Bergabung untuk menulis & berinteraksi

Tampilan

Ayo jadi Petani Milenial!

Siti Andhasah
10 Nov 2019 · 3" baca
WhatsApp Facebook Twitter

Petani hebat bukan cuma petani yang kerja keras tapi juga harus kerja cerdas. Petani yang bisa mengasilkan nilai tambah semaksimal mungkin dengan perkembangan teknologi yang ada. Menjadi petani bukan sebuah pekerjaan hina. Mindset generasi millenial yang masih demikian, harus segera di berantas. Mengingat Indonesia akan menghadapi bonus demografi tahun depan hingga 2030, komposisi kelompok umur muda menjadi dominan. Kalau semua memiliki pemikiran demikian, wah bahaya!

Sebelum berbicara lebih jauh, akan dibahas mengenai kondisi pertanian di Indonesia. Share sektor pertanian pada triwulan III tahun 2019 sebesar 12,53% terhadap PDB Indonesia dan masih menjadi penyumbang terbesar ketiga di bawah sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan besar dan eceran. Dilangsir dari Badan Pusat Statistik (BPS), total produksi padi cenderung mengalami tren menurun. Adapun produksi padi pada periode 2018 yaitu sebesar 56,5 juta ton. Sementara total luas panen padi sebesar 10,9 juta ha atau turun 2,9 juta ha dalam 5 tahun terakhir. Tak heran, pemerintah memang sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan infrastruktur.

Dilihat dari pendidikan terakhir yang ditamatkan, profil petani Indonesia tidak begitu cemerlang. ST 2013 mendeskripsikan bahwa 5 dari 10 orang petani adalah lulus SD sederajat. Selain itu masih ada 26,2 % petani yang tidak lulus sekolah dari total petani yang ada. Berdasarkan survei pertanian antar sensus (SUTAS) tahun 2018, konsentrasi usia petani Indonesia berada pada kelompok umur 45-54 tahun. Sementara itu proporsi petani berusia 65 tahun ke atas yang masih menggantungkan hidupnya di sektor ini mencapai 14%. Padahal, petani usia tua cenderung masih menggunakan cara konvensional dalam mengelola usaha taninya.  Selain itu hanya terdapat 13,44 % petani Indonesia yang menggunakan internet.

 

Revolusi Pertanian 4.0

Revolusi Pertanian 4.0 menerapkan prinsip smart farming dimana terjadi peralihan dari metode konvensional ke metode pertanian cerdas berbasis teknologi dan terintegrasi internet.

Kementrian pertanian telah merilis 4 alsintan (alat mesin pertanian) penunjang revolusi pertanian 4.0 . Pertama, drone penebar benih. Drone ini mampu bekerja mandiri sesuai pola atau alur yang sudah dibuat pada perangkat android dan dipandu oleh GPS. Selain itu, drone ini mampu melakukan resume operation. Sehingga, operation yang tertunda dapat dilanjutkan kembali. Kedua, robot tanam padi yang dapat difungsikan untuk menanam bibit padi di lahan sawah. Robot ini mampu berkomunikasi melalui internet of thing (IoT) melalui sarana GPS dan mampu bekerja mandiri. Ketiga, autonomous tractor yaitu traktor roda empat tanpa awak yg dikendalikan oleh sistem navigasi berbasis IoT. Alat ini dapat melakukan pengolahan lahan sesuai dengan peta perencanaan menggunakan GPS. Keempat, mesin panen plus olah tanah yg terintegrasi. Alat ini, mampu memroses panen padi sekaligus olah tanah dengan rotari. Dengan begitu, alsin terebut mampu memercepat  dan mengurangi pekerjaan olah tanah, memutus siklus perkembangan OPT padi, dan mengkondisikan sanitasi lingkungan pascapanen yang baik. Rencananya, keempat alat tersebut akan diterapkan secara massal pada tahun depan. Apabila dimanfaatkan secara optimal biaya produksi dapat ditekan, produktivitas dan daya saing dapat meningkat.

Teknologi-teknologi tersebut sangat memudahkan petani dalam mengelola usaha taninya. Petani tinggal pencet-pencet gawai, hasil kerja alsintan bisa diawasi dari rumah. Di rumah pun bisa sambil melakukan pekerjaan lain, seperti aktivitas ekonomi digital misalnya.

Dalam menyambut keberhasilan revolusi pertanian tersebut, harus disertai penyeimbang antara ketersediaan alsintan modern dan operatornya yaitu petani. Saat ini regenerasi usia petani menjadi kunci utama suksesnya revolusi pertanian di Indonesia. Usia petani muda ( dibawah 45 tahun) seharusnya memiliki proporsi yang lebih banyak. Karena untuk pengoperasiannya perlu penguasaan teknologi dan melek internet. Jadi, memang sangat dibutuhkan petani milenial!

Saat proporsi usia produktif lebih banyak, persaingan dunia kerja semakin ketat, otomatis terjadi  seleksi alam di dalamnya. Petani milenial dapat dijadikan alternatif bagi pemuda yang keluarganya memiliki lahan pertanian sendiri maupun tidak. Mari generasi milenial turut berkontribusi dalam mensukseskan revolusi pertanian dengan memanfaatkan segala teknologi penunjang kemudahan dalam menjalankan usaha pertanian.

Komentar ()

Urutkan:

Silakan masuk ke akun Anda untuk ikut berdiskusi dan menulis komentar.

Masuk ke Akun

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Artikel Terkait

Lihat Semua
5 tahun lalu • 1" baca

Mengenal ATG 5.0 Sebagai Robot Trading Masa kini

Autotrade Gold atau yang lebih dikenal sebagai ATG 5.0 adalah sebuah Robot Trading yang dibuat untuk membantu para tarder khususnya yang masih pemula untuk berhasil dalam mendapatkan keuntungan dari trading online, ATG 5.0 memiliki sebuah komunitas yang bernama Atg5community yang mana berisikan para trader yang menggunakan Robot Trading ATG 5.0.  Atg5community adalah Komunitas yang berfungsi […]

0 0
Candra Bi
5 tahun lalu • 5" baca

Ide 10 Bisnis Kuliner Terbaik dengan Modal Minim

Makanan merupakan kebutuhan utama setiap harinya. Hal itulah yang menjadi alasan banyak orang untuk menjadikanya sebagai peluang usaha dalam rangka meraup keuntungan. Ada ide 10 bisnis kuliner terbaik  yang cukup menjanjikan. Maraknya Bisnis Kuliner Saat ini, berbagai macam bisnis kuliner semakin menjamur saja. Sebagian kalangan mulai berlomba-lomba mencari peruntungan melalui usaha tersebut. Tidak sedikit di antara mereka yang […]

0 0
Candra Bi
5 tahun lalu • 3" baca

Inilah Manfaat Mengikuti Seminar Bisnis Online yang Perlu Anda Pahami

Sekarang ini kita ada pada keadaan di mana kita selalu harus mempertahankan kesehatan untuk selalu sosial distancing. Keadaan yang ini bukan keadaan yang gampang ditempuh oleh seluruh orang. Tentunya memberinya dampak yang lain dengan beberapa tahun awalnya saat pandemi ini tidak ada. Kita jadi habiskan beberapa waktu di dalam rumah karena ketentuannya sekarang ialah belajar […]

0 0
Candra Bi
5 tahun lalu • 3" baca

Cara Membuat Laporan Tutup Buku Akhir Tahun yang Baik dan Benar

Membuat laporan tutup buku ialah aktivitas yang dipandang menyusahkan untuk beberapa bisnis, tapi harus tetap harus dilaksanakan. Anda tergantung pada neraca keuangan Anda untuk tentukan status keuangan bisnis Anda di tahun ini. Disini, Anda segera dapat membuat gagasan keuangan untuk tahun depannya lebih gampang. Mendekati tahun akhir, ada banyak aktivitas yang perlu dituntaskan oleh pemilik […]

0 0
Candra Bi
5 tahun lalu • 3" baca

Cara Menjalankan Bisnis Supaya Tetap Eksis di Masa Pandemi

Masa pandemi yang diawali pada tahun 2020 dini ini. Perihal ini tidak bisa dipungkiri lagi sangat mempengaruhi terhadap keadaan bisnis, baik dalam skala besar ataupun kecil. Banyak bisnis yang saat ini ini terhantam lantaran imbas pandemi yang tidak belum usai. Gimana cara mempertahankan bisnis di masa susah ini? Masa pandemi mengganti pola interaksi sesuatu usaha […]

0 0

Aksesibilitas

Ukuran Teks

Warna & Kontras

Teks & Tipografi

Navigasi & Fokus

Bantuan Baca & Suara

Komentar

Buat Story Baru

Laporkan