SECRET ADMIRER
Sudah cukup lama nama Nirwan terpatri di hatiku, paling tidak sejak aku mengenalnya di SMA. Namun belum pernah sekalipun aku berani mengungkapkannya. Aku lebih suka melatenkan perasaanku dengan bahasa pertemanan, bahkan ketika Nirwan merantau jauh ke Solo dan mengurangi kesempatanku untuk bertemu dengannya. Barangkali karena aku perempuan yang masih terikat dengan rasa malu, gengsi dan tabu untuk memulai lebih dulu, sehingga memutuskan untuk menunggu. Tapi sepertinya Nirwan tidak pernah bisa membaca perasaanku, sementara perasaanku makin sulit untuk dikendalikan.
Pernah terpikir olehku untuk mengejar cinta Nirwan hingga ke Solo. Sayangnya, aku terlanjur terikat pekerjaan di Pamekasan dan tidak memungkinkan secara konsisten mendekati Nirwan, kecuali melalui media sosial mulai dari Facebook, twitter hingga bbm. Tentu saja itu tidak bisa dengan gamblang mengungkap perasaanku, bahkan kadang terkesan kurang anggun. Akhirnya kuputuskan menggunakan bakat menulisku untuk mengirim sebuah cerpen ke salah satu media lokal di Solo dengan harapan dia membacanya. Dan aku memilih koran harian umum SOLOPOS, selain lebih universal kebetulan Nirwan pernah sekali memposting foto selfi dirinya di antara tumpukan koran Solopos, jadi mungkin saja dia berlangganan atau pembaca setia koran Solopos.
Lebih dari tiga bulan aku rajin membuka email dan berharap ada kabar bahwa cerpenku dimuat sehingga bisa kurekomendasikan Nirwan untuk membacanya. Tapi hasilnya nihil, cerpenku belum juga dimuat dan tragisnya Nirwan tengah serius menjalin hubungan dengan salah satu rekan kerjanya, seolah mengubur habis harapanku. Tapi di saat aku sudah diambang putus asa, tiba-tiba untuk pertama kalinya Nirwan menelpon dan berterimakasih. Saat kutanya karena alasan apa dia berterimakasih, dia cuma bilang kalau aku bakat menulis dan dia mendukungnya sebagai teman, bukan sebagai pacar seperti yang selalu aku inginkan. Aku mengangap ini bagian dari penolakan dan cukup membuatku sedih. Tapi rasa sedih itu berganti haru saat Nirwan bilang tidak sengaja membaca karyaku yang dimuat di Solopos edisi kemarin. Cerpen itu mengisahkan bagaimana aku menunggu cinta dari seorang security di salah satu Mall terbesar di Jalan Slamet Riyadi Solo, dan dengan lugas kutulis nama dan bagaimana ciri fisiknya. Tidak perduli bagaimana hancurnya perasaanku karena ditolak olehnya, tapi hari itu aku cukup bersyukur pada akhirnya aku bisa mengungkapkan perasaanku untuk Nirwan. Dan sungguh ini berkat SOLOPOS. Terimakasih banyak.
PAMEKASAN, 05 Nopember 2015
Ime
Posted inWriting Contest
SECRET ADMIRER

