Seketika Terkenal, Terpopuler dan Menjadi Sorotan Karena Solopos

Seketika Terkenal, Terpopuler dan Menjadi Sorotan Karena Solopos

“Pak, beliin koran solopos yaaa” kata per kata sms yang saya kirimkan ke ayah saya Sabtu, 24 Oktober kemarin saat beliau sedang bekerja. Entah kenapa, hari itu ada hasrat ingin membaca Koran Solopos, disamping tujuan utamanya melihat lowongan kerja dan mengisi teka teki silang yang dimuat disana.
Lembaran demi lembaran saya buka, saya baca dan saya pahami isinya, demi mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang luas. Menjadi remaja, apalagi remaja wanita tidak cukup hanya mencari dan mendengarkan berita dari selebrita yang hanya ingin mencari sensasi semata, dari percintaan, perselingkuhan hingga perceraian yang diberitakan di infotaiment stasiun televisi manapun.
Di halaman terakhir Koran Solopos tepatnya di pojok kanan bawah, ada tulisan “18 tahun sudah, Solopos bersama anda memberikan informasi terpilih. Bisa jadi anda memiliki pengalaman unik dengan Solopos, selama perjalanan penerbitannya.” Membaca tulisan tersebut saya teringat pengalaman unik saya bersama Solopos 5 tahun yang lalu tepatnya 30 Oktober 2010.
27 Oktober 2010, Gunung Merapi meletus yang mengakibatkan beberapa daerah terkena magma, lava, bebatuan, hingga hujan abu. Yaaa…daerah saya pun juga menjadi salah satu imbasnya. Daerah Kecamatan Teras Kabupaten Boyolali, yang setiap hari dihujani abu yang sangat pekat dan membahayakan. Dimana para pengendara motor, pejabat, hingga pelajar melakukan aktivitasnya menggunakan masker.
Pengalaman unik bersama Solopos, ketika itu saya sepulang sekolah bersama teman-teman, bersenda gurau, bercanda di salah satu taman kota Boyolali untuk menunggu bis jemputan. Tiba-tiba ada seorang mbak-mbak datang menghampiri kami, dan teman saya diminta untuk diwawancarai tentang tanggapan Gunung Merapi yang meletus, dan keluh kesah menjadi pelajar yang setiap hari diwajibkan harus memakai masker. Namun, teman saya menolaknya,”ahh.. jangan saya mbak, saya malu, teman saya saja.”, penolakannya. Lalu reporter Solopos tersebut langsung menghampiri saya. Saya langsung terima dan mau diwawancarai. Kenapa harus malu? Apa salahnya mengutarakan argumentasi dan keluh kesah yang setiap hari dijalani? Segelontor pertanyaan telah diberikan kepada saya, dan setelah selesai saya diminta berpose di depan kameranya untuk dipublish di Koran Solopos.

Pada hari Rabu, berita tentang Gunung Merapi yang meletus untuk kesekian kalinya dimuat di Koran Solopos. Sekolah saya menjadi salah satu pelanggan Koran Solopos. Entah di ruang Kepala Sekolah, ruang BP, ruang kantor guru, hingga perpustakaan pun ada Koran Solopos. Tidak dipungkiri, semua berita yang ada di Koran Solopos sebagian guru saya pun pasti tau dan up to date tentang segala berita yang dimuatnya. Nah, mulailah saya menjadi terkenal seperti judul diatas.
Jam istirahat 1 pun berbunyi, saya keluar kelas dan melewati ruang BP. Tiba-tiba guru BP, Bp. Heru Nawanto menyetop saya dan berkata “kirana, kamu masuk angin ya?” sontak saya bingung, sehat walafiat begitu dikira masuk angin, lalu saya jawab “enggak pak, sehat gini kok” Kemudian guru saya berkata lagi “nggak masuk angin tapi masuk koran ya?” Dalam batin saya, wah berarti udah dimuat di Koran Solopos nih. Bukan hanya saya dan guru saya saja yang ada di depan ruang BP, adik kelas, teman seangkatan hingga kakak kelas pun ada disana dan seketika itu langsung perhatian mereka tertuju pada saya. Ada rasa malu menjadi sorotan khalayak umum, namun juga ada rasa bangga karena jadi banyak yang tau saya dan menjadi terkenal bukan hanya teman seangkatan, tapi 3 angkatan sekaligus.
Entah saya menjadi bahan perbincangan mereka atau apalah itu. Setiap saya lewat pasti ada yang nyapa, ada yang mengawali senyum, kebanyakan pasti adik kelas. Contohnya saja, saya lewat lapangan bareng teman saya, yang di tegur sapa hanya saya dan teman saya pun tidak. “mbak kiranaaaa…” tak jarang sapaan itu mengawali ketika saya berpapasan dengan adik kelas. Menjadi sorotan adik kelas itu biasa, namun menjadi sorotan kakak kelas itu luar biasa. Ketika saya jajan di depan sekolah, beli siomay, banyak sekali kakak kelas yang ada disana. Terdengar sayup-sayup sebuah kalimat “itu kirana bukan sih, yang masuk solopos yang tadi kita baca di perpus?” Tanya kakak kelas saya kepada temannya. Lalu kakak kelas saya bertanya kepada bapaknya, eh maksud saya kepada saya “eh dek, namamu kirana to? Masuk Koran Solopos to? Diwawancarai dimana?” rasanya senang, senang dan senang sekali, seketika menjadi populer. Teman-teman saya pun juga ikut menyemarakkan kegembiraan saya dengan sedikit beraroma membully saya disaat sedang bercanda maupun berbincang-bincang, “weiiissshh.. ngeriii mlebu Koran cah, makan makan sikkk”.
Disitu kadang saya merasa sedih dengan teman saya, kenapa harus malu saat diminta beragumentasi dan berpendapat kalau pada akhirnya membuahkan suatu kepopuleran yang sederhana? Tanpa harus menjadi murid berprestasi lomba olimpiade kesana kemari, tanpa harus menjadi murid yang suka bersensasi bikin ulah sana sini untuk mencapai sebuah kepopuleran. Buktinya saya sendiri, sangat sederhana, hanya mengungkapkan keluh kesah kepada khalayak umum bisa menjadi populer. So, buat kita-kita yang masih muda “beranilah berbicara di depan orang, beranilah beragumentasi dengan kejadian suatu hal. Jangan pernah malu, jangan pernah minder. Tegakkanlah malu ketika kalian malu bertanya, karena akan mengakibatkan sesat di jalan.” #soloensis #makineksis #makinhits
TERIMAKASIH.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan