Dari Mbah Wardi, Kami Belajar Toleransi

22222222222222222

Kakek saya, Mbah Wardi, berasal dari Dusun Pojok, Sumberagung, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Di kampung itu, anak cucunya akan datang setiap Lebaran. Dia bagaikan energi anak cucunya. Tak hanya hubungan darah, tetapi juga nasihat dan prinsip hidup yang memengaruhi kami.

Nasihat yang paling mengena bagi kami adalah anak cucunya bebas membuat keputusan namun harus berani mempertanggungjawabkan pilihannya.  Salah satunya adalah soal pilihan agama. Mbah Wardi adalah pemeluk Islam. Tetapi dia memberi kebebasan anak cucunya untuk memilih agama/kepercayaan. Dia menghargai pilihan masing-masing. Hal itu tidak menjadi penghalang momen kebahagiaan di dalam keluarga kami. Nilai-nilai toleransi yang diajarkan Mbah Wardi kepada anak dan cucunya hingga saat ini yang kami syukuri.

Saya akan bercerita tentang anak cucu Mbah Wardi yang mendapat kebebasan dalam menentukan jalan hidup. Mbah Wardi memiliki tujuh anak, yaitu Suradi, Suwarni, Sularmi, Suparti, Warih Budi Armanto, Teguh, Solikatun, dan Kuntin. Saya adalah cucunya dari Sularni, anak ketiganya. Mereka tinggal di berbagai kota, bahkan ada yang di luar Jawa.

Bude saya, Suwarni, tinggal di Merauke, Papua. Bahkan Bude Suwarni menikah dengan warga setempat. Dia menganut suaminya, memeluk Kristen. Mbah Wardi menghargai pilihan anaknya. Karena tinggal di tempat jauh yang dipisahkan oleh lautan, kami biasa berinteraksi dengan Bude Suwarni melalui grup WhatsApp keluarga Trah Mbah Wardi. Di WAG itu, kami saling memberi kabar dan mengucapkan selamat saat hari besar keagamaan. Kami saling mendoakan sesuai agama masing-masing.

Kabar  terbaru adalah anak Bulik Kuntin bernama Reza. Bulik Kuntin adalah anak bungsu Mbah Wardi. Reza akan menikah dengan pujaan hatinya, Amelia, yang beragama Kristen. Padahal Bulik Kuntin sekeluarga muslim.  Reza memutuskan masuk Kristen, mengikuti agama Amelia. 

Keluarga besar Mbah Wardi lagi-lagi mendukung keputusan Reza. Sebelum menikah, Reza menjalani ritual masuk agama Kristen ditandai dengan pembaptisan yang dilaksanakan di Sendang Pemandian Umbul Kemanten Boyolali.  

Lalu Reza dan istrinya melangsungkan pemberkatan pernikahan di Gereja GPIBI Siloam Mayang, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, pada Selasa, 7 Februari 2023. Yang memimpin pemberkatan Pendeta Andreas. Acara itu dihadiri jemaat gereja dan keluarga besar kami, termasuk yang beragama Islam.

Pemberkatan di gereja itu berlangsung khidmat dan lancar. Keluarga besar Reza yang beragama Islam tetap tak ada masalah masuk gereka untuk menyaksikan ritual itu. Yang perempuan juga mengenakan kerudung (pakaian muslimah) saat acara berlangsung. Kami juga duduk bersama jemaat gereja menjadi saksi penikahan Reza dan Amelia.

Lalu di sesi akhir, kami berfoto dan makan bersama di dalam gereja. Dukungan keluarga yang muslim kepada Reza bikin kagum jemaat Gereja GPIBI Siloam. Jarang lo pernikahan di Gereja GPIBI disaksikan oleh keluarga dari penganut agama yang berbeda. Pernikahan itu telah menyatukan dua keluarga yang berbeda keyakinan. Dan kami bangga dengan hal itu.

 

 

Karya: Angga Prayogo

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan