Namaku adalah yosua damar prasetyo, bisa di panggil damar, aku tinggal di dusun puton, Rt02, Rw04 kelurahan Girimulyo kecamatan Ngargoyoso, di dusun saya terdapat sebuah sanggar seni namanya Sanggar Seni Among Roso, kegiatan di sanggar ini antara lain. Karawitan bapak-bapak, mocopat, belajar bahasa jawa, dan santiswara, dan yang terahir tari kolosal yang kita namakan SABDOPALON NOYO GENGONG
Sabdopalon noyo gengong ini berdiri pada jumat pahing 3 February 2012, kegiatan dari sabdopalon noyo gengong kita ambilkan di sebuah kidungan yang menceritakan perjalanan sang prabu brawijaya ke lima dari majapahit ke arah gunung lawu yang di ikuti oleh sentono dalem, abdi dalem, prajurit-prajurit dan di antaranya adalah, abdi yang terkasih namanya sabdopalon noyo gengong. Di tengah perjalanan karena perbedaan pendapat maka sabdopalon harus berpisah dengan sang prabu brawijaya ke lima. Degan rasa sedih sabdopalon noyo gengong berkata ke pada sang prabu, karena perbedaan pendapat kami ber dua berpisah dengan sang prabu, tetapi ingat 500 tahun lagi kami ber dua akan datang ke tanah jawa sebagai pertanda kedatangan kami apabila gunung merapi meletus lahar panas dari atas menerjang barat daya kami berdua datang siapa pun yang tidak menerima kedatangan saya dan tidak tunduk kepada kami berdua maka akan saya hancurkan. Setelah berkata begitu maka sabdopalon noyo gengong menyingkir dari hadapan sang prabu. Kemudian muksa hilang bersama raganya, sedang sang prabu melanjutkan perjalanannya ke gunung lawu dan muksa di puncak di gunung lawu sebagai kanjeng sunan lawu.
Dan tarian sabdopalon noyo gengong sejak kami bersama-sama membuat, kami di ikuti oleh teman-teman di dusun puton desa Girimulyo degan pelaku 25 orang sebagai penari dan 25 orang sebagai penabuh gamelan. Kami bersama-sama degan dusun puton berusaha melestarikan tari tradisional ini degan satu maksud agar budaya lokal tidak hilang. Setelah berdirinya tari sabdopalon noyo gengong maka sampai saat sekarang tahun 2023 kami sudah pentas sebanyak 41 kali, 41 kali itu terdiri dari mengikuti festival tari nasional, kemudian pentas-pentas di kabupaten karanganyar sendiri, kemudian di kraton surakarta, di semarang, purwokerto, kemudian bantul kulon progo. Kemudian yang terakir di ulang tahun ponorogo yang ke 529, begitulah kegiatan yang kami laksanakan sampai sekarang.
