Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Dari Ketua OSIS Saya Belajar Toleransi

02 Apr 2023 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Namaku Alifa Anariyanti, biasa di panggil Alifa. Usiaku saat ini 16 tahun. Aku adalah pelajar semester awal jurusan keperawatan di SMK Bintang Nusantara Karanganyar.

‌Dari pendidikan cerita saya dimulai. Semenjak  TK hingga SMP saya menempuh pendidikan di sekolah yang memiliki latar belakang IT (Islam terpadu) perbedaan sudah saya rasakan. Tetapi saya belum cukup memahami dan memaknainya betul.

Karena di sana semua siswa beragama yang sama dengan saya, yakni Islam. Ketika SMK saya baru merasakan arti perbedaan yang sesungguhnya. Di mana banyak sekali warna dalam kehidupan sehari-hari saya.

Bukan hanya soal ras dan budaya, tetapi juga agama. Di sana saya hidup berdampingan dengan teman-teman yang berbeda agama, berbeda ras, dan suku. Memang, kebanyakan temanku berasal dari suku Jawa. Tetapi ada beberapa yang berasal dari luar Jawa.

Tidak jauh-jauh, di kelas saya sendiri pun ada yang berbeda, termasuk berbeda agama. Satu satunya siswa yang berbeda keyakinan di kelas saya adalah Andreas. Dia adalah Ketua OSIS di sekolah kami.

Dia seorang nasrani. Meskipun berbeda, dalam menjalankan amanah sebagai Ketua OSIS dia tidak pernah membedakan siswa yang berlainan agama satu dengan yang lainnya. Bahkan saat acara hari besar Islam seperti pengajian, pesantren Ramadan, dan buka bersama dia ikut serta membantu.

Belum lama ini kelas kami mengadakan buka puasa bersama dengan senang hati dia pun ikut serta dalam acara kelas kami. Dia ikut membantu mencarikan tempat dan memberi saran lainnya. 

Selain ikut berpartisipasi dalam acara, dia juga selalu mengingatkan teman laki-laki untuk Salat Jumat, Salat Zuhur, serta salat wajib lainnya yang bertepatan dengan waktu istirahat.

Di situ saya sangat merasakan perbedaan dalam kehidupan. Tidak hanya ada hitam dan putih, tapi beragam. Saya juga belajar untuk menghargai dan menghormati  satu dengan yang lainnya.

Jika mengingat tentang toleransi maka saya teringat dengan kata kata K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yaitu “Kasih sayang dan toleransi adalah kartu identitas orang Islam”. Kalimat ini berarti toleransi juga diterapkan di agama Islam.  Muslim yang baik menerapkan toleransi.                    

‌Jadi dari kisah saya bisa disimpulkan perbedaan bukan ajang untuk menunjukkan siapa yang paling benar. Tetapi juga bisa untuk saling menghargai, mengingatkan, bahkan membantu.

Mungkin saya yang dulu akan berpikir kenapa harus mengingatkan orang yang tidak memiliki keyakinan yang sama. Tetapi saya sekarang berpikir itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan yang mana tidak semua orang sama dengan kita.

Justru dengan banyaknya perbedaan kita harus saling menghargai untuk menghindari perpecahan. Saya yakin setiap agama pasti tidak ingin terjadi perpecahan dan melarang umatnya untuk berbuat hal yang mengakibatkan perpecahan. Toleransi sangat perlu di Terapkan, apalagi kita  hidup di indonesia yang kaya akan keberagaman.

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 tahun lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan