Sebagian besar keluarga besar saya adalah pemeluk Islam. Menariknya, keluarga besar saya pemeluk Islam ada yang “islam banget”, ada pula yang cenderung biasa saja. Kebetulan saya lahir dari golongan yang cenderung biasa saja tersebut. Adapun sebagian kecil lainnya adalah pemeluk agama Kristen. Sebagian keluarga besar saya yang beragama Kristen dulunya dia beragama Islam dan karena sesuatu hal yang membuat satu keluarga mereka harus berpindah agama. Semoga ingatan tersebut benar karena saya juga mendapatkan cerita bahwa dalunya bude berpindah agama. Tetapi keluarga besar saya tidak begitu mempermasalahkan mereka harus berpindah atau tidak itu hak mereka.
Jiwa toleransi yang diajarkan mereka, membuat anak dan cucunya juga bisa bertoleransi pada agama yang dipercayai oleh orang lain. Sejujurnya saya merasa sangat bersyukur melihat keluarga besar saya bisa bersatu meskipun memiliki agama yang berbeda.
Saya belum pernah sama sekali menjumpai tindakan diskriminasi yang dapat menyakiti hati, karena faktanya semua anggota keluarga memiliki ikatan kebersamaan dalam sebuah keberagaman. Saya merasa bahwa keberagaman menjadi sangat indah, jika semua orang memiliki jiwa dalam bertoleransi satu sama lain.
Saya pribadi pernah memiliki pengalaman secara langsung terkait jiwa toleransi yang dimiliki oleh saudara yang beragama Kristen. Kejadian ini terjadi pada bulan Ramadan, waktu itu saya sedang berkunjung ke rumah saudara yang beragama Kristen.
Keluarga saya yang beragama Islam tidak ragu untuk menjalin silaturrahmi ke keluarga yang beberapa beragama Kristen. Kegiatan ini rutin kami lakukan tiap tahunnya. Kalau lebaran, keluarga saya pasti berkunjung ke rumah bude yang beragama Kristen. Keluarga saya yang beragama Kristen juga ikut berkontribusi membantu mensukseskan perayaan. Keluarga yang beragama Kristen menyediakan berbagai macam makanan bagi keluarga yang mau datang ke rumah serta bagi-bagi fitrah untuk kalangan anak-anak.
Saya memiliki harapan yang sangat tinggi agar keluarga besar saya, dapat terus menjaga rasa toleransi. Saya tidak ingin terjadi sebuah kasus perpecahan dalam berkeluarga, apalagi jika penyebab utamanya adalah perbedaan agama. Saya tentu akan merasa sangat sedih dan kecewa jika hal ini benar-benar terjadi. Adanya kehidupan berdampingan dalam beragama tanpa sedikitpun memiliki rasa kebencian pada agama yang dianut oleh anggota keluarga yang lain, membuatku menjadi sangat bahagia.
Saya sangat menghormati dan menghargai keberagaman beragama yang ada di keluarga besar saya. Saya memiliki persepsi bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga, saya bisa merasakan kebahagiaan dalam hidup karena memiliki keluarga. Jadi, saya tidak pernah ingin merusak harta paling berharga yang saya miliki hanya karena terdapat perbedaan pilihan dalam beragama.

