Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Wahai Bapak Ibu Guru Kelas I, Ajarilah Anak-anak Membaca

Noer Ima Kaltsum
29 Jul 2017 · 5" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Wahai Bapak Ibu Guru Kelas I, Ajarilah Anak-anak kelas I membaca dan menulis! Karena membaca dan menulis baru boleh diajarkan pada kelas I SD, bukan di TK. Bahkan di TK, anak-anak tidak boleh diajari calistung (baca, tulis, hitung). Jadi, kewajiban Bapak Ibu guru kelas I di sekolah adalah mengajar baca tulis. Itu saja yang kata, kalimat dan angka sederhana, belum yang rumit atau kompleks.

Tulisan sederhana ini sengaja saya buat, karena saya membaca banyak status teman-teman FB yang menyayangkan “tragedy anak kelas I dikeluarkan karena belum bisa membaca”. Rasa penasaran itu akhirnya terobati dengan membuka sebuah link. Akhirnya, saya jadi pingin nulis tentang tulisan ini.

Anak saya yang kedua, sekarang duduk di kelas I SD. Alhamdulillah, dia sudah bisa membaca dan menulis. Apakah ketika di TK sudah diajari membaca dan menulis? O, tidak. Semua berjalan alami, seperti air mengalir. Wah, hebat ya? Enggak juga. Lo, mengapa nggak mau dikatakan hebat? Karena ada alasan yang harus saya tuliskan.

Tahun lalu, anak saya sudah SD di sekolah swasta. Karena saya memiliki keyakinan di sekolah tersebut mengutamakan pendidikan agama, maka saya tidak khawatir. Waktu itu saya berpikir, yang penting bisa hafalan surat pendek, bisa membaca doa-doa, bisa menghafal hadits, perilakunya baik, bisa berwudhu, shalat dan lain-lain. Di rumah, saya ajari membaca dan menulis. Memang si kecil bisa membaca dengan terbata-bata, menulis juga belum begitu bisa. Jangan dibayangkan menulis satu kalimat. Menulis kata-kata saja kebalik-balik. Hasilnya, rapor nilainya sebagian besar merah.

Pada semester I karena nilai rapor yang tidak menggembirakan, saya usul pada wali kelasnya supaya anak saya diberi pelajaran tambahan (sekadar 15 menit saat akan istirahat tidur siang). Oleh karena sekolah fullday 5 hari sekolah, anak saya kalau sudah sampai rumah kelihatan capek, maka tidak mau belajar. Saya juga tidak mungkin membebani les membaca dan menulis sepulang sekolah. Sayangnya, wali kelas belum sependapat dengan saya. (Sebenarnya, ceritanya sangat panjang, tapi saya pangkas saja).

Kalau di rumah, anak saya mau membaca dan mengerjakan soal dengan bimbingan saya. Menjawab pertanyaan juga bisa, kalau saya tuntun. Anak saya memang sukar untuk focus, tapi dengan kesabaran saya ternyata dia bisa konsentrasi juga.

Hanya saja, saya heran, mengapa buku tulis anak saya tidak banyak tulisan? (saya sempat bertanya pada wali kelasnya, dan jawabannya tidak memuaskan saya). Akhirnya, sebelum penerimaan rapor, saya sudah diberi tahu terlebih dahulu dari sekolah. Sungguh, saya tidak menduga sama sekali kalau anak saya harus tinggal kelas. Karena keadaan tidak bisa diubah (misalnya naik bersyarat), kalau sama-sama masih di kelas satu, maka pilihan saya, saya mendaftarkan anak saya kelas satu di sekolah lainnya.

Awalnya saya khawatir, anak saya tidak bisa konsentrasi. Ternyata saya salah! Setiap pulang sekolah, anak saya bilang ada PR. Saya pikir PR yang berat. Ternyata tidak. PR yang dimaksud hanya mengulang menulis. Contoh: nama lengkap : ……., nama panggilan: …… Hari berikutnya, saya lihat bukunya. Anak saya menulis tentang peralatan mandi. PR : keramas memakai …., mandi memakai…., gosok gigi memakai …. Menulis angka dan membuat gambar benda sebanyak angka yang ditentukan. Karena merasa bisa, anak saya kelihatan menikmati proses pembelajaran. Anak saya juga bercerita kalau diajari menulis dan membaca. Dan seterusnya, materi pelajaran dan PR gampang. .

Ternyata, di sekolah sebelumnya, anak dianggap bisa membaca dan menulis. Jadi tidak ada pelajaran membaca dan menulis. Tapi setelah “hal terjadi pada anak saya”, sekolah lama sekarang ada pelajaran baca tulis.

Kembali ke tugas Bapak Ibu guru kelas I SD. Pelajaran dasar (Sepertinya) di kelas satu adalah pengenalan huruf dan angka. Pengenalan huruf dan angka yang diulang-ulang, rasanya memudahkan anak untuk menangkapnya dan menuliskannya. Bukankah zaman dulu, pelajaran Bahasa Indonesia “ini budi” yang fenomenal, kata-kata dan hurufnya hanya diulang-ulang? Dan, anak-anak yang dulu belajar “ini budi” juga pandai-pandai. Ada yang berprofesi sebagai dokter, psikolog, insinyur dan lain-lain.

Setiap hari, saya menyempatkan diri/meluangkan waktu untuk mendampingi di kecil belajar menulis, membaca dan berhitung. Saya membuka-buka buku pelajarannya. Kebetulan sekarang memakai kurikulum 13. Untuk saat ini materi pelajarannya adalah Tema I. Tema I (Diriku) pada beberapa halaman depan berisi perkenalan. Tokohnya Siti, Lani, Dayu, Edo, Udin, Beni dan lain-lain. Si kecil sampai hafal tokoh-tokohnya. Menurut saya, materinya juga tidak berat. Kalimat-kalimat yang ada, beberapa kata ditulis berulang-ulang sehingga anak hafal tulisan tersebut. Lama-kelamaan anak bisa membaca kata baru dan menuliskannya. Kalau materi pelajaran itu ringan, tentu saja anak akan senang karena merasa bisa mengikuti pelajaran.

00000

Beberapa orang tua yang memiliki anak kelas I SD, memiliki pendapat simple (saya setuju banget). Anak kelas I dan II, yang tidak terlalu lancar membaca dan menulis, bukan berarti bodoh. Kemampuan anak berbeda-beda. Mungkin pada hal tertentu, si anak mempunyai kemampuan yang luar biasa. Bisa jadi, anak lemah pada pelajaran saat kelas I dan II tetapi di tingkat yang lebih tinggi ternyata si anak lebih berprestasi dibanding anak-anak yang sejak awal masuk kelas I, baca tulisnya sudah lancar.

Bapak Ibu guru di kelas I, mengajar siswa di sekolah. Selebihnya, kalau di rumah, tentu kewajiban orang tua untuk mendampingi putra-putrinya dalam belajar. Kalau ini semua bisa berjalan dengan selaras, pasti semua bisa dikomunikasikan dengan baik dan hasilnya juga tidak mengecewakan.

Harapan saya, jangan sampai ada sekolah yang menolak calon siswa baru kelas I SD yang belum bisa membaca dan menulis. Karena perlu digarisbawahi “Di TK tidak boleh ada CALISTUNG”, jadi memang calistung belajarnya di SD.

Wahai Bapak Ibu Guru Kelas I, Ajarilah Anak-anak kelas I membaca dan menulis!

Karanganyar yang dingin, 29 Juli 2017

Sumber:
http://www.noerimakaltsum.com/2017/07/wahai-bapak-ibu-guru-kelas-i-ajarilah.html

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
4 bulan lalu • 2" baca

Magang di BPK DIY, Mahasiswa Ilmu Sejarah UNS Belajar Tari dan Gamelan

JOGJA — Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, yang tergabung dalam kegiatan magang sekaligus rekognisi KKN di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan pelatihan kesenian tradisional di kawasan Dalem Jayadipuran.   Pelatihan yang berlangsung selama empat minggu ini meliputi seni tari, karawitan […]

0 0
Candra Bi
6 tahun lalu • 3" baca

Cara Membeli Kaki Palsu Untuk Anda Yang Tinggal Di Daerah

Seorang yang kehilangan kaki berawal dari bermacam wilayah di Indonesia terhitung pasien kaki palsu di daerah terpencil atau pun pinggir kota. Penjual kaki palsu di mempunyai tujuan untuk mempermudah pasien di wilayah itu untuk memperoleh kaki palsu yang terbaik. Sebagai penjual kaki palsu di indinesia,  Kurnia Putra Ortopedi layani pemesanan pasien di semua teritori di […]

0 0
Denis Listiadi
6 tahun lalu • 3" baca

Cara Download Video TikTok Tanpa Watermark

Langsung saja, TikTok adalah aplikasi berbagi video yang sedang trending di era saat ini. Itulah sebabnya banyak orang membagikan video TikTok yang lucu dan informatif melalui WhatsApp atau platform lainnya. Namun, sebagian besar TikTok menerapkan watermark setiap kali video pengguna dibagikan. Jika Anda mencoba untuk membagikan atau memposting ulang video dari TikTok, Anda akan melihat […]

0 0
Bunga Dessyta Prameswari
6 tahun lalu • 4" baca

HUT Ke-75 RI Saat Covid 19 Terkait Teori Etika dan Islam

Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-75 pada 17 Agustus 2020 akan sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kini Indonesia tengah berjuang untuk melawan pandemi Covid 19 yang sampai saat ini masih mewabah. Upacara kemerdekaan yang biasanya dilakukan di Istana Merdeka dengan penuh kemeriahan, namun sekarang dilakukan secara terbatas dan online.             Perbedaan yang akan terjadi pada […]

0 0
fernando
6 tahun lalu • 3" baca

6 Tips Agar Belajar Online Semakin Lebih Optimal Bagi Anda

Merangkum dari halaman resmi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Berbagi, 6 tips ini adalah:  1. Motivasi diri  Buat motivasi untuk belajar dengan cara-cara berikut: Buat perjanjian dengan diri sendiri jika Anda hanya dapat melakukan kegiatan favorit Anda (seperti menonton atau bermain game) setelah semua target pembelajaran telah tercapai. Tulis dan tampilkan ungkapan motivasi favorit Anda […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan