Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Dari Mbah Wardi, Kami Belajar Toleransi

08 Apr 2023 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Kakek saya, Mbah Wardi, berasal dari Dusun Pojok, Sumberagung, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Di kampung itu, anak cucunya akan datang setiap Lebaran. Dia bagaikan energi anak cucunya. Tak hanya hubungan darah, tetapi juga nasihat dan prinsip hidup yang memengaruhi kami.

Nasihat yang paling mengena bagi kami adalah anak cucunya bebas membuat keputusan namun harus berani mempertanggungjawabkan pilihannya.  Salah satunya adalah soal pilihan agama. Mbah Wardi adalah pemeluk Islam. Tetapi dia memberi kebebasan anak cucunya untuk memilih agama/kepercayaan. Dia menghargai pilihan masing-masing. Hal itu tidak menjadi penghalang momen kebahagiaan di dalam keluarga kami. Nilai-nilai toleransi yang diajarkan Mbah Wardi kepada anak dan cucunya hingga saat ini yang kami syukuri.

Saya akan bercerita tentang anak cucu Mbah Wardi yang mendapat kebebasan dalam menentukan jalan hidup. Mbah Wardi memiliki tujuh anak, yaitu Suradi, Suwarni, Sularmi, Suparti, Warih Budi Armanto, Teguh, Solikatun, dan Kuntin. Saya adalah cucunya dari Sularni, anak ketiganya. Mereka tinggal di berbagai kota, bahkan ada yang di luar Jawa.

Bude saya, Suwarni, tinggal di Merauke, Papua. Bahkan Bude Suwarni menikah dengan warga setempat. Dia menganut suaminya, memeluk Kristen. Mbah Wardi menghargai pilihan anaknya. Karena tinggal di tempat jauh yang dipisahkan oleh lautan, kami biasa berinteraksi dengan Bude Suwarni melalui grup WhatsApp keluarga Trah Mbah Wardi. Di WAG itu, kami saling memberi kabar dan mengucapkan selamat saat hari besar keagamaan. Kami saling mendoakan sesuai agama masing-masing.

Kabar  terbaru adalah anak Bulik Kuntin bernama Reza. Bulik Kuntin adalah anak bungsu Mbah Wardi. Reza akan menikah dengan pujaan hatinya, Amelia, yang beragama Kristen. Padahal Bulik Kuntin sekeluarga muslim.  Reza memutuskan masuk Kristen, mengikuti agama Amelia. 

Keluarga besar Mbah Wardi lagi-lagi mendukung keputusan Reza. Sebelum menikah, Reza menjalani ritual masuk agama Kristen ditandai dengan pembaptisan yang dilaksanakan di Sendang Pemandian Umbul Kemanten Boyolali.  

Lalu Reza dan istrinya melangsungkan pemberkatan pernikahan di Gereja GPIBI Siloam Mayang, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, pada Selasa, 7 Februari 2023. Yang memimpin pemberkatan Pendeta Andreas. Acara itu dihadiri jemaat gereja dan keluarga besar kami, termasuk yang beragama Islam.

Pemberkatan di gereja itu berlangsung khidmat dan lancar. Keluarga besar Reza yang beragama Islam tetap tak ada masalah masuk gereka untuk menyaksikan ritual itu. Yang perempuan juga mengenakan kerudung (pakaian muslimah) saat acara berlangsung. Kami juga duduk bersama jemaat gereja menjadi saksi penikahan Reza dan Amelia.

Lalu di sesi akhir, kami berfoto dan makan bersama di dalam gereja. Dukungan keluarga yang muslim kepada Reza bikin kagum jemaat Gereja GPIBI Siloam. Jarang lo pernikahan di Gereja GPIBI disaksikan oleh keluarga dari penganut agama yang berbeda. Pernikahan itu telah menyatukan dua keluarga yang berbeda keyakinan. Dan kami bangga dengan hal itu.

 

 

Karya: Angga Prayogo

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Memahami Kedalaman Makna Melalui Analisis Wacana Tekstual dan Kontekstual

Dunia linguistik dan studi sastra, analisis wacana tekstual dan kontekstual memainkan peran penting dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam sebuah teks. Kedua pendekatan ini bekerja sama untuk menggali makna yang tersembunyi di balik kata-kata dan situasi yang dihadapi penulis. Melalui penerapan teknik-teknik analisis ini, kita dapat menemukan lapisan-lapisan makna yang dalam dan kompleks dari sebuah […]

0 0
Nova Ramadhani
3 tahun lalu • 2" baca

Kritikalitas Wacana Abad ke-21: Mengurai Kuasa dan Identitas

Analisis wacana kritis, sebuah alat penting dalam kerangka pemikiran kritis, telah menjadi kunci dalam memahami dinamika kuasa dan identitas dalam era globalisasi abad ke-21. Dalam konteks ini, kajian semacam ini menjadi semakin relevan karena pergeseran struktur sosial, politik, dan budaya yang meluas.             Analisis wacana kritis memberdayakan kita untuk melihat di balik kata-kata dan teks-teks […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Analisis Tekstual dan Kontekstual

Analisis wacana tekstual dan kontekstual adalah pendekatan dalam mempelajari teks yang melibatkan pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam teks itu sendiri (wacana tekstual) dan pemahaman terhadap konteks sosial, budaya, dan historis di mana teks tersebut dihasilkan (konteksual). Dalam analisis wacana tekstual, fokusnya adalah pada struktur, gaya, dan penggunaan bahasa dalam teks. Ini melibatkan memeriksa elemen-elemen […]

0 0
Wiwid Anggriawan
3 tahun lalu • 5" baca

Dua Hal yang Bermakna

  DUA HAL YANG BERMAKNA Aku adalah aku, aku bukan dia dan dia bukan aku. Hehehhe… perkenalkan namaku adalah Wiwid Anggriawan. Aku lahir di salah satu kota di sebuah daerah istimewa di pantai selatan yang bernama Bantul sekitar 36 tahun yang lalu. Aku sedikit ingin bercerita tentang diriku yang mungkin sedikit “unik” dari dua hal […]

0 0
3 tahun lalu • 2" baca

Harmoni Keragaman: Kisah Persahabatan yang Saling Melengkapi

     Di sebuah kelas SD yang penuh tawa, terdapat kisah mengharukan tentang persahabatan yang tak tergoyahkan antara dua siswi, Aisyah dan Kirana. Perbedaan yang mencolok terletak pada kemampuan masing-masing. Aisyah mahir dalam bahasa Inggris, sedangkan Kirana memiliki kemampuan istimewa dalam menggambar dan kreativitas.      Dalam menjalani tugas-tugas sekolah, Aisyah dan Kirana menjadi teman […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan