Demonstrasi mahasiswa yang berlangsung beberapa bulan hingga Mei 2026 berawal dari ketidakpuasan terhadap situasi ekonomi politik di masa pemerintahan Prabowo-Gibran. Mahasiswa dari berbagai kota turun ke jalan. Tak hanya di jantung kota, di daerah juga terjadi hal sama. Sejak 1966, mahasiswa selalu jadi motor untuk menyuarakan perubahan.
Di Solo, demontrasi juga terjadi pada tahun ini. Namun, demonstrasi paling fenomenal di Solo terjadi pada Mei 1998. Tak hanya demo, terjadi bentrok, lalu masyarakat terlibat dalam demonstrasi, yang berujung kerusuhan.
Demonstrasi pada Mei 1998 itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Peristiwa ini sebenarnya merupakan akumulasi dari berbagai masalah yang sudah berlangsung cukup lama, baik di bidang politik maupun sosial. Selama bertahun-tahun, sistem pemerintahan yang cenderung tertutup membuat masyarakat sulit menyampaikan kritik secara terbuka. Banyak kebijakan berjalan tanpa banyak ruang untuk perbedaan pendapat, sehingga perlahan muncul rasa tidak puas di berbagai kalangan.

Massa berkumpul di jalan di tengah kepulan asap sebagai bentuk protes yang mulai memanas. (Koleksi Solopos Media Group).
Kondisi ini tidak langsung menimbulkan aksi besar, tetapi menjadi latar belakang yang terus berkembang. Ketika masalah-masalah tersebut tidak kunjung terselesaikan, tekanan dalam masyarakat pun semakin terasa. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar munculnya gerakan yang lebih besar di kemudian hari.


Massa berkumpul di jalan di tengah kepulan asap sebagai bentuk protes yang mulai memanas. (Koleksi Solopos Media Group).
Di Solo, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) menjadi salah satu penggerak utama aksi pada Mei 1998. Dari kampus Kentingan, mereka mulai mengadakan pertemuan untuk membahas situasi yang sedang terjadi sekaligus menyusun langkah bersama. Kegiatan ini kemudian berkembang menjadi aksi di luar kampus.
Tuntutan yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan mundurnya Presiden Soeharto. Mahasiswa juga menyoroti kondisi politik yang dinilai tidak terbuka, serta situasi sosial dan ekonomi yang semakin sulit. Aksi yang mereka lakukan menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang mendorong terjadinya Reformasi 1998.


Mahasiswa dari berbagai kampus bergabung dalam aksi, sementara aparat berjaga di depan kampus UMS. (Sumber: Koleksi Solopos Media Group).
Memasuki bulan Mei, demonstrasi di Surakarta semakin meluas. Aksi tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa UNS dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), tetapi juga melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lainnya. Sejumlah kampus yang sebelumnya jarang terlibat aksi mulai ikut bergerak.
Bentuk kegiatan mahasiswa saat itu cukup beragam, mulai dari membawa poster hingga mengadakan mimbar bebas di lingkungan kampus. Melalui kegiatan ini, gerakan mahasiswa mulai terlihat lebih terbuka dan melibatkan lebih banyak peserta.


Mahasiswa turun ke jalan menyampaikan pendapat, dan aksi semakin meluas. (Koleksi Solopos Media Group).
Mahasiswa memanfaatkan mimbar bebas sebagai tempat untuk menyampaikan pendapat dan kritik. Selain itu, mereka juga sering mengadakan diskusi dan konsolidasi di berbagai area kampus untuk membahas situasi yang sedang terjadi serta menyusun langkah bersama. Kegiatan berkumpul ini sekaligus membantu membangun kebersamaan antar mahasiswa.
Dari proses tersebut, gerakan mahasiswa mulai berjalan lebih terarah. Bentuk kegiatannya pun beragam, seperti membawa poster hingga mengadakan mimbar bebas. Aksi yang awalnya hanya berlangsung di dalam kampus kemudian berkembang menjadi unjuk rasa di luar kampus dengan jumlah peserta yang semakin banyak. Mahasiswa dari berbagai fakultas ikut terlibat, melakukan long march, dan menyampaikan tuntutan secara terbuka.


Ketegangan terjadi saat mahasiswa berhadapan dengan aparat hingga bentrokan, menyebabkan beberapa peserta luka (Koleksi Solopos Media Group).
Pada awalnya, aksi mahasiswa berjalan tertib dan damai. Namun, seiring waktu, situasi menjadi semakin tegang hingga terjadi bentrokan dengan aparat. Dalam kejadian ini, puluhan hingga ratusan mahasiswa mengalami luka akibat peluru karet, pemukulan, dan gas air mata.
Perubahan ini terlihat jelas pada 8 Mei 1998 di kampus Universitas Sebelas Maret, ketika aksi besar melibatkan ribuan mahasiswa dan berlangsung selama beberapa jam. Banyak peserta aksi terluka dan sebagian harus dirawat di rumah sakit. Peristiwa ini kemudian mendapat perhatian lebih luas, dan perwakilan mahasiswa membawanya ke tingkat nasional untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

