Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Menyebarkan Seni Budaya Antarumat Beragama

30 Mar 2024 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

 Halo, saya Sasa! Saya adalah seorang penari yang beragama Islam, saya mulai menari dari bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Saya sering tampil menari dari panggung ke panggung dan mengikuti berbagai lomba tari dari tingkat kecamatan, kabupaten, hingga tingkat provinsi.Suatu kebanggaan tersendiri bagi saya ketika bisa terus mengasah bakat tari tradisional tersebut ditengah gempuran zaman yang semakin maju.

Dari berbagai lomba yang saya ikuti di bidang tari, tentu ada saatnya saya meraih kemenangan. Piala dan piagam yang saya simpan, menjadi bukti prestasi dan motivasi untuk terus melestarikan budaya peninggalan nenek moyang. Suatu ketika, saya mendapatkan job di salah satu Gereja Katolik Kabupaten Klaten. Waktu itu bertepatan dengan adanya acara Misa Akbar (100 abad) Gereja tersebut. Ya, benar! Saya tidak ragu mengambil job tersebut walaupun saya adalah satu-satunya umat Islam yang ada di Gereja tersebut. Saya tetap enjoy dalam menari, toh ini adalah bagian dari melestarikan budaya dan bentuk toleransi antarumat beragama.

Toleransi sangat terlihat di Gereja tersebut, saya tidak merasa dikucilkan bahkan saya mendapatkan fasilitas yang cukup baik di sana. Ini adalah hal baru bagiku, bertemu dengan teman–teman baru, beradaptasi dengan teman yang berbeda agama, mendapatkan ilmu baru juga. Di dalam gereja ini tidak ada satupun yang memaksakan orang lain untuk berpindah keyakinan.Mereka juga tidak melakukan diskriminasi, tidak mencela, dan tidak sama sekali merendahkan agama saya.

Tetapi, semenjak kejadian saya menari di gereja itu, timbulah pro dan kontra. Seperti reaksi guru agama saya di sekolah (AA) ketika mendengar kejadian itu. Beliau menuntut saya agar menolak mentah-mentah ketika mendapatkan job di Gereja ataupun acara–acara yang berbeda agama. 

 

“Ojo di tompo sesuk meneh dosa besar” (jangan mau besuk lagi dosa besar) ucap beliau .

Aku tersontak kaget dan bingung atas ucapan beliau.Lalu saya beranikan diri untuk bertanya.

“Mengapa tidak boleh, Bu? Job saya hanya menari sebagai opening acara tersebut dan saya juga tidak mengikuti ibadahnya”. 

Tidak ada jawaban, beliau lalu mengalihkan pembicaraan tersebut. 

 

Agama di Indonesia yang telah di akui ada enam, antara lain Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha,Konghucu. Tidak ada salahnya kita sebagai umat beragama saling membantu, menghargai, dan menghormati agama lain. Walaupun berbeda, kita harus tetap saling menghormati, saling menghargai setiap keyakinan orang, tidak memaksakan kehendak, serta tidak mencela ataupun menghina agama lain dengan alasan apapun, karena semua agama tentu mengajarkan kebaikan.

Saya sendiri sebagai umat Islam tentu sangat menghargai kepercayaan orang lain. Seiring berjalannya waktu saya terus belajar untuk melestarikan budaya yang ada dengan menanamkan sikap saling tolong menolong dan gotong royong pada orang lain. Karena, hidup di Indonesia membutuhkan rasa toleransi, sikap menghargai, dan menghormati antar sesama.

 

~Hidup akan lebih indah jika di selimuti rasa toleransi, (SASA)~

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 tahun lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan