Ada Es Lilin di Antara Kita

WhatsApp Image 2023-04-02 at 10.32.15

Namaku Insetyo. di waktu kecil  Aku berteman akrab dengan Riri dan Aji. Waktu aku masih kelas V SD di sekolah negeri di dekat rumah. SD negeri 1 Desa Kadilangu, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.    

Pertemanan kami bertiga sangat unik. Di samping kami beda agama,beda latar belakang ekonomi , dan beda juga warna kulit kami. Aku yang memiliki tekstur  warna agak putih, agama islam. Riri berkulit sawo matang dan beragama Islam, serta Aji yang warna agak hitam dan beragama Katholik.

Aku yang berasal dari keluarga sederhana, Riri yang latar belakang keluarganya berkecukupan dan Aji yang latar belakang keluarganya yang berkecukupan juga. Tapi di antara kami tidak pernah mempermasalahkan perbedaan di antara kami.

Di saat teman – teman yang lain sibuk dengan aktivitas belajar dan bermainnya. Aku tidak malu untuk membantu orangtua berjualan demi menjaga roda perekonomian keluarga kami tetap berjalan. Aku setiap pagi sebelum berangkat sekolah, dengan membawa termos kecil yang aku taruh disepeda kecilku, menitipkan termos termos yang berisi es lilin diwarung warung dekat rumah dan di sekolah – sekolah dekat rumah. Dan setiap sore setelah sholat Maghrib, Aku kembali berkeliling dengan sepeda miniku untuk mengambil hasil jualan es lilin yang di titipkan di warung dan di sekolah tadi pagi. Beginilah kegiatan rutinku tiap pagi dan sore.

Aku juga mempunyai teman yang kadang selalu menemaniku tiap sore berkeliling untuk mengambil hasil jualan. Sebut saja namanya Aji dan Riri.  Tiap sore bila ada waktu senggang, Riri dan Aji selalu menemani Aku berkeliling mengambil hasil jualan es lilin. Aji selalu mengingatkan Aku dan Riri, bila sudah waktunya sholat Maghrib tapi Aku belum segera sholat juga. 

Bapak dan Ibu yang membuat es lilin ini setiap hari, dengan bermodalkan kulkas freezer bekas yang dibeli dari saudara kami. Setelah Bapak terdampak PHK massal dari sebuah perusahaan garment bertaraf internasional, bapak harus memutar otak, bagaimana roda perekonomian keluarga kami biar bisa berjalan. Es lilin di kampungku, biasa orang menyebutnya dengan es kucir, karena modelnya yang di tali atasnya menyerupai kuciran rambut. Dulu sempat laris karena di kampungku satu – satunya yang jualan es lilin hanya Aku. Sebelum banyak bermunculan es lilin buatan tetangga , es potong dan es cream keliling.

Aku waktu itu pertama kali keliling berjualan agak malu dan minder juga. Banyak teman teman seusiaku yang sekolah dan aktivitas bermain kesana kemari, seolah tidak ada beban di antara mereka. Tapi memang tidak ada beban juga sih. Aku sadar kalau memang ini jalan yang harus Aku lalui, demi membantu Bapak dan Ibu, agar roda perekonomian kami tetap berjalan. Walaupun kegiatanku setiap hari begini tapi banyak teman temanku yang baik dan tidak mengejek sedikitpun. Riri dan Aji selalu mensupport kegiatanku ini. 

Begitu senang dan gembiranya Aku mempunyai teman seperti mereka. Setiap sore habis sholat Maghrib, berkeliling mengambil hasil jualan es lilin dengan sepeda mini yang Aku kasih lampu led kecil warna warni, biar terlihat unik dan menarik. Lampu led kecil yang Aku beli dan rangkai sendiri dari uang saku yang Aku kumpulin tiap hari

Riri dan Aji menemani Aku  setiap sore sehabis Maghrib saja,karena kalau pagi, mereka  masih dirumah mempersiapkan diri mereka untuk sekolah. Sehabis sholat Maghrib di mushola, Aku dan Riri pulang, Aji sudah menunggu di rumahku untuk siap siap menemaniku mengambil hasil jualan es lilin tadi bagi. Kami bertiga bercanda ria naik sepeda sambil Aku membawa termos. Walaupun tidak setiap hari, Riri dan Aji selalu menemani.Tapi Aku bangga mempunyai sahabat seperti mereka.

Alhamdulillah betapa senangnya Aku mempunyai teman yang setoleran ini diusia kami yang masih kacil. Kadang Aku sendiri yang merasa minder. Kegiatan ini Aku lakukan sekitar 3 tahun lebih. Setelah bapak mendapatkan pekerjaan yang baru, Aku berhenti berkeliling jualan es lilin tapi di rumah masih jualan es juga.

Di siang hari waktu di bulan Ramadhan, kami main bertiga, Walaupun Aji yang tidak berpuasa, tetapi Dia sangat menghormati Aku dan Riri. Aji tidak makan dan minum sewaktu bermain dengan Kami. Begitu pun sebaliknya, di hari Minggu selain bulan Ramadhan, bila kami akan bermain bertiga, Aku dan Riri mempersilakan  Aji untuk beribadat ke gereja.

Di Kampung Kami, Islam menjadi agama mayoritas, tetapi sejak dulu sampai saat ini tidak pernah ada intoleransi. Ajaran tentang toleransi di tengah kemajemukan sudah di tanamkan turun temurun di kampung kami. Bahkan di keluarga besarku saja, dari kakek buyut sudah ada yang berbeda Agama. Hal ini bagiku sudah biasa, bukan menjadi penghalang untuk merajut  silaturahmi dan toleransi. Setiap lebaran, bahkan kita selalu berkumpul di keluarga nenek buyut yang beragama Kristen, karena memang beliau yang tertua dan masih ada. Tetapi beliau kini sudah almarhum. Walaupun Kakek dan Nenek buyut kami telah tiada, tapi rasa kekeluargaan di antara anggota keluarga besar kami tidak luntur sedikitpun. Dan masih ada yang berbeda Agama juga.

Aku, Riri, dan Adi walaupun kami berbeda agama tapi ada keunikan tersendiri yang Aku rasakan. Entah ini merupakan suatu kebetulan apa memang sudah direncanakan oleh Allah SWT, Kami sama sama menyukai seni. kami satu sekolah TK ,SD dan SMP. Kami berpisah setelah sekolah SMA. Aku dan Riri suka seni musik dan pernah membentuk band juga, Aji suka senitari tapi pernah juga jadi vokalis di band yang dia buat. Pernah kami satu panggung dan membawa suporter sendiri sendiri.

Perbedaan yang Aku alami bersama teman kecilku berlanjut sampai kami beranjak remaja. Entah kebetulan atau memang disengaja, Aku mendapat kabar, kalau temanku yang bernama Aji tiba tiba menjadi mualaf dan masuk Islam. Tapi persahabatan diantara kami tetap abadi walaupun banyak cerita di waktu kecil yang tidak mungkin terulang lagi.

Masa kecil yang mengharuskan Aku berjualan es lilin keliling, membuat Aku semakin sadar, bahwa  kekuatan itu didapat dari tempaan di masa lalu. Dan pertemanan Aku, Riri dan Aji yang banyak perbedaan, justru membuat tingginya rasa persaudaraan dan tenggangrasa di antara kami. Aku juga menyadari bahwa persatuan itu tumbuh berdasarkan karena perbedaan bertoleran, bukan perbedaan yang memecahkan.

Demikianlah sedikit berita kisah tentang perbedaan yang Aku alami di waktu kecil.

Semoga bermanfaat

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan