Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Aku Seorang Warga Penghayat Sapta Darma

30 Mar 2024 · 4" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Saya Raisya Nur Rohmah, Siswa kelas X Kecantikan 1 SMK Negeri 3 Klaten. Saya seorang penghayat di Paguyuban Sapta Darma. 

Bagi sebagian besar orang pasti memiliki pandangan bahwa saya dan keluarga adalah seorang kafir. Saya memahami itu tidak mempersalahkannya. 

Saya memutuskan menjadi seorang penghayat sejak duduk di bangku kelas 3 SMP. Singkat cerita, saya menganut kepercayaan ini mengikuti orang tua yang diwarisi dari “simbah” (kakek- nenek keluarga ibu). Saya sering mengikuti acara di kepercayaan seperti sanggaran dan penggalian remaja yang tujuanya untuk peningkatan rohani kaum remaja.

Awalnya saya hanya mengikuti gerakan ibadahnya saja, belajar melafalkan doa, hingga mempelajari ajaran inti Sapta Darma yang disebut Wewarah Pitu. Wewarah Tujuh yang berarti ‘tujuh kewajiban suci’ merupakan pedoman hidup yang harus dijalankan oleh setiap penganut Sapta Darma. 

Secara umum, isi Wewarah Tujuh adalah setia dan tawakal kepada Pancasila Allah, yaitu bahwa Tuhan menpunyai lima sifat luhur yang mutlak, bersedia menjalankan peraturan perundang-undangan yang berlaku di negaranya, turut serta membela nusa dan bangsa, menolong siapa saja tanpa pamrih, berani hidup berdasarkan kekuatan dan kepercayaan diri sendiri, bersikap susila dan berbudi pekerti dalam lingkungan keluarga dan Masyarakat, meyakini bahwa dunia tidak abadi dan selalu berubah.

Seperti agama Islam yang menjalankan sholat di masjid, Kristen dan Katolik beribadah di gereja, Hindu beribadah di Pura, Budha beribadah di vihara, dan Konghucu di Klenteng. Aliran kepercayaan juga memiliki tempat ibadah yang disebut dengan sanggar. Sanggar dipimpin oleh seorang tuntunan dengan tanggung jawab membina kerohanian

Ibadah utama yang wajib dilakukan penghayat Sapta Darma adalah sujud, sanggaran dan penggalian. Sujud adalah ibadah paling utama yang dilakukan minimal sekali sehari, Sanggaran merupakan kewajiban warga sapta darma yang diadakan pada hari tertentu,diberikan pengarahan dari tuntunan dan memupuk ilmu. Sedangkan Penggalian adalah peningkatan mutu rohani para warga sapta darma dan tuntunan untuk menyempurnakan pengabdiannya untuk menyempurnakan pengabdiannya kepada Hyang Maha Kuasa dan kepada sesama umat untuk membentuk satria utama yang berbudi luhur, berkepribadian, dan berkewaspadaan yang tinggi agar dapat memayu hayu bahagianya buwana yaitu laku menunju keselamatan dan kebahagiaan hidup.

Tata cara manembah (ibadah) Sapta Darma adalah sujud ke arah timur, duduk bersila untuk laki-laki, duduk timpuh untuk perempuan, melipat tangan di dada, memejam mata, sambil merasakan keluar masuknya nafas dan rasa-rasa yang semanyam di tubuh dan menghilangkan semua gagasan/angan angan. 

Ibadah ini dilakukan minimal satu kali dalam sehari, di waktu dan durasi yang ditentukan sendiri-sendiri oleh tiap orang di jam ganjil yang artinya di mana tidak ada kesibukan atau kepentingan lain karena di dalam sujud memerlukan ketenangan dan kesabaran serta keikhlasan.

Tuhan dalam ajaran Sapta Darma disebut Allah Hyang Maha Kuasa, yaitu zat yang mutlak, bebas dari segala hubungan sebab akibat dan sumber dari alam semesta beserta isinya. Allah Hyang Maha Kuasa memiliki lima sifat luhur yang disebut Pancasila Allah, yaitu Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, Maha Wasesa, dan Maha Langgeng.

Menjadi kaum minoritas tidaklah mudah. Tidak jarang kami mendapatkan diskriminasi. Dianggap sebagai pemuja setan sudah biasa. Saya dan keluarga berusaha menjelaskan bahwa ajaran kami tidak sesat. Akan tetapi, penjelasan kami selalu dibantah.

Pada waktu pengambilan foto ijazah SMP. Saya minta kebijakan untuk tidak memakai jilbab. Permintaan saya ditanggapi keras oleh guru dengan mengatakan bahwa ajaran saya adalah sesat. Tidak jauh berbeda adik saya mengalami hal serupa. Adik saya pernah takut masuk sekolah karena diolok-olok tidak dapat menjawab pertanyaan pada waktu Pelajaran Agama Islam. 

Adik saja mendapat perlakuan kurang menyenangkan karena ditinggal semua temanya dari kelas. Adik saya menjadi tidak percaya diri dan tidak mau mengikuti Pelajaran Agama Islam lagi. Perlu diketahui, meskipun kami penghayat, waktu duduk di bangku SMP, kami mengikuti Pelajaran agama Islam.

Aku bersyukur, kini sekolahku, SMK Negeri 3 Klaten memberiku fasilitas pembelajaran meskipun aku satu-satunya peserta didik penghayat di sekolah. Aku mendapat hak ku sebagai seorang pelajar. Aku mendapat fasilitas ruang belajar, buku pedoman siswa, dan aku mendapat guru. 

Aku diperlakukan sama dalam kegiatan pembelajaran. Aku mendapat teman yang tidak mempermasalahkan statusku sebagai penghayat. Aku bisa belajar dengan nyaman dan percaya diri. Aku semakin memantapkan diri sebagai seorang penghayat karena kini dianggap setara statusnya dengan warga negara lain di Indonesia, sejak dirilisnya putusan Mahkamah Konsitusi nomor 97/PUU-XIV/2016.

Aku yakin bahwa di dunia ini hanya ada satu Tuhan dan tentunya semua manusia atau semua yang tercipta di dunia ini diciptakan oleh satu Tuhan. Hanya jalan kita saja yang berbeda, saling menghormati dan menghargai adalah pilihan tepat. Mari kita nyalakan nilai-nilai toleransi sebagai akar persatuan bangsa.

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 tahun lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan