwa waktu itu hari kelulusan, karena memang saat itu bukan hari kelulusan, kita semprot baju yang sudah kita corat-coret dulu dengan pilox yang juga sudah di persiapkan sejak dulu. 

     Bagi saya khususnya, hal yang indah akan tetap datang pada saatnya, yang terpenting kita harus saling memahami perasaan seseorang, jangan menaruh kebahagiaan kita di saat ada yang sedang hancur di samping kita.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan